Tampilkan postingan dengan label Alor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2019

Aku Takut Berada di Alor


Jakarta, 2017

Alor
Sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur
Pulau yang sekilas mungkin tidak akan kau temukan di peta Indonesia
Atau bahkan mendengar namanya pun kau belum pernah?
Sebuah Pulau yang kelak akan menjadi tempat tinggalku selama 2 tahun

Bukan kisah menyenangkan ketika ku dengar akan bertugas di sana.
Kisah horor menemani perkenalan pertamaku dengan pulau ini
Aku percaya, apalagi sumbernya dari seorang teman yang asli Alor
Entah itu ilmunya yang masih kental
Atau makhluk ‘terbang’nya yang masih beroperasi
Apalagi di wilayah tugas kami yang notabene adalah daerah terpencil, pegunungan, dan akses susah

Belum lagi anjuran dari sanak family ketika tahu diriku akan ke pulau kecil ini
Tidak boleh sebut inilah
Tidak boleh makan itulah
Kalo bertamu seperti inilah
Bahkan seorang teman mewanti-wanti untuk tidak berjodoh dengan orang di pulau ini
Aku harus pulang dengan selamat, anjurannya saat itu.
Aku Takut Berada di Alor, belum apa-apa sudah ditakut-takuti

Waktunya tiba untukku ke pulau ini
Kesan pertama, indah!
Laut biru menyambut ketika pesawat akan menapakkan rodanya di Bandara Mali (Jalan-Jalan di Pedalaman Alor)
Sepanjang jalan menuju kota, pesona laut biru dan pantainya memanjakan mata
Kami dibuat terperangah dengan keindahannya

Tapi bukan hanya pesona alamnya yang membuat terperangah
Kota Kalabahi, Ibukota Alor
Jam malam di kota ini juga membuat kami terperangah
Jam 7 malam, secara serentak seluruh toko di sekitaran Pasar Kalabahi sudah mulai tutup
Membuat kami harus berburu dengan waktu untuk membeli keperluan,
untuk di bawa keesokan harinya ke Padang Alang
Suasana kota yang gelap dan mulai sepi sekitaran jam 8
Okeh, aku tidak akan hidup di kota ini, tapi di sebuah desa bernama Padang Alang

Aku Takut Berada di Alor
Sebuah desa bernama Padang Alang akan menjadi tempatku bertugas
Jaraknya dari Kota Kalabahi memang hanya 45 km tapi kau harus melihat medannya dulu
Menurutku tidak manusiawi
Jalan yang lebih layak di sebut kali kering ini harus dilewati selama 3 jam
2 tahun bukan waktu yang singkat untuk mencoba ‘menikmati’ jalanan ini.

Padang Alang..
Lain lagi kisahnya
Tidak ada sinyal internet
Sinyal telpon pun kadang hilang jika cuaca buruk atau si penjaga tower belum dibayar
Lucu memang, permasalahan di desa yang tidak akan kau temukan di kota

Tidak ada sinyal internet membuat ku sejenak melupakan handphone
Mengobrol menjadi hal paling sering kami lakukan
Entah itu pembicaraan penting sampai absurd.
Kebanyakan membahas hal yang tidak penting memang
Membahas pimpinan kami yang tidak pernah habis sebagai bahan pembicaraan
Menceritakan kehidupan kami yang seakan menyedihkan berujung pada menertawai diri sendiri

Listrik di mess hanya menyala 4 jam sehari
Jam 6 - 10 malam adalah momen terang kami
Penerangan yang terbatas membuatku belajar menghargai waktu dan listrik
Membuatku belajar untuk tidak mengeluh jika lampu mati hanya beberapa menit
Aku takut berada di Alor, akses susah, sinyal susah, listrik pun tak ada.

Terkadang bosan. Sudah pasti.
Kegiatan berulang setiap hari tanpa sinyal dan listrik sangat mungkin membuat mati gaya
Segala cara kami lakukan untuk membunuh penat
Bermain UNO sampai tengah malam dengan penerangan seadanya
Karaoke dengan mike portable sambil membayangkan teras rumah kami adalah panggung
Tidak jarang kami dianggap gila, tapi daripada gila sungguhan karena bosan

Puskesmas Padang Alang memperkenalkan ku pada stafnya yang adalah orang-orang Alor asli
Hitam kulit, keriting rambut, ditambah suara keras
Sedikit khas dari sini adalah kata maki yang di tempat asalku sudah tergolong sangat kasar
Di sini? Biasa saja.
Menyeramkan pikirku
Mereka  yang bertampang sangar, tapi berhati Hello Kitty

Tapi kekuatan bersosialisasi membuatku memahami bahwa fisik bisa menipu
Mereka asik
Mungkin hanya terkendala di bahasa, tapi semakin lama bersua, 
semakin ku memahami bahwa mereka menyenangkan
Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami para perantau yang jauh dari rumah
Mereka berusaha membuat kami merasa nyaman seperti di rumah
“kami ini orang asli di sini, gampang hidup di sini. 
Ibu dong orang pendatang pasti susah kalau mau apa-apa jadi kami yg orang asli harus bantu.”
Kata seorang perempuan bernama Susana yang kelak menjadi segalanya bagi kami di Padang Alang.

Lain lagi dengan masyarakatnya
Sapaan hangat setiap kali bertemu tidak pernah alpa setiap harinya.
“Syalom, Ibu!” begitu sapaan mereka.
Entah kenal atau tidak, sapaan itu wajib diteriakkan.
Ramah, pikirku.

Belum lagi melihat tawa lepas mereka ketika kami melakukan hal yang  baru menurut mereka
Atau sekedar mencoba berbicara dalam bahasa mereka,
Ahh, tidak ternilai senyuman itu.
Aku Takut Berada di Alor, orangnya ramah, baik, penyayang.

2 tahun berlalu,
Jangan katakan semuanya mulus,
Rasaku tidak ada yang mulus.
Seperti melalui jalan kerikil, tiba-tiba batu gunung, trus kena banjir, lalu ban bocor
Rasanya, keras bertemu keras.
Struggle
Berat.

Ketika ternyata setengah dari tim kami harus selesai masa tugas sebelum waktunya
Rasanya seperti, “ditinggal saat lagi sayang-sayangnya!”
Menjalankan program menjadi salah satu pilihan menyibukkan diri,
Demi mencoba melupakan berapa lama lagi hingga waktu memanggil pulang

Pada prosesnya, ada datang yang pergi,
Dan ada baru yang datang.
Sedikit angin segar untuk jalanan yang selama ini tidak mulus
Seperti menemukan oase di tengah gurun
Yang sepemikiran datang, membuat banyak kisah baru
Awalnya pesimis, jadi sedikit lebih optimis
Aku Takut Berada di Alor, banyak yang memiliki pemikiran hebat.

2 tahun semakin mendekat,
Sedikit demi sedikit program dilalui
Kerjasama demi kerjasama terbangun satu per Satu
Emosi di awal kegiatan berakhir senyum pada akhirnya
Nyaman itu sedikit demi sedikit terbentuk
Mereka seakan membuatkan ‘rumah’ bagiku di sini..
Dan mereka memang berhasil membuatku menjadikan tempat ini menjadi rumah kedua
Aku semakin Takut Berada di Alor, kutemukan persaudaraan dan rasa cinta di sini

Bukan hanya tentang partner kerja kutemukan di sini,
Teman satu visi ternyata ada
Mereka menemukanku di akhir pengabdianku
Menjadikan diri sebagai relawan dan menemukan kebahagiaan tersendiri di dalamnya
Beda suku, beda agama, beda bahasa, beda warna kulit, bukan penghalang
Seperti saudara, walaupun tidak sedarah
Aku Takut Berada di Alor, kutemukan Indonesia yang sesungguhnya di sini

Tempat ini membuatku mendapatkan banyak hal baru
Orangnya, pemikirannya, tidak semuanya sesuai mau ku
Tapi ku dibuat belajar darinya
Bahwa, tidak semua hal terjadi sesuai mau ku
Tidak semua hal bisa dibuat POSITIF, butuh NEGATIF untuk mengimbangi
Dan aku dibuat tersadar untuk belajar
Negatif ada untuk dijadikan pembelajaran
Aku Takut Berada di Alor, ku temukan sekolah dan guru di sini.

Sudah cukup?
Belum rasaku
Banyak racun di sini
Tempat piknik di  mana-mana
Dari yang sangat ramai sampai yang seakan private beach
Alor membuat standar pantai indah di otakku meningkat (Artikel terkait : Pantai Pasir Putih di Alor Barat Daya)
Alor menyediakan tempat jalan bagiku yang tukang jalan ini
Dari Sunrise hingga Sunset, dari gunung hingga pantai
Gugusan pulaunya
Semuanya indah

Lalu, tenun lokalnya
Seakan menjadi prioritas bagiku mendapatkan tenunannya
Setiap kecamatan dengan motif dan ciri khas masing-masing
Aku Takut Berada di Alor, alamnya membuatku tidak betah di rumah, tenunnya menguras dompet

Waktu 2 tahun tiba, surat penarikan keluar malam itu
Ingin ku katakan, “akhirnya”, tapi tidak mampu.
Senang, tapi tidak bisa tertawa.
Banyak kisah, banyak kenangan
Mulai dari struggle sampai sudah nyaman
Perpisahan bukan hal yang menyenangkan,
Tapi tidak ada alasan jelas untuk tetap bertahan
Mengapa semua ketakutan itu semakin bertambah?

Alor
Sebuah pulau yang menjadi rumah bagiku selama 2 tahun
Budayanya, alamnya, manusianya, membuatku jatuh cinta
Di mana lagi akan ku temukan tempat seindah ini?
Di mana lagi akan ku temukan orang-orang ramah dengan senyuman manis seperti ini?
Di mana lagi akan ku temukan  rasa persaudaraan seperti ini?

Iyah, aku takut berada di Alor
Karena ku takut separuh hatiku tertinggal di sini

Dan ketakutanku menjadi kenyataan,
Separuh hatiku tertinggal di Alor

Susanna my Everything




Curly,
Desember 2019

Rabu, 03 Oktober 2018

Pantai Pasir Putih di Alor Barat Daya


“Sempatkanlah setidaknya sekali seumur hidupmu untuk berkunjung ke salah satu pantai pasir putih di Indonesia.”

          Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Indonesia kan negara kepulauan, ada sekitar 13ribu pulau, gimana gak mungkin punya garis pantai terpanjang. Wagelaseh! Tapi sepanjang-panjangnya garis pantai di Indonesia, saya adalah salah satu dari sekian banyak warga Indonesia yang jarang sekali berkunjung ke pantai, soalnya saya adalah anak gunung. Dari kecil hidup di dataran tinggi (tanpa pantai) membuat ku terlalu excited jika bertemu dengan pantai. Pantai tanpa pasir pun membuatku mencoba menikmatinya. Untungnya ibukota provinsi memberikan kesempatan untuk menikmati pantai. 4 tahun menghabiskan waktu di ibukota provinsi, aku bisa refreshing sejenak ke beberapa pantai, dari pantai berpasir, berbatu, bahkan berbeton pun ada. Mulai dari pantai pasir halus maupun pantai batu, ataupun dari pantai pasir putih sampai pasir hitam di suguhkan di Sulawesi Selatan.

          Penempatan tugas di salah satu pulau di wilayah kepulauan NTT menambah lokasi pantai yang dapat di kunjungi oleh perempuan gunung ini. Berbicara tentang Nusa Tenggara Timur, sudah bukan rahasia lagi kalau tempat ini adalah surganya pantai dan wisata bawah laut, salah satunya Pulau Alor. Pulau ini sukses meningkatkan standar pantai keren di dalam otakku. Pantai bersih, belum terjamah public, dan menjadi tempat warga asli untuk beraktivitas. Perjalanan menuju lokasi kerja juga melewati beberapa pantai yang bagi orang di sana biasa banget tapi bagi pendatang seperti saya dan beberapa orang kota lainnya akan menganggapnya sebagai pantai yang ‘super-duper-keren-yang-tak-tertandingi’.

          Beberapa minggu lalu, kebetulan kami sedang ada di Kota Kalabahi, ibukota kabupaten Alor. Mumpung libur jadi turun gunung dulu, sekalian refreshing (lebih tepatnya sebelum di tahan di Kalabahi untuk mengerjakan berkas akreditasi yang sukses bikin otak mumet). Di hari libur itu kami di ajak untuk piknik ke salah satu pantai yang lokasinya berada di kampung halaman dokter, teman 1 instansi  kami. Ajakan jalan-jalan gak mungkin ku tolak kan? Itu kan tujuan ku ke Kalabahi, walaupun jalan-jalan ini tidak direncakanan jadi agak kurang prepare.  So, here we go.
         
Kami berangkat dari kontrakan di daerah Kadelang sekitar pukul 2 siang ketika matahari lagi terik teriknya dan perut sedang lapar laparnya. Perjalanan selama kurang lebih 30 menit ke rumah dokter di Moru untuk ganti kendaraan plus numpang isi perut. Maklum yah, anak kontrakan jadi jarang masak dan gak kepikiran untuk makan setelah dapat ajakan jalan-jalan kek gini, hehe. Dari Moru kami menuju Pantai Langleki yang bertempat di Kecamatan Alor Barat Daya atau kadang disingkat Abad.
Mogok di tengah jalan

Perjalanan menuju pantai melalui jalan aspal harus terhambat sedikit karena masalah motor. Motor yang dikendarai oleh saya dan Seno tiba-tiba gak bisa jalan dan mesinnya mati tepat sebelum masuk di Desa Wolwal Tengah, Tamalpei. Awalnya kami pikir motornya ‘ngambek ‘ lagi karena motor pinjaman yang kami gunakan dari Padang Alang ini sempat mogok di tengah jalan. Segala macam kemungkinan diluncurkan sampai kami harus menunggu motor pengganti datang (pinjam motor dokter). Dari segala spekulasi yang ada, AKI soak lah, ini lah, itulah, ternyata motor kami gak bisa jalan karenaaaaaa BENSIN HABIS! Gubrak!!! Ini mah suuzon parah namanya, hehe.. … Fuel meter motornya juga udah gak fungsi sih jadi gak ketahuan dari awal, hehehe.
Mogok boleh, dokumentasi wajib :)

Permasalahan motor sudah selesai dengan mengganti motor lalu kami melanjutkan perjalanan. Kembali melewati jalanan aspal yang tidak lama berganti menjadi aspal ‘robek’ lalu akhirnya berganti jalanan berbatu dengan sumbangan debu di sepanjang perjalanan, sepertinya masih jalan perintis sih. Ternyata jalanan ke pantai tidak semulus yang ku pikir. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup menarik karena kami berjalan di sepanjang tepi Teluk Mutiara dengan suguhan perahu motor, tambak ikan, nelayan yang sedang mencari ikan. Satu hal yang menarik adalah kami melewati sebuah tambak mutiara, tapi sayang kami tidak singgah karena katanya tambak tersebut tidak dibuka untuk umum.

Sekitar pukul 4 kami memasuki sebuah desa, yang belakangan saya tahu bernama Desa Probur, Kec. Alor Barat Daya, yang ternyata adalah lokasi pantai tujuan kami. Sebelum memasuki desa kami melewati pantai-pantai yang menurutku keren sekali untuk dijadikan spot hunting foto. Pantai pasir putih dengan batu berlumut di ujung pantainya. Gradasi warna dari biru laut menjadi hijau terang begitu jelas terlihat, bahkan airnya begitu jernih. Back to our destination. Tiba di desa, parkir motor, and then ku berlari kepantai, ku bertemu air laut.. yaheyalahhh…
Landscape Pantai Langleki

Pantai pasir putih dengan suguhan Pulau Pura dan beberapa pulau lain di depannya. What an amazing place. Gradasi warnanya air lautnya keren banget apalagi saat kami tiba, matahari masih lumayan terik. Sendal udah lepas dan mari kita berlari-lari. Gak mandi laut? Wah, gak tuh, gak bisa berenang soalnya. Jiaahhhh, hahaha. Ya ini kekurangannya, aku gak bisa berenang, dan masih belum berani untuk berenang. Bisa sih berenang, apke gaya dada..dadaaaahhhhh (sambil melambaikan tangan). Jadi deh kalau ke pantai bisanya cuma main air doang, injak-injak pasir, main-main ombak dan foto-foto. Yasudahlah, mau gimana lagi, dinikmati saja kan yah? Aku dan Butet menghabiskan waktu main-main sambil saling foto aja. Sementara itu Ical dan Dokter pergi mencari kelapa muda untuk melengkapi main-main di pantai sore itu. Wessss, pantai dan kelapa muda katanya perpaduan yang sempurna.

Pantai ini tergolong sepi karena ketika kami datang, tidak ada satupun pengunjung lain berlalu lalang di pantai ini, padahal hari libur loh. Mungkin pantainya belum dikenal sampai seantero negri jadi belum dikunjungi kali yah. Anak-anak desa juga tidak ada yang bermain di tempat ini, apa mereka udah bosan kali yah main di pantai sekeren ini, tiap hari di lihatin soalnya. Jadinya malah enak liburan di sini, karena esensi pikniknya benar-benar terasa. Sepi tanpa gangguan orang lain, entah itu terganggu oleh orang selfi (Cuma kami yang selfie di sana), oleh anak-anak yang teriak-teriak, ataupun bule berjemur di sana-sini, hehe. Taulah yah, bule sukanya berjemur di pantai, ada pantai keren dikittt aja, langusng rebahan di sono. Jadi ingat ada sebuah pantai di Bali, lumayan tersembuyi dan sempit, tapi sekalinya turun ke pantainya, wadawwww, malah banyakan bulenya daripada pasir pantainya. Jadi bagi yang ingin menikmati pantai dengan suasana tenang tanpa banyak gangguan, untuk saat ini pantai Langleki lebih rekomendasi, tapi lain hal kalo udah terkenal kemana-mana. Selama kami main di Pantai Langleki, hanya ada satu orang bapak yang menyelam dan kembali dengan membawa tangkapan beberapa ikan. Menyelamnya gak pake alat bantu macam-macam loh, hanya mengandalkan goggle aja. Gilakkk, keren. Oyah, kebersihan pantai ini juga masih terjaga, tidak ada sampah yang berarti, yah walaupun ada satu dua sih bertebaran manjah di ujung pantai, tapi overall masih bersih. Semoga kebersihan pantai ini tidak ternodai yah. Sayang aja kan pantai kece seperti ini harus jadi jelek karena orang kamseupay yang gak bisa membedakan mana pantai dan mana tempat sampah.
Pantai Langleki dengan Latar belakang Pulau Pura

Bermain ombak sambil lari-lari. Lelah. Duduk di balik perahu yang lagi parkir di pantai. Ngobrol, bercandaan. Udah gak capek. Balik lagi ke pantai. Main lagi ke pantai sebelahnya. Gitu aja terus sirkulasi permainan kami saat itu, sampai kelapa yang dinantikan akhirnya datang juga. Yeayyy! Katanya minum air kelapa di pantai itu rasanya beda dengan minum air kelapa selain di pantai. Kalau dipikir-pikir benar juga sih. Soalnya kan kalo di pantai, kelapanya fresh from the oven, baru di petik dari pohon langsung minum jadi lebih segar, lah kalo yang udah di gerobak kan fresh from gerobak, hehe (garing yah? Gak bermaksud melucu sih). Selain itu suasananya juga mendukung karena di pantai tujuannya piknik sedangkan kalo di gerobak tujuannya minum karena haus aja. Itulah sedikit analisis singkat super gak penting dari saya yang pada akhirnya harus kamu baca J
Pantai X Kelapa Muda
Pantai X Kelapa Muda X Teman

          Sebenarnya salah satu tujuan kami berangkat siang adalah untuk menikmati sunset di Pantai Langleki ini. Menurut si dokter, di pantai ini kita bisa menikmati sunset. Salah satu hal yang membuatku lebih excited lagi. Soalnya tidak semua pantai di Pulau Alor bisa dijadikan lokasi untuk menikmati sunset. Pantainya menghadap barat sih, tapi masih di tutupi pulau lain. Pulau-pulau di sini jaraknya dekat-dekat, seperti anak MABA (mahasiswa baru) yang kemana-mana harus jalan rombongan, hehe. Menghabiskan waktu lagi sambil bermain air (sementara Ical dan Bu Andi sudah berenang) sambil menunggu matahari turun.
Berenang X Main Air

          Sekitar pukul 5.11 matahari sudah mulai menguning. It’s time to enjoy the sunset!! How to? Sebagai orang Indonesia, hal yang kami lakukan adalah, poseeeeee. Sepertinya segala sesuatu harus di rekam di lensa kamera yah. Setelah puas foto dan bikin video, kami duduk sebentar untuk menikmati sunset yang sesungguhnya. Melihat semburat jingganya, menikmati sang surya tenggelam di balik Pulau Pantar. Lah, koq pulau? Iyup, di hadapan pantai ini juga ada 2 pulau, yaitu Pulau Pura dan di baliknya lagi ada Pulau Pantar, jadi mataharinya tenggelam di balik Pulau Pantar. Tapi lumayanlah, daripada tidak sama sekali. 
Sunset di Pantai Langleki

          Semakin lama matahari semakin tenggelam yang menandakan kami harus kembali, mengingat perjalanan kami ke Moru tidaklah singkat. Harus melewati 1 jam perjalanan melintasi sepanjang Teluk Mutiara. Kami meninggalkan pantai sambil menyapa warga sekitar yang sedang membersihkan diri di sumur, sekalian pamit dan berterima kasih telah sudi menerima kami masuk di wilayahnya. Akhir dari perjalanan kami, ternyata dokter membawa kami ke sebuah dataran tinggi dekat pantai untuk melihat landscape ‘Senja di Desa Probur’ dari  ketinggian, lengkap dengan siluet Pulau Pura dan Pulau Pantar, bahkan siluet Pulau Kepa (atau Pulau Buaya yah?) pun terlihat dari dataran ini. 
Landscape Desa Probur dengan Latar  Beberapa Pulau

          Hari semakin gelap, waktunya kami kembali. Kembali ke Kalabahi, kembali kepada kenyataan, hehe. Bukan hanya kenyataan bahwa kami harus kembali ke pedalaman dengan berbagai permasalahan yang tidak penting, namun sebenarnya kenyataan bahwa kami harus melanjutkan hari-hari di Kalabahi untuk tidur 4 jam setiap hari untuk mengerjakan berkas akreditasi dengan berbagai drama yang tidak penting namun juga merasakan kebersamaan dalam tekanan (jiaahhh).

          What a great short trip to Langleki Beach. Meninggalkan pantai ini dengan harapan, semoga nanti kembali lagi ke sini untuk hunting foto soalnya kali ini karena tanpa rencana jadi gak bawa Sonya dari Padang Alang. Pantai pasir putih dengan airnya yang jernih dan batu-batu karangnya yang bersandingan dengan pasir putih (minta banget untuk di foto sihhhhh). Dan spot-spot lainnya di sepanjang perjalanan di pinggir pantai. Arrgghhh, take me back there, to Langleki, a beautiful beach on Alor Barat Daya. Pokoknya keindahan pantainya sulit digambarkan lewat foto apalagi tulisan, harus dilihat langsung.

          Jadi, kapan kamu ke sini? Kamu! Iyah kamu! 
Travelmates

Travelmates - full team


Padang Alang, 25 September 2018

Nb.
Akhirnyaaaaa bisa selesaikan tulisan ini setelah 14 hari terbengkalai dan kepikiran terus diakibatkan harus mendahulukan akreditasi, padahal udah sempat curi-curi waktu nulis pagi-pagi sebelum yang lain bangun, bahkan kepikiran untuk nulis di Pantai Sebanjar tapi sayangnya gak jadi nginap, hehe. Soon yah nginapnya.


Oyah, video tentang pantai ini bisa kamu lihat di sini. Enjoy it.





Rabu, 16 Mei 2018

(Per)jalanan Ekstrim nan Indah di Pedalaman



Ngomong soal jalanan, kita ngomong tentang fasilitas suatu wilayah. Ditempatkan di Desa Padang Alang, Kec. Alor Selatan, Kab. Alor, Prov. NTT ini, membuat saya sangat bersyukur karena bisa belajar sekaligus praktek berbagai jenis alat transportasi beserta sarana transportasi yang ada di Indonesia sampai detik ini.

Sejauh ini ada beberapa jenis alat transportasi yang akrab dengan saya selama berhubungan dengan Puskesmas Padang Alang di Alor.
1.      Kaki



Sebelum berangkat ke sini, kami sudah diberitahukan bahwa kami akan lebih banyak berjalan kaki di lokasi kerja. Ternyata emang bener, bukan lebih banyak lagi. SEMUA kegiatan dilakukan dengan jalan kaki, mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Dari kamar ke WC jalan kaki, dari WC ke dapur jalan kaki, dari dapur ke teras jalan kaki, dari teras ke Puskesmas jalan kaki (lokasinya kan di depan mess), dari Puskesmas ke rumah warga jalan kaki, dari dusun satu ke dusun lain jalan kaki. Masih biasa? Yang antimainstream bagi saya adalah untuk ke posyandu di desa pelayanan yang jaraknya jauh pun tidak luput dari jalan kaki. Sehat kan?



Sebulan pertama di lokasi, saya merasakan alat transportasi yang bernama “kaki”. Kalau selama ini mungkin saya agak tidak menaruh perhatian pada kaki, di sini saya betul-betul bersyukur sudah punya kaki yang untungnya kuat untuk melangkah dari satu Posyandu ke Posyandu lainnya, dari satu desa ke desa lainnya, untungnya bukan dari Puskesmas ke Puskesmas lainnya, haha, mungkin saya sudah angkat bendera putih atau melambaikan tangan ke kamera kalo harus seperti itu. Puskesmas kami, Puskesmas Padang Alang, memiliki wilayah pelayanan yang mencakup 4 Desa. Keempat desa itu jaraknya dekat, kalo bisa ber-apparate (Potter mania tahu nih) alias ilmu menghilang, hehe. Namun karena terkendala transportasi yang tidak ada, itupun kalo ada kami harus sewa ojek yang otomatis bayarnya agak menguras kantong karena, katanya, perjalanannya yang ekstrim jadi biayanya juga lumayan mahal. Tapi ada juga desa yang tidak dapat dilalui oleh trasportasi darat karena memang aksesnya yang belum ada, baru ini saja sedang dilakukan pembukaan jalan ke desa tersebut (Desa Kiraman). Jalur laut ada sih, pake sampan. Mau pake ambulans? Terlalu banyak pertimbangan, dananya gak cukuplah, medannya gak sesuai dengan kondisi mobillah, gue cakeplah, gue kecelah, pokoke banyak. Jadi pilihan terbaik dan tidak banyak neko-neko adalah dengan berjalan kaki.




Perjalanan kaki saya sejauh ini baru mencapai 2 desa, yaitu Desa Maikang dan Desa Kiraman. Desa Maikang saat itu kami tempuh selama kurang lebih 2 jam dengan medan yang menanjak karena desa ini berada di daerah pegunungan. Kami melewati hutan kemiri dan kenari di kiri kanan jalan. Hingga saat ini saya sudah 2 kali mengunjungi desa ini di 2 musim yang berbeda yaitu musim kering dan dan hujan, jadi otomatis tantangannya berbeda. Ketika musim kering, disepanjang jalan banyak dedaunan kering yang licin apalagi kalo pas penurunan, tapi di saat musim hujan, sungai yang biasanya kering jadi meluap jadi kami harus menunggu saat ketika air di sungai tidak terlalu banyak supaya bisa menyebrang. Karena kami melewati hutan jadi harus hati-hati dengan bahaya ular dan kalajengking, artis papan atasnya Padang Alang, hehe.




Desa kedua yang sudah saya kunjungi yaitu Desa Kiraman yang lokasinya tepat di pinggir pantai, dan berhadapan langsung dengan laut lepas berbatasan dengan daratan Timor. Karena lokasinya yang berada di pantai jadi ketika berangkat lebih banyak menurun sampai kaki nyaris gak bisa di tekuk. Selama 45 menit kami melalui penurunan berupa jalanan yang sudah di beton sampai ke Kelebana dan lanjut malalui jalan setapak melewati pesisir pantai, perkebunan warga, menyebrang sungai, sampai tiba di Desa Kiraman, total perjalanan kami yaitu 2,5 jam.


2.      Ojek (Jalur Darat)


Ojek motor adalah salah satu pilihan transportasi Padang Alang – Kalabahi (Ibukota Kabupaten Alor). Bermodalkan 150-200 ribu maka armada ojek akan mengantarkan ke tempat tujuan di Kalabahi. Mahal yah? Menurut saya tidak sebanding sih dengan medannya, harusnya lebih mahal. Medan yang dilalui adalah jalanan yang sepertinya lebih tepat disebut got besar dibandingkan jalanan.



Selama 2 bulan ini saya sudah 2 kali menggunakan jasa ojek ketika akan berangkat dari Padang Alang menuju Kalabahi, dan 2 kali juga itu masa pemulihan badan dari rasa capek yang luar biasa lumayan lama. Bagaimana tidak, ketika jalanan kering saja yang saat itu ditempuh selama 3,5 jam (itupun karena beberapa kali berhenti karena bannya kempes, mungkin kalo gak ada halangan bisa ditempuh selama 2,5 jam kali yah) sudah bikin tulang-tulang rasanya rontok semua, apalagi kalo jalanan basah, alamak, rasanya sukses jadi lumpuh layu dah. Rasanya semua jenis medan untuk motor cross ada di jalur ini, kecuali beberapa kilometer jalanan dengan aspal hitam mulus seperti paha Nicky Minaj, selebihnya aspal coklat kasar, aspal merah kasar, aspal putih robek, (yang penting namanya Aspal kalo dipertanggungjawabkan di pusat). Kenapa pemerintah sini gak buka lomba motor cross aja yah? Jalurnya kan sudah ada, lumayan panjang lagi -_-.




Sebagian besar perjalanan dengan ojek ini bikin tahan nafas sih, sampai nyaris kehabisan nafas, hehe. Ketika keluar dari Desa Padang Alang, ojek langsung di sambut dengan turunan batu-batu curam, kemudian turunan jalan beton curam banget, trus nyebrang sungai kecil, disambut dengan tanah lumpur yang kalo musim hujan setengah badan motor tenggelam di dalam lumpur yang artinya penumpang harus jalan kaki selama beberapa meter untuk sampai di Desa Kalunan yang artinya (lagi) perjalanan menyusuri pantai selama beberapa kilometer. Pemadangannya kece pake banget sih, hanya gak bisa terlalu focus lihat pemandangan karena otak lagi mikir untuk memilih antara menjadikan besi belakang motor sebagai pegangan atau memegang pundak om ojeknya, plus mata yang harus stand by melihat perjalanan supaya kalo ada batu atau lubang bisa siap-siap angkat bokong demi mengurangi resiko sakit badan saat sampai di tujuan.




Itu baru 15 menit pertama, meninggalkan daerah pantai, menurut saya inilah perjalanan sebenarnya yaitu melewati jalanan yang lebih tepatnya di sebut got dengan tanah merah bercampur batu kerikil dengan medan tanjakan curam, sesekali ada jalanan yang sudah di beton tapi beberapa meter saja lalu kembali berganti dengan jalur motorcross. Perjalanan agak menyedihkan lagi kalo jalanan basah, licinnya minta ampun sampai motor kami sempat berhenti di tengah tanjakan atau bahkan motor tiba-tiba masuk di got di tengah jalan yang membuat nyaris bobo cantik di tanah merah, dan saya harus sigap melompat dari motor demi selamatnya motor om ojek dan selamatnya kaki saya dari terjepit rantai motor. Hidup gini amat yah, full of challenge.



Belum lagi kalo harus melewati tanjakan yang tanahnya becek banget jadi om ojeknya perlu konsentrasi lebih untuk membawa motor melewati lumpur merah yang super licin. Semua perhatian hanya tertuju ke motor dan jalanan, jadi penumpang harus turun karena sudah tidak dapat jatah perhatian. Yah, demi keselamatan penumpang tiba di tempat tujuan. Di akhir jalanan neraka itu (merah identik dengan neraka kan yah? hehe), akhirnya kita melalui jalanan yang lumayan SEDIKIT bagus yaitu jalanan aspal robek, untungnya langsung disuguhi dengan pemandangan pegunungan kece di kiri kanan jalan, adeeemmmmm.



Bukitnya seperti Bukit Teletubbies yang dengan batu besar di punggungnya, plus alang-alang, usyalalalaaa. Pemandangan seperti ini bertahan sampai bertemu dengan sungai yang airnya dingin banget untuk memasuki wilayah Desa Kamaifui yang artinya “Welcome Aspal mulus!!!”. Nah, ada 2 pilihan jalan ketika sudah bertemu dengan aspal mulus yaitu tetap melalui jalur beraspal melewati Desa Taman Mataru dengan waktu yang agak lama atau melalui jalan potong yang lebih singkat tapi harus siap terguncang di atas motor karena jalurnya yang tanjakan, batu, beton rusak, dan semacamnya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saking speechlees-nya (ini aja nulisnya sambil urut jidat, pijat punggung, dan mata berkaca-kaca, kalo boleh lebay). Keduanya sudah pernah saya lewati. Jalan aspal mulus memang agak lama tapi pemandangannya lebih kece, kalo tadi bukit telettubies, yang ini gunung hijau teletubbies plus air terjun (sayangnya saat lewat kemarin sudah mulai gelap jadi gak sempat singgah foto-foto).



Trusss kalo lewat jalan shortcut ini harus siap sakit badan apalagi kalo om ojeknya mengemudi motor kek di jalan tol, jalanan yang rasanya semua hambatan malah dianggap tidak ada hambatan saking terbiasanya. Ketika melewati jalanan ini saya rasanya seperti kertas arisan yang di kocok di dalam botol, sumpahhhh memasuki jalanan mulus saya rasanya masih terguncang di atas motor, mungkin ini rasanya jadi Tom yang kepalanya nabrak pohon trus muncul bintang-bintang di kepalanya yah? I know how you feel, Tom.




Medannya luar biasa gak sih? Medan seperti yang saya ceritakan di atas harus dilalui selama 3-5 jam, tergantung kondisi jalan (licin atau tidak), kondisi motor (bocor ban atau bensin habis), dan kondisi om ojeknya (masih muda atau sudah tua, sudah berpengalaman atau belum, milih jalan panjang atau jalan shortcut). Hebatnya motor orang-orang yang biasanya ngojek ini sudah bertahun-tahun, sampai sudah ada yang mulai rusak tapi belum sempat diperbaiki, kendala dana sih. Perjalanan ini lumayan mempertaruhkan nyawa sih, hiks, nyawa om ojek, nyawa penumpang, dan nyawa motor. Pernah sekali waktu saya naik ojek, om ojeknya ngomong gini,
“Jalanannya jelek yah bu?”
“Iya sih, tapi jalanan jelek ini sudah jalanan terbaik karena tidak ada pilihan lain, kecuali lewat laut,” jawabanku agak menghibur padahal dalam hati berharap supaya omnya gak usah ngomong, focus ke jalanan aja. Tapi memang sih, ini adalah pilihan terbaik di antara tidak ada pilihan. Miris.




3.      Perahu Motor (Jalur Laut)


Kapal Motor Parkir di Pelabuhan Kalabahi
Transportasi terakhir yang saya dapatkan adalah Perahu Motor, kalo sebelumnya motornya di darat, yang ini motornya di laut. Alat transportasi ini sebelumnya sudah pernah saya gunakan ketika nge-trip ke Pulau Langkadea di Sulawesi Selatan, tapi hanya 2 jam mengapung di atas laut, nah kali ini kami mengapung selama 6 jam ditambah suasana dan kondisi yang, ahhhsyudahlah. Dengan harga 40ribu, kita sudah bisa mendapatkan kepercayaan untuk duduk di dalam kapal yang tentunya tanpa tiket ini. Kondisi duduk yang lebih nyaman dan harga tiket yang lebih murah dibanding ojek membuat kapal motor diminati sebagian besar warga Padang Alang yang ingin ke Kalabahi, begitupun sebaliknya. Ada malahan yang alasannya bikin bengek,


"lebih baik naik kapal motor daripada ojek soalnya kalo naik ojek trus jatuh langsung benjol kena tanah, kalo jatuh dari kapal motor kan jatuhnya paling di air". 

PALING DI AIR?? PALING???? Yaolohh, koq aku mau pingsan yah dengar alasan semacam itu. Apa cuma saya di dataran Alor ini yang gak bisa berenang yah?  Selain itu, kapal motor menjadi pilihan yang lebih masuk akal ketika membawa barang bawaan yang banyak karena bisa muat di kapal. Tapi kadang ada juga yang gak sanggup naik kapal motor dengan alasan mabuk laut jadi naik motor, dan kalo punya barang banyak dititip aja di kapal motor lalu membayar biaya sesuai jumlah barangnya.

Warga Padang Alang yang ingin naik kapal motor harus ke Pelabihan Eibeki dulu yang terletak di Desa Kalunan, sekitar 15 menit naik motor tapi warga asli kadang hanya jalan kaki apalagi kalo tidak membawa barang bawaan yang berat (saking terbiasanya tanpa kendaraan). Kapal motor dengan trayek Eibeki - Kalabahi ini hanya dimiliki oleh Om Yanto, begitu sapaan akrabnya, dengan nama KM Nusa Kenari. Jadwal KM Nusa Kenari mengarungi lautan yaitu hari Selasa & Sabtu dari Kalabahi - Eibeki, lalu Senin & Kamis dari Eibeki - Kalabahi. Kapal biasanya sudah berangkat sekitar jam 6 atau 7 pagi.


Selama penempatan Alor, saya sudah 2 kali naik kapal motor, keduanya saat akan balik dari Kalabahi ke Padang Alang dengan alasan 'ketepaksaan saja'. Alasan pertama karena saya dan teman punya bawaan kardus yang gak mungkin di bawa pake ojek jadi terpaksa naik kapal motor, alasan kedua bukan karena kardus soalnya cuma bawa 1 carrier tapiiii karena gak bisa naik ojek gegara perang suku (baku panah, katanya) dan hari itu adalah jadwal terakhir kapal berlayar sampai tahun baru jadi terpaksa naik kapal motor (lagi). Terpaksa yah? Tapi mungkin karena terpaksa maka kejadian-kejadian luar biasa saya alami selama di kapal motor. Ada-ada ajaa.




Pertama kali naik kapal motor itu rasanya gimanaaa gitu, mana saya takut laut lagi, maklum ‘anggun’ alias anak gunung. Karena tuntutan tanggung jawab di gereja sebagai guru Sekolah Minggu yang bawa keperluan penampilan Sekolah Minggu di natal nanti (padahal ujung-ujungnya hilang juga kardusnya di kapal, hiks) dan juga karena sudah kena damprat dari 'Big Boss Nyai' gegara gak balik-balik ke puskesmas (padahal baru juga 3 hari di kota, sementara yang lain sudah hampir sebulan gak di kejar-kejar, eyuhhh), maka baliklah kami naik kapal motor dengan jadwal berangkat yang tidak seperti biasanya yaitu jam 3 subuh. Katanya untuk menghindari gelombang yang terlalu tinggi. Dengan waktu berangkat sesubuh itu, ayam aja baru mulai mimpi,  maka sebagian besar penumpang memilih untuk tidur di kapal motor. Nah, saya dan teman se-berangkat-an jadi bingung mau gimana, tidur di kapal motor rasanya gak sanggup, tapi takut ditinggal juga sama kapalnya kalo telat ke pelabuhan. Untungnya, suami salah satu staff puskesmas yang adalah manusia paling kreatif, inovatif, dan inspiratif sekota Kalabahi (tapi belle') langsung ngajak Om Yanto si pemilik kapal untuk tidur di kamar kosan teman kami yang cowok.
"Langsung pegang pemilik kapalnya," gitu katanya "kapal gak jalan kalo bosnya gak ada."
Cerdas memang manusia satu ini, hihihi ✌✌.
Masalah 1 selesai, lalu masalah kedua nongol. Karena saat itu adalah jadwal terakhir kapal motor, dan semua orang ngejar untuk bisa Natal di kampung halaman, maka penumpng kapal membludag..dag..dag. Kami yang duduk di geladak jadi sempit banget, kaki gak bisa di luruskan trus gabung sama barang macam-macam di dalam, mulai dari ransel, ayam, sound system, beras, sampai orang sakit juga ada, pokoke kapal jadi full maksimal. Karena kapal sudah kelebihan muatan, beberapa karung beras terpaksa diturunkan kembali untuk mengurangi muatan, sampai-sampai 2 teman kami juga ikutan gak melanjutkan perjalanan dengan alasan 'full banget'. Nah, ininih yang gak sopan, Curly si manusia parno laut harus diperhadapkan dengan kenyataan seperti itu, apalagi kapalnya sempat miring, belum lagi candaan seorang penumpang yang ngomong sambil teriak jadi tambah bikin horror,
"Kalian tidur saja, kalo kapal tenggelam kalian pikir ada yang mau bangunkan?"
"Kalian jangan menumpuk semua di situ, ini kapal ada miring! Kalian bisa berenang ko?"
Sepertinya saya butuh bantuan tabung oksigen selama perjalanan, terlalu banyak hal yang bikin bengek. Etapi tabung oksigen berat yah? Galon kosong aja deh, lumayan pengganti pelampung, hehe.




Alhasil kapal berangkat setengah lima yang setengah perjalanannya di lalui dengan gelombang membabi buta di tengah perjalanan yang masih gelap dan hujan deras pulak. Hampir gila deh melihat air laut sudah loncat-loncat aja masuk lewat jendela dan pintu kiri kanan kapal, ditambah lagi air bocor pula dari atas, dan anak buah kapal lagi sibuk keluarkan air dari kapal, perfect. Kata-kata "Yesus tolong" juga semakin banyak bersahut-sahutan di dalam kapal. Yang mabok udah tidur lesu kek cucian abis diperas, yang gak mabok mulai kunyah pinang entah untuk apa, mungkin menghindari mabok laut. Pinang meenn. Tak ada pisau, gigi pun jadi, hehe.



Untungnya perjalanan bikin hipertensi yang berkolaborasi dengan gagal jantung tadi di balas dengan pemandangan luar biasa setelah saya tertidur dan bangun dengan kondisi laut sudah mulai bersahabat. Kalo kondisi air sudah tenang gini, lebih baik duduk di  haluan kapal. As always, waktunya hunting foto, sekalian ngobrol sama Om Yanto, si pemilik kapal.




 "Tadi ibu ada mabok?" tanya Om Yanto
"Kalo mabok tidak, Om. Hanya saya ngeri gelombangnya, bikin takut."
"Oo, biasa itu. Kalo musim begini kadang lebih tinggi lagi gelombangnya sampai mesin kapal di matikan di tengah laut."
"Astaga! Saya tidak usah ke Kalabahi kalo begitu sampai selesai musim gelombang."
"Sekitar bulan 4, Ibu."
Yawwlloohhhhhh (telan ludah).

Satu hal yang saya tunggu-tunggu setelah pengalaman pertama kali menggunakan kapal motor adalah pemandangannya ituloh. Kalo kapal berangkat subuh dari Pelabuhan Kalabahi, maka kalau sesuai jadwal sekitar jam 9 sudah sampai di daerah pemandangan kece (saya masih belum tahu namanya). Kita akan disuguhi dengan pemandangan perpaduan birunya laut dan hijaunya tanaman yang menyelimuti tebing batu yang seakan tertanam langsung menuju laut biru (ini beneran biru tua yang kece dan bikin adem).
Keceee parah. Kek langsung dihipnotis lihat pemandangannya. Anak-anak yang sudah duluan duduk di kapal langsung komen, “gagah e!'. Selain itu, kita bisa menikmati atraksi anak-anak di kampung pesisir yang menangkap ikan dengan menggunakan sebatang bambu dengan cara melompat dari tebing kemudian ikannya di tombak. Atau pemandangan warga kampung pesisir yang sedang bermain sampan di tengah birunya laut.

Saya juga sempat melihat pemandangan sunrise dari atas perahu motor ketika harus berangkat jam 12 malam dari Pelabuhan Kalabahi. Ituloh, karena gak bisa naik ojek gegara perang suku jadi terpaksa naik kapal motor. Nahh, berdasarkan pengalaman sebelumnya yang mana saya stress melihat air tumpeh-tumpeh ke dalam geladak kapal jadi saya memilih untuk duduk di belakang nakhoda bersama beras dan bahan makanan lain yang bertebaran manja di dalamnya.
Kata Om Yanto (lagi), kalo berangkat jam segitu gak bakalan dapat gelombang karena kita jalannya malam (dan dengar-dengar  waktu keberangkatan ini illegal karena mengambil jalur kapal lain yang harusnya lewat jam segitu, ulala). Entahlah gelombangnya besar atau tidak, yang jelas saya gak lihat air lompat-lompat lagi masuk kapal. Gantinya, punggung harus kepanasan karena saya tidur tepat di atas posisi mesin. Daebak! Untungnya kami berangkat malam jadi panas dari mesin lumayan bias menghangatkan tubuh. Konspirasi alam semesta, hihi. Kembali ke pemandangan sunrise, sekitar jam 5 saya terbangun dan sinar orange dari ujung timur sudah mulai muncul plus siluet Pulau Timor yang terlihat lebih jelas. Kece banget mah, kita bisa melihat daratan Timor, menurut Om Yanto itu adalah daerah Atambua (perbatasan Indonesia-Timor Leste). Jadi dapat kesempatan untuk catching sunrise dehh.
Satu lagi hal yang juga bikin sport jantung kalo naik kapal motor adalah, setibanya di pelabuhan kalo air laut lagi surut, otomatis kapal gak bias sandar kan, nah tebakk gimana cara ke daratan. Tidak di suruh berenang ke pinggir koq, tenang aja, paling di jorokin ke laut. Haha gak lah. Jadi, kalo kondisinya air lagi surut dan kapal tidak bisa bersandar, maka harus di sambung dengan naik sampan yang kecilnya minta ampun itu. AS-TA-GA! Ini beneran sport jantungnya parah. Jaraknya itu gak dekat loh, sekitar 10-20 meter dari bibir pantai dan kami harus merasakan perjuangan ABK mengayuh sampan sampai ke bibir pantai, belum lagi kalo di terjang ombak.

Tapi, sampan yang kelihatan kecil ini sudah berpengalaman membawa barang-barang seperti ransel, karung beras, bahkan sound system pun pernah di transfer. Cara duduk di sampan juga beda, gak boleh selonjoran, bersila, apalagi pake sofa karena gak ada sofa. Jadi caranya adalah duduk bertelut atau berlutut gitu kalo kek lagi mau berdoa. Tapi, memang sudah makan garam sih yah, jadi kami tiba di pantai tanpa kekurangan satu apapun, yaa paling basah dikit. Tapi ini beneran bikin sport jantung lebih sering tarik napas plus tahan napas. Hufftthhh. 


Jadi inilah salah satu moda transportasi yang saya kenal di daerah ini, Kapal Motor. Pengalaman pertama saya naik perahu motor selama jadi NS ini agak-agak memalukan karna untuk pertama kalinya saya harus nangis mewek dihadapkan perjalanan luar biasa ekstrim seperti itu. Hehe, namanya juga manusia bukan bidadari.
*  * *

Itulah 3 transportasi yang harus bersahabat dengan saya selama di penempatan terpencil ini. Kadang saya pikir, perjalanan itu terlalu berat untuk di lalui tapi kalo focus sama capeknya, kapan kita nikmati keindahannya kan? Perjalanan yang mungkin kelihatan berat banget ini sebenarnya jika dinikmati bakalan menyenangkan juga. Pemandangan melewati hutan lebat, pohon tumbang, tanjakan zig-zag, pesisir pantai, turunan curam yang sukses bikin kaki tremor, gelombang laut yang bikin parno tambah gila, sampan yang miringnya bikin jantung nyaris copot, jalanan tanah yang bikin bokong tangan kram karena megang besi belakang motor sekian lama, dan semua hal-hal melelahkan itu kalo dinikmati juga akan memperlihatkan sisi indahnya, bukit teletubbies, eksotisnya hutan, dinding tebing terjal ke laut, padang ilalang, sunrise kece, dan masih banyak lagi sebagai balasannya. So, nikmati aja perjalanannya yah?

Inilah Alor, terkhusus Padang Alang. Orang-orangnya ramah, transportasinya ekstrim, pemandangannya kece, kurang apa coba. Kurang kamu sih, iyah kamu. :D

Padang Alang, 040118

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts