Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

PEOPLE COME AND GO.....

When people go out from your life, it’s not the end of your life, it’s the end of their story on your life. (Unknown)

Tulisan ini diniatkan ketika salah seorang anak magang mengakhiri masa magangnya di tempat ku bekerja, sebut saja namanya Hanum (nama Samaran). Tolong jangan membayangkan aku bakalan buat nama samaran dengan sebutan Anggrek, Mawar, Melati, ‘semuanya indah’ yah, kesannnya kek lagi mewawancarai PSK di acara Investigasi aja, gak sekalian ngomong sambil tutup hidung trus di buram-buramkan sedikit suasananya biar lebih dapat feelnya? Haha. Back to si anak magang. Jadi si Hanum ini sudah mengakhiri masa magangnya di Adaro, - sebuah perusahaan yang disupport makanan dan housekeeping oleh perusahaan tempat ku mengabdi untuk mendapatkan segenggam duit untuk bisa makan, nongkrong, hedon, dll (rempong skali yah sepertinya penjelasan ijk? Yaa pokoknya anak maganglah, sudah, titik)- dan di akhir masa magangnya itu dia udah mau kembali ke habitatnya di Jogja sana.
Hanum ini satu dari sekian manusia yang kusebut sebagai ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’, hahaha. Teman-temannya yang lain udah selesai magang satu persatu, meninggalkan dia satu-satunya menikmati kesendirian dan kebosanan di Dahai. Hah!! Rasakan apa yang selama sekian purnama ini kurasakan anak muda, hah! HAHAHAHA... (Tolong kalian membayangkan ketawanya Belatrix Lestrange ketika selesai mengucapkan mantra Avada Kedavra untuk Sirius Black yah. Sumpah itu sedih banget dan kriwil-kriwilnya tante Bellatrix terbang-terbang manjah gitu. Ini kenapa ngomongin Harry Potter sih? LANJUT!!). Jadi gitu. Si Hanum akhirnya mengakhiri masa kesendirian dan kebosanannya di Peradaban Dahai.
Kenapa jadi pengen mengangkat tulisan ini? Sebenarnya bukan hal yang aneh ketika anak magang datang ke mess ini. Hal itu udah biasa di sini, se-biasa kamu yang selalu cuekin aku bang (ehhh, ini koq malah curhat sih). Anak magang yang pernah datang di mess ini jumlahnya sudah tidak terhitung dengan jari tangan (ciyeee, yang kalimatnya pake makna kiasan, berharap mamak ku yg guru Bahasa Indonesia melihat perkembangan anaknya ini yang sudah bisa menerapkan secuil ilmu mamaknya). Sejak mulai mengais sesendok demi sesendok berlian di tempat ini, sekitar 22 bulan lalu (hampir 2 tahun), aku sudah menyaksikan kehadiran anak magang yang datang dan pergi di tempat ini. Dari situ aku mulai senang memperhatikan karakteristik mereka masing-masing. Mulai dari yang pendiam, supel, sibuk sendiri, sok cool, banyak omong, cuek, sampai yang ‘pakarusu’ kalo kata orang Makassar (bahasa Indonesianya apa yah? Haduhh, gagal nih mamak mengajarkan bahasa Indonesia ke anaknya).
Kehadiran mereka bagi saya pribadi membawa ‘angin segar’ di tempat ini. Biasanya saat jam makan, aku masuk kantin, gak ada orang yang asik di ajak ngobrol, dan aku makan dengan rutinitas sehari-hari seperti makan sambil megang HP untuk buka Twitter mencari informasi terbaru biar gak kudet plus menemani kesendirianku makan (koq kek ngenes banget yah?). Namun dengan hadirnya si mahasiswa magang, biasanya aku ada teman duduk untuk makan. Bukannya ga ada orang lain sih, ada aja, hanya aku bosen lihat wajah-wajah mereka terus di sini. Pagi sampai malam ketemunya orang-orang itu aja, untung kalo sempat ngobrol kalo makan. Atau, kalo ngobrol, paling bahasnya masalah kerjaan, atau lagi konsultasi, atau kalo agak berat sedikit bisa membahas politik yang lagi lucu-lucunya. Kan, seru aja kalo pas masuk kantin trus ada wajah baru di peradaban yang disebut Peradaban Dahai ini (peradaban yang ditemukan oleh seorang cewek karinyol kece yang sering dipanggil Curly, hehehe.), trus bisik-bisik ke spv housekeeping, “ehh ada yang balu nih”. Bentar! Koq kesannya kek pedofil banget yah? Bukan pedofilll!!! No..no..no..
Banyak hal yang aku dapatkan dari mengenal mereka walaupun dalam waktu yang cukup singkat. Berkenalan dengan mereka dengan cara yang aneh-aneh juga membuat kehidupan hitam, putih, abu-abu di peradaban ini bisa lebih berwarna. Ada yang tiba-tiba datang menghampiri (ecieee) entah itu tiba-tiba datang nimbrung pas lagi main basket di lapangan tennis (yang dari ketemu sampai dia enyah dari Dahai aku gak pernah tahu namanya) atau yang tiba-tiba datang ketok pintu kamarku dan pas aku buka pintu dengan tampang shock karena takut mengalami penculikan anak, dia langsung ngomong. “Mba, aku mau ke gereja, katanya disuruh tanyain Mba Eka.” Fiuuuhh,, untung gak jadi diculik (tapi dipikirnya aku penjaga gereja kali yah?). Ada juga yang tiba-tiba aku hampiri (semoga dia gak berpikir akan diculik sih), kalo ini karena beberapa alasan yang kuat, kalo gak kuat mana mau aku kenalan, gengsi layauuu, hehe bercanda.
Salah satu alasan kenapa aku yang duluan memperkenalkan diri adalah karena setelah ku observasi dengan cara memperhatikan, si anak magang itu tidak punya teman makan dan setiap masuk kantin pasti sendiri, duduk sendiri, makan sendiri, minum sendiri, ngomong sendiri *ehh gila dong, gak ding. Jadi aku merasa memiliki nasib yang sama dengan dia dan sebagai orang yang bernasib sama sudah sepantasnya aku mengajaknya untuk keluar dari nasib yang tidak menyenangkan itu. Hehe. Seperti mahasiswa ITB, cewek, yang saat itu lagi makan sendiri di hari kedua lebaran. Bayangkan meenn, hari kedua lebaran itu kantin masih sepi banget, paling 1 atau 2 orang yang makan, suasana mess juga masih sangat sepi (mengalahkan kesepian hati adek di malam minggu, eeaaa). Kasihan bangeettt, di saat yang lainnya pada pulang lebaran ternyata dia harus menyelesaikan tanggung jawabnya untuk magang dan menikmati kesendirian di mess, kebetulan saat itu dia sendiri di kamar. Sebagai seorang wanita yang memiliki hati yang mudah tersentuh (gas beracun) ya aku merasa si anak magang butuh teman lah ya. Lalu datanglah ibu peri ini, hehehe. Jadi sejak saat itu kami mulai sering ngobrol saat makan (walaupun kebanyakan ga ngobrol sih karena si anak agak pendiam), kadang kupinjamkan buku bacaan ku biar dia gak kesepian amat, takutnya kalo kesepian dia berpikir macam-macam lagi. Mungkin dia berpikir lagi ada di Eropa kan, saat musim semi, trus keluar-keluar dari kamar langsung nyanyi ala Syahrini, “banyak bunga-bunga, kiss kiss.” Kan horror juga.
Alasan lain aku berkenalan duluan adalah, karena aku membutuhkan mereka dengan kata lain aku pengen memanfaatkan mereka. Hahahaha. Jahat banget sih. Maksudnya memanfatkan informasi dari mereka. Seperti pada saat aku berkenalan dengan seorang mahasiswa magang hanya karena dia berasal dari Aceh, trus langsung menawarkan diri duduk makan bareng. Waktu itu aku lagi penasaran dengan yang namanya Kopi Aceh ‘bersayur’. Jadi pembahasan awal ya tentang ‘kopi bersayur’ itu, yang ujung-ujungnya minta di kirimkan kopi dari Aceh tapi gagal diterima karena aku keburu off. Emang bukan rezeki ku sih, rezeki ku mungkin adalah bersamamu bang, *ehh.
Berasal dari satu kampung yang sama juga adalah salah satu alasan kuat kenapa aku harus menjatuhkan harga diriku untuk memulai berkenalan dengan mereka. Beberapa kali saya mendapati mahasiswa atau siswa yang berasal dari Makassar. Dari segi bahasa dan pembahasan kan pasti kita merasa ada ikatan yang lebih dekat kalau dari 1 kampung kan, dan di situ aku merasa bahwa akhirnya aku bisa berbicara bahasa ibu di tanah rantau (air mata mulai menggenang nih, aku butuh canebo bentar lagi nih). Feels like home.
Berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang ini membawa keuntungan tersendiri bagiku, walaupun kerugiannya juga ada seperti aku jadi semakin banyak yang kenal dan bisa saja mereka adalah paparazzi yang menyamar menjadi mahasiswa untuk meliput kehidupan pribadiku (maaf, obsesi artis. Hahaha.). Keuntungan tersebut diantaranya, kalo mahasiswanya beragama Kristen dan mendapatkan ilham untuk bangun pagi dan pergi gereja pada Hari Minggu, maka aku jadi ada teman untuk ke gereja. Jadi lebih rame ke gerejanya, soalnya kadang aku sendiri kalo partner kerja lagi off. Biasanya kebanyakan temen yang Kristen itu dari Batak, walaupun pernah sekali dapat orang Cina (dapat? Lu kate lagi mancing??), dan kalo lagi beruntung punya duit lebihan, kadang kami pergi makan ke Lapo (rumah makan khas Batak) untuk makan 'ngok-ngok’, hehehe.
Keuntungan lainnya adalah aku jadi semakin dilatih untuk bersosialisasi membangun komunikasi dengan orang yang baru kenal, supaya nanti aku bisa bersosialisasi dengan baik dengan kamu yang akan menjadi pendamping hidupku kelak (Hehehe, pliss jangan muntah yah). Aku belajar bagaimana berkenalan dengan orang lain, bagaimana meninggalkan kesan baik bagi orang lain supaya orang gak melihat keJUTEKan wajahku ini tapi melihat sisi ingin berteman dari hatiku yang paling dalam sedalam sumur bor. Beberapa cara berkenalan yang kupraktekkan adalah ngajakin olahraga, soalnya aku juga sering olahraga sendiri dan kadang aku butuh teman lari, teruma berlari mengarungi kehidupan ini (pliisss stop it!). Atau kadang aku cuman ngasih info olahraga sih, kalo tiap sore ada Warukin Super Series di depan mess Warukin di mana para bapak-bapak kalo jam 5 udah stand by di lapangan badminton untuk untuk cari lawan tanding. Koq kesannya aku seperti Information Centre yang di mall-mall gitu yah? Mungkin kalo aku jalan, di jidatku yang selebar lapangan terbang ini ada tulisan Information Centre kali yah? Hehe. Kadang berhasil sih karena mereka ada yang emang suka olahraga, bagi yang ga suka olahraga yaudah gak ikutan.
Satu keuntungan terpenting yang kudapatkan adalah, setidaknya ada alasan bagiku untuk tersenyum menyapa mereka yang sedang makan di kantin setelah seharian kerjaan ku hanya marah-marah terus menegur karyawan yang selalu saja melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan. Aku kan gak mau juga kerutan di dahiku muncul lebih cepat karna gak pernah senyum.
Itulah beberapa hal menarik yang pernah kualami dengan beberapa anak magang yang pernah tinggal di mess ini. Sedikit mengisi kebosanan ijk juga sih di sini. Namun dari semua anak magang yang pernah mengisi hari-hari ku di sini, gak ada yang meninggalkan kesan lebih setelah mereka pulang. No farewell, walaupun dulu pernah sih ada 2 anak magang yang ngajakin Farewell bareng karyawan satu Departmennya yang notabene mereka yang traktir. Catat!! Mereka yang traktir sodara-sodara. SEKALI LAGI!! M-E-R-E-K-A. Agak-agak gak terima aja saat itu. Koq yang bayar malah anak sekolah yang belum punya penghasilan sih, harusnya kan yang bayar itutuh para pegawai tempat mereka magang yang notabene orang kerja semua. Eyuhhhh, apa-apaan (sewot sendiri, hihihi). Back to kesan berlebih. So, gak ada kesan berlebih yang datang sampai pada awal tahun ini, muncullah mereka yang kusebut “Geng Penghancur Ketenangan Kantin”.
Kenapa aku bilang mereka sebagai ‘Geng Penghancur Ketenangan Kantin’? Karena semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya...FOKUS!! (Sorry, sering gagal focus nih, lagi malam minggu soalnya, hehehe). Karena semenjak ada mereka, kantin yang biasanya sepi banget kek kuburan di malam Jumat jadi rame banget kek pasar malam di malam Minggu. You know what does it mean? KEHIDUPAN!!!!!!! YEAHHHH!! Yang selama ini kaku banget dan tidak ada suara selain suara sendok garpu yang berdenting tertabrak piring, plus suara TV, masih untung kalo ada yang lagi ngobrol sambil makan tapi itupun pembahasannya masalah pertambangan dan teman-teman segengnya, egileeeeeee, gimana gak horror banget tuh suasananya? Terus si Anak Geng datang membawa pasar malam itu ke kuburan ini, ehhh.
Awalnya si ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ ini ada 4 orang, cewek, dengan ke-ribut-an dan ke-cuek-an khas anak kuliahan yang mereka miliki, yang kalo dilihat sama orang berumur pasti bakalan ditabok pake kapas yang isinya batu bata karena bakalan dikatain ‘gak sopan’ udah bikin ribut di kantin yang tenang plus adem ayem itu (Kebanyakan gaul sama orang tua nih makanya jadi punya pikiran kek gitu. Apasih gini gitu?). Ya gimana enggak ribut, mereka ada berempat. Ngomong berdua aja untuk level mahasiswa, cewek pula, udah minimal 80 desibel, apalagi 4 orang bo’, pasar ikan kalah deh. Hehehe. Di tegur juga jawabnya, “bodo amat deh,”. Uisshhh, gue suka gaya lu men, belum pernah di tabok sendal jepit dari logam mulia yah?
Beberapa kali aku makan bareng dengan mereka. Makan plus membicarakan berbagai hal yang bisa di bicarakan pada saat itu mulai dari hal yang gak penting sampai yang GAK penting banget. Daannn, as always, selalu rusuh, apalagi kalo di kantin Dahai yang mana kalo sendok ketemu piring aja bisa kedengaran sampe parkiran saking tenangnya suasana kantin itu. Mereka ngomong mungkin kedengaran sampai Bandara Banjarbaru kali yah (soalnya ada orang Dahai yang telponan sama orang di bandara dan kebetulan mereka lagi TOA maksimal jadi kedengaran deh sampai ke sana, hehe).
Tapi ini yang aku suka dengan mereka. Hal ini membuat ku merasa kembali ke masa-masa aku masih berstatus seperti mereka, dan entah mengapa hal itu membawa warna tersendiri di tempat ini. Owww, cini cini peyuk duyu *plakkkk.  Karakteristik khas mahasiswa yang melekat pada mereka membuat akuhh jadi flashback ke masa-masa kuliah dulu. Keliaran-keliaran masa-masa kuliah kek ngomong keras-keras tanpa peduli tempat, kalo ditegur jawabannya ‘bodo amat’, yang ketawanya menyaingi gempa akibat peledakan tambang (istilahnya blasting), ngobrol berlama-lama di kantin dari mulai jam buka sampai kantin dibersihkan (untung gak sampai diusir) tapi ya cuek aja. Dan itu adalah GUE BANGET pas kuliah, umm, sampai sekarang juga sih kalo lagi off dan kumpul bareng teman-teman, hehe. That’s why I said jiwa mereka seperti ada dalam jiwa ku, jadi ketika mereka pergi separuh jiwa ku juga pergi (pergi ke hati abang maksudnya, eeaaa). Mungkin hal ini yang membuat ku merasa lebih dekat dengan mereka. Karena mereka melakukan hal-hal antimainstream yang pernah kulakukan dulu, dan mereka sama-sama perempuan yang pembahasannya agak-agak nyambung.
Mengakhiri masa magang mereka di tempat ini pun tergolong antimainstream karena mereka membuat yang namanya FAREWELL alias perpisahan. Jangan membayangkan perpisahan dengan makan-makan atau pesta gitu yah. Enggak! Farewell pertama dicetuskan oleh ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ gelombang 1 yaitu dengan foto-foto di kantin setelah makan malam dan mereka mengajak semua yang ada di dalam kantin itu untuk foto bareng. Yah, that’s it! Imagine that. Ala-ala banget kan? Maklum, mahasiswa, modal duit masih kurang, hahaha. Tapi walaupun hanya sesederhana itu, ada nilai yang dihasilkan dari hal tersebut. Sejak itu, setiap farewell dengan anak magang dilakukan dengan foto-foto atau saling mengunjungi kamar masing-masing. Kalo gak mereka ke kamar aku untuk ‘minta ole-ole’, aku yang berkunjung ke kamar mereka untuk ngobrol bentar trus say goodbye.
Satu hal yang juga selalu kulihat dalam setiap perpisahan adalah, bagaimana yang menyelesaikan tugasnya merasa bahagia akan kembali kepada keluarga atau kehidupannya sebelumnya, dan bagaimana yang ditinggalkan akan merasa sedih entah karena udah ga ada teman atau masih belum waktunya bertemu keluarga dan teman. But we have to moving forwards kan?
Seperti itu kisah segelintir ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ yang meninggalkan kesan bagi aku pribadi. Btw, siapakah mereka si pembuat rusuh aintimainstream itu? Dengan gak hormat, ku sebutkan inisial mereka yaitu Mirah & Riska Si Antek UH, Bella Si Antek Unpad, Restu Si Antek Luar Negeri China, Marlina Si Antek Palangkaraya, Hanum Si Calon HSE ITS, Mba Yuni Calon Master Teknik ITB, dan terakhir yang masih ada sampai saat ini Kori Si Antek . Itu dia DPO nya, jangan lupa kalo dosennya baca tulisan ini mohon langsung di luluskan dan diberikan nilai terbaik. AMIIIIINNNNNN.

Gbr 1. Farewell Mirah & Riska: "Ayo semua kita foto bareng yuk!" 
Gbr 2. Farewell Mirah & Riska: Mahasiswa in One Frame

Gbr 3. Farewell Restu & Marlina: Makes me forever young dengan selfi rusuh di kantin

Gbr 4. Farewell Bella: Ke Kamar Ambil Ole-ole Toraja Plus Pamitan
Gbr 5. Hanum: Gak ada foto pas farewell saking serunya ngobrol di kamarnya

Gbr 6. Farewell Mba Yuni: at Adaro Office KM 73 Tutupan

Gbr 7. Pra Farewell Curly: After have a conversation with Kori

Salah satu hal menyenangkan dalam hidup adalah dapat bertemu atau berkenalan dengan orang-orang baru dan kamu bisa membantunya dalam hal apapun semampumu. Hal yang paling kusuka adalah saat bisa membantu mereka keluar dari kebosanan mereka di Peradaban Dahai ini, entah itu ngajakin nongkrong kalo lagi ada rezeki, meminjamkan buku bacaan, atau sekadar saling berkunjung ke kamar untuk ngobrol ngalor ngidul. Hal seperti itu mungkin kelihatan simple, tapi akan meninggalkan kesan. So let's try to be light to other people.
Terima kasih sudah menjadi salah satu bagian yang mengubah warna hitam-putih-abu dalam kehidupan pekerjaanku selama ini dengan warna mejikuhibiniu kalian masing-masing. Kalian luar biasa! Sukses Selalu.

Berkawanlah sebanyak-banyaknya, tapi tidak sebebas-bebasnya.





Kamis, 21 Juli 2016

KAKAENG!!!!!! (Chapter 1 – Posko Banggaedan Bersinar & Team)

Sekarang di sosmed saya lagi marak-maraknya postingan tentang KKN (Kuliah Kerja Nyata loh yah, bukan Korup Korup Nyata). Junior saya di kampus (kesannya kek tua banget yah pake istilah junior) lagi heboh-hebohnya menceritakan pengalaman KKN mereka. No day without rompi merah lewat di timeline eike (Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNHAS menggunakan rompi merah ala-ala tukang parkir sebagai salah satu atribut, yang menurut saya saat itu adalah pakean yang gak banget). Terlihat sekali di wajah mereka menggambarkan kebahagiaan masa-masa KKN yang dipenuhi dengan proker-proker atau yang berhasil (punya waktu dan punya nyali) untuk mengekplore lokasi KKN mereka. Kenapa saya bilang punya nyali? Karena berdasarkan pengalaman kami anak KKNPK Posko Desa Banggae (dan Bersinar) yang notabene adalah posko terpatuh (atau takut ketahuan supervisor?), butuh nyali yang besar untuk meninggalkan posko untuk melakukan kegiatan di luar proker. Ckckck. Anak yang patuh.
KKN memang merupakan salah satu mata kuliah yang memberikan banyak pengalaman bagi para pelaksananya. Terlalu banyak hal menarik yang dapat dikenang dari masa-masa KKN. Gak heran kalo ikatannya berlangsung lama (ikatan batin loh yah, bukan ikatan sayur). Banyak kisah suka duka terjadi di masa-masa ini, bahkan cinlok pun bisa terjadi.
Melihat postingan anak-anak ini (eh, maksudnya adik-adik ini) membuat saya jadi flashback dengan masa KKN dulu. Jadinya langsung buka laptop, buka folder KKN, dan menikmati setiap moment-moment gila, ongol, sinting yang pernah dilakukan selama masa itu. Untungnya dulu sempat foto-foto dan buat video selama masa ongol itu. Haha. Video. Iyah, kami sering membuat video. Bahkan sampai sekarang pun, saat kami berencana untuk ngumpul (yang tidak pernah terealisasi sampai detik ini -_-), kami masih merencanakan untuk membuat video, di usia setua ehhmmm maksudnya sekece ini.
Kami, 10 orang mahasiswa kesehatan Universitas Hasanuddin dari berbagai Fakultas dikumpulkan di Posko ini. Posko KKNPK Desa Banggae Kec. Mangarabombang Kab. Takalar.  Sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan yang berjarak sekita 2 jam dari Makassar. Banyak yang mengatakan bahwa KKNPK itu gak seru karena dekat dengan kota dan ketemunya sesama orang kesehatan (kemungkinan ketemu teman fakultas lebih besar). Namun bagi saya ini merupakan pengalaman yang luar biasa banget.
Kami 10 orang yang belum saling mengenal satu sama lain. Maksudnya ini, saya yang belum kenal mereka, kalo mereka sudah ada yang saling kenal karena 1 Fakultas juga dan ternyata karena sepupuan juga. Hihi. Yang dikumpulkan di sebuah posko KKN selama 7 minggu, berinteraksi bersama, dan melakukan hal-hal maksiat bersama (tidur sekamar dan menangkap tokek adalah perbuatan maksiat kan?)
Inilah penghuni posko Banggaedan Bersinar itu, bagi orang-orang yang saya sebutkan nanti dan ternyata masuk dalam Daftar Pencarian Orang, mungkin itu hanya kebetulan semata. Here we are:
1.     Nur Ulul Amran Seorang anggota posko yang paling tua tapi tidak dipertuakan (haha) yg pada saat itu merupakan mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2009. Memperkenalkan diri saat itu dengan nama Nanang (yang akhirnya kami panggil dengan sebutan Kak Nanang), namun setelah sekian lama berinteraksi dengan warga desa dan warga posko (yang supergila, saklek, dan ongol) maka ditetapkanlah nama barunya sebagai Dg. Kanang. Pertama kali bertemu saat itu di pengumpulan perdana anggota KKNPK di Auditorium Prof Aminuddin, datangnya telat, itupun setelah dihubungi berkali-kali (yang di balasnya hanya 1 kali itupun hanya dengan sms bertuliskan “iya”), kalo bukan karena embel2 “angkatan 2009” udah ku kirimkan rudal orang ini. Dia datang, dengan muka (sok) lugu, gak mau salaman, dan jaiiimmmmm banget, padahal setelah semingguan bareng di posko, keluar aslinya RUSAK (haha, pisss). Salah satu hobinya adalah mancing (masalah) di kolam orang yang jelas-jelas ada tulisannya “dilarang memancing”. Benar-benar hobi memancing masalah yah. Hobi lainnya adalah metik gitar yang lumayan kece kalo dia main tapi jangan disuruh nyanyi karena suaranya tidak mendukung petikan gitarnya. Salah satu kelebihannya adalah menagkap tokek (sepertinya dia harus dinobatkan sebagai “Sang Penakluk Tokek”). Belakangan ketahuan kalo dia punya kembaran identik yang kuliah di Jekadah dan pernah di bawa ke Posko yang membuat Chipa bingung mana bapaknya (Skefo, selama di posko statusnya juga berubah jadi Ayahnya Chipa)
2.     Tri Hermawan Si manusia paling sibuk dengan dunianya sendiri yang super jago ngedit. Sstt, video KKN kami itu kakmeramen dan editornya dia lohh (cek IG nya kaka). Kami memanggilnya dengan sebutan ‘Teri’. Salah satu dari 3 cowok penghuni posko Banggaedan yang merupakan Mahasiswa FKM Jurusan K3(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Unhas angkatan 2010. Kalo ini teman Fakultas dan juga sempat sekelompok selama masa pengkaderan dulu, kalo gak salah saat Winslow atau Bias. Hobi depan laptop, mutar lagunya Vierra yang liriknya kek gini, “kemarin kamu datang membawa bunga, kita baru kenalan 1 minggu saja” yang sukses bikin saya hafal lagunya. Selain itu juga suka mutar lagu-lagunya Glee (berkolaborasi dengan Cita dan Kurput), sehingga beberapa kali gaya foto kami ya pake lambang Glee. Manusia super cuek yang kalo mandi saing-saingan sama Putri, soalnya dia ngurusin rambutnya (yang gak lebih kece dari Keribo ku -_-). Manusia paling jarang di posko karena satu-satunya penghuni posko yang bawa motor sendiri, jadi kalo udah siang kakinya udah gatal untuk jalan. Dia punya proker pribadi sepertinya, yaitu mengunjungi posko lain bahkan yang tidak bisa di jangkau motor sekalipun (kalo ada posko di kutub utara kemungkinan di kunjungi juga), dan baru pulang saat maghrib (bahkan sempat gak pulang dan nginap di posko orang) sambil membawa cerita-cerita dari posko yang dikunjunginya yang sukses bikin envy. Untung kalo buka puasanya di posko, ini udah dimasakin, malah ternyata buka puasa di posko lain. #sakiitttt. Dia juga salah satu penghuni posko yang paling rajin pulang hanya untuk me-laundry bajunya di Makassar saking mahalnya biaya laundry terdekat di sini, jauh pula. warrrbiassaaakkk
3.     Putra Imanullah We call him Putra. Seorang mahasiswa Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Pertama kali berkenalan saat sudah di posko KKN karena dia dan beberapa teman kedokteran lain masih harus menyelesaikan kuliah atau apalah itu yang bertepatan dengan waktu keberangkatan (kalo gak salah, hehehe). Paling expert dalam hal menyapu ruang tamu karena pagi-pagi benar sebelum matahari terbit dan sebelum penghuni posko lain bangun dari ngoroknya, dia udah selesai menyapu, terus tidur kembali (gakk ding, hehe). Salah satu seksi dokumentasi merangkap seksi transportasi posko.
4.     Aini Dwi Handini Wanita yang saat itu masih berstatus calon drg (maksud nya dokter gigi loh yah, bukan drugs, dia bukan pecandu koq) yang kuliah di Fak. Kedokteran Gigi Unhas angkatan 2010. Kami memanggil wanita berbehel ini dengan panggilan Ai. Pertama kali ketemu di pengumpulan perdana mahasiswa KKNPK, dan langsung heboh sendiri saat tahu kalo kita 1 posko (gitu kali yah reaksinya ketemu artis, hihihi). Jadi saat itu kita saling telponan di dalam ruangan dan saat saya menyebutkan tempat saya berdiri, dia langsung balik belakang dan meloncat kegirangan tapi ku terjatuh dari kursi goyang, ehhh koq malah nyanyi, maksudnya meloncat kegirangan sambil melambai-lambaikan tangan. Saya langsung mencari kamera pada saat itu, jangan-jangan saya lagi ada di acara uka-uka makanya dia melambaikan tangan, hahaha, gak ding. Kalo gak salah ingat, berangkat Kakaeng sepertinya kami 1 bus, dan harus disuguhkan dengan pemandangan “mobil berhenti!!” dan “barang minggir!!” kan (bagian ini sepertinya tidak bisa diceritakan). Hahaha. Wanita yang kalo sikat gigi pasti mengeluarkan suara “oekkk..oeekk” jadi ketahuan banget kalo dia udah sikat gigi (hmm, Ai mi sede di kamar mandi). Wanita paling penakut yang masuk kamar aja harus di antar, hahaha, masih ingat kejadian jendela yang tergaruk sist?? Haha. Salah satu wanita yang paling antusias membuat video sampai di bawa-bawa begadang sampai subuh dan sangat bangga bahkan terlalu bangga dengan mata indah bola pingpongnya.
5.     Anggun Setiawati wanita berjilbab dari Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010. Kami memanggilnya dengan sebutan Anggun. Karena dia juga mahasiswi Kedokteran jadi pertama kali ketemunya di Posko. Wanita yang selalu kece penampilan berhijabnya (aku salah satu fans mu sist) dan jago masak untuk posko Banggaedan. Salah satu wanita yang diharapkan untuk bangun masak untuk makan sahur, hihi, maklum kami adalah parasut ehh parasit maksudnya. Wanita tangguh yang berhasil membawa kami ke Puntondo untuk menikmati ‘kabur dari posko untuk melepas penat menikmati pantai’.
6.     Cita Nurinsani Wanita yang saat itu masih berstatus sebagai Mahasiswi Fak. Kedokteran Unhas angkatan 2010 ini memperkenalkan diri dengan panggilan Cita, namun semakin lama dia akhirnya di panggil Citata (you know why lah). Awalnya berpikir dia gak bisa bergaul dengan kita, namun ternyata salah bersar..sar..sar. Dia rusak juga ternyataWanita hobi nyanyi yang menjadikan Dg Kanang sebagai gitarongnya ini suka banget nyanyi, apalagi lagunya Justin Bieber yang berjudul “Everything’s Gonna Be Allright” yang gak pernah dinyanyikan sampai selesai, pasti adaa aja lagu lain yang menghalangi lagu ini dinyanyikan secara sempurna. Kreatifitasnya luar biasa, dan memiliki keinginan yang kuat untuk BUAT VIDEO posko, hahaha. Loyalitas tanpa batas lah pokoknya, demi untuk tercapainya video posko yang baik. Salah satu wanita pencetus video posko, begadang malam-malam untuk buat koreografi dan rekaman, too many crazy things happened with her. Anak tunggal ini juga membuat posko kebanyakan dapat makanan ‘mewah’ (untuk ukuran anak Kakaeng di sebuah desa) dan sering dikunjungi sama mamanya juga. No special moment without foto-foto kalo bareng wanita ini.
7.     Eka Isma Liliany Kibo, kece
8.    Intan Tamala Wanita agak tambun ini pada saat itu adalah mahasiswa FKM Unhas angkatan 2010 yang pada saat di posko betul-betul menunjukkan eksistensi dari emansipasi wanita, dibuktikan dari dia menjadi Koordes padahal di Posko ada 3 orang cowok. Haha. Warrbiasaaakk. Wanita ini juga jago masak, utamanya dalam skala besar (kenapa dia gak buka catering aja yah?). pernah membuat kue barongko yang enuuaakknya pake banget, sampai posko lain bela-belain datang ke posko kami (harusnya dulu kami udah buka usaha barongko di posko, trus diberi nama “Barongko Bu Intang”). Pada saat KKN dia adalah orang yang paling sering telponan, dikit-dikit HP nya bunyi, apalagi ringtonenya itu loh. Keknya dulu dia ada punya 2 ringtone, tapi yang paling saya ingat adalah lagunya David Cook yang “Always be My Baby”. Jadi ketahuan banget kalo udah bunyi “jrenggg, you are as one beb..” hmm, pasti tante Intang itu yang di telpon. Wanita ini asal Sorowako yang kalo bicara masih menggunakan aksen dari sono, “bahhh”. Hehehe.  
9.     Kurnia Putri Wanita pecinta korea ini pada saat itu adalah mahasiswa Jurusan Fisiologi Fak. Kedokteran Unhas Angkatan 2010. Pembawaannya kaleeemmm banget. Tau cerita-cerita princess Disney?? Ya kayak gitu kurang lebih gambarannya. Gilee, pertama kali lihat ini orang, waw banget, jauh banget lah sama saya yang kalo tidur pasti bisanya main sepak bola plus tambahan ngorok (kalo lagi khilaf, hihihi). Satu hal yang paling diingat dari wanita ini adalah, dia cantik. Udah kalem, cantik lagi, uweww. Jadi kalo jalan bareng di jalanan desa itu, trus ada anak SD lagi mainan di luar sekolah, pasti mereka langsung teriak, “Kak Putri..Kak Putri Cantik!” Lah saya di sampingnya apa dong? Putri di dongeng-dongeng kalo jalan-jalan biasanya bawa apa yah? Bukan bawa piaraan kan? (hahaha). She really looks like a princess, like her name, Putri. Tapi karena namanya agak-agak mirip namanya “Teri” jadi kadang dia di panggil Puput di Posko, biar gak salah menyahut gitu loh. Dia juga salah satu pesaing Tri kalo di kamar mandi, warrbiasaaakkk lamanya. Keknya dia dan Tri harus dinobatkan sebagai ratu dan raja kamar mandi deh, biar aku aja yang jadi babunya, *ehh. Hahaha. Wanita ini juga jago menari, dia dulu anggota UKM Tari Unhas yang udah tampil sampai di luar negeri (pas dia cerita dan lihatin fotonya, air liur saya langsung menetes..tes..tes..). Dia juga adalah dalah satu Korean Freak (hehe), semua lagu-lagu di mobilnya pada saat itu adalah lagu korea, saya sampe hafal lagunya (maksudnya musiknya, kata-katanya aja gak ngerti, apalagi mau tau lagunya), apalagi pada bagian syusyusyusyusyu-nya. Kejadian warbiasaakk bersama dia adalah, saat jalan-jalan ke kota Patalassang dan mobilnya langsung mengeluarkan asap, panic tingkat dewa mennn. Yang awalnya rencana buka puasa di luar posko tapi karena menunggu mobilnya baikan dulu jadilah kami pulang saja ke posko (dengan perasaan H2C dengan keadaan si mobil). Eh, mobilnya ada namanya loh, tapi saya lupa. Wanita juga ini bagi saya adalah seorang yang tegar, karena setelah beberapa hari di posko, adeknya dipanggil Yang Maha Kuasa, dan beberapa hari setelah penguburan adiknya, dia harus kembali ke posko melanjutkan setiap proker  yang ada. You are strong, girl. ^_^

10.   Syifa Fauziah Kami memanggilnya Chipa. Wanita montok ini pada saat itu adalah mahasiswa jurusan Epidemiologi FKM Unhas angkatan 2010. Salah satu wanita cerewetnya Banggaedan yang ributnya ngalahin emak-emak. Protesnya sana-sini gak berhenti-berhenti. Wajahnya yang super serius bikin enak buat digangguin, sampai akhirnya dia mengeluarkan ketawa khasnya yang renyah banget, se renyah biscuit Romahh. Hehehe. Tapi, kecil-kecil begitu dia jago masak bo, salah satu orang yang diandalkan pada saat sahur. Hihihi. Wanita yang akhirnya mengakui Dg. Kanang sebagai bapaknya di posko ini jago banget kalo soal input-input data dan soal statistic. Ketjeh parah. Suaranya yang melengking itu yang bikin kangen, apalagi kalo udah ketawa, uwewww.
Anggota Posko KKNPK Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar
Jurni 2013

Inilah kami, penghuni Posko Banggaedan dengan segala kejaimannya di awal-awal namun mulai mengeluarkan keasliannya pada akhirnya. Posko ini membuat kami mengenal satu sama lain, mengajarkan kami bahwa hal-hal ongol lah yang membuat kami belajar mengakrabkan diri untuk saling memahami. Banyak hal-hal di luar pemikiran saat ini yang berhasil diambil kamera dan pada saat menikmatinya saya kembali berfikir, koq bisa yah melakukan hal gila nan ongol seperti itu selama KKN. Rasanya itu gak masuk akal banget. Entah saraf otak bagian mana yang tidak berfungsi selama 2 bulan itu. Hahaha. 7 minggu waktu yang tidak singkat untuk saling mengenal, tinggal di dalam satu rumah dengan 1 kamar membuat kami ‘terpaksa’ saling mengenal. Hihihi.
Enjoy your KKN adiks-adiks.

Mungkin postingan selanjutnya masih seputar Kakaeng, soalnya judulnya agak-agak mendukung, hehehe.
To be continued....

[Dahai, 210716)
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts