Tampilkan postingan dengan label FKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FKM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juli 2016

KAKAENG!!!!!! (Chapter 2 – ‘Gubuk’ Posko)

          Masih seputar Kakaeng. Oyah, saya belum bilang yah kenapa namanya malah Kakaeng bukan KKN (kakaen). Jadi di desa tempat kami melaksanakan KKN pada saat itu adalah sebuah desa yang sebagian besar masyarakatnya bersuku Makassar yang memiliki aksen bicara yang unik, salah satunya yaitu menambahkan beberapa huruf di belakang kata yang diucapkannya misalnya ‘makan’ menjadi ‘makang’, ‘teman’ menjadi ‘temang’, begitu pula ‘kakaen’ yang menjadi ‘kakaeng’. Gituhh, kisahnya.
          KKN. Sebenarnya saya speechles ya, gak tau mau ngomong apa tentang KKN ini. Tapi setelah dipikir-pikir, saya kan menulis (atau mengetik?), kenapa harus bingung mau ngomong apa yah? Kan gak ngomong. Hahaha, ada yang minta di kirimkan bom Molotov ini, otaknya lemot banget. Back to the topic,  emang beneran speechles dan bingung mau mulai cerita dari mana karna terlalu banyak hal mengesankan yang terjadi selama Kakaeng.
          Mulai dari pengumpulan dan mencari teman posko yah. Dari situ kita berasa jadi maba (mahasiswa batu, ehh baru maksudnya) lagi, kenalan dengan orang baru lagi, dan di situlah awal kamu mengawali hari-hari mu di posko selanjutnya, kecuali yang dari awal udah jaim yah. Hahaha. Di pengumpulan itu juga kami udah di bagi ke posko-posko yang ada. Jadi saat itu saya kan udah tau nama lokasinya, jadi kami langsung ngumpul dengan teman jurusan yang kebetulan 1 kecamatan (1 desa hanya 1 orang di jurusan saya). Kami langsung sharing-sharing lebay mengenai lokasi kami nantinya (yang udah KKN pasti pernah merasakan hal ini). Minta supaya sering-sering di kunjungi ke posko lah, minta supaya sering-sering di hubungi lah, bahkan salah satu berita terhoax tentang posko saya saat itu adalah, seorang teman mengatakan bahwa, posko saya adalah posko di kecamatan yang terjauh. Sinyal susah. Tidak ada angkot yang sampai ke sana, itupun kalau ada, itu hanya angkot yang supirnya tinggal di desa itu. Hoax yang bener-bener horor banget bagi kami yang gak tau apa-apa tentang lokasi KKN saat itu. Dan lebih parahnya, saya percaya-percaya aja. Ckckck, lugu memang. Dari keterangan itu, akhirnya saya jadi mempersiapkan segala kebutuhan selengkap mungkin (takutnya nanti malah kekurangan barang di tempat yang KATANYA jauh dan tidak bersinyal itu). Jadi saat berangkat KKN itu, saya membawa 1 buah koper dan 1 buah tas gede, udah kek pembantu minggat dari rumah majikannya aja. Hahaha. Kenyataan di lapangan? Boro-boro paling jauh, tinggal naik kendaraan doang sekitar 5 menit untuk bisa dapat angkot ke Makassar. Kampret momen banget gak sih?
          Moment dumba-dumba (deg-deg serrr) selanjutnya adalah saat kami dikumpulkan kembali di Kantor Bupati Takalar untuk pelepasan, di situlah perjalanan 7 minggu di mulai dan mulai say good bye dengan teman gengs. Oyah, ada 1 hal menjijikkan yang pernah kami lakukan saat berangkat Kakaeng. Saya dan 4 orang sahabat saya  saat itu menggunakan baju kembaran pas berangkat. Euhh, berasa kek girlband yah. Mungkin saat itu kami berpikir bahwa, saat salah satu dari kami hilang atau tercecer di jalan, baju yang lain akan memberikan sinyal karena kebetulan satu merk dan 1 tempat beli. Seperti ikatan batin gitu. Hahahaha.
          Lanjut ke perjalanan ke Desa masing-masing setelah pelepasan dari Kantor Kecamatan. Hal yang tidak bisa dipungkiri adalah pertanyaan di dalam diri mengenai, “gimana yah keadaan posko ku nanti?”, apalagi saat itu saya harus menerima kenyataan bahwa posko sist saya, Febi Toa (nama samaran) berada di belakang kantor kecamatan. Wewww, envy bo. Gimana enggak, mereka berada di pinggir jalan yang dekat banget sama akses kendaraan antar kabupaten. Pernah merasakan itu ga?  Haha.
          Posko kami? Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar. Kami tiba pertama kali di rumah Pak Kepala Desa, Dg. Sibali, tapi bukan di rumahnya kami tinggal. Kami tinggal di sebuah rumah di belakang rumahnya yang dibangun khusus untuk mahasiswa yang datang KKN di Banggae. Desa itu ternyata sudah sering dijadikan sebagai lokasi KKN sehingga warganya juga sudah terbiasa dengan orang luar, dan kepala desa juga sudah membuatkan rumah tersendiri. Rumahnya seperti apa? Seperti rumah pada umumnya dengan 1 ruang tamu, 1 dapur merangkap ruang makan, 1 tempat cuci piring, 1 WC/KM, dan 1 kamar tidur. Semua serba satu sementara kami ada 10. Bisa bayangkan bagaimana kami hidup dalam rumah itu? Bisa dongg. 7 minggu malah.
          Ruangan yang paling sering kami gunakan adalah kamar tidur. Iyah, kami bersepuluh paling sering ngumpul di dalam kamar (tapi bukan kumpul kebo loh yah, kami manusia koq bukan kebo). Entah itu untuk tidur-tiduran (yaeyalah, namanya juga kamar tidur) atau mengisi buku harian KKN (diari ceritanya), atau nyanyi bareng, atau bikin video bareng, atau persiapan proker, bahkan terima tamu pun kami lakukan di kamar tidur. Kamar itu saksi bisu untuk setiap perbuatan maksi ehh maksudnya kegiatan-kegiatan luar biasa yang kami lakukan.

Kamar tidur juga merangkap jadi gudang penyimpanan, soalnya semua barang-barang di simpan di dalam kamar ini.  Mulai dari alat tidur, pakean, koper, tas, laptop, etc. Untung kompor, piring, dan mobil gak di simpan di kamar ini. Bayangkan saja semua barang milik pribadi dan milik bersama dikumpul dalam 1 kamar, dikali 10 orang gimana modelnya tuh. Belum lagi tempat tidur super gede yang nongkrong di dalam kamar. Akhirnya, karena tempat tidurnya gak bisa di bongkar dan di keluarkan maka yang mendapat kesempatan paling special untuk menempati tempat tidur adalah ketiga cowok itu. Jadi kalo lagi lengkap, formasinya itu, para cowok tidur di atas tempat tidur empuk berkasur, sementara cewek mengatur posisi tidur di sekeliling tempat tidur yang hanya beralaskan kasur tipis. Formasi yang luar biasa. Jadi sekiranya ada binatang buas yang masuk ke kamar, otomatis yang jadi korban pertama kali adalah si cowok (karena binatangnya temenan sama yg cewek jadi di lewati aja, hahaha).
Tempat tidur berkasur empuk

Emang segede apasih kamarnya sampe muat? Gede banget dong, sampai-sampai kami bisa bertahan hidup selama 7 minggu di kamar berukuran 8x6 meter itu. What?? Untuk sepuluh orang? Daebak. Bisa yah? Bisa dong. Bahkan kamar kami ini sudah di beri julukan ‘kamar 1x1 meter’ dari penghuni Posko Mangadu si Febi Toa, saking berkesannya kamar ini dilihat dari luasnya.
          Seminggu pertama kami menempati rumah ini bener-bener buth adaptasi. Dimulai dari orang baru yang masih (agak) jaim, mengatur posisi tempat tidur baru biar gak tumpang tindih, dan yang paling berasa saat itu adalah, memikirkan cara gimana supaya ruangan itu tidak panas. Iyup. Panas banget boo di dalam kamar, secara kan gak ada kipas angin padahal suhu Takalar saat itu warbiassaakk banget panasnya. Sampai pada akhirnya ada kipas angin di kamar kami, entahlah dari mana, saya lupa kisahnya.  
          Sehubungan dengan tempat tinggal di lokasi, banyak banget rumor yang beredar mengenai lokasi KKN teman kami yang lain. Ada yang jauh dari peradaban sampe susah sinyal lah, ada yang dekat banget dengan Kota Makassar jadi bisa bolak-balik tiap hari lah,, ada yang tinggal di  rumah gedong yang guuddeeee banget sampai di fasilitasi dengan alat fitness (yang bagian ini sumpah bikin envy, sampai saya bener-bener mendatangi posko itu). Ada posko yang berada tepat di pinggir sungai dan dan saat naik di rumahnya (rumah panggung) langsung ada bunyi yang menurut saya horror banget ‘ngik..ngik’ dan rumahnya agak-agak goyang. Omegat, rumahnya rapuh banget. Mungkin dibandingkan posko lain, posko kami yang paling kecil, tapi masih menyenangkan lah, at least gak goyang-goyang lah saat ditinggali.
          Satu hal yang paling saya ingat saat pertama kali datang yaitu, anak-anak kecil mengikuti mobil yang kami gunakan sambil bertepuk tangan dan berteriak, “kakaeng..(prokprok) kakaeng”. Berasa jadi topeng monyet yang ditontonin anak kecil loh. Beginikah rasanya si monyet itu hahaha. Kami jadi berasa artis desa deh, setiap lewat pasti mendapatkan pandangan tajam (setajam pisau roti) atau pandangan penasaran, atau pandangan mupeng dan senyum-senyum sh*t dari anak-anak kecil itu. Setiap lewat di depan rumah warga juga mereka pasti teriak, “sengka ki” yang artinya “mari singgah”. Ramah kan?? Iya dong, Banggae!!
          Ini adalah awal perjalanan 7 minggu kami di lokasi KKN yang menurut saya warbiassaakk dan menyenangkan banget. Mungkin memang ada yang merasa KKN nya tidak menyenangkan, tapi enjoy it. Nikmati 7 minggu itu dan jangan sia-siakan, at least kamu ada bahan cerita saat bertemu kembali nantinya dengan teman posko.
          Tunggu chapter selanjutnya, masih banyak kisah kami. 

Dahai, 220716

Kamis, 21 Juli 2016

KAKAENG!!!!!! (Chapter 1 – Posko Banggaedan Bersinar & Team)

Sekarang di sosmed saya lagi marak-maraknya postingan tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata loh yah, bukan Korup Korup Nyata). Junior saya di kampus (kesannya kek tua banget yah pake istilah junior) lagi heboh-hebohnya menceritakan pengalaman KKN mereka. No day without rompi merah lewat di timeline eike (Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNHAS menggunakan rompi merah ala-ala tukang parkir sebagai salah satu atribut, yang menurut saya saat itu adalah pakean yang gak banget). Terlihat sekali di wajah mereka menggambarkan kebahagiaan masa-masa KKN yang dipenuhi dengan proker-proker atau yang berhasil (punya waktu dan punya nyali) untuk mengekplore lokasi KKN mereka. Kenapa saya bilang punya nyali? Karena berdasarkan pengalaman kami anak KKNPK Posko Desa Banggae (dan Bersinar) yang notabene adalah posko terpatuh (atau takut ketahuan supervisor?), butuh nyali yang besar untuk meninggalkan posko untuk melakukan kegiatan di luar proker. Ckckck. Anak yang patuh.
KKN memang merupakan salah satu mata kuliah yang memberikan banyak pengalaman bagi para pelaksananya. Terlalu banyak hal menarik yang dapat dikenang dari masa-masa KKN. Gak heran kalo ikatannya berlangsung lama (ikatan batin loh yah, bukan ikatan sayur). Banyak kisah suka duka terjadi di masa-masa ini, bahkan cinlok pun bisa terjadi.
Melihat postingan anak-anak ini (eh, maksudnya adik-adik ini) membuat saya jadi flashback dengan masa KKN dulu. Jadinya langsung buka laptop, buka folder KKN, dan menikmati setiap moment-moment gila, ongol, sinting yang pernah dilakukan selama masa itu. Untungnya dulu sempat foto-foto dan buat video selama masa ongol itu. Haha. Video. Iyah, kami sering membuat video. Bahkan sampai sekarang pun, saat kami berencana untuk ngumpul (yang tidak pernah terealisasi sampai detik ini -_-), kami masih merencanakan untuk membuat video, di usia setua ehhmmm maksudnya sekece ini.
Kami, 10 orang mahasiswa kesehatan Universitas Hasanuddin dari berbagai Fakultas dikumpulkan di Posko ini. Posko KKNPK Desa Banggae Kec. Mangarabombang Kab. Takalar.  Sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berjarak sekita 2 jam dari Makassar. Banyak yang mengatakan bahwa KKNPK itu gak seru karena dekat dengan kota dan ketemunya sesama orang kesehatan (kemungkinan ketemu teman fakultas lebih besar). Namun bagi saya ini merupakan pengalaman yang luar biasa banget.
Kami 10 orang yang belum saling mengenal satu sama lain. Maksudnya ini, saya yang belum kenal mereka, kalo mereka sudah ada yang saling kenal karena 1 Fakultas juga dan ternyata karena sepupuan juga. Hihi. Yang dikumpulkan di sebuah posko KKN selama 7 minggu, berinteraksi bersama, dan melakukan hal-hal maksiat bersama (tidur sekamar dan menangkap tokek adalah perbuatan maksiat kan?)
Inilah penghuni posko Banggaedan Bersinar itu, bagi orang-orang yang saya sebutkan nanti dan ternyata masuk dalam Daftar Pencarian Orang, mungkin itu hanya kebetulan semata. Here we are:
1.     Nur Ulul Amran Seorang anggota posko yang paling tua tapi tidak dipertuakan (haha) yg pada saat itu merupakan mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2009. Memperkenalkan diri saat itu dengan nama Nanang (yang akhirnya kami panggil dengan sebutan Kak Nanang), namun setelah sekian lama berinteraksi dengan warga desa dan warga posko (yang supergila, saklek, dan ongol) maka ditetapkanlah nama barunya sebagai Dg. Kanang. Pertama kali bertemu saat itu di pengumpulan perdana anggota KKNPK di Auditorium Prof Aminuddin, datangnya telat, itupun setelah dihubungi berkali-kali (yang di balasnya hanya 1 kali itupun hanya dengan sms bertuliskan “iya”), kalo bukan karena embel2 “angkatan 2009” udah ku kirimkan rudal orang ini. Dia datang, dengan muka (sok) lugu, gak mau salaman, dan jaiiimmmmm banget, padahal setelah semingguan bareng di posko, keluar aslinya RUSAK (haha, pisss). Salah satu hobinya adalah mancing (masalah) di kolam orang yang jelas-jelas ada tulisannya “dilarang memancing”. Benar-benar hobi memancing masalah yah. Hobi lainnya adalah metik gitar yang lumayan kece kalo dia main tapi jangan disuruh nyanyi karena suaranya tidak mendukung petikan gitarnya. Salah satu kelebihannya adalah menagkap tokek (sepertinya dia harus dinobatkan sebagai “Sang Penakluk Tokek”). Belakangan ketahuan kalo dia punya kembaran identik yang kuliah di Jekadah dan pernah di bawa ke Posko yang membuat Chipa bingung mana bapaknya (Skefo, selama di posko statusnya juga berubah jadi Ayahnya Chipa)
2.     Tri Hermawan Si manusia paling sibuk dengan dunianya sendiri yang super jago ngedit. Sstt, video KKN kami itu kakmeramen dan editornya dia lohh (cek IG nya kaka). Kami memanggilnya dengan sebutan ‘Teri’. Salah satu dari 3 cowok penghuni posko Banggaedan yang merupakan Mahasiswa FKM Jurusan K3(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Unhas angkatan 2010. Kalo ini teman Fakultas dan juga sempat sekelompok selama masa pengkaderan dulu, kalo gak salah saat Winslow atau Bias. Hobi depan laptop, mutar lagunya Vierra yang liriknya kek gini, “kemarin kamu datang membawa bunga, kita baru kenalan 1 minggu saja” yang sukses bikin saya hafal lagunya. Selain itu juga suka mutar lagu-lagunya Glee (berkolaborasi dengan Cita dan Kurput), sehingga beberapa kali gaya foto kami ya pake lambang Glee. Manusia super cuek yang kalo mandi saing-saingan sama Putri, soalnya dia ngurusin rambutnya (yang gak lebih kece dari Keribo ku -_-). Manusia paling jarang di posko karena satu-satunya penghuni posko yang bawa motor sendiri, jadi kalo udah siang kakinya udah gatal untuk jalan. Dia punya proker pribadi sepertinya, yaitu mengunjungi posko lain bahkan yang tidak bisa di jangkau motor sekalipun (kalo ada posko di kutub utara kemungkinan di kunjungi juga), dan baru pulang saat maghrib (bahkan sempat gak pulang dan nginap di posko orang) sambil membawa cerita-cerita dari posko yang dikunjunginya yang sukses bikin envy. Untung kalo buka puasanya di posko, ini udah dimasakin, malah ternyata buka puasa di posko lain. #sakiitttt. Dia juga salah satu penghuni posko yang paling rajin pulang hanya untuk me-laundry bajunya di Makassar saking mahalnya biaya laundry terdekat di sini, jauh pula. warrrbiassaaakkk
3.     Putra Imanullah We call him Putra. Seorang mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Pertama kali berkenalan saat sudah di posko KKN karena dia dan beberapa teman kedokteran lain masih harus menyelesaikan kuliah atau apalah itu yang bertepatan dengan waktu keberangkatan (kalo gak salah, hehehe). Paling expert dalam hal menyapu ruang tamu karena pagi-pagi benar sebelum matahari terbit dan sebelum penghuni posko lain bangun dari ngoroknya, dia udah selesai menyapu, terus tidur kembali (gakk ding, hehe). Salah satu seksi dokumentasi merangkap seksi transportasi posko.
4.     Aini Dwi Handini Wanita yang saat itu masih berstatus calon drg (maksud nya dokter gigi loh yah, bukan drugs, dia bukan pecandu koq) yang kuliah di Fak. Kedokteran Gigi Unhas angkatan 2010. Kami memanggil wanita berbehel ini dengan panggilan Ai. Pertama kali ketemu di pengumpulan perdana mahasiswa KKNPK, dan langsung heboh sendiri saat tahu kalo kita 1 posko (gitu kali yah reaksinya ketemu artis, hihihi). Jadi saat itu kita saling telponan di dalam ruangan dan saat saya menyebutkan tempat saya berdiri, dia langsung balik belakang dan meloncat kegirangan tapi ku terjatuh dari kursi goyang, ehhh koq malah nyanyi, maksudnya meloncat kegirangan sambil melambai-lambaikan tangan. Saya langsung mencari kamera pada saat itu, jangan-jangan saya lagi ada di acara uka-uka makanya dia melambaikan tangan, hahaha, gak ding. Kalo gak salah ingat, berangkat Kakaeng sepertinya kami 1 bus, dan harus disuguhkan dengan pemandangan “mobil berhenti!!” dan “barang minggir!!” kan (bagian ini sepertinya tidak bisa diceritakan). Hahaha. Wanita yang kalo sikat gigi pasti mengeluarkan suara “oekkk..oeekk” jadi ketahuan banget kalo dia udah sikat gigi (hmm, Ai mi sede di kamar mandi). Wanita paling penakut yang masuk kamar aja harus di antar, hahaha, masih ingat kejadian jendela yang tergaruk sist?? Haha. Salah satu wanita yang paling antusias membuat video sampai di bawa-bawa begadang sampai subuh dan sangat bangga bahkan terlalu bangga dengan mata indah bola pingpongnya.
5.     Anggun Setiawati wanita berjilbab dari Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Kami memanggilnya dengan sebutan Anggun. Karena dia juga mahasiswi Kedokteran jadi pertama kali ketemunya di Posko. Wanita yang selalu kece penampilan berhijabnya (aku salah satu fans mu sist) dan jago masak untuk posko Banggaedan. Salah satu wanita yang diharapkan untuk bangun masak untuk makan sahur, hihi, maklum kami adalah parasut ehh parasit maksudnya. Wanita tangguh yang berhasil membawa kami ke Puntondo untuk menikmati ‘kabur dari posko untuk melepas penat menikmati pantai’.
6.     Cita Nurinsani Wanita yang saat itu masih berstatus sebagai Mahasiswi Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010 ini memperkenalkan diri dengan panggilan Cita, namun semakin lama dia akhirnya di panggil Citata (you know why lah). Awalnya berpikir dia gak bisa bergaul dengan kita, namun ternyata salah bersar..sar..sar. Dia rusak juga ternyataWanita hobi nyanyi yang menjadikan Dg Kanang sebagai gitarongnya ini suka banget nyanyi, apalagi lagunya Justin Bieber yang berjudul “Everything’s Gonna Be Allright” yang gak pernah dinyanyikan sampai selesai, pasti adaa aja lagu lain yang menghalangi lagu ini dinyanyikan secara sempurna. Kreatifitasnya luar biasa, dan memiliki keinginan yang kuat untuk BUAT VIDEO posko, hahaha. Loyalitas tanpa batas lah pokoknya, demi untuk tercapainya video posko yang baik. Salah satu wanita pencetus video posko, begadang malam-malam untuk buat koreografi dan rekaman, too many crazy things happened with her. Anak tunggal ini juga membuat posko kebanyakan dapat makanan ‘mewah’ (untuk ukuran anak Kakaeng di sebuah desa) dan sering dikunjungi sama mamanya juga. No special moment without foto-foto kalo bareng wanita ini.
7.     Eka Isma Liliany Kibo, kece
8.    Intan Tamala Wanita agak tambun ini pada saat itu adalah mahasiswa FKM Unhas angkatan 2010 yang pada saat di posko betul-betul menunjukkan eksistensi dari emansipasi wanita, dibuktikan dari dia menjadi Koordes padahal di Posko ada 3 orang cowok. Haha. Warrbiasaaakk. Wanita ini juga jago masak, utamanya dalam skala besar (kenapa dia gak buka catering aja yah?). pernah membuat kue barongko yang enuuaakknya pake banget, sampai posko lain bela-belain datang ke posko kami (harusnya dulu kami udah buka usaha barongko di posko, trus diberi nama “Barongko Bu Intang”). Pada saat KKN dia adalah orang yang paling sering telponan, dikit-dikit HP nya bunyi, apalagi ringtonenya itu loh. Keknya dulu dia ada punya 2 ringtone, tapi yang paling saya ingat adalah lagunya David Cook yang “Always be My Baby”. Jadi ketahuan banget kalo udah bunyi “jrenggg, you are as one beb..” hmm, pasti tante Intang itu yang di telpon. Wanita ini asal Sorowako yang kalo bicara masih menggunakan aksen dari sono, “bahhh”. Hehehe.  
9.     Kurnia Putri Wanita pecinta korea ini pada saat itu adalah mahasiswa Jurusan Fisiologi Fak. Kedokteran Unhas Angkatan 2010. Pembawaannya kaleeemmm banget. Tau cerita-cerita princess Disney?? Ya kayak gitu kurang lebih gambarannya. Gilee, pertama kali lihat ini orang, waw banget, jauh banget lah sama saya yang kalo tidur pasti bisanya main sepak bola plus tambahan ngorok (kalo lagi khilaf, hihihi). Satu hal yang paling diingat dari wanita ini adalah, dia cantik. Udah kalem, cantik lagi, uweww. Jadi kalo jalan bareng di jalanan desa itu, trus ada anak SD lagi mainan di luar sekolah, pasti mereka langsung teriak, “Kak Putri..Kak Putri Cantik!” Lah saya di sampingnya apa dong? Putri di dongeng-dongeng kalo jalan-jalan biasanya bawa apa yah? Bukan bawa piaraan kan? (hahaha). She really looks like a princess, like her name, Putri. Tapi karena namanya agak-agak mirip namanya “Teri” jadi kadang dia di panggil Puput di Posko, biar gak salah menyahut gitu loh. Dia juga salah satu pesaing Tri kalo di kamar mandi, warrbiasaaakkk lamanya. Keknya dia dan Tri harus dinobatkan sebagai ratu dan raja kamar mandi deh, biar aku aja yang jadi babunya, *ehh. Hahaha. Wanita ini juga jago menari, dia dulu anggota UKM Tari Unhas yang udah tampil sampai di luar negeri (pas dia cerita dan lihatin fotonya, air liur saya langsung menetes..tes..tes..). Dia juga adalah dalah satu Korean Freak (hehe), semua lagu-lagu di mobilnya pada saat itu adalah lagu korea, saya sampe hafal lagunya (maksudnya musiknya, kata-katanya aja gak ngerti, apalagi mau tau lagunya), apalagi pada bagian syusyusyusyusyu-nya. Kejadian warbiasaakk bersama dia adalah, saat jalan-jalan ke kota Patalassang dan mobilnya langsung mengeluarkan asap, panic tingkat dewa mennn. Yang awalnya rencana buka puasa di luar posko tapi karena menunggu mobilnya baikan dulu jadilah kami pulang saja ke posko (dengan perasaan H2C dengan keadaan si mobil). Eh, mobilnya ada namanya loh, tapi saya lupa. Wanita juga ini bagi saya adalah seorang yang tegar, karena setelah beberapa hari di posko, adeknya dipanggil Yang Maha Kuasa, dan beberapa hari setelah penguburan adiknya, dia harus kembali ke posko melanjutkan setiap proker  yang ada. You are strong, girl. ^_^

10.   Syifa Fauziah Kami memanggilnya Chipa. Wanita montok ini pada saat itu adalah mahasiswa jurusan Epidemiologi FKM Unhas angkatan 2010. Salah satu wanita cerewetnya Banggaedan yang ributnya ngalahin emak-emak. Protesnya sana-sini gak berhenti-berhenti. Wajahnya yang super serius bikin enak buat digangguin, sampai akhirnya dia mengeluarkan ketawa khasnya yang renyah banget, se renyah biscuit Romahh. Hehehe. Tapi, kecil-kecil begitu dia jago masak bo, salah satu orang yang diandalkan pada saat sahur. Hihihi. Wanita yang akhirnya mengakui Dg. Kanang sebagai bapaknya di posko ini jago banget kalo soal input-input data dan soal statistic. Ketjeh parah. Suaranya yang melengking itu yang bikin kangen, apalagi kalo udah ketawa, uwewww.
Anggota Posko KKNPK Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar
Jurni 2013

Inilah kami, penghuni Posko Banggaedan dengan segala kejaimannya di awal-awal namun mulai mengeluarkan keasliannya pada akhirnya. Posko ini membuat kami mengenal satu sama lain, mengajarkan kami bahwa hal-hal ongol lah yang membuat kami belajar mengakrabkan diri untuk saling memahami. Banyak hal-hal di luar pemikiran saat ini yang berhasil diambil kamera dan pada saat menikmatinya saya kembali berfikir, koq bisa yah melakukan hal gila nan ongol seperti itu selama KKN. Rasanya itu gak masuk akal banget. Entah saraf otak bagian mana yang tidak berfungsi selama 2 bulan itu. Hahaha. 7 minggu waktu yang tidak singkat untuk saling mengenal, tinggal di dalam satu rumah dengan 1 kamar membuat kami ‘terpaksa’ saling mengenal. Hihihi.
Enjoy your KKN adiks-adiks.

Mungkin postingan selanjutnya masih seputar Kakaeng, soalnya judulnya agak-agak mendukung, hehehe.
To be continued....

[Dahai, 210716)
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts