Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Februari 2020

Ditinggal Saat Memang Lagi Sayang-Sayangnya



Ketololan ketinggalan pesawat pernah ku alami. Setidaknya sekali seumur hidupku. Dan itu rasanya benar-benar patah hati. Seperti lagi sayang, trus ditinggal.

Datang di waktu mepet sebelum pesawat berangkat sudah menjadi kebiasaanku sejak sering menggunakan pesawat sebagai transportasi kembali dari perantauan ataupun saat traveling. Ada saja hal-hal aneh yang kulakukan hingga telat tiba di bandara. Terkadang, 2 jam sebelum boarding, saya baru berangkat ke bandara, padahal sudah tahu kalau jalanan macet parah. Alhasil, cuma bisa diam dan berdoa di dalam hati sambil dada berdebar-debar, berharap tidak ketinggalan pesawat. Kadang sudah telat berangkat, masih singgah beli ole-ole lagi, jadi makin telat. Alhasil, banyak drama yang kulakukan di bandara.

Lari-lari menuju gate menjadi salah satu drama yang sering kulakukan di bandara. Saya menyebut adegan lari-larian di bandara ini dengan sebutan ‘Adegan Rangga-Cinta’. Ingat kan pas Cinta lagi lari-lari di bandara untuk ketemu Rangga di AADC 1?  Entah kenapa setiap kali ke bandara bawaannya pasti lari-lari, bandara seakan kelihatan seperti jogging track untukku saat itu. Hehe.. Padahal memang ga bisa manage waktu aja.

Pernah satu kali, saya sudah telat tiba di bandara Hasanuddin Makassar, untungnya masih bisa check in, tapi tetap harus “Adegan Rangga-Cinta’ dong karena sudah detik-detik terakhir. Apalagi jarak antar gate bandara ini naudzubillah jauhnya, jadi harus lari demi tidak mendapat tatapan ngeri dari penumpang lainnya. Sesampainya di gate tersebut malah ada info pindah gate (padahal ini belum duduk dan tarik nafas loh), dan sialnya kami harus pindah dari gate 2 ke gate 6, yaampuunnnn. Tapi yang penting tidak ketinggalan pesawat sih.
Bandara Hasanuddin-Makassar, yang jarak antar Gate-nya jauh

Pernah juga telat ke bandara karena ole-ole ketinggalan di hotel. Saat itu saya akan penerbangan pagi dari Manado-Makassar, menggunakan Maskapai warna hijau yang kalo setelah landing kita akan mendapatkan pantun. Saya sengaja nginap bersama teman-teman di hotel terdekat dari bandara supaya tidak lama di perjalanan, apalagi maskapainya jarang delay. Pagi setelah sarapan, saya langsung berangkat dari hotel menggunakan ojek online. Lagi ngobrol sama bapak ojol, tiba-tiba baru ingat kalau saya meninggalkan ole-ole wajib di kamar hotel. Ole-ole khas Manado yang kubela-belain beli untuk dibawa pulang. Alhasil saya meminta bapak ojol untuk balik ke hotel, tapi ternyata harus mutar karna jalannya jalur 1 arah. Setelah memastikan bahwa penerbangan masih bisa terkejar, kami akhirnya kembali ke hotel. Long story short, perjalanan menuju bandara dilalui sambil si bapak ojol ngebut. Untungnya tiba tepat waktu, tapiii tidak sampai disitu, sebelum bapak ojol kembali, saya minta tolong untuk memotret saya di depan bandara Sam Ratulangi dengan latar tulisan "Sitou Timou Tumou Tou". Biar dikata hampir telat, foto di bandara itu wajib, apalagi belum tentu akan balik ke sana lagi. Hihi. Setelah itu barulah dimulai drama ngantri di pemeriksaan tiket dan “Adegan Rangga-Cinta’ lagi menuju gate, dengan carrier di punggung dan ole-ole di tangan. Untungnya bandara Sam Satulangi tidak besar, hanya ada 4 gate yang tidak berjauhan. Thank God
Sempatkan foto walaupun hampir telat di depan Bandara Sam Ratulangi - Manado

Kejadian nyaris ketinggalan pesawat tidak semuanya karena kesalahanku, ada juga karna kelalaian dan kekeliruan (pembenaran sih ini). Saat itu saya penerbangan subuh dari Surabaya-Denpasar, pukul 6 bo', jadi harus berangkat dari kosan teman pukul 4 subuh, apalagi bandara Juanda Surabaya itu jauh sekali yah dari pemukiman. Untung saat itu saya diperkenalkan oleh supir antar jemput mahasiswa langganan teman saya, sebutannya 'Suk'. Kami berangkat jam 4 subuh sambil bercerita sepanjang jalan dengan Suk. Suk adalah seorang bapak keturunan Tionghoa yang memberikan wejangan-wejangan tentang keuangan. Menarik sekali memang pembahasannya sepanjang jalan, apalagi bagiku yang saat itu sedang mencoba mengatur keuangan. Kami tiba di bandara sejam sebelum boarding, tapi ternyata wejangan Suk masih berlanjut saat mobil sudah parkir. 15 menit dihabiskan mendengarkan wejangan Suk, sampai saya harus memotong pembicaraannya demi untuk tidak ketinggalan pesawat, mana antrian masuk panjang skali. Yasudahlah, terima nasib aja. Untungnya saat sedang ngantri, dibuka jalur khusus bagi penumpang dengan penerbangan paling pertama. Selamaattt. Tidak ada drama di dalam bandara.
Surabaya, jam 4 subuh, menunggu Suk

Drama telat ke bandara memang menjadi kebiasaanku dari dulu, entah karena disengaja atau tidak disengaja, sampai-sampai seorang sahabat selalu mengingatkan untuk on time ke bandara. “KE BANDARA ITU, 2 JAM SEBELUM TAKE OFF, BUKAN 15 MENIT!!” kata sahabatku. Tapi memang dasar belum kena batunya, jadi yah dilakukan saja terus.

Pernah sekali, di Bandara Sepinggan Balikpapan, udah telat tiba dan waktu check in sudah ditutup. Kebetulan saat itu saya diantar oleh sepupu, maka dimulailah drama memelas di bandara. "saudara saya ini dari jauh mas, tadi busnya telat tiba, kasian mas," kata sepupu saya. Segala macam alasan sambil memelas-melas kami lakukan di depan petugas check in. Setelah dikonfirmasi, untungnya saya masih bisa masuk, tapi sudah tidak bisa masukkan bagasi lagi, padahal saat itu posisinya saya sedang membawa 2 karton berisi ole-ole (yang singgah saya beli dulu dalam perjalanan ke bandara) plus 1 ransel. Alhasil, harus muka tebal menuju boarding room yang kebetulan saat itu gatenya paling ujung. Mana bandaranya sekece Sepinggan lagi, salah satu bandara keren Indonesia saat itu. Yasudahlah, daripada tiket hangus, lebih baik bermuka tebal aja.
Bandara Sepinggan - Balikpapan

Kupikir kejadian Bandara Sepinggan ini jadi kejadian tersial ku di Bandara, ternyata tidak. Beberapa kali diselamatkan dari ketinggalan pesawat dan tidak kapok untuk datang telat, sepertinya semesta memang harus memberikan pelajaran.

Saat itu penerbangan dari Denpasar-Makassar. Rencananya saya mau ikut rombongan mama yang saat itu sedang ikut lomba di Bali, tapi ternyata saat akan memesan tiket, seatnya sudah full. Terpaksa saya mengambil tiket paling murah di hari itu, yang sebenarnya lebih mahal 3 kali lipat dari harga normal karna saya beli tiket di hari keberangkatan. Setelah mengantar mama dan rombongan, saya masih harus menunggu sekitar 6 jam sampai waktu flight. Rasanya sayang sekali kalau hanya menghabiskan waktu selama 6 jam di bandara Ngurah Rai, apalagi akses menuju pusat keramaian sangat gampang. Saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Beachwalk Mall, apalagi saya cuma bawa 1 tas tentengan karna carrier sudah dikirim duluan bersama rombongan mama. Dari bandara ke Beachwalk Mall hanya memakan waktu 5 menit menggunakan ojol, bisalah beberapa jam di sini. Setelah keliling-keliling dan makan siang, saya mulai bosan dan memutuskan untuk menonton. Lihat jam, mepet sih, tapi bisalah dengan 5 menit ke bandara nanti. Jadilah keputusan tolol itu ku ambil, nonton. Ternyata tidak tenang juga selama nonton, malah tidak fokus karna kepikiran akan waktu penerbangan. Akhirnya, setengah jam sebelum flight, saya memutuskan kembali ke bandara, dengan perkiraan 5 menit perjalanan. Sial memang, karena jalur 1 arah jadi harus memutar, jadilah perjalanan ke bandara memakan waktu 15 menit. Tiba di bandara langsung lari-lari ke counter check in, saat itu belum mengenal online check in, dan ternyata sudah tutup, duaaarrrrr. Petugasnya memberikan informasi bahwa chech in ditutup 15 menit sebelum pesawat take off. Selamaattt.. Saya jadi uring2an menuju ke customer service maskapai itu. Mau re-schedule harus bayar sesuai harga tiket yg 3 kali lipat lebih mahal itu, wahhh, tidak deh. Jadilah saya keluar dan duduk di lantai bandara memikirkan nasib saya yang ketinggalan pesawat karena ketololan sendiri. Akhirnya saya memutuskan untuk memesan kamar hotel di dekat bandara, untuk menenangkan diri dan tidur seharian sambil mencari tiket murah keesokan harinya untuk pulang. Untungnya dapat tiket sesuai budget keesokan harinya walaupun last flight ke Makassar. Yaudahlah, daripada tahan sehari lagi, malah kepikiran ketololan terus.
Saat itu saya berbohong ke mama kalau saya sudah di Makassar tapi masih ada urusan, jadi balik ke Toraja besoknya lagi, padahal lagi merutuki nasib di Bali karena ketinggalan pesawat. Ampun mak.. Haha.
di Bandara Ngurah Rai - Bali, dengan barang seadanya, setelah 'ditinggal saat lagi sayang'

Ketinggalan pesawat itu rasanya seperti ditinggal saat lagi sayang-sayangnya. Dan memang lagi sayang. Sayang duitnya, sayang waktunya, dan lain-lain.

Nahh, sejak kejadian itu, saya jadi sangat menghargai waktu untuk ke bandara ketika akan flight. Sebuah titik balik yah. Tidak pernah lagi berangkat telat ke  bandara. Paling lambat 2 jam sebelum waktu keberangkatan sudah stand by di bandara. Sedekat apapun bandara itu dengan tempat menginap, bahkan di bandara kecil seperti Bandara Mali (Alor) yang cuma 30 menit dari kota dan jalan bebas hambatan.

Saking traumanya, saya pernah flight jam 10 siang dan sudah stand by di bandara dari jam 5 subuh.. 

So, akan ada kejadian-kejadian yang membuat kita berbalik dari hal-hal tidak baik dalam hidup kita. Kadang harus dibuat sakit dulu supaya tidak terbiasa melakukan hal yang nantinya akan merugikan diri sendiri. Eaaaaaa…. Jadi jangan sampe ketinggalan pesawat yah. Sakit..

Senin, 06 Maret 2017

Sepenggal kisah di Kota Nyiur Melambai

Seminggu lalu, ketika tubuh ini gentayangan untuk pertama kalinya di kota ini, Kota Manado. Sebuah perasaan bahwa akan terjadi hal luar biasa 2 hari ke depan.
Dan benar saja.
3 jam dari kota ini, tepatnya di Desa Bahoi, Kec. Likupang, Kab. Minahasa Utara, petualangan itu dimulai.
Dengan mobil Truk Basarnas yang membawa raga kami ke lokasi, entah pikiran setiap kami ada di mana saat itu, yang jelas pikiran ku sudah melayang2 memikirkan bagaimana keadaan lokasi TnT ini. I'm just curiuos.
Duduk semobil, sempit-sempitan, dengan orang-orang yang boleh dikatakan masih asing, yg baru kenalan kurang dari 5 jam, seyogyanya akan menimbulkan perasaan yang asing bukan? Tapi tidak untuk kali ini. Sebaris kalimat perkenalan sembari mengucapkan nama masing-masing dan jabat tangan yang hangat rasanya sudah cukup untuk membuat kami merasa, "Heii, I met an old friend."
Lebay?
Gak masalah, saat kau mengalaminya secara langsung, kau akan tahu bahwa tulisan lebay ku itu nyata. Nyata tidak lebay.  Tahu alasannya kenapa? Mungkin karna kami punya 1 misi yang sama? Mungkin. 
Desa Bahoi menyambut kami di tengah gerimis dan gelapnya subuh. Rumah ibu kepala sekolah menjadi pelindung raga kami ditengah dinginnya subuh itu untuk melanjutkan istirahat sebelum ke sekolah di pagi harinya.
Lelah? Banget. Excited? Mengalahkan lelah kami. Bangun pagi untuk ngantri di kamar mandi rasanya 'not a big problem' karena pantulan sunrise di air laut belakang rumah ibu kepala sekolah menjadi salah satu pemandangan yang menghipnotis pagi itu. Lebay? Gak masalah, untuk seorang anak gunung yang jarang lihat laut seperti saya, lebay adalah hal biasa. 
Setelah mata dikenyangkan dengan pemandangan sunrise, ternyata perut juga dikenyangkan oleh sepiring bubur Manado. What a great 'smokol' (dalam bahasa Indonesia, 'smokol' sama dengan 'sarapan'). Salah satu dari 10 pesan dasar gizi seimbang sudah terpenuhi kan? 
Heii. Adik2 SD GMIM Bahoi sepertinya sudah menunggu. Can't wait to see them!! Let's gooo...
Jarak sekolah dari rumah ibu kepala sekolah yang tidak terlalu jauh membuat kami cukup berjalan kaki. Kakak2 volunteer dengan seragam putihnya yang berombongan berjalan ke sekolah terlihat seperti 'mereka yang di kota yang kebiasaan berdemo'.  psstt 
Adik-adik berlarian ke luar kelas untuk berbaris di lapangan dekat sekolah. Sstt, bukan lapangan sekolah yah, soalnya lapangan becek banget (abis ujan dan gak ada ojek), gak bisa buat baris.
Wajah-wajah lugu itu berbaris di depan kami, kadang bingung mau ngapain, bingung melihat wajah2 baru berbagai karakter di hadapan mereka, bingung mau meluruskan barisan, bingung lagi berbaris di kelas mana, bahkan sampai2 yel2 selamat pagi terlupakan. So cute!! Uncchh..unncchhh..
Senyum mereka menjadi penyemangat di pagi ini, walaupun lapangan tempat berbaris di penuhi 'ranjau', entah itu ranjau nyaris kadaluarsa sampai yang masih fresh from the oven. If you know what I mean, yahh . (Hewan piaraan di sini dibiarkan bebas berkeliaran, seperti anjing dan babi)
Tak kenal, maka tak sayang (maka ta'aruf), perkenalan diri dan tepuk semangat menjadi awal untuk mencairkan suasana dengan adik-adik, ehh, masih ada "UAYA". They were sooo excited!!
Teaching is began.
Umm, semangat mereka rasanya tidak sebanding dengan keadaan lantai kelas yang bolong-bolong dan kursi meja yang sudah mulai rusak. Mereka terlalu bersemangat untuk keadaan seperti itu.
Mereka terlalu bersemangat untuk membuat 'hanya' sebuah kotak tissue, tempat pensil, atau pigura dari kardus bekas. Mereka terlalu bersemangat untuk menyampaikan cita-cita dan harapan mereka. Iyah,  ter-la-lu.
Tahu ga sih? Sebenarnya bukan kami yang mengajar mereka, tapi mereka yang sudah mengajarkan kami banyak hal, salah satunya untuk banyak-banyak bersyukur. Mungkin mulut mereka tidak mengeluarkan kalimat, "bersyukurlah," tapi tindakan mereka sudah menyampaikan yang tidak perlu diucapkan oleh mulut. Talk less do more banget kan yah?
Satu bagian yang paling menyenangkan setiap TnT adalah, saat sesi pemberian donasi sembari berbagi motivasi. Saya gak bisa memberikan barang mahal, tapi hanya bisa memberikan kisah hidup yang harapannya bisa memotivasi mereka. I love to talk privately with them. 
Actually, too many sweet memories with this child. When they talk to us with their jokes like "kita kan kelas 6 romantis". Heii, are they understand what 'romantis' is?? Or when they just talk about their life with their own style and their innocent face. Or when you see their 'want-to-know' face while ask you about 'where do you come from'. Or, when they want to talk to you but maybe they are to shy so they just call your name and when you say "hai!!" they smile and look soo happy. Can you imagine how cute their expression??
Rasanya itu tidak bisa dibayar dengan uang kan?
Selain anak-anaknya, persahabatan juga kami dapatkan di acara TnT ini. Berkenalan dengan berbagai pribadi dengan latar belakang suku, agama, ras, dan kebudayaan yang berbeda menjadi salah satu daya tarik tersendiri saya mengikuti kegiatan ini. Yahh, di tengah krisis SARA bangsa ini saat sekarang ini, kami masih bisa membuktikan bahwa SARA bukanlah penghalang untuk bisa bersatu mencapai satu tujuan. Rasanya kegiatan ini ingin menunjukkan bahwa, "heii, kita ini bangsa Indonesia, yang dari dulu sudah berbeda, tapi kita tetap satu kan?".
Kalo kata Bung Fiersa, "perbedaan itu indah. Sebuah hubungan yg dilandasi oleh perbedaan akan sangat menyenangkan. Berbagi perspektif baru, ilmu baru, wawasan baru. Tapi harus mempunyai visi dan misi yang sama."
Indah kan? Rasanya perbedaan itu tidak terlalu berarti.
Mau bukti dan saksi?
Bukti ada di foto2 kami.
Saksi?
Banyaakk.
Truk Basarnas menjadi saksi kami sempit-sempitan ke lokasi.
Dapur ibu kepala sekolah menjadi saksi kami talk about anything, ketika radar 'want-to-know' kami menunjukkan sinyal full. Such as, saat kk2 menjelaskan tentang 'smokol', atau ketika they talk about makan rica bagi orang Manado. Atau ketika istilah, 'orang kacili kasiang' mulai booming.
Ruang tamu kepala sekolah menjadi saksi permainan 369 yang seharusnya menjadi fun malah ujung2nya jadi horor dengan punishmentnya  sampai pada pembicaraan berat mengenai pernikahan. Ohhh gak sanggup.
Ruang tamu tetangga ibu kepala sekolah beraroma dedak menjadi saksi perkenalan & sharing kami yang membuka tabir kebenaran bahwa menjadi 'ibu tidak harus perempuan, laki-laki pun bisa' .
Dermaga Desa Bahoi menjadi saksi kami mengejar matahari skalian mengejar sinyal tumpeh-tumpeh sambil menonton drama 'aku-gak-sanggup-berenang-kalo-dilempar-langsung-ke-laut' atau nonton ATH (Aksi Tutup Hidung) sebelum menyentuh air laut.
Umm, what else?
Tempat makan apa tuh namanya, yang ada Jangkar apaa gitu, menjadi saksi kami having dinner together saat sudah tiba di Manado dan berujung pada pemesanan gojek yang lama banget jadi terpaksa ikutan tidur di hotel bareng yang lain daripada menggembel di pinggir laut, nanti malah masuk angin.
Atau, kamar hotel Travelo menjadi saksi kami berkreasi mengubah posisi tempat tidur untuk bisa ditempati bobo bareng.
Last but not least, ruang makan hotel menjadi saksi kami smokol bareng sebelum Curly ke bandara dan harus ada drama lari2 balik ke hotel karena ketinggalam ole-ole yang berdampak pada telat ke bandara tapi masih sempat "Eksis First" terus lanjut berdrama 'Rangga-Cinta' lari-lari ke ruang tunggu.
Terlalu banyak drama yah? 
Tapi drama tanpa acting ini yang menyenangkan. Unforgetable moment with unforgetable people. Kelak, anak cucu ku akan bangga mengetahui.bahwa mamanya dulu pernah melakukan hal ongol tapi bermakna. Haha.
So, thanks for this TnT. Tetap berbagi, dan tetap bersyukur. Jangan lupa bahagia. Torang samua basudara. Apalagi yah?
I really enjoy this TnT.
Mm udah..
Nb: maafkan kalo tulisannya lebay, kalo lagi produktif nulis ya kek gini. Seruput kopi duluuuu... ☕ ☕

Sabtu, 29 Oktober 2016

BANDARA DAN PESAWAT : Makna Sebuah Perjalanan

Anu     : Kamu udah libur lagi? Cepatnya.
Ane     : Iyah, aku kan jadwal kerjanya 8 : 2. Tiap 8 minggu kerja dapat jatah libur 2 minggu.
Anu     : Waww. Enak dong yah?
Ane     : Liburnya enak, kerjanya yaaa gitu deh. Lagian aku kerjanya kan senin sampe Minggu
Anu     : Ya tetep aja enak, bisa sering-sering pulang. Daripada kita cuma sehari liburnya.
Ane     : (sambil nyengir kuda nahan boker) iya aja deh (dalam hati: “kamu gak tau aja gimana tertekannya di lokasi, jadi libur segitu udah wajarlah, kurang malahan”)

Kalian yang baca percakapan di atas pasti juga berpikir bahwa kerjaan saya enak karena liburnya setiap 2 bulan kan? Saya gak heran sih, soalnya setiap pulkam (red: pulang kampung) pasti tanggapan orang lain yang bertanya kepada saya mengenai jadwal kerja akan sama seperti di atas, kecuali mungkin yang pernah merasakan atau minimal memiliki keluarga dekat yang bekerja di lokasi, utamanya seperti tambang dan Oil & Gas. Setiap pulang, saya harus ngurut dada setiap kali ada pertanyaan dan tanggapan seperti itu (pengennya sih langsung sewa tukang urut yah). Bilangnya yaudahlah, diIYAkan saja. Padahal dalam hati teriak, “Hellaawwww. Liburnya emang enak, tapi bayangkan kerjaannya men. Kamu harus berada di lokasi selama 8 minggu berturut-turut dengan jadwal kerja Senin – Minggu, dengan keadaan karyawan yang luar biasa gak bisa di defenisikan, dengan ketemu orang-orang yang sama terus, dengan berbagai tuntutan klien dan atasan, plus anak buah yang susah dikasi tau. Rasain dulu baru kamu bisa bilang libur 2 minggu itu enak apa tidak.” Hufftthh, demikianlah Curahan Hati Seorang Karyawan Lokasi (CHSKL), jadi sinetron bisa kali yah. Saya siap jadi pemeran utamanya koq (kalo pengen semua penontonnya langsung muntah sih pas lagi nonton, hihihi).
Saya seorang karyawan sebuah perusahaan jasa yang berlokasi kerja di daerah eksplorasi. Nah, berdasarkan PERMEN No. 15 Th. 2005 Tentang Waktu Kerja dan Istirahat pada Sektor Usaha Pertambangan Umum pada Daerah Operasi Tertentu Pasal 2 ayat 1(b) mengatakan  “periode kerja  maksimal 10 (sepuluh) minggu berturut-turut bekerja, dengan 2 (dua) minggu berturut-turut istirahat, dan setiap 2 (dua) minggu dalam periode kerja diberikan 1 (satu) hari istirahat”. Hadeuh, mainannya sekarang sama Peraturan Pemerintah yah?? Hihi. Saya rasa sudah jelas yah kenapa tiap 2 bulan saya menginjakkan kaki di tanah kelahiran alias setor muka ke mamak sama bapak alias mengobati rindu, walaupun sering juga kurang dari seminggu di rumah. Hehehe.
Jadwal kerja seperti ini secara tidak langsung ‘memaksa’ saya menjadi seseorang yang terbiasa dengan berbagai alat transportasi, entah itu darat, laut, maupun udara. Artinya bahwa saya sering melakukan travelling. Travelling itu bukan hanya jalan-jalan loh yah. Travelling adalah kegiatan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan kerja, rekreasi, ataupun liburan. Yeah. That’s what I do every 2 months. Apalagi biaya trasportasi dibayarkan perusahaan jadi sayang aja kalo gak dimanfaatkan, gak di pake juga gak bisa diuangkan, jadi inilah saya, mencoba menikmati setiap perjalanan yang saya lalui.
Sehubungan lokasi kerja saya berbeda pulau dengan kampung halaman maka salah satu transportasi yang paling sering saya gunakan untuk menyebrangi pulau adalah pesawat, yang artinya akan sering-sering mengunjungi bandara (kata-kata Rangga langsung menari di otak, “kita terpisahkan oleh bandara dan udara” eeaaa). Pesawat menjadi salah satu transportasi favorit saya karena tidak adanya asap rokok yang lalu lalang di dalam (kedua setelah bus kece di Toraja dong, yang kursinya bahkan lebih nyaman dari pesawat). Menggunakan pesawat adalah salah satu impian saya sejak kecil. Membayangkan bagaimana rasanya terbang menggunakan pesawat adalah hal yang menyenangkan. Bahkan, saat ada kerabat yang sudah bepergian menggunakan pesawat, saya sudah merasa bahwa mereka itu cool banget, hehehe. Akhirnya kesampaian juga saya naik pesawat, bahkan setahun bisa selusin kali saya ‘menjenguk’ bandara dan menaiki pesawat, apalagi kalo saya lagi pengen memanjangkan kaki ke daerah lain sekedar untuk liburan singkat. Welcome holiday!! Ehh, holiday masiih lama yah, fokusss.
Sunrise on Ngurah Rai Airport

Bagi saya, bandara adalah suatu tempat umum yang memiliki kekuatan magis dimana di sanalah pintu gerbang kamu akan ‘berpisah’ untuk sementara dengan daratan, tempat kamu berpijak selama ini. Bagi saya, bandara menjadi saksi bisu atas berbagai kejadian antimainstream yang saya alami sebelum naik pesawat. Misalnya, awal-awal kerja dulu setiap kali ke bandara, pasti gak pernah absen untuk jogging, selain karena saya suka olahraga jogging jadi kapanpun dan dimanapun bisa dilakukan, alasan lainnya juga adalah biar gak ketinggalan pesawat, hehehe, kebiasaan ngaret sih. Yahh, walaupun kadang ujung-ujungnya pesawatnya di delay juga sih, jadi tetap aja masih nunggu. Beberapa bandara menjadi saksi bisu lari-lari saya. Bandara Sepinggan Balikpapan misalnya, menjadi saksi saat saya adalah orang yang check in paling terakhir karena telat tiba di bandara sehingga harus memohon kepada petugas check in supaya masih bisa masuk pesawat, dan akhirnya, berhasil..berhasil...berhasil hore (!!!), yang setelah itu kemampuan lari dipertaruhkan dengan lari sekuat hati dan tenaga ke gate paling ujung sambil membawa tentengan kanan kiri (adegan Cinta banget gak sih??). Bandara Hasanuddin menjadi saksi bisu saya lari-lari dari gate ujung pukul ujung karena perubahan gate secara tiba-tiba (cinta datang kepadakku, ehh), atau ketemu orang yang salah gate sampai harus mengumpat sepenuh hati karena ternyata dia udah hampir ketinggalan pesawat dan harus lari-lari lagi ke gate ujung dengan tentengan banyak banget (gue bangeett), atau udah standby di bandara dari jam 05.30 padahal flightnya 10.10 karena kapok nanti lari-lari lagi. Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru misalnya, menjadi saksi untuk pertama kalinya saya menggunakan pesawat kecil (yg dipesankan kantor) dan pada saat yang sama harus menerima berita bahwa pesawatnya akan ditunda penerbangannya selama 2 jam, mana transit lagi pesawatnya, dan petugas pesawatnya masih sempat nanya, “gimana mba? Gapapa kan?” dan saya menjawab dengan muka TERPAKSA dimanis-maniskan sambil bilang “iyah gapapa,” padahal dalam hati teriak, “menurut loe??? Emang saya mau gimana lagi kalo penerbangannya udah di tunda??”. Sementara itu, Bandara Juanda Surabaya  memiliki pengalaman antimainstreamnya sendiri dimana saat itu, pagi-pagi benar saat matahari belum terbit (tepatnya berangkat jam 4 karena penerbangan pertama pkl 05.30), saya udah tiba di bandara di antar oleh supir anjem (baca: antar jemput) teman, tapi karena keasyikan ngobrol dan di berikan petuah, akhirnya harus lari-lari juga ke gate lantai 2 paling ujung. Kejadian antimainstream paling parah sampai saat ini yang saya alami di bandara adalah pada saat di Bandara Ngurah Rai Bali, habis liburan saya akan kembali ke Makassar dan harus menerima kenyataan bahwa saya ketinggalan pesawat, sekali lagi sodara-sodara, SAYA KETINGGALAN PESAWAT, karena alasan konyol yaitu saya pergi nonton dulu di XXI dan saya tiba di tempat check in 10 menit setelah check in di tutup. Meeennnn, gila aja kan. First time on my life ditinggalkan pesawat, kacau banget rasanya, makanya kamu jangan ninggalin aku yah *ehh. Sialnya lagi, saat itu tiket pesawat yang saya beli 3 kali lipat harga normal karena saya harus pulang hari itu dan saya beli tiketnya beberapa jam sebelum berangkat, dan itu hangus begitu saja tanpa meninggalkan bekas bahkan debu juga gak ada, rugi bandar meennn. Tapi sejak saat itu saya sudah kapok telat ke bandara, saya bersyukur aja bisa mendapatkan pengalaman seperti itu. Travelling give us so much experience, right?
Keseringan bepergian juga membuat saya harus berani mengambil keputusan-keputusan kecil yang dulu gak pernah terpikirkan. Memutuskan, untuk nunggu waktu check in yang kadang masih lama, apakah saya harus nginap di rumah keluarga yang dekat bandara, atau ke penginapan murah sekitar bandara, atau menunggu di kantor travel dengan resiko gak bisa tidur, atau mau langsung ke bandara aja (dengan resiko gak bisa tidur juga, hehehe). Memutuskan harus makan di mana, makan apa, harus pake baju apa biar ga rempong, harus menyusun pakean sedemikian rupa ke dalam tas biar gak terlalu banyak bawaan di bandara, dan banyaaakkk lagi. Namun keputusan paling luar biasa yang saya ambil sampai saat ini sehubungan dengan pengalaman travelling saya adalah, harus menerima kenyataan ditinggal pesawat di Bali dan harus mengambil keputusan nginap di hotel teman atau cari hotel dekat bandara. Panik iyah. Sambil duduk di lantai bandara bersama beberapa orang yang sepertinya ketinggalan pesawat juga (bedanya mereka bertiga, lah saya sendirii, di kampung orang pula), akhirnya saya memutuskan untuk mencari hotel sesuai harga kantong di dekat bandara, dan mengurung diri seharian demi untuk merenungi nasib. Hahaha. What a life! Hal simple seperti itu yang gak pernah saya dapat sebelumnya dan bersyukur bisa saya dapatkan saat travelling.

A teenager girl who travel alone from Banjar to Lombok
Kabin pesawat juga memiliki kisah tersendiri selama pengalaman perjalanan saya. Bepergian artinya kamu akan bertemu dengan orang lain, mengenal budaya lain, mengenal kebiasaan lain, dan membuat dirimu terbiasa untuk memilih jenis interaksi apa yang sebaiknya kamu terapkan saat bertemu orang asing. Seperti kata Ika Natassa dalam novelnya yang berjudul ‘Critical Eleven’, “Travel is a remarkable thing, right? Di pesawat, di bus, di kereta api, berjalan kaki, it somehow brings you to a whole other dimension more than just the physical destination. It’s the simple chance of reinventing ourselves at new place where we are nobody but a stranger.” Kamu akan bertemu orang asing yang akan menjadi orang terdekatmu, literally, selama 1-2 jam kedepan sampai akhirnya kamu tiba kembali menapakkan kaki di tanah (kuntilanak kali ahh). Sebelum naik pesawat atau selagi menunggu pesawat, kadang saya berpikir, “siapa lagi penghuni kursi sebelah saya nanti?”. Apakah sekelompok pemuda yang lagi liburan bareng? Atau seorang anak SMA yang sedang travelling sendiri? Atau sebuah keluarga kecil dengan anak cewek yang cerewet sepanjang perjalanan? Atau bapak-bapak yang sedang dalam perjalanan dinas dan ternyata satu kampung dengan kita? Atau om-om genit yang ngajak ngobrol dan ujung-ujungnya ngajak pulang bareng? Atau mungkin seorang pemuda yang dari take off sampai landing hanya mengunjungi alam mimpi alias tidur? Yeahhh, I ever felt all of that. Kejadian paling horror yaa ‘om-om genit’ itu, eeuuhhhh. Disini saya belajar untuk membangun komunikasi dengan mereka, tapi juga tetap self protection, apalagi saya seorang perempuan yang kemungkinan mengalami tindakan kejahatan di alat transportasi umum lebih besar dibandingkan laki-laki. Cemumuthhhh wanita!!!  Be setronggg.
"Mommy, where are we going??" ask the kid.
Melakukan penerbangan juga artinya kamu akan siap dengan segudang pesan masuk di handphone setelah beberapa jam dinonaktifkan sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan. Masih dari buku Ika Natassa mengatakan bahwa “Travel is deciding who will be the last call before you take off and the first call after you landed” (Maapkan yah, saya masih belum move on dari buku kece ini, yang bicara juga tentang travelling). Iyuhuuuu, hal ini yang paling sering saya alami soalnya, utamanya dari the one and only mamak that too much worry about doing travelling, apalagi kalo anaknya yang jadi pemeran utamanya, hahaha. Jadi pernah sekali yah, pesawat udah parkir dengan benar, saya udah mengatakan “Terima kasih Tuhan atas penyertaan-Mu selama perjalanan”, udah siap-siap turun pesawat, saya aktifkan HP, and tadaaaaaa, sedetik kemudian dia bordering dan bergetar dan ada tulisan MAMAK di layarnya. Ohhhmegatt, beneran kuat yah feeling seorang ibu. Emejing kan mamak saya? Salah satu bentuk perhatiannya adalah kekhawatirannya kepada kami, hihihi.
Saya lumayan suka jepret-jepret (pengen bilang suka fotografi tapi belum se-expert itu, aku mah apa atuh) dan salah satu tempat photogenic yang saya sukai (selain pasar, jalanan, dan langit) adalah di bandara dan pesawat. Entah kenapa bandara dan pesawat selalu kelihatan indah di mata saya, dan selalu ingin saya masukkan ke galeri saya (IG itu udah termasuk galeri kan??). Mungkin karena jarang ditemui atau gimana, tapi setiap kali ke tempat tersebut bawaannya selalu pengen mengambil foto, dan buat caption “dipisahkan oleh bandara dan udara” *ehhh tuh kan masih belum move on dari Rangga AADC 2. Selain konstruksi bangunannya yang kece, atau pesawatnya yang kece minta di foto banget, satu hal yang membuat saya suka jepret-jepret di bandara adalah ‘kelakuan’ calon penumpang pesawat yang kadang lucu untuk diperhatikan. Entah itu mereka sedang dengar music, duduk di lantai ruang tunggu, telponan sambil memberi laporan ke lawan bicaranya, ngemil, ngurusin pekerjaan di handphone, atau malah bengong melihat kelakuan orang yang sudah nyaring ketinggalan pesawat di sampingnya. Lucu aja untuk diperhatikan, dan pasti otak langsung teriak, “foto!! Foto cepetan!!” Hehh!! 
Penampakan di Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru

Last but not least, I wanna say thatTraveling is about waiting”. Kalo quote ini murni dari otak saya loh yah. Percaya aja yah, biar saya kelihatan bisa mikir gitu, hehe. Yeahh. Travelling itu memang tentang menunggu, bagaimana kamu sabar menunggu pesawat, menunggu bus, menunggu apapun itu, daannnn yang paling penting adalah apa yang kamu bisa lakukan untuk mengisi waktu-waktu kosong itu. Mungkin ada yang telpon pacar (ciee), telpon ortu (anak baik biasa kek gini), telpon teman (biasanya ini ngegosip), ngupil (kalo ada yg gini, kelaut aja lu gak usah terbang), ngemil, becanda bareng anak, ngobrol dengan orang di samping (PDKT mungkin), tidur-tiduran, atau  bahkan bengong (ini tidak disarankan karena berpotensi menyebabkan kesurupan). Saya memiliki cara tersendiri untuk mengisi kekosongan hati ini, ehh maksudnya kekosongan waktu sselama menunggu (kamu), *ehh ahhsudahlahh. Karena saya gak punya pacar jadi gak mungkin telponan sama pacar dan gak mungkin gangguin pacar orang karena saya belum berpengalaman dalam hal tikung-menikung jadilah saya mengisi waktu menunggu dengan membaca buku, bukan membaca pikiran kamu yahh. Alasan lain saya membaca buku di bandara adalah because I think it was cool (maksudnya cool-tu buku. Hehehe). Kesannya itu, “menemukan diam dalam bising” (quote dalam Novel Petir by Dee Lestari). Walaupun bising, tapi sebenarnya gak bising-bising banget, apalagi kalo bandara kecil. Selain itu tempatnya yang adem emang bikin betah untuk baca. Intinya adalah, bagaimana kita memanfaatkan waktu menunggu kita dengan hal berguna, misalnya untuk meng-upgrade diri sendiri.
Reading is a best way for waiting


Begitu banyak hal yang bisa saya pelajari berawal dari bandara dan pesawat. Hal yang setahun belakangan ini menjadi teman saya tiap 2 bulan. Simple, tapi sebenarnya mengajarkan begitu banyak hal. And I am so thankfull buat buku Ika Natassa yang melalui bukunya yang berjudul Critical Eleven yang memberikan inspirasi untuk kembali mengunjungi blog ini setelah sebulan dicuekin. Mata saya terbuka mengenai makna sebuah perjalanan berawal dari bandara dan pesawat. So, saya mencoba belajar dari hal-hal simple, dan ternyata hal simple itu sebenarnya berpengaruh bagi kehidupan kita. Mencoba mempelajari hal-hal baru, dan membagikan apa yang bisa saya bagikan, tapi kalo hati saya gak bisa di bagi-bagi, cukup untuk kamu seorang. Ehhh, apacihhh. Mulai ngawur deh.
Okehh, sekian tulisan saya tentang bandara dan pesawat. Just leave a comment or suggest about my post or by e-mail on ekaismaliliany@gmail.com , karena saya mencoba terbuka dengan setiap masukan dan kritikan. Tapi kalo tanya perasaan ku jangan lewat komen yah. Ahhhhsudahlah, STOP IT!! J
Thanks for reading. Bye!

Dahai 291016


Sabtu, 09 Juli 2016

Lepas Penat Sederhana di Kalimantan Selatan

Satu tahun menjadi penghuni Wilayah Tabalong & Balangan membuat saya menemukan beberapa tempat yang layak untuk dijadikan objek melepas penat ataupun cuci mata. Walaupun sangat sedikit namun saya ingin membagikan sedikit pengalaman itu, yakali ada yang nyasar di daerah sini dan pengen jalan-jalan sehari. Kan lumayan. Tapi kalo tetap gak mau baca yaudah, akhiri membaca tulisan saya! Ehh.. haha. Berhubung saya belum sempat mengunjungi tempat-tempat kece seperti yang pernah disuguhkan oleh tim My Trip My Adventure karena sebagian besar waktu saya di lokasi adalah benar-benar untuk kerja, libur pun hanya 2 hari pada Lebaran kemarin yang berhasil membuat kaki saya melangkah agak jauh SEDIKIT (Biasa,, loyalitas tanpa batas), sehingga saya hanya menyajikan sesuatu sederhana ini. Hehe.

Sebagian besar waktu saya habiskan di mess (yang include dengan tempat kerja) yang terletak di Desa Dahai, Kec. Paringin, Kab. Balangan, Kalimantan Selatan.  Sekitar 8 jam menggunakan bus antar Provinsi dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur atau sekitar 4-6 jam menggunakan travel dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kota terdekat dari desa ini adalah Kota Paringin, Kab. Balangan (sekitar 15 Menit menggunakan mobil) dan Kota Tanjung (sekitar 20-25 menit menggunakan mobil). Dekatnya kedua kota ini yang memberikan pilihan bagi kami, karyawan lokasi, untuk dijadikan tempat melepas penat (dan lelah, dan galau). Berikut beberapa tempat terdekat yang dapat dijadikan pilihan cuci mata.

Tugu Obor Tanjung

Tugu ini terletak di Pusat Kota Tanjung dan juga merupakan icon kota ini. Letaknya yang strategis menjadikan tugu ini pilhan yang tepat untuk nongkrong. Tugu ini menjadi jantung kota tanjung karena disinilah persimpangan 3 Provinsi yaitu menuju Kaltim, Kalsel, dan Kalteng. Setiap sore sampai malam hari, utamanya jika cuaca cerah, banyak anak muda yang menghabiskan waktu untuk nongkrong di tempat ini. Bukan hanya anak muda, beberapa orang yang berkeluarga juga kerap terlihat berkumpul di tempat ini. Disebut tugu Obor karena pada puncak tugu ini terdapat api abadi hasil pembuangan gas Pertamina. Di sekeliling tugu juga terdapat air mancur yang semakin memperindah tampilan tugu, utamanya pada malam hari. Buat para pecinta peselancar instagram yang suka cari spot-spot yang instagramable, tempat ini bisa jadi pilihan. Cekrek..cekrek..upload. J
Tugu Obor Tanjung di Sore Hari

Taman Kota Tanjung
Taman kota ini terletak di area perkantoran pemerintahan Kota Tanjung,. Saya hanya beberapa kali berkunjung ke tempat ini. Pada sore hari digunakan oleh anak muda untuk nongkrong atau bermain bola. Di sekitar taman juga terdapat taman bermain dan pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya. Saya sempat ke tempat ini saat malam pergantian tahun dan malam takbiran. Taman ini dijadikan juga sebagai pusat kegiatan pada acara-acara tesebut.
Taman Kota Tanjung

Taman Kota Tanjung pada Malam Hari dalam Acara Malam Takbiran 2016

Islamic Centre Tanjung
Islamic Centre Tanjung merupakan salah satu mesjid yang terletak di wilayah Tabalong. Saya suka dengan bentuk mesjid ini yang pada malam hari terlihat seperti Disney Land. Tidak ke Disney Land Hongkong, Islamic Centre pun jadi. Haha. Islamic Centre ini letaknya tidak jauh dari Tugu Obor, sekitar 5 menit ke arah Banjarmasin. Pada siang hari, mesjid ini juga sering dijadikan tempat untuk beristirahat setelah shalat.
Islamic Centre Tanjung pada malam hari

Desa Kalua, Kec. Tabalong, Kalimantan Selatan
Desa ini dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam dari Desa Dahai. Saya mengunjungi tempat ini pada Lebaran tahun ini untuk bersilaturahmi dengan salah satu karyawan kami yang tinggal di desa ini. Dari hasil searching saya, daerah ini merupakan daerah yang dikelilingi oleh rawa. Kami berangkat sekitar pukul 17.00 WITA. Untuk mempersingkat waktu, kami melalui jalan hauling (Jalur angkut batu bara). Tentunya sarana yang kami gunakan sudah memenuhi syarat untuk melewati jalur ini. Setelah keluar dari jalan hauling, mobil yang kami gunakan memasuki jalur kendaraan umum yang adalah jalur antar provinsi (Kalsel Kalteng), sepanjang jalan, di kiri-kanan terlihat rumah-rumah khas warga suku Banjar . Sampai kami menyebrangi sebuah jembatan dan memasuki desa tempat tinggal karyawan kami ini. Kami menggunakan jalur baru dimana yang kami lalui merupakan hutan-hutan karet dan dikelilingi oleh rawa-rawa. Pemandangan pohon karet pada sore itu sangat indah dimana cahaya matahari sore memantul di permukaan air rawa dan ada pula yang menembus batang-batang karet. Berasa seperti di acara-acara silat. Hehe.

Sesampainya di rumah karyawan kami tersebut, tuan rumah langsung menyuguhkan makanan ringan khas lebaran. Tidak lama setelah itu azan maghrib berkumandang berangkatlah mereka yang muslim untuk melaksanakan shalat maghrib. Sementara saya dan teman saya yang non-muslim meminta kepada tuan rumah untuk mengantarkan kami ke belakang rumah untuk melihat pemandangan rawa yang katanya indah itu (informasi dari karyawan kami dan hasil searching). kami pun menuju rawa (sebenarnya di fungsikan sebagai sawah) yang terletak di belakang rumah yang jaraknya hanya sekitar 50m, untuk sampai di sana kami hanya perlu berjalan kaki melewati beberapa rumah warga dan beberapa pohon karet. Pemandangan yang luar biasa indah menyambut kami. Namun, karena waktunya yang kurang tepat (matahari sudah tenggelam sehingga sudah mulai gelap), kami hanya sebentar saja di tempat tersebut. Rawa tersebut digunakan warga sekitar untuk menanam padi. Terlihat di pinggir rawa tersebut tanaman bibit padi yang kelak akan di tanam di dalam sawah (rawa).
View Rawa di Desa Kalua

Enjoying afternoon on Kalua with background Kelotok (Sampan)

Seandainya kami datang lebih awal, mungkin pemandangan yang kami dapatkan lebih indah lagi, dan mungkin kami bisa berkesempatan untuk menaiki kelotok (perahu kecil) untuk masuk ke dalam rawa. Sepertinya waktu kunjungan saya itu tidak tepat waktunya. Saya sarankan untuk datang sebelum matahari tenggelam untuk mendapatkan moment yang lebih kece. ;)

Mesjid Al-Akbar Paringin
Mesjid ini memiliki arsitektur yang menarik. Tempat ini berdasarkan rekomendasi salah satu teman kerja yang melaksanan Shalat Id di tempat ini, dan berhubung saya suka dengan hal-hal yang arsitekturnya menarik akhirnya saya ikut juga ke Mesjid ini. Mesjid ini terletak di Kec. Paringin, Kab. Balangan, Kalsel, Sekitar 15 menit ke arah selatan (Banjarmasin) dari Mess kami menginap. Sepertinya mesjid ini merupakan salah satu mesjid terbesar di Kab. Balangan ini. letaknya juga yang strategis dan berada pada ketinggian yang membuatnya terlihat semakin megah. Kami datang 2 kali yaitu pada siang hari dan sore hari (Maghrib). Saya hanya menikmati bangunan mesjid ini dari luar karna bagi perempuan yang ingin masuk ke mesjid ini harus menggunakan penutup kepala, dan saya saat itu sedang tidak membawa penutup kepala. Dari depan mesjin ini juga kita dapat melihat gugusan Pegunungan Meratus dari jauh.
Masjid Al-Akbar di Siang Hari
Masjid Al-Akbar di Sore Hari
Salah satu pintu masuk Mesjid
Pemandangan Pegunungan Meratus dari Mesjid Al-Akbar

Taman Hijau Balangan
 Taman ini terletak tidak jauh dari Mesjid Al-Akbar, sekitar 50 meter ke sebelah Utara. Taman ini menjadi spot yang tepat untuk menikmati sunset. Bagi penikmat sunset seperti saya, gak ada salahnya mencoba untuk nongkrong di tempat ini. Di bagian atas taman ini yang agak sejajar dengan jalan raya, terdapat tempat yang sepertinya disediakan khusus untuk menikmati sunset, di mana terdapat podium berbentuk lingkaran di tempat ini. mungkin tujuannya biar sunsetnya dapat, dan fotonya dapat, biar kekinian. Hehe. Agak kebawah, kita dapat menemukan wahana bermain bagi anak-anak walaupun tidak terlalu besar. Lebih kebawah lagi terdapat sebuah bangunan setinggi 3 lantai untuk menikmati taman dari ketinggian. Dari taman ini juga dapat kelihatan Kubah Mesjid Al-Akbar yang seakan-akan tersembunyi di balik bukti. Bagi yang suka upload foto di instagram, banyak tempat yang instagramable yang dapat anda gunakan, terutama kalo waktunya pas (bagusnya saat matahari sore sedang memancarkan cahaya emasnya, tsahh). Kami tiba di sana sekitar pukul 05.30 yang menurut saya good timing banget. 
Taman Hijau Balangan
Podium Berbentuk Lingkaran
Menikmati Sunset
Wahana Bermain bagi anak - Ninja Warrior ala-ala :) 
Bangunan Lantai 3
Instagramable View on a Good Timing
Mesjin Al-Akbar dilihat dari Taman Hijau Balangan

Lokasi ini bagus digunakan untuk bersantai bersama keluarga. Namun menurut saya masih ada yang harus dibenahi. Prasarana yang ada di taman ini kebanyakan tidak terurus seperti wahana barmain, bangunan 3 tingkat, dan kursi taman yang dibiarkan berkarat dan rusak. Rumput di taman yang sudah tinggi dan tidak terurus sehingga dapat menjadi sarang ular (melihat lokasi taman yang bersebrangan dengan hutan). Sampah masih bertebaran di mana-mana dan coretam-coretan alayers di dinding dan tiang-tiang bangunan juga masih banyak terlihat. Diperlukan kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk mengembangkan dan menjaga taman ini agar menjadi taman yang layak untuk dijadikan tempat nongkrong yang bersih, aman, dan nyaman.

Rumah Tuyul
Tempat ini terletak di Kec. Paringin, Kab. Balangan, Kalsel dan berjarak sekitar 1 km dari jalan antar provinsi.  Saya masih kurang mendapatkan informasi mengenai tempat ini, namun dari penjelasan karyawan saya yang adalah warga local di sini bahwa tempat ini dulunya adalah tempat yang dikeramatkan. Bangunan ini berbentuk rumah namun dalam ukuran yang lebih kecil. Dulunya, tempat ini digunakan untuk ritual kematian atau semacamnya untuk mengantarkan roh orang mati. Sayangnya tempat ini sangat tidak terurus lagi. Tidak terdapat papan informasi di depan situs ini (padahal menurut informasi yang saya dapat, dulu ada papan nama di tempat ini). tempat ini kurang diperhatikan oleh pemerintah padahal tempat ini bisa menjadi lokasi wisata sejarah. 

Rumah Tuyul
Rumah Tuyul

Demikianlah beberapa tempat wisata di Kalimantan Selatan khususnya di Kab. Tabalong dan Balangan yang jaraknya sangat dekat dari Desa Dahai.

Saya menganggap tempat ini indah karena keindahan itu pada dasarnya ada di sekitar kita, tinggal kita melihat dari sudut pandang mana, dan bagaimana kita menikmatinya.

Ingat, setiap kali mengunjungi suatu tempat, pastikan untuk menjaga kebersihan tempat tersebut, jangan membuang sampah sembarang, jangan mencore-coret apapun. Jangan meninggalkan sesuatu kecuali kesan, jangan mengambil sesuatu kecuali gambar. Selamat menikmati.

Ps.
Fotonya kebanyakan foto diriku karena gak ada foto yang update. Hehe. 

Senin, 23 Mei 2016

Ma'Bugi'

Jika di tanah Jawa ada yang namanya Reog Ponorogo, di Toraja ada yang namanya Ma'bugi'. Jika di Jawa ada namanya Debus, di Toraja juga punya hal serupa. Want to know? Check this up. 
Ma'bugi' adalah salah satu upacara adat Toraja yang terdiri atas prosesi tarian/nyanyian yang di laksanakan dalam acara rambu tuka' (ucapan syukur). Sepintas, nyanyian yang diserukan dalam upacara ini kedengaran seperti Ma'badong (nyanyian kesedihan atau belasungkawa di upacara kematian), tetapi yang membedakan adalah syair-syairnya yang merupakan syair ucapan syukur atau kebahagiaan.
Tarian Ma'bugi' dilakukan biasanya di tempat Pa'bugiran (tempat untuk Ma'bugi'), tempat yang lapang dan luas biasanya sawah sehabis panen yang sudah kering.
Ma'bugi biasanya dilaksanakan selama 6 bulan untuk mencapai puncak upacaranya. Dalam 6 bulan tersebut, ada waktu pada malam-malam tertentu orang-orang akan melakukan "Nondo" dengan membentuk  lingkaran sambil saling mengaitkan tangan  dan menyanyikan syair-syair ungkapan syukur dan di bantu oleh teriakan "Meoli" dari penonton. Hal ini dilakukan hingga mencapai puncak acara.
Puncak acara Ma'bugi' dilaksanakan pada siang hari dimana seluruh hasil bumi di daerah tersebut di bawa serta dalam arena upacara. Hasil bumi tersebut digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut.
Mengawali puncak acara Ma'bugi' tersebut, peserta melaksanakan "Nondo" dan menyanyikan syair yang lebih seru dari biasanya yang dilaksanakan pada malam hari. Semakin lama nyanyian tersebut akan semakin ramai dan pada puncak keramaian itu akan ada peserta yang kerasukan. Peserta yang kerasukan itu akan melakukan hal-hal yang tidak biasa yang menurut logika manusia dapat melukai dirinya.
Dalam puncak acara Ma'bugi' ini, terdapat beberapa prosesi yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang kesurupan, diantaranya:
▶ Mantere, yaitu prosesi dimana orang yang kerasukan akan mengiris-iris badannya tubuhnya (leher, tangan, perut) dengan parang yang tajam hingga berdarah namun sesaat setelah darah mengucur dia akan mengusapkan daun Tabang (lihat gbr : daun berwarna merah yang dipegang oleh barisan nenek di depan) di luka itu dan langsung sembuh (saya lagi cari info mengenai bahasa Indonesia dari daun tabang. Daun ini berbentuk panjang dan berwarna merah. Daun ini sudah sangat dekat dengan krhidupan masyarakat Toraja dalam setiap upacara yang dilakukan). Dulu, ada seorang yang paling terkenal saat melakukan Mantere yang dikenal dengan nama Lala. Dia merupakan pemeran utama dalam acara puncak, dimana dia akan menusuk keningnya  dengan pisau hingga darahnya mengucur keluar, namun daun Tabang udah stand by di tangannya.
▶ Memanjat tangga dengan anak tangganya adalah susunan parang yang tajam namun kaki orang tersebut tidak terluka sama sekali (ilmu kebal)
▶ Memanjat pohon bambu dan saat sampai di puncak orang yang kerasukan tersebut akan melakukan "Mantere".
Setelah kerasukan, maka selesai pulalah prosesi Ma'bugi' yang diakhiri dengan makan bersama oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut.
Jadi ini salah satu upacara di Tana Toraja yang baru saya dengar kisahnya dari orang tua saya sendiri. Berawal dari kegiatan Ulang Tahun KSP Balo'ta yang saya hadiri dan menampilkan sebagian kecil dari prosesi Ma'bugi' (videonya dapat dilihat di akun intagram saya @ekaismaliliany).
Ini sejarah versi kedua orang tua saya, jika ada yang ingin menambahkan atau meluruskan silahkan tinggalkan komen atau kirimkan ke email saya (ekaismaliliany@gmail.com) karena saya juga masih belajar untuk mengenal sejarah budaya saya sendiri.
Karena Toraja masih memiliki banyak rahasia yang belum saya kupas.
Kurre.

Sabtu, 02 April 2016

Sehari Bersama SAMARINDA

Helaaww guys. Liburan kemarin eike bareng temen memutuskan stay di Kalimantan, gak keluar pulau maksudnya, jadi gak ke Sulawesi apalagi pulang kampung. Karena satu dan lain hal maka kami hanya menghabiskan liburan di Kalimantan aja. HANYA?? Oww. Jangan salah. Kalimantan punya banyak tempat yang layak dijadikan tempat wisata. Liburan 2 minggu ini hanya kami habiskan di kota Balikpapan dan Samarinda. Yup, anda gak salah baca. Itu tulisannya Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang dijuluki orang sebagai Kota Tepian.
            Saya yang numpang di kosan SIST saya di Balikpapan tentunya gak bakalan betah kalo off duty selama 2 minggu hanya dihabiskan di kamar saja. Bangun tidur hanya lihat dinding, kasur, bantal guling, bantal kepala, gallon air, lemari pakean, kipas angin, paling jauh jalan ke kamar mandi, yaa lumayan di sepanjang lorong kosan bisa lihat sepatu berjejer depan masing-masing kamar. Bangun tidur gak ngerjain apa-apa, dari Shalat Subuh sampe Maghrib hanya satu posisi aja yang kami buat, posisi tidur sambil megang Xperia dan Samsung, itu aja. Atau kalo ada bahan makanan, kami masak untuk makan siang, atau paling berat  cuci pakean yang lamanya bisa sampe 2 jam karena harus nampung air dulu. That’s it. Itu kalo kami di kosan terus yah. Tapi untungnya kami sama-sama memiliki golongan darah O. Hubungannya? Kami sama-sama masih manusia. Haha. Yaeyalahh. Di samping kami masih manusia, kesamaan golongan darah menunjukkan kesamaan karakter kami, terutama dalam hal stay in a one place while you are on holiday.
            Saya pernah membaca postingan sebuah akun di Line bernama Golongan Darah yang mengatakan bahwa “Golongan darah O itu gak bakalan betah kalo seharian hanya di kamar, pengennya jalan terus”. Iyup, karena saya merasa didukung sama postingan ini makanya saya melakukan hal untuk membenarkannya. Biasa, sifat dasar manusia kan gak suka disalahkan. Hahaha.. Maka kami berdua si darah O akhirnya memutuskan untuk sering-sering jalan, memanjangkan kaki. Jadi selama off duty kemarin kami mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah akmi datangi selama di Balikpapan diantaranya adalah Maha Vihara Buddha Manggala, nongkrong di Pantai Melawai, mengikuti pameran Budaya di Dome yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan yang mana di sana kami mendapatkan goody bag gratis di Stan KKP Dinkes dan di stan Dinas Pariwisata kami mendapatkan peta tempat wisata apa aja yang wajib dikunjungi di Balikpapan. Tapi kali ini saya gak akan menceritakan soal Balikpapan, ada satu tempat yang kami jadikan perpanjangan kaki kami (perpanjangan kaki? Istilah apaan nih) yaitu Samarinda.
Samarinda menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk traveling kami karena si partner in crime saya ini, inisialnya Febi, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kota Samarinda. Dengan alasan yang menurutnya udah kuat banget bahwa sudah 1,5 tahun dia berada di Pulau Kalimantan, tapi menginjakkan kaki di Ibu Kota Kaltim aja yang jaraknya hanya 2 jam dari Balipapan itu sekalipun gak pernah, padahal sampai hutan paling hutannya Kalsel aja yang ditempuh dengan perjalanan ekstrim udah dia datangi. Saya yang udah beberapa kali ke Samarinda sempat mikir sih, dia mau lihat apa di sana, gak ada tempat menarik menurut saya. Tapi selama 3 kali saya berkunjung ke Samarinda (jiah, berkunjung, situ ibu negara? :D) ada satu tempat yang sangat ingin saya datangi dan gak pernah kesampaian, yaitu Mesjid Islamic Centre Samarinda meeegaaahhhh yang konon katanya adalah mesjid terbesar se-Asia Tenggara. Karena keinginan itu akhirnya saya ikut juga ke Samarinda .
Akhirnya salah satu syarat untuk melakukan suatu perjalanan sudah terpenuhi, yaitu niat (Tolong di garis bawahi). Iyup, hal pertama yang harus anda siapkan saat akan melakukan traveling adalah niat karena tanpa niat semuanya gak akan terlaksana dengan baik . Yakan?? Yakan?? Correct me if I’m wrong :D. Partner saya ini berencana hanya sehari di Samarinda yaitu berangkat pagi dan pulang sore, jadi kami mencari tempat wisata yang dapat kami datangi dalam sehari itu dan sarana yang dapat digunakan untuk menempuhnya. Maka kami mencari informasi mengenai tempat wisata di Samarinda melalui social media dan bertanya ke beberapa kenalan kami di Samarinda. Umm, koreksi, bukan beberapa teman sih, hanya satu teman kami yang menjadi sumber informasi mengenai Samarinda (sebut saja dia dengan inisial Keket). Iyah, wanita yang berperan besar untuk perjalanan kami terutama mengenai kendaraan apa saja yang dapat kami gunakan untuk mencapai daerah tersebut. So, remember guys. Saat anda ingin mengunjungi tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya, pastikan untuk mencari informasi dahulu, seperti akses ke sana, waktu kunjungannya, jika itu tempat ibadah pastikan apakah dibuka untuk umum dan tata krama memasuki wilayah tersebut, dan kalo sempat cari informasi mengenai waktu atau musim apa tempat itu bagus di kunjungi oleh turis. Eitss,, iyah. Kami udah tergolong turis loh yah, turis domestic.
Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, akhirnya selama jalan-jalan sehari itu kami berencana mengunjungi Vihara terbesar di Asia Tenggara yang baru di resmikan pada bulan Maret ini, Mesjid Islmic Center, Pasar Pagi, Nongkrong di Tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrongnya anak gaul Samarinda (belakangan saya tau kalo di situ tempat nongkrongnya anak alay). Untuk sementara itu dulu tempat yang akan kami kunjungi berhubung waktu kami sangat terbatas. Setelah menentukan tempat, kami mengatur waktu dan urutan tempat yang akan kami kunjungi dengan memperhitungkan estimasi waktu perjalanan dan waktu yang akan dihabiskan di setiap tempat.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar sebelum Shalat Subuh berkumandang (kosannya Febi dekat banget sama mesjid jadi suara Adzan kedengaran banget)kami belum bangun. Kami bangun setelah Adzan berkumandang. Demi mendapatkan bus pertama ke Samarinda, kami mempersiapkan segala sesuatunya, merasakan kembali segarnya mandi pagi (ketahuan banget yang selalu bangun kesiangan), menunggu angkot menuju terminal Batu Ampar yang susah banget.  Kami berangkat dari kosan pukul stengah 7 pagi untuk mendapatkan bus pertama yang katanya berangkat jam 7. Namun, berhubung area kosan kami di daerah MT. Haryono jam segitu masih jarang angkot maka kami agak lama menunggu. Hampir jam 7 kami mendapatkan angkot menuju Terminal Batu Ampar. Terminal Batu ampar adalah terminal dengan tujuan Balikpapan Samarinda. Di sana bus-bus berkumpul menunggu penumpang, namun dari pengalaman saya sebelumnya bus di terminal akan lama banget ngetem jadi kami memutuskan untuk langsung ke pertigaan menuju terminal. Di sana kami mendapatkan bus yang gak terlalu lama ngetem. Untungnya kami masih mendapatkan bus pertama yang berangkat pukul 07.30. Dengan bermodalkan 30ribu rupiah, bus pun membawa kami menyusuri jalanan yang membelah hutan Kalimantan menuju Samarinda. Tarif bus Samarinda-Balikpapan ataupun sebaliknya berkisar antara 30-40 ribu rupiah, tergantung fasilitas busnya. Bus yang kami gunakan adalah bus non-AC yang sempat di komen oleh salah satu teman saya, “bus ji itu?”. Iyah. Ini bus. Jangan mengharapkan anda mendapatkan bus Toraja dengan full AC, suspense nyaman (pake banget), ada selimut dan tempat duduk lebaaarrr. Big no. Lagian ini hanya perjalanan 2 jam doang. Naik pete-pete juga bisalah :D. Selain bus non AC, ada juga bus yang sepertinya lebih nyaman yaitu bus AC yang bisa didapatkan dengan harga 38 ribu rupiah, hanya saya belum pernah menggunakannya.

Keadaan Bus Balikpapan - Samarinda

Tiket Bus Angkutan Balikpapan - Samarinda

Di sepanjang perjalanan menuju Samarinda mata anda akan dimanjakan oleh pemandangan hijau dan lebatnya hutan Kalimantan terutama saat anda memasuki wilayah Bukit Soeharto, sebuah area hutan lindung bagi flora dan fauna Kalimantan. Bus juga akan melewati beberapa rest area yang menjual berbagai makanan, perkampungan warga, area kebun sawit, dan jalan hauling menuju area pertambangan. Kadang saya miris setiap kali melewati daerah ini karena terlihat bagaimana terlihat pembukaan lahan sehingga pohon-pohon ditebang dan dijadikan area untuk membangun perumahan. Sekitar 2 jam perjalanan kami memasuki wilayah Kota Samarinda (Samarinda Seberang) dan kami masih harus berjalan selama 30 menit untuk tiba di Terminal bus di Samarinda Kota. Samarinda terbagi atas 2 wilayah yaitu Samarinda kota dan Samarinda Seberang. Dari Samarinda Seberang ke Samarinda kota kami melewati jembatan penghubung antara kedua wilayah tersebut, jembatan yang melintasi Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan timur. Dari atas jembatan tersebut, anda dapat menyaksikan kehidupan masyarakat di bantaran sungai Mahakam dengan kapal atau klotok atau speed yang berlalu lalang di sungai. Selain itu, ada juga kapal pengangkut batu bara yang melalui sungai ini.
Tepat pukul 10.00 bus yang kami tempati memasuki area terminal. Saat turun dari bus, ada akan langsung di tawari oleh tukang ojek atau supir taksi (di Samarinda, orang menyebut angkot dengan sebutan “taksi”) untuk mengantarkan anda ke tujuan anda. Berhubung kami gak mau menunggu terlalu lama (karena menunggu itu butuh energi, apalagi nunggui kamu, eehh), akhirnya kami berjalan ke depan terminal dan mengambil angkot hujau menuju Mall Lembuswana, namun karena ada seorang penumpang yang searah dengan kami jadi kami ikut dengan beliau dan turun di Pasar pagi untuk ganti angkot menjadi Angkot merah menuju Vihara. Biaya yang kami keluarkan untuk sekali naik angkot adalah 7ribu rupiah per orang.
Terminal Samarinda

Di angkot merah kami cukup memberitahu supir angkot bahwa tujuan kami ke Vihara di daerah Damahuri dan pak supir langsung tahu. Sepertinya tempat itu cukup dikenal. Sekitar 15 menit kami akhirnya tiba di Vihara yang dimaksud, tempatnya ternyata langsung berada di pinggir jalan yang dilalui angkot jadi kelihatan dari jauh patung Buddha nya.
Gak membuang waktu kami langsung menuju pintu gerbang Vihara yang gedenya Naudzubillah. Selayaknya tamu yang wajib lapor kalo datang ke tempat baru, kami juga seperti itu. Kami minta izin ke security untuk masuk di area Vihara. Tapi sayangnya ternyata Vihara itu gak di buka untuk umum untuk saat ini. Yang boleh masuk hanya orang yang sudah buat janji dengan pengelola Vihara atau jemaat yang akan beribadah di dalam. Hiks. Syedih. Mana udah jauh-jauh datang lagi, ujung-ujungnya gak bisa masuk. Tapi dari informasi yang saya dapat dari internet emang belum gak ada info kalo bisa dibuka untuk umum sih, jadi yasudahlah. Akhirnya kami ngobrol aja sama bapak securitynya, lumayan kan si bapak bisa ngobrol sama petualang cantik yang belum sempat masuk tipi. Dari informasi bapak security, katanya pengujung boleh masuk tapi Cuma sampai di kafenya aja. Kafenya itu tepat di bawah patung Buddha, jadi kita bisa lihat patungnya dari dekat. Kafenya menyediakan makanan untuk vegetarian, soalnya penganut agama Buddha kan emang gak boleh makan daging. Kami pengen sih masuk nongkrong di kafenya, tapi kelamaan kalo mau nunggu, soalnya kafenya buka jam 12. Karena merasa udah cukup dengan bertanya-tanya ke security, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Pintu Gerbang Buddha Centre

 Perut udah keroncongan menandakan cacing-cacing di perut butuh asupan nutrisi. Berhubung pada saat itu hari Jumat, Mesjid yang selanjutnya akan menjadi destinasi kami pasti akan dipenuhi dengan jamaah yang akan melaksanakan shalat Jumat sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di depan Mesjid. Ada banyak penjajah makanan yang berjualan di sepanjang jalan depat Islamic Centre tersebut. Karena tujuan kami ke sana, akhirnya kami kembali menaiki taksi merah untuk kembali melanjutkan dengan angkot hijau menuju Islamic Center. Di sepanjang perjalanan, kami sibuk membahas tentang makanan wajib jika berkunjung ke Samarinda, tapi gak ada clue. Kami sudah bertanya ke seorang ibu-ibu asal Sulawesi di taksi tapi bilangnya gak ada makanan khas di Samarinda. Sampai akhirnya naiklah seorang ibu menggandeng anaknya yang masih SD menaiki angkot. Mendengar kami membahas makanan khas Samarinda si ibu langsung nimbrung, dan memberikan informasi mengenai makanan wajib jika ke Samarinda. Ibu ini bener-bener seperti oase di tengah gurun pasir, membawa informasi saat lagi butuh-butuhnya, apalagi informasi tentang makanan, diberkatilah anda bu :D. Si ibu bilang kalo ada sate  namanya sate paliat yaitu sate dari daging sejenis daging rusa yang di jual di salah satu rumah makan bernama RM Amado di Jl. Diponegoro. Karena penasaran dengan makanan tersebut, kami langsung menuju jalan Diponegoro. Rela deh kami nunggu 1,5 jam demi merasakan gimana rasa sate yang dimaksud. Nunggunya bukan karena dagingnya baru di cari yah, tapi karena saat itu kami tiba tepat pada waktu shalat Jumat sehingga rumah makannya di tutup untuk sementara while karyawannya melaksanakan Shalat dulu. So, buat temen SMP gue, teman SMA gue, yang mau coba makan di sana, pastikan elu semua gak datang tepat pada shalat Jumat yah.
Setelah nunggu bodo-bodo selama 1,5 jam akhirnya warung makannya buka dan itu bagaikan oase di padang gurun. Jadi pas si pegawai buka pagarnya itu kek slow motion banget trus rumah makannya langsung bercahaya, dan cacing di perut langsung menabuh gendang tanda perang dimulai, perang terhadap kelaparan. Gak nunggu waktu lama, langsung masuk ke warung makan tersebut, duduk manis di kursi (arti ‘duduk manis’ adalah cewek manis lagi duduk), waiter datang, kami langsung pesan. Dengan kepedean tingkat tinggi saya langsung nanya, “Ada sate rusa gak?”
Si waiter dengan wajah bingung menggelengkan ke kepala sambil berkata, “gak ada, Mba. Di sini gak ada sate kek gituan.
“Trus adanya sate apa?”
“Sate ayam aja.”
Whattt???? Trus maksudnya ibu itu tadi apaan. Wah kita di bohongin nih. Yaudah, karena gak ada menunya dan kami juga kelaparan udah nunggu selama 1,5 jam jadi kami mesan yang ada aja. Di dinding rumah makan tersebut ada terpajang menu makana yang kemungkinan dijadikan sebagai menu andalan rumah makan ini, jadinya kami mesan Sup Kimlo Ayam Kampung aja.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami memperhatikan rumah makan tersebut. Ternyata banyak juga yang datang untuk makan siang di tempat ini. Mulai dari bapak-bapak sampai ibu-ibu semua yang ada di sini, dari yang bermobil sampai yang jalan kaki, dari yang kurang cantik sampai yang cantik banget, datang di sini. Intinya dari kata-kata saya yang bertele-tele dari tadi itu adalah rumah makan ini lumayan laris. Dan dari informasi teman saya, tempat makan ini memang terkenal.
Pesanan kami pun nongol. Dari kuahnya sepertinya enaaakkk banget. Entahlah kalo saat itu mungkin karna kami sedang lapar-laparnya yah. Tapi dari penampilannya sih good looking. Telur rebusnya di suwir-suwir jadi gak bikin saya illfeel duluan, yang notabene kadang menilai makanan dari luarnya dulu. When we tasted the soup, wow. Enak. Beneran enak loh yah. Awalnya kami juga penasaran dengan menu ini, kek gimana sih rasa Sup Kimlo itu. Ternyata rasanya sama aja sih kek soto ayam pada umumnya, tapi ini soto ayam versi enak.
Kalo soal harga makanan, di tempat ini memberikan harga yang terjangkau. Awalnya kami piker akan mahal, melihat banyaknya orang yang datang makan ke tempat ini, tapi opini itu terpatahkan di meja kasir. Tsahh. Kami hanya membayar Rp 25.000,- untuk seporsi soup kimlo dan Rp 5.000,- untuk sebotol air mineral. Terjangkau kan?
Menu Makanan di RM Amado

Selesai memberi makan cacing di perut, kami melanjutkan ke tujuan awal kami. Mesjid Islamic Centre Samarinda. Here we come!!!! Kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot hijau, yang kami rasa udah jauh banget mutar-mutar. Kirain udah mau di bawa lari sama si sopir taksi, tapi saya piker gak mungkinlah dia berani, mau di smack down sama salah satu penumpangnya ini. And Finally, we are here!!
Mesjin Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim

           Masjid Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim. The largest mosque in Kalimantan. Mesjid  terbesar kedua di Asia tenggara setelah Mesjid Istiqlal (pengen [ake bahasa inggris tapi gak tau bahasa inggrisnya :D). Akhirnya eike bisa menginjakkan kaki di mesjid ini setelah keempat kalinya datang di kota Tepian ini. Mesjidnya luar biasa gede. Bagi perempuan, gak harus pakai penutup kepala koq kalo mau masuk ke area mesjid. Di dalam mesjid juga koq orang yang nongkrong. Entah itu bapak2, pemuda pemudi Indonesia. Entah itu yang sedang belajar agama, sharing, atau yang lagi hunting foto. Entah itu ayah ibu anak atau sepasang sejoli yang sedang menjalin cinte. Dan kami hadir sebagai pelacong yang mengagumi keindahan arsitektur tempat ini. Kami nongkrong di sana sampai setengah empat saat suara adzan untuk shalat Ashar sudah dikumandangkan. 
Landscape Mesjid Islamic Centre 

Puas melihat-lihat kami langsung nyebrang ke depan Mesjid. Sebenarnya salah satu destinasi temen saya ini adalah pengen nongkrong di tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrong anak gaolnya Samarinda. Tapi berhubung kami ga tau tempatnya di mana jadi kami nongkrong aja di seberang jalan Mesjid, masih tepian Mahakam juga koq. Lagian kami udah gaul, ngapain carri tempat gaul lagi. Haha.
            Tepian Mahakam ini menurut saya seperti pinggir sungai pada umumnya. Bau air sungai dan sampah-sampah yang di buang ke sungai memperjelek penampilan tepian ini. Ditambah air sungainya yang keruh berwarna coklat, warnanya emang kek gitu sepertinya. Tapi pemandangan yang disajikan gak membosankan juga. Di hadapan anda terhampar luas sungai Mahakam yang lebarnya minta ampun jauhnya. Gede banget pokoknya. Ada juga kegiatan anak-anak yang main kantinting di sungai. Oyah, satu fenomena luar biasa yang bisa kamu lihat di sini  yaitu Gunung Berjalan. WOW. Iyah, kamu bisa melihat kapal-kapal pengangkut batu bara lalu lalang di sungai ini, itu gunung berjalannya :D. Tapi katanya kapal pengangkut batu bara ini hanya lewat sampai sore hari.
Tepian Mahakam

            Puas duduk-duduk di tepian Mahakam akhirnya kami beranjak, dan kami berpisah di sana. Febi akan kembali ke  Balikpapan dan saya masih tinggal sehari di Samarinda mengunjungi sanak keluarga di sana, maklum keluarga besar. Torayakan, aihihi. :D
            Pada malam harinya saya masih berkesempatan untuk mengunjungi Mahakam Lampion Garden. Bukanya ini mulai malam hari, yaeyalahhh namanya juga lampion. Sebuah tempat di mana semua keajaiban dunis berkumpul di sana :D. Hanya dengan modal sepuluh ribu kamu bisa dapat gelang sebagai tanda kamu bisa masuk ke lokasi lampion Garden itu. Lumayan lah cuci mata malam-malam. Cuci mata melihat para ibu-ibu gendong anaknya dan di temani suami tercinta, ahhsyudahlah, pulang yuks.
Mahakam Lampion Garden

Jadi itu beberapa tujuan wisata kammi selama di Samarinda. Masih banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Samarinda dan sekitarnya, diantaranya Desa Pampang yang merupakan desa adat suku Dayak, Kota Tenggarong yang hanya berjarak sejam dari Samarinda, tempat pembuatan tenun Kalimantan, dan masih banyak lagi. Sayangnya waktu kami hanya sebentar jadi hanya beberapa tempat yang bisa kami kunjungi. But we love this trip. Ngetrip kilat namun hasilnya memuaskan bagi para pemula seperti kami.
Pulau Kalimantan adalah tempat kami meraup sesendok berlian, dan pulau Kalimantan juga menyuguhkan keindahan pesonanya. Indonesia is the best country that I ever had :D.
Holiday is over, saatnya kembali ke rutinitas pekerjaan lagi. Next time, kami akan mengunjungi tempat-tempat yang baru lagi.  :D 
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts