Minggu, 28 Agustus 2016

BALI dan FILOSOFI KEHIDUPANNYA

Om swasti astu...
Masih membahas tentang Bali yah. Maapkan susah move on-nya, soalnya saya itiu tipe orang setia yang susah move on (apalagi sama ekkim cone tanpa taburan apa-apa di atasnya). Masih banyak yang ingin saya sampaikan tentang Bali. Pleaseee, dengar penjelasan aku dulu. Ehh, ini koq malah buat adegan sinetron gak jelas sih. Okey focus!
Selama beberapa hari (berkualitas) di Bali kemarin, banyak hal yang saya dapatkan. Selain berkunjung ke daerah wisatanya yang udah terkenal ke seantero dunia dan jagat raya (yakalee ada alien yang pernah datang dan berjemur di Bali), saya juga berkesempatan mengorek informasi mengenai Bali dari orang Bali asli yang saya temui di sini. Mungkin saya berpengalaman menjadi intel yah, Indomie telur tapinya, hahaha. Mulai dari Mba Sari Agnezmo wanna be yang merupakan tour guide(nya rombongan maknyak di mana saya berhasil numpang) sampai bapak-bapak security hotel (nya rombongan maknyak di mana saya berhasil numpang, lagi). Sebenarnya cuma 2 orang itu sih, tapi saya pake kata sampai biar kesannya kek banyak gitu. Hahaha. Permainan kata.-
Point yang saya dapat bahwa, masyarakat Bali hidup dengan filosofi yang mereka anut. Mungkin itu kali yah saalah satu alasan Film The Philospher dibuat di Bali, hehe (mulai deh sotoynya). Setiap hal yang mereka lakukan memiliki tujuan dan apabila ada pelanggaran yang mereka lakukan pasti akan memiliki dampak buruk. Cekidott........


1.    Bunga Kamboja
Datang ke Bali pasti gak afdol rasanya kalo gak pake bunga di kuping kan? Ala-ala Hawaii gitu. Iyup, sepertinya dalam setiap kesempatan kita pasti akan melihat banyak bunga-bunga (gak usah nyanyi kek Syahrini yah), utamanya ditelinga wanita Bali ataupun wanita bule ataupun wanita bukan Bali bukan bule (maksudnya turis pribumi, seperti saya). Kenapa eh kenapa? Apakah dengan menggunakan bunga mereka lantas terlihat cantik dan anggun (C. Sasmi)? Sesungguhnya saudara-saudara, kecantikan yang abadi bukan yang terlihat oleh mata indah bola pingpong, namun terpancar dari hati yaitu kebaikan hati dari setiap wanita itu (salam super! Cocok gak sih? Hehe.). Tapi emang saya akui sih wanita Bali itu anggun-anggun loh (gubrak!!), lemah lembut, kalem, apalagi kalo udah pake bunga di kuping, hadeuuhh rasanya tuh adem banget lihatnya. Dibandingkan sama eike yang dari segi rambut aja udah kelihatan kek lion king versi keriting versi MANIS versi KECE (dilarang protes!) yang kalo ngomong kadang cablak banget (silahkan protes!) plus bikin tersinggung plus bikin sakit hati (pada bagian ini, dari hati yang paling dalam sedalam pantutukan saya tidak bermaksud bikin sakit hati loh, piss). Ibaratnya tuh ada yang lagi mabok darat dalam suatu perjalanan dengan kondisi jalan berbelok-belok, trus yang di playlist adalah lagu rock-nya Avril Lavigne, tapi pas ganti playlist ke lagunya Vierra langsung berhenti mabuknya. Hehehe.
So, back to bunga di kuping. Ternyata bagi orang Bali bunga itu adalah symbol dari gadis Bali. Bunga yang paling sering terlihat digunakan adalah Bunga Kamboja. Menggunakan bunga kamboja adalah symbol penghargaan kepada gadis Bali. Jadi, siapapun yang menggunakan bunga di kupingnya, entah itu laki-laki ataupun perempuan, artinya mereka respek terhadap gadis Bali. Nahh, kenapa harus bunga Kamboja? Secara di tempat lain, bunga Kamboja itu identik dengan tempat yang mistis karena kebanyakan di tanam di kuburan kan? Di Bali ini berbeda. Di setiap tempat kita akan menemui bunga kamboja di halaman rumah mereka.
Bunga kamboja adalah bunga yang mandiri. Bukan makan sendiri, masak sendiri, dan tidur pun sendiri yah, maap ini bukan lagu dangdut. Jadi bunga kamboja itu bisa tumbuh tanpa perlu perhatian yang berlebihan (tapi kalo aku butuh perhatian bang, eeaaa). Bunga ini gampang tumbuh, tinggal tanam bagian tubuhnya, siram sedikit, dan dia akan tumbuh, tapi gak berarti juga gak pernah di siram sampai bertahun-tahun yah, itu mah melanggar hak asasi bunga. Maksudnya adalah, bunga ini tidak perlu tanah khusus untuk tumbuh (seperti bunga anggrek misalnya), atau pada suhu tertentu (bunga edelweiss misalnya), atau pada tempat tertentu (bunga bank misalnya, *ehh). Nah dengan begitu bunga ini dijadikan sebagai symbol gadis Bali sehingga mereka dituntut menjadi perempuan yang mandiri, seperti bunga Kamboja. Mereka diharapkan menjadi perempuan yang tidak hanya bergantung kepada orang lain dan tidak bisa melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan berarti mereka tidak butuh orang lain namun mereka diharapkan memiliki inisiatif untuk dapat bertahan hidup di tengah kerasnya dunia ini (apasih, keknya udah mulai meracau deh). Kece yah?
Bunga Kamboja

Sebenarnya harapan ini bukan hanya untuk perempuan Bali saja yah. Setiap perempuan di manapun berada juga diharapkan untuk bisa mandiri dalam kehidupannya, tidak bergantung sepenuhnya kepada orang lain karena biar bagaimanapun kita sebagai perempuan juga memiliki kebutuhan pribadi yang harus kita penuhi. Coba bayangin kalo orang yang kalian tempati bergantung (bukan gelantungan yah. hihi) sudah tidak mampu (atau TIDAK MAU) memenuhi kebutuhan kita? Mau mengais sampah? Mau meminta-minta? Mau nyolong? Saya mah ogah. Jadi para perempuan, tingkatkan kualitas hidup anda minimal dengan keterampilan yang anda miliki (kalo gak ada, ya belajar dong, karena hidup adalah tentang belajar *uhuk).
 Umm, ibu menteri yang terhormat, sekiranya anda butuh duta untuk memperjuangkan hak perempuan, maka saya BELUM SIAP bu. Jangan direkomendasikan dulu yah. Saya masih sedang berusaha memperjuangkan hak saya sendiri. Hehehe.
Penggunaan Bunga di Telinga

2.    Perempuan  Bali dan Tarian
Masih seputar perempuan yah ternyata. Umm tenang saja, tidak ada organisasi perempuan koq yang menyogok saya untuk menulis tentang perempuan, ini kebetulan aja ada hubungannya, jadi tolong goloknya gak usah di angkat-angkat gitu, simpan aja pliss. Ini tentang menari.  Mba Sari, sang guide super banyak omong itu (maksudnya banyak kasih informasi) memberitahukan kami (Oni Dassi Choir dan 1 orang parasit) bahwa bagi orang Bali, menari adalah sesuatu yang wajib. Menari adalah nafas hidup bagi orang Bali. Mungkin seperti kepercayaan orang Kristen bahwa Doa adalah nafas hidup orang percaya (ada amin sodara-sodara??). Tenang, saya tidak akan berkhotbah di sini. Lanjut. Masyarakat Bali sangat suka menari, mungkin ibaratnya sama seperti saya sangat suka sekali kamu *ehh sorry salah pokus. Nah, karena orang Bali sangat suka menari, maka dari kecil mereka sudah diajarkan untuk menari. Bisa dikatakan, semua orang Bali yang lahir dan besar di Pulau Bali bisa menari karena dari kecil mereka sudah diperkenalkan, bahkan di sekolah juga sudah dimasukkan ke dalam kurikulum, kalo gak salah dalam mata pelajaran muatan lokal. Kece yah? Saya sempat berpikir bahwa, berarti semua wanita Bali itu  rambutnya panjang-panjang, karna kan pakean adatnya kalo pas menari itu rambutnya di gulung-gulung trus di hiasai bunga. Wowww. The real women.
Salah satu tarian Bali yang sempat saya pelajari (yang hasilnya gagal total) adalah umm, sebenarnya gerakan dasarnya aja sih, hehehe. Egilee, gerakan dasar aja udah bikin saya encok, gimana mau pelajari tariannya, mending saya di suruh nyanyi 100 lagu deh (dikurang 99 tapinya) daripada di suruh menari. Tapi karena pengen tahu aja rasanya gimana, so saya minta di ajarin. Jadi, gerakan dasar dari tarian Bali itu adalah, pantat (bahasanya sopan gak sih? Atau harus bilang bokong yah?) dimontokkan ke belakang semakin montok anda, maka semakin bagus-, trus kaki di tekuk, tangan kiri diletakkan sejajar dengan mata (jadi telapak tangan itu di tarik dari sudut mata dengan posisi yang menghadap kedepan dan jari-jari terbuka), tangan kanan sejajar dengan pantat yang dimontokkan tadi dengan posisi telapak sama dengan tangan kiri, mata di melekkan semelek-meleknya (maka beruntunglah saya yang punya mata belo indah bola ping pong), kepala di angkat, dada dibusungkan (orang sombong pasti gak susah kalo gerakan yang ini, hihi), and thennn, goyangkan. Lirikan mata mengikuti gerakan tangan. Aarrrgghh pokoknya susah deh diuangkapkan dengan kata-kata, lihat aja videonya, tapi focus ke Mba Sari yah, jangan sama eike, hihihi. 


Kurang lebih seperti itu gerakan tari Bali yang sempat saya lihat dan pelajari secara langsung, dan ternyata emang gak ada bakat sama sekali yah? Di saat mba Sari menari dengan sangat anggun dan luwes, saya jadi kek robot di transformer yang lagi tahan boker. Lebih luwes robot baru buatan Jepang itu keknya dibandingkan eike. Ulalala. Mungkin ahlinya Cuma menari mabadong aja kali yah. hahaha
                                        
3.    Sesajen
Menginjakkan kaki di Pulau Bali, anda akan disuguhkan dengan pemandangan sesajen di setiap tempat dan wangi dupa. Hal ini sangat wajar ditemui di sini karena setiap hari warga Bali, yang sebagian besar beragama Hindu, akan berdoa sambil meletakkan sesajen yang telah mereka rangkai, entah itu diletakkan di tempat sembayang, di depan rumah, di persimpangan jalan, ataupun di pinggir jalan. Pembuatan sesajen ini bukan bermaksud memberikan makan kepada makhluk halus atau semacamnya yah. Ada makna dibalik setiap pemberian tersebut. Kenapa harus menggunakan sesajen yang dirangkai setiap akan berdoa?
Kepercayaan Hindu Bali itu sangat suka seni. Segala sesuatu yang mereka lakukan pasti berseni. Entah itu ukirannya, tariannya, bentuk rumahnya, termasuk cara mereka mencintai Tuhan, adalah dengan seni. Sesajen yang dirangkai adalah salah satu bentuk seni. Sesajen adalah rasa syukur kepada Tuhan. Diibaratkan hubungan Tuhan dengan manusia adalah seperti hubungan cinta kasih. Hal ini juga berkaitan dengan isi sesajen tersebut. Isi sesajen pada umumnya berupa bunga, daun janur, dupa, dan air. Setiap komponen sesajen ini memiliki makna masing-masing.
Contoh Sesajen

Contoh Sesajen

Bunga diibaratkan sebagai lambang cinta kasih. Kenapa lambang cinta kasih? Contoh konkret aja yah. Kalo acara valentine, sebagian besar orang masih saling memberi bunga kan? Si cowok menunjukkan rasa sayangnya ke cewek melalui bunga. Atau, saat ada anak kecil yang memberikan setangkai bunga sederhana kepada ibunya, si anak merasa bahwa itu adalah bukti cintanya kepada ibu, sesederhana apapun bunga itu. Sama seperti manusia kepada Sang Pencipta. Mereka juga ingin menunjukkan cinta kasihnya kepada Sang Pencipta melalui penyerahan diri kepada Sang Pencipta.
Daun janur  (atau daun apa saja yang ada pada saat itu). Daun identik dengan pohon yang diibaratkan sebagai pemberi kesejukan / meneduhkan. Diharapkan setelah berserah diri kepada Tuhan, manusia bisa merasakan kesejukan di dalam hati. Artinya, setelah berdoa mereka dapat merasakan ketenangan dan kedamaian.
Dupa adalah sejenis lidi yang bisa dibakar sehingga mengeluarkan asap dan bau. Bagi orang Bali, lidi merupakan upah saksi. Saksi bahwa persembahan tersebut sudah diberikan kepada Sang Pencipta. Saksi diibaratkan sebagai asap. Asap hasil pembakaran lidi akan terlihat secara kasat mata yang tidak lama kemudian menghilang, namun pada saat asap tersebut menghilang, bau khas dupa tersebut masih bisa dirasakan wanginya. Sama seperti doa, yaitu pada saat diucapkan, doa masih ada di bumi namun setelah diucapkan tidak lantas menghilang tapi tetap kita rasakan keberadaannya.
Air (tirta /air suci) berfungsi membersihkan jasmani dan rohani (saya agak lupa penjelasan pada bagian ini).
Biscuit, permen, nasi, atau makanan apapun yang pada saat itu dimiliki. Komponen ini SEPERTINYA diletakkan pada sesajen yang diletakkan di bawah (correct me if I am wrong). Jadi, Hindu Bali percaya bahwa ada makhluk yang diciptakan di bawah dunia manusia yang mana mereka juga membutuhkan makanan sebagai sumber kehidupan. Makhluk tersebut berupa hewan, tumbuhan, termasuk adalah yang mungkin kebanyakan dari kita menyebutnya makhluk halus. Nah, pemberian komponen sesajen ini berdasarkan penjelasan dan kepercayaan Mba Sari- adalah untuk makhluk seperti tumbuhan dan hewan. Pada saat sesajen tersebut diletakkan, mungkin ada hewan yang membutuhkan. Mba Sari memberi contoh seperti mungkin ada Anjing, atau hewan lain di sekitarnya yang sedang dalam kondisi membutuhkan makanan sehingga makanan dalam sesajen itubisa menjadi penolong baginya. Mba Sari bahkan memberi contoh bahwa apabila ada semut yang sudah memakan roti yang diletakkan di dalam sesajennya maka semut sudah tidak akan mengambil bahan makanan di rumahnya karena mereka sudah diberikan  porsinya sendiri yang diambil dari sesajen yang dia buat. Untuk tumbuhan, melalui sesajen yang di buat itu juga dapat menjadi makanan bagi tumbuhan yang ada di sekitarnya, misalnya sisa sesajen yang notabene berasal dari bahan alami itu akan terkumpul dan menjadi kompos bagi tumbuhan tersebut. Intinya adalah bagaimana kita saling tolong menolong dan saling memberi manfaat sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Jadi itu makna dari tiap isi sesajen yang dibuat oleh masyarakat Hindu Bali.
Selain pemberian sesajen, saat sembayang, masyarakat Bali juga ada yang menggunakan beras. Beras yang digunakan saat sembayang disebut bija. Beras diibaratkan sebagai benih kebaikan. Beras tersebut diletakkan di dahi, pangkal lidah, dan dimakan. Maknanya yaitu, beras diletakkan di dahi sebagai lambang bahwa agar benih kebaikan tertanam di dalam pikiran. Benih diletakkan di pangkal lidah sebagai lambang bahwa agar benih kebaikan tertanam di lidah. Maksudnya adalah agar segala sesuatu yang diucapkan adalah perkataan yang baik. Benih kemudian di makan adalah sebagai lambang bahwa supaya perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang baik. Makna keseluruhannya adalah, berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik.
Ituhhh makna dari pemberian sesajen dan sedikit kegiatan persembayangan. Nahh, ada pertanyaan lagi, Di Bali saya sempat melihat posisi peletakan sesajen. Ada yang diletakkan di lantai namun ada juga yang diletakkan di tempat sembayang yang letaknya agak di atas. Ternyata ada makna juga dibalik letak sesajen tersebut. Sesajen yang diletakkan di bawah ditujukan kepada makhluk di alam buta (dunia di bawah alam manusia seperti hewan dan tumbuhan yg saya jelaskan sebelumnya) dan sesajen yang diletakkan di atas ditujukan untuk Tuhan atau Dewa. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa ada 3 alam di dunia ini yaitu alam Dewa atau Tuhan, alam manusia, dan alam buta. Manusia berada di antara kedua alam tersebut yang fungsinya sebagai penyeimbang. Artinya bahwa, manusia diharapkan dapat menjadi bijak, dapat melihat ke atas dan juga ke bawah.
Nahhh muncul lagi satu pertanyaan. Apakah sesajen itu boleh diinjak atau tidak? Dan apabila terinjak apa yang akan terjadi? Mungkin ada yang takut melewati sesajen di Bali karena berpikirnya di situ adalah tempat makan dewa yang jika dilewati akan mengganggu mereka yang makan apalagi kalau di injak. Tapi setelah membaca penjelasan di atas, semoga kita gak berpikir seperti itu lagi. Selama tidak disengaja, misalnya kita gak tau kalo di situ ada sesajen, tidak menjadi masalah. Selama itu tidak disengaja yah, lain lagi kalo disengaja. Lebih kepada bagaimana menghargai perasaan orang yang merangkai sesajen itu dengan sepenuh  hati tapi baru di pasang aja trus kita DENGAN SENGAJA langsung nendang sesajennya. Bayangin perasaan orang itu, pasti sedihhh rasanya. Itu mah sama aja lu minta di timpuk sandal (sendal berduri besi yang ujung-ujungnya udah dikasi racun mematikan, hehehe). 
Tempan sembahyang, tempat meletakkan sesajen


1.    Hukum Karma
Masyarakat Hindu Bali sangat percaya dengan hukum karma, ini berdasarkan hasil obrolan saya dengan Bapak Security hotel sih. Sedikit saya simpulkan saja dari hasil pembicaraan kami dan dengan melihat kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang sempat saya perhatikan. Beliau mengatakan bahwa hukum karma itu berlaku (kalau Kepercayaan Kristen mungkin seperti hukum tabur tuai), kalau tidak terjadi pada diri sendiri mungkin keturunannya yang akan mengalami. Mungkin itu yang membuat orang Bali terlihat berbeda dengan orang di daerah lain. Satu hal yang saya perhatikan sejak di Bali adalah orang-orangnya yang ramah. Setiap bertemu pasti mereka melemparkan senyum (gak kayak kamu yang melemparkan bom molotov ke hatiku, ehh). Keknya feel 5S nya itu dapat (senyum, salam, sapa, sopan, santun). Saya aja jalan sendiri di sana (gak ngenes kan kesannya?) merasa aman banget, dengan pakaian yang tergolong mini pula, yang kalo di tempat lain mungkin udah jadi sasaran empuk para penjahat kelamin. Umm, diluar insiden sok-jalan-sendiri-ke-tempat-makan-dekat-hotel-malam-malam- sampe digodain orang tidak dikenal (sumpah itu bagian paling horror di Bali kemarin. Horror kedua adalah ketinggalan pesawat. Hihi). Menurut pak security, keramahan seperti itu malah sudah berkurang. Katanya, dulu, setiap kali bertemu, orang Bali akan saling merapatkan tangan di depan dada dan saling hormat dengan menundukkan kepala. Wowww. Emejing men. Sekarang mah boro-boro kek gitu, yang kenal aja pura-pura gak kenal, apalagi yang beneran gak kenal.. Menurunnya kadar keramahtamahan itu salah satunya disebabkan karena sudah banyak pendatang dari luar sehingga mengkontaminasi penduduk local sih.
Selain ramah, salah satu bukti karma really exist di Bali adalah masyarakatnya yang tidak membuang sampah sembarangan (sebagian besar sih). Pokoke bersih dah jalan-jalannya. Dinas kebersihan kota juga keknya bekerja dengan baik. Daannn, saya gak pernah melihat sampah di bakar di sono (umm, ada sih satu kali itupun di pinggiran kota Denpasar, di tempat pembuangan sampah akhir). Menurut pak security, orang-orang takut asapnya mengganggu tetangga rumah. Menurutnya, dari dulu juga orang Bali tidak terbiasa dengan membakar sampah. Dahulu kala, kalo ada sampah, palingan cuma dikubur biar jadi kompos (soalnya dulu masih pake bahan alami). Wewww, kece parah.
Satu hal lagi yang saya perhatikan, setelah mendapatkan informasi dari orang-orang, yaitu bangunan di Bali tingginya tidak boleh melebihi pohon kelapa. Sepertinya sih begitu. Makanya kenapa di Bali jarang banget ada gedung pencakar langit. Trus disetiap bangunan pasti ada pohon, setidaknya pohon bunga kamboja yang mandiri itu loh yah. Mungkin itu salah satu yang membuat Bali sangat rindang yang kalo naik motor siang-siang gak bikin kulit serasa terbakar (baca disini). Saya gak tau ini ada hubungannya dengan karma really exist atau tidak sih. Tapi saya yakin pasti ada alasan dilakukannya seperti itu. Ada filosofinya.


Yahh, thats all about Bali dan Filosofi yang hidup berdampingan.
I hope someday I can be there again dan mencari informasi lagi mengenai filosofi kehidupannya yg kece.
Maybe thats all. Halamannya juga udah panjang banget, dan TERNYATA SUDAH SUBUH!!! Warbiazaakk. Hihihi.


Dahai, 28 Agustus 2016

Jumat, 26 Agustus 2016

CURLY IN BALI (day 1)



Tolong yah, foto di atas itu di Bali. Beneran Bali. Jangan pikir karna Tulisan I Am In Ba....... tertutup kepala ku jadi kalian pikir itu di Banten, Bandung, Balikpapan atau Bandara, eh,, emang di bandara sih. Bandara Bali. Bukan tulisan I Am in Bali yang di edit dengan memasang muka (kece) seolah-olah ku di sana yah. Kalo gak percaya, silahkan tanya pakar telematika, ehh telekomunikasi, ehh apalah itu, untuk mengecek keaslian fotonya. Tapi saya yakin kalian gak mau ribet-ribet tanya pakar, jadi percaya-percaya aja kan? Satu keuntungan bagi saya.

Tadaaa......
Finally kakinya Curly bisa napak di sebuah pulau yang dikenal orang sebagai Pulau Dewata. Sebuah Pulau yang lebih dikenal bule dibanding Indonesia (saya pernah dengar katanya bule itu taunya Bali, tapi pas di tanya Indonesia itu di mana mereka malah gak tau, apalagi kalo nanya rumah Curly yah?). Kedenganrannya kampungan banget gak sih? Eh, maksudnya, kebacaannya kampungan banget gak sih?? Bodo amat, A(h)mat aja lagi kerja. Hihi.
            Ya kek gini nih kalo impian selama bertahun-tahun yang akhirnya kesampean. Pengen ke Bali, melihat Bali secara langsung, dan merasakan udaranya (Cuma mau memastikan aja sih, di Bali itu orang menghirup Oksigen atau menghirup wangi kopi, ehh). This is my first vacation to Bali. Apalagi berangkat sendiri, dengan duit (yang mudah-mudahan) duit hasil keringat sendiri yang ditabung dan dikumpulkan dari uang receh hasil kembalian warung. Sebenarnya belakangan baru ngutang sih karena insiden orang-sok-kaya-ketinggalan-pesawat-gara-gara-nonton- . Haha.
Kenapa pengen banget ke Bali? Siapa sih yang gak mau ke Bali? Ke Balikpapan aja saya excited banget (soalnya bisa dilepas ke alam bebas, haha) apalagi ke Bali. Berawal dari maknyak yang sudah berkali-kali ke Bali bareng-bareng teman gurunya, dan pulang-pulang saya cuma bisa dengar ceritanya. Okayyy, fine, kalo kata orang Makassar, lupakan ma’, tinggalkan ma’. Haha. Tapi Puji Tuhan, ada rezeki, akhirnya bisa kesampean ke sini, walaupun masih ada bayang-bayang mamak sih, karena mumpung beliau lagi ada di Bali (lagi) dan bertepatan dengan waktu off kerja, maka ke sinilah tujuan saya. Bali....Here I come!!!

So,, offduty kemarin, 28 Juli 2016, kurang lebih pukul 07.27 WITA, pesawat yang saya tumpangi (kebiasaan numpang sih, naik pesawat aja numpang) dari Surabaya landing di Bandara Ngurah Rai, Bali, dengan disambut matahari pagi yang cerah ceria gempita bahagia, apasih. Iyah, saat itu saya mengambil penerbangan pertama dari Surabaya, tepatnya jam stengah 6 pagi kalo gak salah, dan tiba di Bali sekitar pukul yang saya sebutkan tadi di atas, capek tau ngetik berulang-ulang. Semangat banget gak sih sampai pake first flight? Haha, ini mah lebih kepada pengen menikmati waktu-waktu sempit di Bali dengan daftar daerah yang akan saya kunjungi. Itu rencana di otak yah. Aktualnya akan kalian (kalian siapa? Emang ada yang baca tulisanmu Cur? Hihi ngarepdotcom) ketahui selanjutnya.
My first shoot in Bali. First Sunrise in Bali.

Setelah pesawat parkir dengan sempurna, dan pintu pesawat terbuka dengan sempurna, dan semua penumpang yang gak sabaran udah turun sempurna dari pesawat, barulah saya mengambil mini carrier-ku dari bagasi atas (ogah banget kali sempit-sempitan pas mau ambil barang, gak mungkin juga kali pesawatnya lantas terbang lagi kalo saya belum keluar). Barang bawaan saya saat itu terbilang simple, 1 buah mini carrier, 1 buah tas selempang mini, 1 buah bantal leher, 1 buah tas tentengan ole-ole dari Surabaya. Ternyata banyak juga yah, setelah dihitung-hitung ternyata totalnya jadi 4 bawaan, haha. Tapi bagi saya itu udah termasuk simple soalnya kalo bepergian saya merasa kek emak-emak rempong dengan segudang bawaan.
Masuk ke terminal kedatangan, saya disambut dengan berbagai ornament khas Bali. Satu hal yang saya perhatikan setiap kali tiba di bandara yaitu saya membandingkan bandara mana yang paling bagus, dan Ngurah Rai masuk di kategori bandara bagus versi Lytozz (bandara lainnya adalah Bandara Hasanuddin Makassar dan Bandara Sepinggan Balikpapan). Penampilan bandaranya termasuk kece. Karena gak ada bagasi jadi saya langsung berjalan sampai di luar terminal kedatangan, dan langsung memesan ojek online. Sebelum ke Bali saya sempat bertanya kepada salah satu senior SMA saya (Kak Yuniarti Pumpun) yang kebetulan kerja dan tinggal di Bali tentang kendaraan yang bisa digunakan di sini. Karena di Bali gak ada angkot, jadi  saya disarankan untuk menyewa motor, tapi berhubung saya gak mau capek karena naik motor (hallah,, padahal gak bisa naik motor ini) akhirnya dia menyarankan untuk memesan ojek online saja yang bertebaran di Bali. Setelah pesan ojek, ternyata saya masih harus berjalan sampai di luar bandara karena ojek online gak boleh masuk sampai ke dalam area Bandara. Lumayanlah kalo mau jalan yah, apalagi dengan bawaan segitu banyaknya, mana sempat salah jalan lagi jadi bulak-balik mutar-mutar, untung gak pusing. Akhirnyaaa, bertemu juga dengan kekasihku, ehh, maksudnya dengan driver ojeknya, dan saya langsung menuju hotel maknyak yang berlokasi di Denpasar. FYI, Bandara Ngurah Rai itu bukan di Denpasar, tapi di Kabupaten Badung, jadi selama ini kita dibohongi mengenai lokasi bandara di Bali, hati-hati provokasi! (lagi mengepalkan tangan kiri di samping kepala) *ehh.
Saya menempuh perjalanan dari Bandara ke Denpasar, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk, selama kurang lebih 30 menit. Bermodalkan GPS dari driver ojeknya dan GPS saya, akhirnya saya tiba di hotel penginapan maknyak dan rombongannya. Saya sebenarnya sudah memesan hotel di sekitar Hayam Wuruk juga pada hari itu, namun waktu check in nya jam 14.00 sementara saya tiba di Bali masih pagi, kan gak mungkin saya jokka-jokka dengan barang bawaan sebanyak itu, bisa tambah pendek eike. Jadilah saya nginap untuk sementara di hotel maknyak, yang selanjutnya sementara iu jadi nginap sampai selesai waktu liburan. Hahaha. Maklum, kebiasaan jadi parasit lagi nongol, mayann hemat biaya liburan. Hahaha.
Pada saat itu, kebetulan ada teman saya yang juga sedang liburan di Bali, sooo kami janjian untuk jalan bareng aja, secara maknyak dan rombongan udah meninggalkan hotel sebelum saya tiba, kan gak lucu juga tiba di Bali kerjanya cuma tidur dan nonton TV di kamar hotel, euhhh. Jadi kami menyewa motor untuk kami gunakan jokka, yang ternyata dapatnya mahal karena di daerah itu (katanya) jarang banget ada yang menyewakan motor, udah search di internet ternyata malah udah abis stoknya, atau malah kebanyakan di daerah Kuta. Hufftthh.
Setelah simpan tas, dan istirahat sebentar di kamar, teman saya jemput di hotel dan kami menentukan destinasi perjalanan kami yang disetujui dengan musyawarah mufakat selama berjam-jam (lebay) dengan mempertimbangkan jarak dan waktu (soalnya saat itu udah siang banget, sekitaran jam 1), dan Curly mauuu banget ke hutan monyet, sehingga akhirnya disepakati (?) bahwa kami ke Sacred Monkey Forest Sanctuary di Ubud. So, bermodalkan motor matic, bensin, GPS, kamera action, maka dimulailah perjalanan kami.
Perjalanan dari Hayam Wuruk, Denpasar ke Ubud di Kabupaten Gianyar ini memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan motor dengan jalanan yang bisa dikatakan ekstrim soalnya sampai masuk ke perkampungan warga dengan jalanan kecil dan sepi banget (Langsung kepikiran acara horror pembunuhan yang di TV-TV itu). GPSnya menunjukkan jalan-jalan tikus untuk kami lalui menuju tujuan kami, sampai sempat berpikir ini GPS gak menipu kah. Tapi, saya akui GPSnya kece. Dengan diarahkan melalui jalan tikus, saya jadi bisa melihat perkampungan orang Bali yang masih tradisional. Sepanjang jalan ke Ubud juga mata kita dimanjakan dengan toko kerajinan tangan entah itu khas Bali ataupun daerah lain. Kalo di Rantepao mungkin ini adalah pertokoannya kali yah, tapi versi panjang pake BANGET soalnya rasanya lamaaa banget di “pagari” toko tersebut sepanjang perjalanan.
Perkampungan yang Bali banget

2 Alien On the way Ubud

Setelah melalui beberapa nyasar-nyasar kecil (maksudnya salah lihat GPS) akhirnya we are here, Sacred Monkey Forest Sanctuary. Tempatnya para monyet-monyet hidup dan bermain, dan belajar, dan makan, dan minum, dan eksis. Gak usah tersinggung gitu dong kalo aku ngomongin monyet, hihihi. Untuk masuk, kami harus membayar tiket sebesar 40rb rupiah untuk satu orang dewasa, dan kalian mutar-mutarin kawasan ini sampe puas. Disini beneran monyetnya hidup dengan bebas, dan untungnya gak liar dan ganas. Kan gak lucu kalo pas ke sana keadaan lengkap tidak kekurangan satu apapun, tapi pas pulang malah ada yang hilang. Maksudnya, barang-barangnya gitu. Monyetnya juga ramah-ramah koq, buktinya mau-mau aja di foto ataupun di ajak foto, kalo minta tandatangan mungkin juga bakalan di kasi kali yah? Sayangnya gak sempat foto bareng monyetnya, si partner jalan gak asik di ajak foto, jalaannnn terus, gak ada lampu merahnya. Eeuuhh.

Jembatan kayu di Sacred MonkeyForest Sanctuary
The Prayer Monkey
Setelah “bosan aku dengan penat dan enyah saja kau gelap”, ehh kok malah baca puisi, maksudnya setelah lelah mutar-mutar (ujung-ujungnya malah gak nyambung, hahaha, adek lelah bang) kami pun berencana untuk balik. Dan musyawarah pun dilanjutkan di parkiran motor sambil menikmati minuman dingin warna hitam membura-bura (baca: coca cola) yang harga sebotolnya mencapai 10rb, padahal normalnya biasa 5rb rupiah (makanya kalo jalan jangan lupa bawa air minum gallon). Kami berdiskusi (tsahh) antara melanjutkan perjalanan atau balik ke Denpasar. Secara, saat itu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA dan kami galau. Mau Balik ke Denpasar, tapi nanggung banget kalo pulang jam segitu, tiba di Denpasar pasti masih sore, trus balik-balik ke hotel mau ngapain?? Pengennya tiba di hotel udah malam aja, dan langsung cium tempat tidur. Mau lanjut jalan-jalan, tapi bingung mau ke mana tempat terdekat yang kalo pulang gak kemalaman banget. Ini maunya apa sih? Gak mau tidur cepat tapi gak mau pulang malam.. ppfftthh. And finally kami memutuskan untuk ke tempat yang pengen banget di kunjungi oleh manusia peraih penghargaan galau of the year ini. Guess what di mana tempatnya?? Tadaaaaaa. Sawah.
What?? Sawah? Iyuhuuuu. Tepat sekali. Dan saya sempat protes karena kalo cuma mau lihat sawah ngapain jauh-jauh ke Bali, di kampung sendiri juga banyak sawah kalii. Lebih kece malah. Tapi demi untuk memenuhi keinginan dan hasrat teman saya satu ini yang kemungkinan lagi ngidam pengen lihat sawah (emang cowok bisa ngidam yah) akhirnya saya setuju, dan kami menuju sawah, lebih tepatnya di Tegalalang Rice Terraces, masih di daerah Ubud juga.Tempatnya masih kearah utara yang ditempuh selama 30 menit dari Hutan Monyet. Kalo ke Tegalalang jalannya lurus-lurus aja, dan mulus, dan dingin (maksudnya sejuk) karena sudah mulai menanjak jalanannya, sepertinya memang berada di dataran tinggi sih. Sepanjang jalan mata kita dimanjakan dengan penjual souvenir dan kerajinan tangan di kiri kanan jalan. Selain itu jga pemandangan lain seperti sawah, pohon, orang, motor, mobil, dan banyak lagi menjadi objek cuci mata sampai kami tiba di tempat macet, dimana banyak kendaraan di parkir di bagian kiri jalan yang tergolong jalan sempit itu, dan banyak penjual souvenir di sebelah kiri jalan juga, dan di sebelah kanann, taraaa WELCOME TO TEGALALANG.
Jadi Tegalalang itu adalah sebuah Desa di Daerah Ubud yang terkenal dengan sawahnya yang di bentuk terasering (udah bener gak sih bahasanya?) alias di susun-susun kece gitu. Ternyata tempat ini diminati para turist juga. Sesampainya di sana, kami langsung cari tempat untuk bisa melihat SAWAH di sana dengan angle yang bagus. Di Tegalalang itu banyak café di samping jalan yang viewnya mengarah ke SAWAH, jadi jangan khawatir kelaparan atau kehausan atau capek berdiri karena gak ada tempat duduk, cukup khawatir kehabisan duit aja. Hahaha. Sialnya, ternyata pada saat kami datang di Tegalalang lagi musim panen, jadi hijau sawahnya gak dapet feel-nya, yang ada malah jerami padi disusun-susun di sawah, tapi masih banyak aja bule yang ke sawah itu, bahkan sampai ke pematangnya, mau ngapain coba? Mau cari keong? Cari jangkrik? Eeuuhh. Dan saya, masih pada pendirin awal bahwa, sawah di Toraja masih lebih kece dibandingkan Tegalalang. Bedanya, sawah di Toraja gak ada café tempat nongkrongnya, yang ada gubuk tengah sawah tempat istirahat dan mengusir burung pemakan padi. Gak ada jalanan mulus tempat parkir kendaraan, yang ada adalah jalan perintis yang berbatu dan bolong-bolong yang kalo ada ibu hamil Sembilan bulan 10 hari lewat sambil naik motor di sana bisa brojol di jalan (yaeyalah, udah waktunya melahirkan kalii). Gak ada penjual souvenir di sekitarnya, boro-boro penjual souvenir, yang ada tanta-tanta mangrengnge’ baka berisi sayur babi yang lewat. Ini bukan membandingkan loh yah (walaupun kesannya membandingkan, hahaha, apasih). Tapi menunjukkan bahwa, hal simple seperti sawah aja di Bali bisa jadi daya tarik wisatawan, tapi di Toraja malah dianggurin. Hehehe. (Just opinion).
Tegalalang Rice Terraces
Penjual souvenir sepanjang jalan di Desa Tegalalang

Back to our vacation. Setelah puas, campur bosan, campur bête (ini saya yg bête karena gak di foto padahal view cafenya lagi bagus, bukan sawahnya loh yah), dan juga udah mulai gelap, kami pun kembali ke Denpasar. Pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 kalo gak salah. Rute yang sama yang kami lalui saat datang, dan akhirnya kami tiba di Hotel maknyak, di Denpasar sekitar pukul 19.30 WITA. Muka udah berasa lecek banget kek kaca mobil yang lewat di jalan berdebu. Euuhh. Mana lapar lagi. Hahaha. Ternyata saat kami tiba di Hotel, rombongannya maknyak belum ada, masih dalam perjalanan balik, egilee juga ini rombongan, total juga yah jalan-jalannya. Dan makan malam mereka sedang menunggu di hotel, sooo, kami sebagai alumni yang baik dan sopan kepada guru-guru kami, maka kami menunggu mereka pulang untuk bisa saling menyapa (padahal niatnya pengen numpang makan malam, Hahaha). After that, Ryan balik ke hotelnya dan saya tinggal di hotel maknya menginap.
Saya sebenarnya mau ke hotel yang sudah di booking dan sudah di BAYAR (Mau pesan kamar di hotel situ tapi gak sesuai budget, hahaha), tapi setelah terhasut oleh rayuan maknyak yang ngajak tinggal bareng di hotel itu (maksudnya numpang di kamarnya, tuh kan numpang lagi) akhirnya hatiku luluh (tapi gak lantak). Katanya maknyak, dari panitia gapapa nginap di kamar situ. Yaudahlah kalo aku di paksa, padahal gak enak aja masak mau numpang sih, tapi lumayanlah bisa saving cost. Hahaha. Parasit banget gak sih. Walaupun agak nyesal juga karena hotelnya udah DIBAYAR, untung baru sehari dibayarnya.
Lumayan seru sih perjalanan hari itu, diluar kebetean gak di foto yah. Yahh, namanya juga jalan-jalan perdana di kampung orang yang hanya bermodalkan GPS dan info internet. Mana ada insiden kamera lowbet lagi, padahal kan merekam perjalanan itu seru banget. maka jadilah kami sempat berlama-lama di salah satu café di Tegalalang. Selain untuk nongkrong, juga sekalian charge kamera. Hahaha. Naik motor siang bolong di sana juga tidak memberikan efek hitam yang signifikan loh, dan efek menyengat yang parah banget, padahal saat itu saya sedang pake celana pendek. Semesta mendukung banget deh vacation saat itu.
So, that’s my vacation on that day. And we prepare ourself for yesterday vacation.


(to be continue...)

Kamis, 25 Agustus 2016

HAPPINESS IS AROUND YOU

Dahai dan segala kebosanannya.
Tau kan Dahai itu apa? Bukan sejenis makanan ringan atau sejenis alat transportasi loh yah. Dahai itu nama desa di Provinsi Kalimantan Selatan, seperti yang sempat sedikit saya singgung di blog-blog sebelumnya. Curly di Desa?? Omegat!! Jadi kembang desa dong. Haha.
Ngapain di Dahai? Main-main. Ya kerja lah!! Bikin emosi aja.
Kenapa bisa di Desa Dahai? Kerja apa?
Huufftthhh. Mungkin mending saya berikan sedikit gambaran mengenai pekerjaan saya di Dahai yah. Okeh, buka buku gambarnya, ambil pensil dan cat warnanya. Itu menggambar anuu!! Hahaha, salah focus.
Selama setahun belakangan ini saya sudah menempati Desa Dahai, Kabupaten Balangan, Prov. Kalsel ini untuk mencari nasi bungkus yang isinya berlian. Uwewww (ngarep tingkat dewa). Saya bekerja sebagai seorang nutritionist (bahasa kerennya, ahli gizi atau bisa juga anda menyebutnya sebagai polisi makanan) di sebuah perusahaan catering yang menjadi vendor pada sebuah perusahaan batu-bara di bumi Kalimantan ini. Tsahhh, bahasa mu cewek.. Tapi orang luar kebanyakan taunya saya kerja di kalimantan yang notabene erat kaitannya dengan batu bara yang erat kaitannya dengan banyak duit, yang erat kaitannya dengan dimintain traktir dan beli sana-sini, yang erat kaitannya dengan di porotin, yang erat kaitannya dengan merasa terzalimi. (capek ngetiknya bo). Hahaha, di situ kadang saya merasa sedih. Sudah jangan nangis dulu, belum sampai pada klimaksnya loh, simpan dulu air mata(buaya)nya. *ehh.
Back to my job. Jadi kerjaan saya kan berhubungan dengan makanan, dapur, kantin, gudang makanan, soooo kehidupan saya sehari-hari ya gak jauh dari tempat itu (udah nikahable banget gak sih, hal yang berhubungan dengan dapur udah jadi makanan sehari-hari? Hahaha -_-). So, main job ku itu memastikan agar makanan yang sampai kepada klien sehat dan aman. Dengan cara, mengawasi pelaksanaan keamanan pangan di lokasi kerja mulai dari penerimaan bahan baku sampai pada makanan siap di santap. Trus saya ngapaiinnn??? To the point aja kale. Jadi ya saya ngecek di dapur mulai pagi sampai sore hari, memastikan setiap komponen-komponennya baik.
Selain berkutat dengan dapur and the gank, saya juga berkoordinasi dengan klient. Soo, gak hanya di dapur bulak baliknya, emang kita setrikaan, lagian setrikaan gak ada di dapur, adanya di laundry, hehe. Kalo paginya ngecek di dapur, siangnya kadang ke kantor klien yang jaraknya sekitar 15 menit dari kantor kami menggunakan sarana mobil. Selain kantor, di sana juga ada kantin, jadi area pengawsan saya juga ada di sana.
Kalo soal tempat tinggal, kami tinggalnya di tenda-tenda darurat. Hehe, gak ding. Perusahaan partner kerja kami menyediakan mess bagi karyawan kami yang juga satu area dengan Dapur dan kantin. Jadi kalo dari kamar ke kantor hanya di tempuh selama 30 DETIK berjalan kaki dengan kecepatan super (dalam hal ini berjalan santai, itu udah super banget menn).
Jadi kalian bisa bayangin gimana kegiatan saya sehari-hari selama berada di lokasi. Bisa gak?? Woyy..jawab woy!! Knapa diam aja? Kamu udah gak care lagi sama aku? Oke fine. Cut..cut..cut.. ini koq malah jadi cerita novel melankolis sih, kita lagi syuting drama “UTANGRAN”. *ehh focus euyy!! Maap..maap.. Jadi kalian bisa bayangkan kehidupan saya sehari-hari di lokasi.
Bangun pagi ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi ku pergi briefing, dan lanjut mengais rezeki. Eeaaa, koq malah mengeluarkan suara emas sih? haha. Jadi bangun pagi di lokasi yang sama, berangkat kerja di lokasi yang sama, ngecek di dapur dengan lokasi yang sama, makan siang di kantin dengan lokasi yang sama, istirahat siang (biasanya boboci alias bobo bobo ciantikk) di lokasi yang sama, sore hari ngecek lagi di dapur dengan lokasi yang sama, selesai kerja balik ke mess dengan lokasi yang sama. That’s it! Kalian tau defenisi “dengan lokasi yang sama” kan? Itu bisa juga diartikan sebagai “melihat orang yang sama setiap hari gak ganti-ganti gak berhenti-berhenti”. Bosen euuyyy.
Masih lebih beruntung kalo ke kantor klient di area tambang jadi masih bisa melihat wajah lain selain di area mess, yang walaupun perjalanannya kadang memuakkan dengan hanya melihat trailer batu bara dan kendaraan tambang lalu lalang di jalan hauling (jalanan khusus kendaraan pengangkut batu bara). Kadang saya masih mengeluh dengan waktu tempuh yang lumayan lama di jalan, sampai-sampai saya berpikir kalo waktu tempuh ke kantor ini di total saya bisa-bisa tua di jalan. Hal-hal seperti ini juga lama kelamaan bikin bosan, apalagi harus dialami selama 8 minggu. Manajement stress harus bener-bener baik nih, kalo gak mau pulang-pulang udah jadi penghuni RSJ.
Udah kebayang gak kerjaan, atau keberadaan saya di sini? Belum? Mungkin anda harus mengalaminya sendiri, dan saya hanya bisa bilang, selamat yah!! Hahaha. Kadang saya berpikir untuk menyerah dengan melambai-lambaikan bendera putih ke kamera di sbelah sana dan di sebelah sana (pikir sendiri kameranya di mana) dan mencari kerja di tempat yang lebih terbuka dan tidak terisolasi seperti di sini. Sayangnya, saya gak menemukan kamera satupun jadi gak bisa melambaikkan tangan jadi gak bisa menyerah. Haha. Gak boleh menyerah intinya, tsahhh. Mulai mata berkaca-kaca, narsis juga ini mata sukanya ngaca mulu. Haha.
Bekerja di lokasi dengan jadwal kerja 8 2 (8 minggu pulllll di lokasi darii Senin Minggu dan 2 minggu libur, pulkam, liburan, eksis) suatu tantangan tersendiri buat saya, wanita, anak mami yang awalnya gak mau dilepaskan ke alam liar jauh dari mamak bapak. Saya orang yang tidak terlalu suka dengan hal yang itu-itu saja, aliasnya cepat bosan. Tapi kalo sama kamu aku gak akan bosan koq bang, haha. FOKUS EUYY!! Hahaha. Tantangannya wwarbiassaaahhh men,, apalagi dengan tantangan pekerjaan yang lumayan menguras tenaga dan pikiran, maka sempurnalah.
Kadang saya bosan dengan hal-hal konsisten yang setiap hari di temui itu. Sooo, sebagai manusia yang gak mau terhimpit dalam keadaan seperti itu (tsahhh, bahasanya men), sebagai orang kece nan kreatif, saya berusaha menikmati nikmat Tuhan yang ada disekitarku. Like what??
Tau gak sih, langit pagi, embun pagi, pohon, pelangi, awan, sunset, bahkan kucing bisa menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Berhubung saya suka cekrek-cekrek, yang dengan SOKnya ku katakana sebagai “scenery hunter” jadi objek tadi itu difotoin sana-sini, trus upload instagram. Iyah,, jadi generasi nunduk aja di sini (generasi nunduk = nunduk memandangi HP). Bagi saya pekerja lokasi, memiliki android, baterai full, dan kuota memadahi itu sudah menjadi penyelamat di tengah tekanan kerja yang warbiassaahhh berat. Dikit-dikit, cekrek, upload, tulis ‘koran’ (Istilahnya Batara). Pokoknya berusaha melihat sesuatu yang menarik diantara hal yang itu-itu aja setiap harinya. Dan hebatnya, itu menyenangkan banget.
Kalo udah bosan dengan rutinitas sehari-hari, kadang saya di dalam kantor aja duduk, trus selfi-selfi gak jelas -_-. Atau saat sore hari, menuju kantor, dan harus melewati teriknya matahari yang sukses bisa bikin belang, kadang bayangan saya di jalan tiba-tiba menjadi menarik (untuk di foto). Hehe. Saya termasuk orang yang suka langit jadi pemandangan yang disuguhkan langit setiap sore menjadi obat letih, entah itu di lihat dari teras kantor, atau saat jogging. Iyah, di sini saya kadang jogging, biar badan tetap bugar *eaa meningkatkan aktifitas fisik maksudnya.
Pada saat jogging inilah kadang banyak objek yang menarik perhatian, jadi kalo ke lapangan basket untuk jogging, selain bawa hape kadang juga bawa kamera (kamera action KW super yah, pengennya sih bilang kamera DSLR tapi belum kesampean belinya, hihihi). Entah itu genangan air, entah itu ujung pohon yang berjejer di samping lapangan, entah itu sepatu ku yang kadang kelihatan kece banget kalo di foto, bahkan menunggu matahari terbenam pun pernah saya lakukan. Habis jogging, kebetulan langit sore lagi kece banget, warna orange kece parah (maap, eike pecinta sunrise), jadi disitulah saya duduk selonjoran di atas rumput menikmati sunrise (sambil di videokan tentunya) yang selanjutnya akan di posting ke instagram sambil meluncurkan kemampuan membuat captionku (kemampuan buat Koran lebih tepatnya). Semenjak kejadian sunset itu, jogging sudah bukan menjadi tujuan utama saya ke lapangan. Itu hanya modus dengan tujuan sebenarnya adalah ‘mengejar matahari’ (pinjam istilah lagu yah). Kadang saya gak enak sih sama jogging hanya menjadi alasan sampingan aja, entah gimana perasaannya. Apacih!! Sayangnya setelah momen mendapatkan video matahari terbenam itu, matahari sudah gak kece lagi kalo sore, adanya malah dapat catching sunset gagal.
Setelah jogging, atau setelah matahari terbenam lebih tepatnya, saya balik kamar. Nah, seperti malam-malam seperti biasanya yang biasanya langit gelap, yaeyalahhh!! Maksudnya dimana kegiatan ku ya biasanya langsung masuk kamar. Bukan gak mau bersosialisasi yah sama bapak-bapak di ruang nonton (maklum, eike yang paling cantik tiada saingan di mess ini). saya Cuma gak suka aja terpapar asap rokok, baunya itu loh, gak kece banget, lagian siapa juga mau ngisaip asap bekas dari paru-paru orang, eeuuhhh. Jadi sebisa mungkin saya hindari lah, toh kalo ada fans yang mau minta foto dan tandatangan bisa langsung ketok pintu kamar. Hehehe. Selain rokok, PS juga menjadi kendala saya gak bisa nonton. Yuhuu, permainan sejuta pria sepertinya ini. jadi kadang, sepulang dari kantor, kalo udah tiba di mess itu, pasti bapak-bapak ini udah pada ramai olahraga, entah itu olahraga seluruh tubuh atau olahraga jempol (baca: main PS). Jadi kalo udah tiba, udah ada aja minimal 2 orang main sepak bola di mess (via PS maksudnya), itu kadang sampai malam, paling berhenti buat shalat dan makan malam doang. Kan gak mungkin saya duduk ongol tontonin orang main PS. Masih lebih nyaman kamar ku kemana-mana keless.
Tapi gak berarti saya memingit diri (istilah apa sih ini?0 di kamar secara terus-terusan loh. kadang kalo pengen banget nonton, yaa aku nonton. Bodo amat yang lain mau main PS, saya Cuma bentar doang kali pegang remote. Hihihi. Penjajahan dimulai. Tapi itu gak lama koq, paling 2-3 jam aja. Lama? Dibandingkan mereka yang main PS dari sore sampai malam coba?? Pembelaan tingkat tinggi banget. Kalo beneran malas nonton, yaudah dikamar aja. Melahap novel-novel yang sengaja di bawa untuk menemani Curly di kamar. Kalo udah baca di kamar, udah malas mau ngapa-ngapain dah. Mager stadium 8. Hahaha.
Kalo lagi bosan banget di mess, kadang saya dan teman kerja lain jalan-jalan ke kota terdekta. Entah itu Kota Tanjung atau Paringin. Entah itu hanya sekedar cuci mata, nongrong or ngopi, makan di luar, yang penting keluar dari tempat ini untuk sementara waktu dah.  Untungnya lokasi berdekatan dengan kota, tinggal bermodalkan driver aja trus bisa melepas penat ke sono. Sekali lagi, kadang ke kota terdekat itu sambil bawa kamera (kamera action KW super per), lumayan dapat sesuatu yang bisa di abadikan. Hihihi.
Jadi, hal seperti itu yang saya lakukan selama 8 minggu. Bayangin, orang yang cepat bosan kek saya harus menghadapi 8 bulan itu. But, Happines’ Around You. Hal-hal menyenangkan itu ada koq di dekat kamu, tinggal kamu perhatikan dengan baik-baik saja. Hanya kamu yang bisa menciptakan kebahagiaan itu. Saya? Dengan hal-hal kecil dan biasa itu. I try to enjoy my life.

Pokoknya HP, Baterai Full, kuota banyak, HIDUP DAH DI LOKASI..
Happy working.


Dahai, 25 Agustus 2016

Jumat, 22 Juli 2016

KAKAENG!!!!!! (Chapter 2 – ‘Gubuk’ Posko)

          Masih seputar Kakaeng. Oyah, saya belum bilang yah kenapa namanya malah Kakaeng bukan KKN (kakaen). Jadi di desa tempat kami melaksanakan KKN pada saat itu adalah sebuah desa yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Makassar yang memiliki aksen bicara yang unik, salah satunya yaitu menambahkan beberapa huruf di belakang kata yang diucapkannya misalnya ‘makan’ menjadi ‘makang’, ‘teman’ menjadi ‘temang’, begitu pula ‘kakaen’ yang menjadi ‘kakaeng’. Gituhh, kisahnya.
          KKN. Sebenarnya saya speechles ya, gak tau mau ngomong apa tentang KKN ini. Tapi setelah dipikir-pikir, saya kan menulis (atau mengetik?), kenapa harus bingung mau ngomong apa yah? Kan gak ngomong. Hahaha, ada yang minta di kirimkan bom Molotov ini, otaknya lemot banget. Back to the topic,  emang beneran speechles dan bingung mau mulai cerita dari mana karna terlalu banyak hal mengesankan yang terjadi selama Kakaeng.
          Mulai dari pengumpulan dan mencari teman posko yah. Dari situ kita berasa jadi maba (mahasiswa batu, ehh baru maksudnya) lagi, kenalan dengan orang baru lagi, dan di situlah awal kamu mengawali hari-hari mu di posko selanjutnya, kecuali yang dari awal udah jaim yah. Hahaha. Di pengumpulan itu juga kami udah di bagi ke posko-posko yang ada. Jadi saat itu saya kan udah tau nama lokasinya, jadi kami langsung ngumpul dengan teman jurusan yang kebetulan 1 kecamatan (1 desa hanya 1 orang di jurusan saya). Kami langsung sharing-sharing lebay mengenai lokasi kami nantinya (yang udah KKN pasti pernah merasakan hal ini). Minta supaya sering-sering di kunjungi ke posko lah, minta supaya sering-sering di hubungi lah, bahkan salah satu berita terhoax tentang posko saya saat itu adalah, seorang teman mengatakan bahwa, posko saya adalah posko di kecamatan yang terjauh. Sinyal susah. Tidak ada angkot yang sampai ke sana, itupun kalau ada, itu hanya angkot yang supirnya tinggal di desa itu. Hoax yang bener-bener horor banget bagi kami yang gak tau apa-apa tentang lokasi KKN saat itu. Dan lebih parahnya, saya percaya-percaya aja. Ckckck, lugu memang. Dari keterangan itu, akhirnya saya jadi mempersiapkan segala kebutuhan selengkap mungkin (takutnya nanti malah kekurangan barang di tempat yang KATANYA jauh dan tidak bersinyal itu). Jadi saat berangkat KKN itu, saya membawa 1 buah koper dan 1 buah tas gede, udah kek pembantu minggat dari rumah majikannya aja. Hahaha. Kenyataan di lapangan? Boro-boro paling jauh, tinggal naik kendaraan doang sekitar 5 menit untuk bisa dapat angkot ke Makassar. Kampret momen banget gak sih?
          Moment dumba-dumba (deg-deg serrr) selanjutnya adalah saat kami dikumpulkan kembali di Kantor Bupati Takalar untuk pelepasan, di situlah perjalanan 7 minggu di mulai dan mulai say good bye dengan teman gengs. Oyah, ada 1 hal menjijikkan yang pernah kami lakukan saat berangkat Kakaeng. Saya dan 4 orang sahabat saya  saat itu menggunakan baju kembaran pas berangkat. Euhh, berasa kek girlband yah. Mungkin saat itu kami berpikir bahwa, saat salah satu dari kami hilang atau tercecer di jalan, baju yang lain akan memberikan sinyal karena kebetulan satu merk dan 1 tempat beli. Seperti ikatan batin gitu. Hahahaha.
          Lanjut ke perjalanan ke Desa masing-masing setelah pelepasan dari Kantor Kecamatan. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah pertanyaan di dalam diri mengenai, “gimana yah keadaan posko ku nanti?”, apalagi saat itu saya harus menerima kenyataan bahwa posko sist saya, Febi Toa (nama samaran) berada di belakang kantor kecamatan. Wewww, envy bo. Gimana enggak, mereka berada di pinggir jalan yang dekat banget sama akses kendaraan antar kabupaten. Pernah merasakan itu ga?  Haha.
          Posko kami? Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar. Kami tiba pertama kali di rumah Pak Kepala Desa, Dg. Sibali, tapi bukan di rumahnya kami tinggal. Kami tinggal di sebuah rumah di belakang rumahnya yang dibangun khusus untuk mahasiswa yang datang KKN di Banggae. Desa itu ternyata sudah sering dijadikan sebagai lokasi KKN sehingga warganya juga sudah terbiasa dengan orang luar, dan kepala desa juga sudah membuatkan rumah tersendiri. Rumahnya seperti apa? Seperti rumah pada umumnya dengan 1 ruang tamu, 1 dapur merangkap ruang makan, 1 tempat cuci piring, 1 WC/KM, dan 1 kamar tidur. Semua serba satu sementara kami ada 10. Bisa bayangkan bagaimana kami hidup dalam rumah itu? Bisa dongg. 7 minggu malah.
          Ruangan yang paling sering kami gunakan adalah kamar tidur. Iyah, kami bersepuluh paling sering ngumpul di dalam kamar (tapi bukan kumpul kebo loh yah, kami manusia koq bukan kebo). Entah itu untuk tidur-tiduran (yaeyalah, namanya juga kamar tidur) atau mengisi buku harian KKN (diari ceritanya), atau nyanyi bareng, atau bikin video bareng, atau persiapan proker, bahkan terima tamu pun kami lakukan di kamar tidur. Kamar itu saksi bisu untuk setiap perbuatan maksi ehh maksudnya kegiatan-kegiatan luar biasa yang kami lakukan.

Kamar tidur juga merangkap jadi gudang penyimpanan, soalnya semua barang-barang di simpan di dalam kamar ini.  Mulai dari alat tidur, pakean, koper, tas, laptop, etc. Untung kompor, piring, dan mobil gak di simpan di kamar ini. Bayangkan saja semua barang milik pribadi dan milik bersama dikumpul dalam 1 kamar, dikali 10 orang gimana modelnya tuh. Belum lagi tempat tidur super gede yang nongkrong di dalam kamar. Akhirnya, karena tempat tidurnya gak bisa di bongkar dan di keluarkan maka yang mendapat kesempatan paling special untuk menempati tempat tidur adalah ketiga cowok itu. Jadi kalo lagi lengkap, formasinya itu, para cowok tidur di atas tempat tidur empuk berkasur, sementara cewek mengatur posisi tidur di sekeliling tempat tidur yang hanya beralaskan kasur tipis. Formasi yang luar biasa. Jadi sekiranya ada binatang buas yang masuk ke kamar, otomatis yang jadi korban pertama kali adalah si cowok (karena binatangnya temenan sama yg cewek jadi di lewati aja, hahaha).
Tempat tidur berkasur empuk

Emang segede apasih kamarnya sampe muat? Gede banget dong, sampai-sampai kami bisa bertahan hidup selama 7 minggu di kamar berukuran 8x6 meter itu. What?? Untuk sepuluh orang? Daebak. Bisa yah? Bisa dong. Bahkan kamar kami ini sudah di beri julukan ‘kamar 1x1 meter’ dari penghuni Posko Mangadu si Febi Toa, saking berkesannya kamar ini dilihat dari luasnya.
          Seminggu pertama kami menempati rumah ini bener-bener buth adaptasi. Dimulai dari orang baru yang masih (agak) jaim, mengatur posisi tempat tidur baru biar gak tumpang tindih, dan yang paling berasa saat itu adalah, memikirkan cara gimana supaya ruangan itu tidak panas. Iyup. Panas banget boo di dalam kamar, secara kan gak ada kipas angin padahal suhu Takalar saat itu warbiassaakk banget panasnya. Sampai pada akhirnya ada kipas angin di kamar kami, entahlah dari mana, saya lupa kisahnya.  
          Sehubungan dengan tempat tinggal di lokasi, banyak banget rumor yang beredar mengenai lokasi KKN teman kami yang lain. Ada yang jauh dari peradaban sampe susah sinyal lah, ada yang dekat banget dengan Kota Makassar jadi bisa bolak-balik tiap hari lah,, ada yang tinggal di  rumah gedong yang guuddeeee banget sampai di fasilitasi dengan alat fitness (yang bagian ini sumpah bikin envy, sampai saya bener-bener mendatangi posko itu). Ada posko yang berada tepat di pinggir sungai dan dan saat naik di rumahnya (rumah panggung) langsung ada bunyi yang menurut saya horror banget ‘ngik..ngik’ dan rumahnya agak-agak goyang. Omegat, rumahnya rapuh banget. Mungkin dibandingkan posko lain, posko kami yang paling kecil, tapi masih menyenangkan lah, at least gak goyang-goyang lah saat ditinggali.
          Satu hal yang paling saya ingat saat pertama kali datang yaitu, anak-anak kecil mengikuti mobil yang kami gunakan sambil bertepuk tangan dan berteriak, “kakaeng..(prokprok) kakaeng”. Berasa jadi topeng monyet yang ditontonin anak kecil loh. Beginikah rasanya si monyet itu hahaha. Kami jadi berasa artis desa deh, setiap lewat pasti mendapatkan pandangan tajam (setajam pisau roti) atau pandangan penasaran, atau pandangan mupeng dan senyum-senyum sh*t dari anak-anak kecil itu. Setiap lewat di depan rumah warga juga mereka pasti teriak, “sengka ki” yang artinya “mari singgah”. Ramah kan?? Iya dong, Banggae!!
          Ini adalah awal perjalanan 7 minggu kami di lokasi KKN yang menurut saya warbiassaakk dan menyenangkan banget. Mungkin memang ada yang merasa KKN nya tidak menyenangkan, tapi enjoy it. Nikmati 7 minggu itu dan jangan sia-siakan, at least kamu ada bahan cerita saat bertemu kembali nantinya dengan teman posko.
          Tunggu chapter selanjutnya, masih banyak kisah kami. 

Dahai, 220716

Kamis, 21 Juli 2016

KAKAENG!!!!!! (Chapter 1 – Posko Banggaedan Bersinar & Team)

Sekarang di sosmed saya lagi marak-maraknya postingan tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata loh yah, bukan Korup Korup Nyata). Junior saya di kampus (kesannya kek tua banget yah pake istilah junior) lagi heboh-hebohnya menceritakan pengalaman KKN mereka. No day without rompi merah lewat di timeline eike (Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNHAS menggunakan rompi merah ala-ala tukang parkir sebagai salah satu atribut, yang menurut saya saat itu adalah pakean yang gak banget). Terlihat sekali di wajah mereka menggambarkan kebahagiaan masa-masa KKN yang dipenuhi dengan proker-proker atau yang berhasil (punya waktu dan punya nyali) untuk mengekplore lokasi KKN mereka. Kenapa saya bilang punya nyali? Karena berdasarkan pengalaman kami anak KKNPK Posko Desa Banggae (dan Bersinar) yang notabene adalah posko terpatuh (atau takut ketahuan supervisor?), butuh nyali yang besar untuk meninggalkan posko untuk melakukan kegiatan di luar proker. Ckckck. Anak yang patuh.
KKN memang merupakan salah satu mata kuliah yang memberikan banyak pengalaman bagi para pelaksananya. Terlalu banyak hal menarik yang dapat dikenang dari masa-masa KKN. Gak heran kalo ikatannya berlangsung lama (ikatan batin loh yah, bukan ikatan sayur). Banyak kisah suka duka terjadi di masa-masa ini, bahkan cinlok pun bisa terjadi.
Melihat postingan anak-anak ini (eh, maksudnya adik-adik ini) membuat saya jadi flashback dengan masa KKN dulu. Jadinya langsung buka laptop, buka folder KKN, dan menikmati setiap moment-moment gila, ongol, sinting yang pernah dilakukan selama masa itu. Untungnya dulu sempat foto-foto dan buat video selama masa ongol itu. Haha. Video. Iyah, kami sering membuat video. Bahkan sampai sekarang pun, saat kami berencana untuk ngumpul (yang tidak pernah terealisasi sampai detik ini -_-), kami masih merencanakan untuk membuat video, di usia setua ehhmmm maksudnya sekece ini.
Kami, 10 orang mahasiswa kesehatan Universitas Hasanuddin dari berbagai Fakultas dikumpulkan di Posko ini. Posko KKNPK Desa Banggae Kec. Mangarabombang Kab. Takalar.  Sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berjarak sekita 2 jam dari Makassar. Banyak yang mengatakan bahwa KKNPK itu gak seru karena dekat dengan kota dan ketemunya sesama orang kesehatan (kemungkinan ketemu teman fakultas lebih besar). Namun bagi saya ini merupakan pengalaman yang luar biasa banget.
Kami 10 orang yang belum saling mengenal satu sama lain. Maksudnya ini, saya yang belum kenal mereka, kalo mereka sudah ada yang saling kenal karena 1 Fakultas juga dan ternyata karena sepupuan juga. Hihi. Yang dikumpulkan di sebuah posko KKN selama 7 minggu, berinteraksi bersama, dan melakukan hal-hal maksiat bersama (tidur sekamar dan menangkap tokek adalah perbuatan maksiat kan?)
Inilah penghuni posko Banggaedan Bersinar itu, bagi orang-orang yang saya sebutkan nanti dan ternyata masuk dalam Daftar Pencarian Orang, mungkin itu hanya kebetulan semata. Here we are:
1.     Nur Ulul Amran Seorang anggota posko yang paling tua tapi tidak dipertuakan (haha) yg pada saat itu merupakan mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2009. Memperkenalkan diri saat itu dengan nama Nanang (yang akhirnya kami panggil dengan sebutan Kak Nanang), namun setelah sekian lama berinteraksi dengan warga desa dan warga posko (yang supergila, saklek, dan ongol) maka ditetapkanlah nama barunya sebagai Dg. Kanang. Pertama kali bertemu saat itu di pengumpulan perdana anggota KKNPK di Auditorium Prof Aminuddin, datangnya telat, itupun setelah dihubungi berkali-kali (yang di balasnya hanya 1 kali itupun hanya dengan sms bertuliskan “iya”), kalo bukan karena embel2 “angkatan 2009” udah ku kirimkan rudal orang ini. Dia datang, dengan muka (sok) lugu, gak mau salaman, dan jaiiimmmmm banget, padahal setelah semingguan bareng di posko, keluar aslinya RUSAK (haha, pisss). Salah satu hobinya adalah mancing (masalah) di kolam orang yang jelas-jelas ada tulisannya “dilarang memancing”. Benar-benar hobi memancing masalah yah. Hobi lainnya adalah metik gitar yang lumayan kece kalo dia main tapi jangan disuruh nyanyi karena suaranya tidak mendukung petikan gitarnya. Salah satu kelebihannya adalah menagkap tokek (sepertinya dia harus dinobatkan sebagai “Sang Penakluk Tokek”). Belakangan ketahuan kalo dia punya kembaran identik yang kuliah di Jekadah dan pernah di bawa ke Posko yang membuat Chipa bingung mana bapaknya (Skefo, selama di posko statusnya juga berubah jadi Ayahnya Chipa)
2.     Tri Hermawan Si manusia paling sibuk dengan dunianya sendiri yang super jago ngedit. Sstt, video KKN kami itu kakmeramen dan editornya dia lohh (cek IG nya kaka). Kami memanggilnya dengan sebutan ‘Teri’. Salah satu dari 3 cowok penghuni posko Banggaedan yang merupakan Mahasiswa FKM Jurusan K3(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Unhas angkatan 2010. Kalo ini teman Fakultas dan juga sempat sekelompok selama masa pengkaderan dulu, kalo gak salah saat Winslow atau Bias. Hobi depan laptop, mutar lagunya Vierra yang liriknya kek gini, “kemarin kamu datang membawa bunga, kita baru kenalan 1 minggu saja” yang sukses bikin saya hafal lagunya. Selain itu juga suka mutar lagu-lagunya Glee (berkolaborasi dengan Cita dan Kurput), sehingga beberapa kali gaya foto kami ya pake lambang Glee. Manusia super cuek yang kalo mandi saing-saingan sama Putri, soalnya dia ngurusin rambutnya (yang gak lebih kece dari Keribo ku -_-). Manusia paling jarang di posko karena satu-satunya penghuni posko yang bawa motor sendiri, jadi kalo udah siang kakinya udah gatal untuk jalan. Dia punya proker pribadi sepertinya, yaitu mengunjungi posko lain bahkan yang tidak bisa di jangkau motor sekalipun (kalo ada posko di kutub utara kemungkinan di kunjungi juga), dan baru pulang saat maghrib (bahkan sempat gak pulang dan nginap di posko orang) sambil membawa cerita-cerita dari posko yang dikunjunginya yang sukses bikin envy. Untung kalo buka puasanya di posko, ini udah dimasakin, malah ternyata buka puasa di posko lain. #sakiitttt. Dia juga salah satu penghuni posko yang paling rajin pulang hanya untuk me-laundry bajunya di Makassar saking mahalnya biaya laundry terdekat di sini, jauh pula. warrrbiassaaakkk
3.     Putra Imanullah We call him Putra. Seorang mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Pertama kali berkenalan saat sudah di posko KKN karena dia dan beberapa teman kedokteran lain masih harus menyelesaikan kuliah atau apalah itu yang bertepatan dengan waktu keberangkatan (kalo gak salah, hehehe). Paling expert dalam hal menyapu ruang tamu karena pagi-pagi benar sebelum matahari terbit dan sebelum penghuni posko lain bangun dari ngoroknya, dia udah selesai menyapu, terus tidur kembali (gakk ding, hehe). Salah satu seksi dokumentasi merangkap seksi transportasi posko.
4.     Aini Dwi Handini Wanita yang saat itu masih berstatus calon drg (maksud nya dokter gigi loh yah, bukan drugs, dia bukan pecandu koq) yang kuliah di Fak. Kedokteran Gigi Unhas angkatan 2010. Kami memanggil wanita berbehel ini dengan panggilan Ai. Pertama kali ketemu di pengumpulan perdana mahasiswa KKNPK, dan langsung heboh sendiri saat tahu kalo kita 1 posko (gitu kali yah reaksinya ketemu artis, hihihi). Jadi saat itu kita saling telponan di dalam ruangan dan saat saya menyebutkan tempat saya berdiri, dia langsung balik belakang dan meloncat kegirangan tapi ku terjatuh dari kursi goyang, ehhh koq malah nyanyi, maksudnya meloncat kegirangan sambil melambai-lambaikan tangan. Saya langsung mencari kamera pada saat itu, jangan-jangan saya lagi ada di acara uka-uka makanya dia melambaikan tangan, hahaha, gak ding. Kalo gak salah ingat, berangkat Kakaeng sepertinya kami 1 bus, dan harus disuguhkan dengan pemandangan “mobil berhenti!!” dan “barang minggir!!” kan (bagian ini sepertinya tidak bisa diceritakan). Hahaha. Wanita yang kalo sikat gigi pasti mengeluarkan suara “oekkk..oeekk” jadi ketahuan banget kalo dia udah sikat gigi (hmm, Ai mi sede di kamar mandi). Wanita paling penakut yang masuk kamar aja harus di antar, hahaha, masih ingat kejadian jendela yang tergaruk sist?? Haha. Salah satu wanita yang paling antusias membuat video sampai di bawa-bawa begadang sampai subuh dan sangat bangga bahkan terlalu bangga dengan mata indah bola pingpongnya.
5.     Anggun Setiawati wanita berjilbab dari Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Kami memanggilnya dengan sebutan Anggun. Karena dia juga mahasiswi Kedokteran jadi pertama kali ketemunya di Posko. Wanita yang selalu kece penampilan berhijabnya (aku salah satu fans mu sist) dan jago masak untuk posko Banggaedan. Salah satu wanita yang diharapkan untuk bangun masak untuk makan sahur, hihi, maklum kami adalah parasut ehh parasit maksudnya. Wanita tangguh yang berhasil membawa kami ke Puntondo untuk menikmati ‘kabur dari posko untuk melepas penat menikmati pantai’.
6.     Cita Nurinsani Wanita yang saat itu masih berstatus sebagai Mahasiswi Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010 ini memperkenalkan diri dengan panggilan Cita, namun semakin lama dia akhirnya di panggil Citata (you know why lah). Awalnya berpikir dia gak bisa bergaul dengan kita, namun ternyata salah bersar..sar..sar. Dia rusak juga ternyataWanita hobi nyanyi yang menjadikan Dg Kanang sebagai gitarongnya ini suka banget nyanyi, apalagi lagunya Justin Bieber yang berjudul “Everything’s Gonna Be Allright” yang gak pernah dinyanyikan sampai selesai, pasti adaa aja lagu lain yang menghalangi lagu ini dinyanyikan secara sempurna. Kreatifitasnya luar biasa, dan memiliki keinginan yang kuat untuk BUAT VIDEO posko, hahaha. Loyalitas tanpa batas lah pokoknya, demi untuk tercapainya video posko yang baik. Salah satu wanita pencetus video posko, begadang malam-malam untuk buat koreografi dan rekaman, too many crazy things happened with her. Anak tunggal ini juga membuat posko kebanyakan dapat makanan ‘mewah’ (untuk ukuran anak Kakaeng di sebuah desa) dan sering dikunjungi sama mamanya juga. No special moment without foto-foto kalo bareng wanita ini.
7.     Eka Isma Liliany Kibo, kece
8.    Intan Tamala Wanita agak tambun ini pada saat itu adalah mahasiswa FKM Unhas angkatan 2010 yang pada saat di posko betul-betul menunjukkan eksistensi dari emansipasi wanita, dibuktikan dari dia menjadi Koordes padahal di Posko ada 3 orang cowok. Haha. Warrbiasaaakk. Wanita ini juga jago masak, utamanya dalam skala besar (kenapa dia gak buka catering aja yah?). pernah membuat kue barongko yang enuuaakknya pake banget, sampai posko lain bela-belain datang ke posko kami (harusnya dulu kami udah buka usaha barongko di posko, trus diberi nama “Barongko Bu Intang”). Pada saat KKN dia adalah orang yang paling sering telponan, dikit-dikit HP nya bunyi, apalagi ringtonenya itu loh. Keknya dulu dia ada punya 2 ringtone, tapi yang paling saya ingat adalah lagunya David Cook yang “Always be My Baby”. Jadi ketahuan banget kalo udah bunyi “jrenggg, you are as one beb..” hmm, pasti tante Intang itu yang di telpon. Wanita ini asal Sorowako yang kalo bicara masih menggunakan aksen dari sono, “bahhh”. Hehehe.  
9.     Kurnia Putri Wanita pecinta korea ini pada saat itu adalah mahasiswa Jurusan Fisiologi Fak. Kedokteran Unhas Angkatan 2010. Pembawaannya kaleeemmm banget. Tau cerita-cerita princess Disney?? Ya kayak gitu kurang lebih gambarannya. Gilee, pertama kali lihat ini orang, waw banget, jauh banget lah sama saya yang kalo tidur pasti bisanya main sepak bola plus tambahan ngorok (kalo lagi khilaf, hihihi). Satu hal yang paling diingat dari wanita ini adalah, dia cantik. Udah kalem, cantik lagi, uweww. Jadi kalo jalan bareng di jalanan desa itu, trus ada anak SD lagi mainan di luar sekolah, pasti mereka langsung teriak, “Kak Putri..Kak Putri Cantik!” Lah saya di sampingnya apa dong? Putri di dongeng-dongeng kalo jalan-jalan biasanya bawa apa yah? Bukan bawa piaraan kan? (hahaha). She really looks like a princess, like her name, Putri. Tapi karena namanya agak-agak mirip namanya “Teri” jadi kadang dia di panggil Puput di Posko, biar gak salah menyahut gitu loh. Dia juga salah satu pesaing Tri kalo di kamar mandi, warrbiasaaakkk lamanya. Keknya dia dan Tri harus dinobatkan sebagai ratu dan raja kamar mandi deh, biar aku aja yang jadi babunya, *ehh. Hahaha. Wanita ini juga jago menari, dia dulu anggota UKM Tari Unhas yang udah tampil sampai di luar negeri (pas dia cerita dan lihatin fotonya, air liur saya langsung menetes..tes..tes..). Dia juga adalah dalah satu Korean Freak (hehe), semua lagu-lagu di mobilnya pada saat itu adalah lagu korea, saya sampe hafal lagunya (maksudnya musiknya, kata-katanya aja gak ngerti, apalagi mau tau lagunya), apalagi pada bagian syusyusyusyusyu-nya. Kejadian warbiasaakk bersama dia adalah, saat jalan-jalan ke kota Patalassang dan mobilnya langsung mengeluarkan asap, panic tingkat dewa mennn. Yang awalnya rencana buka puasa di luar posko tapi karena menunggu mobilnya baikan dulu jadilah kami pulang saja ke posko (dengan perasaan H2C dengan keadaan si mobil). Eh, mobilnya ada namanya loh, tapi saya lupa. Wanita juga ini bagi saya adalah seorang yang tegar, karena setelah beberapa hari di posko, adeknya dipanggil Yang Maha Kuasa, dan beberapa hari setelah penguburan adiknya, dia harus kembali ke posko melanjutkan setiap proker  yang ada. You are strong, girl. ^_^

10.   Syifa Fauziah Kami memanggilnya Chipa. Wanita montok ini pada saat itu adalah mahasiswa jurusan Epidemiologi FKM Unhas angkatan 2010. Salah satu wanita cerewetnya Banggaedan yang ributnya ngalahin emak-emak. Protesnya sana-sini gak berhenti-berhenti. Wajahnya yang super serius bikin enak buat digangguin, sampai akhirnya dia mengeluarkan ketawa khasnya yang renyah banget, se renyah biscuit Romahh. Hehehe. Tapi, kecil-kecil begitu dia jago masak bo, salah satu orang yang diandalkan pada saat sahur. Hihihi. Wanita yang akhirnya mengakui Dg. Kanang sebagai bapaknya di posko ini jago banget kalo soal input-input data dan soal statistic. Ketjeh parah. Suaranya yang melengking itu yang bikin kangen, apalagi kalo udah ketawa, uwewww.
Anggota Posko KKNPK Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar
Jurni 2013

Inilah kami, penghuni Posko Banggaedan dengan segala kejaimannya di awal-awal namun mulai mengeluarkan keasliannya pada akhirnya. Posko ini membuat kami mengenal satu sama lain, mengajarkan kami bahwa hal-hal ongol lah yang membuat kami belajar mengakrabkan diri untuk saling memahami. Banyak hal-hal di luar pemikiran saat ini yang berhasil diambil kamera dan pada saat menikmatinya saya kembali berfikir, koq bisa yah melakukan hal gila nan ongol seperti itu selama KKN. Rasanya itu gak masuk akal banget. Entah saraf otak bagian mana yang tidak berfungsi selama 2 bulan itu. Hahaha. 7 minggu waktu yang tidak singkat untuk saling mengenal, tinggal di dalam satu rumah dengan 1 kamar membuat kami ‘terpaksa’ saling mengenal. Hihihi.
Enjoy your KKN adiks-adiks.

Mungkin postingan selanjutnya masih seputar Kakaeng, soalnya judulnya agak-agak mendukung, hehehe.
To be continued....

[Dahai, 210716)
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts