Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kalimantan Timur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2016

Sehari Bersama SAMARINDA

Helaaww guys. Liburan kemarin eike bareng temen memutuskan stay di Kalimantan, gak keluar pulau maksudnya, jadi gak ke Sulawesi apalagi pulang kampung. Karena satu dan lain hal maka kami hanya menghabiskan liburan di Kalimantan aja. HANYA?? Oww. Jangan salah. Kalimantan punya banyak tempat yang layak dijadikan tempat wisata. Liburan 2 minggu ini hanya kami habiskan di kota Balikpapan dan Samarinda. Yup, anda gak salah baca. Itu tulisannya Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang dijuluki orang sebagai Kota Tepian.
            Saya yang numpang di kosan SIST saya di Balikpapan tentunya gak bakalan betah kalo off duty selama 2 minggu hanya dihabiskan di kamar saja. Bangun tidur hanya lihat dinding, kasur, bantal guling, bantal kepala, gallon air, lemari pakean, kipas angin, paling jauh jalan ke kamar mandi, yaa lumayan di sepanjang lorong kosan bisa lihat sepatu berjejer depan masing-masing kamar. Bangun tidur gak ngerjain apa-apa, dari Shalat Subuh sampe Maghrib hanya satu posisi aja yang kami buat, posisi tidur sambil megang Xperia dan Samsung, itu aja. Atau kalo ada bahan makanan, kami masak untuk makan siang, atau paling berat  cuci pakean yang lamanya bisa sampe 2 jam karena harus nampung air dulu. That’s it. Itu kalo kami di kosan terus yah. Tapi untungnya kami sama-sama memiliki golongan darah O. Hubungannya? Kami sama-sama masih manusia. Haha. Yaeyalahh. Di samping kami masih manusia, kesamaan golongan darah menunjukkan kesamaan karakter kami, terutama dalam hal stay in a one place while you are on holiday.
            Saya pernah membaca postingan sebuah akun di Line bernama Golongan Darah yang mengatakan bahwa “Golongan darah O itu gak bakalan betah kalo seharian hanya di kamar, pengennya jalan terus”. Iyup, karena saya merasa didukung sama postingan ini makanya saya melakukan hal untuk membenarkannya. Biasa, sifat dasar manusia kan gak suka disalahkan. Hahaha.. Maka kami berdua si darah O akhirnya memutuskan untuk sering-sering jalan, memanjangkan kaki. Jadi selama off duty kemarin kami mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah akmi datangi selama di Balikpapan diantaranya adalah Maha Vihara Buddha Manggala, nongkrong di Pantai Melawai, mengikuti pameran Budaya di Dome yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan yang mana di sana kami mendapatkan goody bag gratis di Stan KKP Dinkes dan di stan Dinas Pariwisata kami mendapatkan peta tempat wisata apa aja yang wajib dikunjungi di Balikpapan. Tapi kali ini saya gak akan menceritakan soal Balikpapan, ada satu tempat yang kami jadikan perpanjangan kaki kami (perpanjangan kaki? Istilah apaan nih) yaitu Samarinda.
Samarinda menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk traveling kami karena si partner in crime saya ini, inisialnya Febi, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kota Samarinda. Dengan alasan yang menurutnya udah kuat banget bahwa sudah 1,5 tahun dia berada di Pulau Kalimantan, tapi menginjakkan kaki di Ibu Kota Kaltim aja yang jaraknya hanya 2 jam dari Balipapan itu sekalipun gak pernah, padahal sampai hutan paling hutannya Kalsel aja yang ditempuh dengan perjalanan ekstrim udah dia datangi. Saya yang udah beberapa kali ke Samarinda sempat mikir sih, dia mau lihat apa di sana, gak ada tempat menarik menurut saya. Tapi selama 3 kali saya berkunjung ke Samarinda (jiah, berkunjung, situ ibu negara? :D) ada satu tempat yang sangat ingin saya datangi dan gak pernah kesampaian, yaitu Mesjid Islamic Centre Samarinda meeegaaahhhh yang konon katanya adalah mesjid terbesar se-Asia Tenggara. Karena keinginan itu akhirnya saya ikut juga ke Samarinda .
Akhirnya salah satu syarat untuk melakukan suatu perjalanan sudah terpenuhi, yaitu niat (Tolong di garis bawahi). Iyup, hal pertama yang harus anda siapkan saat akan melakukan traveling adalah niat karena tanpa niat semuanya gak akan terlaksana dengan baik . Yakan?? Yakan?? Correct me if I’m wrong :D. Partner saya ini berencana hanya sehari di Samarinda yaitu berangkat pagi dan pulang sore, jadi kami mencari tempat wisata yang dapat kami datangi dalam sehari itu dan sarana yang dapat digunakan untuk menempuhnya. Maka kami mencari informasi mengenai tempat wisata di Samarinda melalui social media dan bertanya ke beberapa kenalan kami di Samarinda. Umm, koreksi, bukan beberapa teman sih, hanya satu teman kami yang menjadi sumber informasi mengenai Samarinda (sebut saja dia dengan inisial Keket). Iyah, wanita yang berperan besar untuk perjalanan kami terutama mengenai kendaraan apa saja yang dapat kami gunakan untuk mencapai daerah tersebut. So, remember guys. Saat anda ingin mengunjungi tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya, pastikan untuk mencari informasi dahulu, seperti akses ke sana, waktu kunjungannya, jika itu tempat ibadah pastikan apakah dibuka untuk umum dan tata krama memasuki wilayah tersebut, dan kalo sempat cari informasi mengenai waktu atau musim apa tempat itu bagus di kunjungi oleh turis. Eitss,, iyah. Kami udah tergolong turis loh yah, turis domestic.
Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, akhirnya selama jalan-jalan sehari itu kami berencana mengunjungi Vihara terbesar di Asia Tenggara yang baru di resmikan pada bulan Maret ini, Mesjid Islmic Center, Pasar Pagi, Nongkrong di Tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrongnya anak gaul Samarinda (belakangan saya tau kalo di situ tempat nongkrongnya anak alay). Untuk sementara itu dulu tempat yang akan kami kunjungi berhubung waktu kami sangat terbatas. Setelah menentukan tempat, kami mengatur waktu dan urutan tempat yang akan kami kunjungi dengan memperhitungkan estimasi waktu perjalanan dan waktu yang akan dihabiskan di setiap tempat.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar sebelum Shalat Subuh berkumandang (kosannya Febi dekat banget sama mesjid jadi suara Adzan kedengaran banget)kami belum bangun. Kami bangun setelah Adzan berkumandang. Demi mendapatkan bus pertama ke Samarinda, kami mempersiapkan segala sesuatunya, merasakan kembali segarnya mandi pagi (ketahuan banget yang selalu bangun kesiangan), menunggu angkot menuju terminal Batu Ampar yang susah banget.  Kami berangkat dari kosan pukul stengah 7 pagi untuk mendapatkan bus pertama yang katanya berangkat jam 7. Namun, berhubung area kosan kami di daerah MT. Haryono jam segitu masih jarang angkot maka kami agak lama menunggu. Hampir jam 7 kami mendapatkan angkot menuju Terminal Batu Ampar. Terminal Batu ampar adalah terminal dengan tujuan Balikpapan Samarinda. Di sana bus-bus berkumpul menunggu penumpang, namun dari pengalaman saya sebelumnya bus di terminal akan lama banget ngetem jadi kami memutuskan untuk langsung ke pertigaan menuju terminal. Di sana kami mendapatkan bus yang gak terlalu lama ngetem. Untungnya kami masih mendapatkan bus pertama yang berangkat pukul 07.30. Dengan bermodalkan 30ribu rupiah, bus pun membawa kami menyusuri jalanan yang membelah hutan Kalimantan menuju Samarinda. Tarif bus Samarinda-Balikpapan ataupun sebaliknya berkisar antara 30-40 ribu rupiah, tergantung fasilitas busnya. Bus yang kami gunakan adalah bus non-AC yang sempat di komen oleh salah satu teman saya, “bus ji itu?”. Iyah. Ini bus. Jangan mengharapkan anda mendapatkan bus Toraja dengan full AC, suspense nyaman (pake banget), ada selimut dan tempat duduk lebaaarrr. Big no. Lagian ini hanya perjalanan 2 jam doang. Naik pete-pete juga bisalah :D. Selain bus non AC, ada juga bus yang sepertinya lebih nyaman yaitu bus AC yang bisa didapatkan dengan harga 38 ribu rupiah, hanya saya belum pernah menggunakannya.

Keadaan Bus Balikpapan - Samarinda

Tiket Bus Angkutan Balikpapan - Samarinda

Di sepanjang perjalanan menuju Samarinda mata anda akan dimanjakan oleh pemandangan hijau dan lebatnya hutan Kalimantan terutama saat anda memasuki wilayah Bukit Soeharto, sebuah area hutan lindung bagi flora dan fauna Kalimantan. Bus juga akan melewati beberapa rest area yang menjual berbagai makanan, perkampungan warga, area kebun sawit, dan jalan hauling menuju area pertambangan. Kadang saya miris setiap kali melewati daerah ini karena terlihat bagaimana terlihat pembukaan lahan sehingga pohon-pohon ditebang dan dijadikan area untuk membangun perumahan. Sekitar 2 jam perjalanan kami memasuki wilayah Kota Samarinda (Samarinda Seberang) dan kami masih harus berjalan selama 30 menit untuk tiba di Terminal bus di Samarinda Kota. Samarinda terbagi atas 2 wilayah yaitu Samarinda kota dan Samarinda Seberang. Dari Samarinda Seberang ke Samarinda kota kami melewati jembatan penghubung antara kedua wilayah tersebut, jembatan yang melintasi Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan timur. Dari atas jembatan tersebut, anda dapat menyaksikan kehidupan masyarakat di bantaran sungai Mahakam dengan kapal atau klotok atau speed yang berlalu lalang di sungai. Selain itu, ada juga kapal pengangkut batu bara yang melalui sungai ini.
Tepat pukul 10.00 bus yang kami tempati memasuki area terminal. Saat turun dari bus, ada akan langsung di tawari oleh tukang ojek atau supir taksi (di Samarinda, orang menyebut angkot dengan sebutan “taksi”) untuk mengantarkan anda ke tujuan anda. Berhubung kami gak mau menunggu terlalu lama (karena menunggu itu butuh energi, apalagi nunggui kamu, eehh), akhirnya kami berjalan ke depan terminal dan mengambil angkot hujau menuju Mall Lembuswana, namun karena ada seorang penumpang yang searah dengan kami jadi kami ikut dengan beliau dan turun di Pasar pagi untuk ganti angkot menjadi Angkot merah menuju Vihara. Biaya yang kami keluarkan untuk sekali naik angkot adalah 7ribu rupiah per orang.
Terminal Samarinda

Di angkot merah kami cukup memberitahu supir angkot bahwa tujuan kami ke Vihara di daerah Damahuri dan pak supir langsung tahu. Sepertinya tempat itu cukup dikenal. Sekitar 15 menit kami akhirnya tiba di Vihara yang dimaksud, tempatnya ternyata langsung berada di pinggir jalan yang dilalui angkot jadi kelihatan dari jauh patung Buddha nya.
Gak membuang waktu kami langsung menuju pintu gerbang Vihara yang gedenya Naudzubillah. Selayaknya tamu yang wajib lapor kalo datang ke tempat baru, kami juga seperti itu. Kami minta izin ke security untuk masuk di area Vihara. Tapi sayangnya ternyata Vihara itu gak di buka untuk umum untuk saat ini. Yang boleh masuk hanya orang yang sudah buat janji dengan pengelola Vihara atau jemaat yang akan beribadah di dalam. Hiks. Syedih. Mana udah jauh-jauh datang lagi, ujung-ujungnya gak bisa masuk. Tapi dari informasi yang saya dapat dari internet emang belum gak ada info kalo bisa dibuka untuk umum sih, jadi yasudahlah. Akhirnya kami ngobrol aja sama bapak securitynya, lumayan kan si bapak bisa ngobrol sama petualang cantik yang belum sempat masuk tipi. Dari informasi bapak security, katanya pengujung boleh masuk tapi Cuma sampai di kafenya aja. Kafenya itu tepat di bawah patung Buddha, jadi kita bisa lihat patungnya dari dekat. Kafenya menyediakan makanan untuk vegetarian, soalnya penganut agama Buddha kan emang gak boleh makan daging. Kami pengen sih masuk nongkrong di kafenya, tapi kelamaan kalo mau nunggu, soalnya kafenya buka jam 12. Karena merasa udah cukup dengan bertanya-tanya ke security, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Pintu Gerbang Buddha Centre

 Perut udah keroncongan menandakan cacing-cacing di perut butuh asupan nutrisi. Berhubung pada saat itu hari Jumat, Mesjid yang selanjutnya akan menjadi destinasi kami pasti akan dipenuhi dengan jamaah yang akan melaksanakan shalat Jumat sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di depan Mesjid. Ada banyak penjajah makanan yang berjualan di sepanjang jalan depat Islamic Centre tersebut. Karena tujuan kami ke sana, akhirnya kami kembali menaiki taksi merah untuk kembali melanjutkan dengan angkot hijau menuju Islamic Center. Di sepanjang perjalanan, kami sibuk membahas tentang makanan wajib jika berkunjung ke Samarinda, tapi gak ada clue. Kami sudah bertanya ke seorang ibu-ibu asal Sulawesi di taksi tapi bilangnya gak ada makanan khas di Samarinda. Sampai akhirnya naiklah seorang ibu menggandeng anaknya yang masih SD menaiki angkot. Mendengar kami membahas makanan khas Samarinda si ibu langsung nimbrung, dan memberikan informasi mengenai makanan wajib jika ke Samarinda. Ibu ini bener-bener seperti oase di tengah gurun pasir, membawa informasi saat lagi butuh-butuhnya, apalagi informasi tentang makanan, diberkatilah anda bu :D. Si ibu bilang kalo ada sate  namanya sate paliat yaitu sate dari daging sejenis daging rusa yang di jual di salah satu rumah makan bernama RM Amado di Jl. Diponegoro. Karena penasaran dengan makanan tersebut, kami langsung menuju jalan Diponegoro. Rela deh kami nunggu 1,5 jam demi merasakan gimana rasa sate yang dimaksud. Nunggunya bukan karena dagingnya baru di cari yah, tapi karena saat itu kami tiba tepat pada waktu shalat Jumat sehingga rumah makannya di tutup untuk sementara while karyawannya melaksanakan Shalat dulu. So, buat temen SMP gue, teman SMA gue, yang mau coba makan di sana, pastikan elu semua gak datang tepat pada shalat Jumat yah.
Setelah nunggu bodo-bodo selama 1,5 jam akhirnya warung makannya buka dan itu bagaikan oase di padang gurun. Jadi pas si pegawai buka pagarnya itu kek slow motion banget trus rumah makannya langsung bercahaya, dan cacing di perut langsung menabuh gendang tanda perang dimulai, perang terhadap kelaparan. Gak nunggu waktu lama, langsung masuk ke warung makan tersebut, duduk manis di kursi (arti ‘duduk manis’ adalah cewek manis lagi duduk), waiter datang, kami langsung pesan. Dengan kepedean tingkat tinggi saya langsung nanya, “Ada sate rusa gak?”
Si waiter dengan wajah bingung menggelengkan ke kepala sambil berkata, “gak ada, Mba. Di sini gak ada sate kek gituan.
“Trus adanya sate apa?”
“Sate ayam aja.”
Whattt???? Trus maksudnya ibu itu tadi apaan. Wah kita di bohongin nih. Yaudah, karena gak ada menunya dan kami juga kelaparan udah nunggu selama 1,5 jam jadi kami mesan yang ada aja. Di dinding rumah makan tersebut ada terpajang menu makana yang kemungkinan dijadikan sebagai menu andalan rumah makan ini, jadinya kami mesan Sup Kimlo Ayam Kampung aja.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami memperhatikan rumah makan tersebut. Ternyata banyak juga yang datang untuk makan siang di tempat ini. Mulai dari bapak-bapak sampai ibu-ibu semua yang ada di sini, dari yang bermobil sampai yang jalan kaki, dari yang kurang cantik sampai yang cantik banget, datang di sini. Intinya dari kata-kata saya yang bertele-tele dari tadi itu adalah rumah makan ini lumayan laris. Dan dari informasi teman saya, tempat makan ini memang terkenal.
Pesanan kami pun nongol. Dari kuahnya sepertinya enaaakkk banget. Entahlah kalo saat itu mungkin karna kami sedang lapar-laparnya yah. Tapi dari penampilannya sih good looking. Telur rebusnya di suwir-suwir jadi gak bikin saya illfeel duluan, yang notabene kadang menilai makanan dari luarnya dulu. When we tasted the soup, wow. Enak. Beneran enak loh yah. Awalnya kami juga penasaran dengan menu ini, kek gimana sih rasa Sup Kimlo itu. Ternyata rasanya sama aja sih kek soto ayam pada umumnya, tapi ini soto ayam versi enak.
Kalo soal harga makanan, di tempat ini memberikan harga yang terjangkau. Awalnya kami piker akan mahal, melihat banyaknya orang yang datang makan ke tempat ini, tapi opini itu terpatahkan di meja kasir. Tsahh. Kami hanya membayar Rp 25.000,- untuk seporsi soup kimlo dan Rp 5.000,- untuk sebotol air mineral. Terjangkau kan?
Menu Makanan di RM Amado

Selesai memberi makan cacing di perut, kami melanjutkan ke tujuan awal kami. Mesjid Islamic Centre Samarinda. Here we come!!!! Kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot hijau, yang kami rasa udah jauh banget mutar-mutar. Kirain udah mau di bawa lari sama si sopir taksi, tapi saya piker gak mungkinlah dia berani, mau di smack down sama salah satu penumpangnya ini. And Finally, we are here!!
Mesjin Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim

           Masjid Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim. The largest mosque in Kalimantan. Mesjid  terbesar kedua di Asia tenggara setelah Mesjid Istiqlal (pengen [ake bahasa inggris tapi gak tau bahasa inggrisnya :D). Akhirnya eike bisa menginjakkan kaki di mesjid ini setelah keempat kalinya datang di kota Tepian ini. Mesjidnya luar biasa gede. Bagi perempuan, gak harus pakai penutup kepala koq kalo mau masuk ke area mesjid. Di dalam mesjid juga koq orang yang nongkrong. Entah itu bapak2, pemuda pemudi Indonesia. Entah itu yang sedang belajar agama, sharing, atau yang lagi hunting foto. Entah itu ayah ibu anak atau sepasang sejoli yang sedang menjalin cinte. Dan kami hadir sebagai pelacong yang mengagumi keindahan arsitektur tempat ini. Kami nongkrong di sana sampai setengah empat saat suara adzan untuk shalat Ashar sudah dikumandangkan. 
Landscape Mesjid Islamic Centre 

Puas melihat-lihat kami langsung nyebrang ke depan Mesjid. Sebenarnya salah satu destinasi temen saya ini adalah pengen nongkrong di tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrong anak gaolnya Samarinda. Tapi berhubung kami ga tau tempatnya di mana jadi kami nongkrong aja di seberang jalan Mesjid, masih tepian Mahakam juga koq. Lagian kami udah gaul, ngapain carri tempat gaul lagi. Haha.
            Tepian Mahakam ini menurut saya seperti pinggir sungai pada umumnya. Bau air sungai dan sampah-sampah yang di buang ke sungai memperjelek penampilan tepian ini. Ditambah air sungainya yang keruh berwarna coklat, warnanya emang kek gitu sepertinya. Tapi pemandangan yang disajikan gak membosankan juga. Di hadapan anda terhampar luas sungai Mahakam yang lebarnya minta ampun jauhnya. Gede banget pokoknya. Ada juga kegiatan anak-anak yang main kantinting di sungai. Oyah, satu fenomena luar biasa yang bisa kamu lihat di sini  yaitu Gunung Berjalan. WOW. Iyah, kamu bisa melihat kapal-kapal pengangkut batu bara lalu lalang di sungai ini, itu gunung berjalannya :D. Tapi katanya kapal pengangkut batu bara ini hanya lewat sampai sore hari.
Tepian Mahakam

            Puas duduk-duduk di tepian Mahakam akhirnya kami beranjak, dan kami berpisah di sana. Febi akan kembali ke  Balikpapan dan saya masih tinggal sehari di Samarinda mengunjungi sanak keluarga di sana, maklum keluarga besar. Torayakan, aihihi. :D
            Pada malam harinya saya masih berkesempatan untuk mengunjungi Mahakam Lampion Garden. Bukanya ini mulai malam hari, yaeyalahhh namanya juga lampion. Sebuah tempat di mana semua keajaiban dunis berkumpul di sana :D. Hanya dengan modal sepuluh ribu kamu bisa dapat gelang sebagai tanda kamu bisa masuk ke lokasi lampion Garden itu. Lumayan lah cuci mata malam-malam. Cuci mata melihat para ibu-ibu gendong anaknya dan di temani suami tercinta, ahhsyudahlah, pulang yuks.
Mahakam Lampion Garden

Jadi itu beberapa tujuan wisata kammi selama di Samarinda. Masih banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Samarinda dan sekitarnya, diantaranya Desa Pampang yang merupakan desa adat suku Dayak, Kota Tenggarong yang hanya berjarak sejam dari Samarinda, tempat pembuatan tenun Kalimantan, dan masih banyak lagi. Sayangnya waktu kami hanya sebentar jadi hanya beberapa tempat yang bisa kami kunjungi. But we love this trip. Ngetrip kilat namun hasilnya memuaskan bagi para pemula seperti kami.
Pulau Kalimantan adalah tempat kami meraup sesendok berlian, dan pulau Kalimantan juga menyuguhkan keindahan pesonanya. Indonesia is the best country that I ever had :D.
Holiday is over, saatnya kembali ke rutinitas pekerjaan lagi. Next time, kami akan mengunjungi tempat-tempat yang baru lagi.  :D 

Rabu, 16 Maret 2016

MAHAVIHARA BUDDHAMANGGALA BALIKPAPAN

Jangan berpikir kalo saya lagi jalan-jalan ke Thailand. Mohon dengan sangat jangan terlalu jauh pemikirannya . Bahkan kalo saya mau bohong pun kalo ini di Thailand gak bakalan bisa karena udah ada Ahli Analisis Informatika dari Kerajaan Sahabat (dengan hormat saya sebut inisialnya “PIA”) yang bakalan membongkar kebohongan sampai ke akar-akarnya.   Walaupun yahh salah satu harapan saya adalah jalan-jalan ke luar negeri (tolong di aminkan kalo perlu di like dan dan di share, maka berkat melimpah akan menghampiri anda. Hehe).  Masih dalam negeri koq, tapi bukan di Lombok juga, masih terlalu jauh untuk ke sana, budget liburan belum cukup. Tempat ini terdapat di sebuah kota kecil yang dijuluki sebagai ‘Kota Minyak’, Kota Balikpapan. Sebuah kota yang secara territorial tergolong kecil tapi ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa di pandang sebelah mata. Tsaahh. (Masih dalam proses pembuatan artikel yang serius).

Beberapa hari lalu, saya dan teman menemukan sebuah postingan di Instagram tentang suatu tempat wisata di Balikpapan. Mahavihara Buddhamanggala nama tempat tersebut. Menurut informasi yang kami dapatkan dari hasil browsing, tempat tersebut adalah tempat ibadah Agama Buddha.
Kami mengumpulkan seluruh informasi  mengenai tempat tersebut. Akhirnya dengan kemampuan smartphone yang ada, kami berhasil mendapatkan info mengenai lokasi, syarat masuk lokasi, akses, dan waktu berkunjung ke lokasi tersebut.


Mahavihara Buddha Manggala merupakan sebuah vihara yang berlokasi di Jl. M.T. Haryono, RT. 033, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Indonesia. Lokasi ini sebenarnya sangat berdekatan dengan lokasi tempat tinggal kami pada saat ini sehingga dari tempat tinggal ke lokasi vihara dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki, namun karena kami belum tahu lokasi pada saat itu maka kami mengendarai angkot dengan membayar 5rb rupiah/orang. Tidak ada jalur angkot ke vihara tersebut . Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan  naik motor, mobil pribadi, atau berjalan kaki. Berhubung tempatnya belum tahu, maka kami menyewa angkot khusus untuk mengantarkan ke lokasi  vihara. Padahal ternyata dekat banget kalo mau jalan kaki, hanya sekitar 100 meter dari jalan utama.
Papan Selamat Datang di Mahavihara Buddha Manggala

Sesampainya di lokasi Vihara, kami di sambut oleh penjaga Vihara yang menanyakan maksud dan tujuan kami ke Vihara tersebut. Dari si penjaga Vihara kami mendapatkan informasi mengenai peraturan-peraturan yang harus di taati selama berada dalam lokasi Vihara, salah satunya adalah berpakaian yang sopan. Salah satu rekan kami terpaksa harus kembali untuk mengganti pakaian karena menggunakan celana pendek. Selain itu, ada beberapa peraturan tertulis yang di berikan dan harus di pahami sebelum memasuki area Vihara, diantaranya :
1.    Dilarang masuk ruangan Dhammasala (Buddha tidur), kecuali ibadah.
2.    Dilarang memanjat/menaiki arca-arca/patung-patung
3.    Dilarang masuk area/halaman Kuti utama
4.    Dilarang memetik bunga/merusak tanaman
5.    Alas kaki mohon dilepas ketika berada di area Candi dan Stupa
6.    Jagalah ketertiban dan kenyamanan serta kesopanan di tempat ibadah. Terima kasih.
Si penjaga sangat menekankan pada peraturan nomor 1 dan nomor 5. Untuk peraturan nomor 1, si penjaga menekankan bahwa yang masuk hanyalah untuk orang yang akan beribadah, jika tidak melakukan peribadatan maka tidak boleh masuk (saya rasa peraturannya sangat jelas). Namun, apabila ingin melihat patung Buddha tidur atau ingin mengambil gambar, pengunjung hanya boleh sampai di pintu masuk saja, tidak boleh menginjakkan kaki di ruangan. Selain memasuki ruangan Buddha tidur, si penjaga juga menekankan pada peraturan nomor 5, melepaskan alas kaki pada area Candi dan Stupa. 
Peraturan tertulis bagi pengunjung Mahavihara Buddha Manggala

Selain mendapatkan informasi mengenai peraturan di Vihara, kami juga harus mengisi buku tamu di pos tersebut. Bapak penjaga juga menyampaikan informasi jadwal kunjungan di Vihara tersebut. Lokasi ini dibuka untuk pengunjung setiap hari Senin-Sabtu pukul 08.00-17.00, dan pada hari Minggu pukul 14.00-17.00. Kemungkinan jadwal kunjungan ini di luar hari raya keagamaannya. Oyah, untuk masuk ke lokasi ini tidak di pungut biaya sepeser pun, yang penting anda menjaga ketertiban dan kebesihan aja, dan jangan lupa menaati peraturan yang sudah diberlakukan. Setelah mengisi buku tamu, perjalanan pun di mulai.

Dari pos penerimaan tamu, stupa dengan warna emas sudah begitu menarik perhatian kami. Melewati jalanan menanjak menuju stupa, pikiran saya pada saat itu hanya satu. Di mana kami harus melepaskan alas kaki. Sesampainya di ujung tanjakan, bangunan stupa semakin jelas dengan patung yang berdiri di depannya, dan kami masih mancari papan informasi mana yang memberikan tanda untuk melepaskan alas kaki. Namun mata saya tertuju pada sebuah papan peraturan yang berada di sebuah taman. Peraturan tersebut lebih spesifik dibandingkan yang kami dapatkan di pos tadi.
Papan peraturan di Wilayah Mahavuhara Buddha Manggala

Jujur, peraturan ini tidak saya baca saat berada di lokasi karena otak saya hanya mencari tulisan “alas kaki di lepas”. Pada saat menulis postingan ini baru saya baca baik-baik peraturan ini dan ternyata peraturan ini lebih spesifik. Harusnya di baca dulu sebelum melangkahkan kaki ke tempat suci ini.
Peraturan ini berhadapan dengan stupa, sehingga setelah mencari tulisan “alas kaki di lepas” pada peraturan ini dan tidak ada, kami memutuskan untuk mendekati stupa.
Landscape Wilayah Mahavihara Buddha Manggala

Di depan stupa tersebut terdapat undakan dan kolam yang berisi bunga teratai. Area kolam sampai stupa tersebut adalah area suci sehingga di area itu alas kaki sudah harus di buka. Jangan khawatir, ada informasi untuk melepaskan alas kaki koq. Yahh, walaupun lantai nya itu panas banget, soalnya langsung kena matahari. Tapi untungnya saat kami datang ke sana, cuaca sedang tidak terlalu panas.
Tanda Larangan Menggunakan Alas kaki

Batas Alas Kaki


Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, ukiran pada kolam dan lantainya yang menurut saya unik, hanya saja saya tidak tahu apa maksud dari ukiran tersebut. Tidak ada guide yang menjelaskan tentang tempat ini.

Setelah melepaskan alas kaki, kami memasuki area stupa dan naik sampai ke depan stupa tersebut. Ukiran-ukiran dan desainnya memanjakan mata banget. Suasananya sangat berbeda, seperti berada di sisi lain Indonesia. Selama ini saya yang bergaul di daerah dengan mayoritas Kristen dan Islam, memasuki tempat ini di suguhkan dengan kenyataan bahwa Indonesia kaya dengan ragam budaya dan kepercayaan. So I proud to be a part of this country. Selayaknya para traveler, yang kemudian akan saya sebut sebagai tukang jalan, tentunya kami mencari angle yang bagus untuk mendokumentasikan perjalanan kami kali ini. Banyak spot yang dapat dijadikan pilihan sebagai latar belakang foto. Namun perlu diingat bahwa tempat ini memiliki peraturan yang harus di patuhi, salah satunya adalah dilarang memanjat stupa. Jadi pastikan saja saat anda berkunjung ke sini untuk tidak memanjat atau berdiri di atas stupa.

Setelah puas mengambil gambar di depan stupa, kami melanjutkan perjalanan ke belakang stupa. Di bagian belakang terdapat 2 buah kolam yang di pisahkan oleh jalan menuju candi. Saya pikir kolam itu tidak ada isinya, namun setelah semakin mendekat ternyata di dalam kolam tersebut terdapat kura-kura. Belasan kura-kura berenang di dalam kolam tersebut. Saya gak tahu apa makna dari kura-kura yang diletakkan di belakang stupa tersebut karena sekali lagi, gak ada guide yang memberikan informasi mengenai hal itu di tempat ini. Namun dari yang saya search, kura-kura bagi umat Buddha adalah simbol umur panjang. Kura-kura di kolam ini juga sangat ramah, malam terkesan agresif. Saat saya mendekati kolam, mereka berbondong-bondong menuju ke arah saya, dan saat tangan di turunkan dekat kolam mereka mengangkat kepala seakan ingin menerkam. Singa kali menerkam.
Kolam Kura-Kura

Kura-Kura Mendekat

Aturan tertulis diterapkan di tempat ini untuk mengingatkan para pengunjung untuk tetap menjaga kenyamanan Vihara ini. salah satunya adalah larangan untuk mencoret dinding vihara.
Informasi Larangan mencoret di Belakang Stupa

Di belakang Stupa tersebut terdapat bangunan candi yang kemungkinan juga dijadikan sebagai tempat berdoa. Di area candi ini, pengunjung diharapkan untuk tidak menginjak rumput, ada jalan khusus yang diberikan apabila ingin memasuki area candi. Selain itu larangan untuk memanjat juga di tuliskan di area tersebut.
Larangan Menginjak Rumput dan Memanjat Candi
View Candi 

Di sebelah kiri candi terdapat jalan setapak menuju bangunan yang bernama “Area Kuti” namun pengunjung dilarang memasuki area tersebut. Terlihat dari papan larangan melintas ke area tersebut.

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Samping)

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Depan)



Setelah puas dengan pesona yang diberikan oleh stupa dan candi, kami melanjutkan ke sebuah gedung di sebelah kiri stupa. Saya kurang tahu gedung itu fungsinya untuk apa, soalnya pintunya tertutup. Setelah puas dengan bentuk-bentuk candi dan stupa yang memanjakan mata, kami pun segera menuju ke tempat tujuan kami dari awal yang di simpan-simpan biar penasarannya numpuk, yaitu patung Buddha tidur. Berhubung sesuai informasi dari penjaga tadi bahwa kami tidak boleh memasuki gedung tempat Patung Buddha Tidur, maka kami pun hanya dapat melihat dan mengambil gambar patung tersebut dari luar ruangan.
Patung Buddha Tidur

Finally, keliling-keliling di Vihara udah selesai, lumayan capek lah. Apalagi jalannya bareng si Adelia yang super aktif tapi ngegemesin. Keringat yang udah di produksi udah berliter-liter, beluum lagi si kacuping minta dinyanyiin lagu twinkle-twinkle sementara dia muter-muter di atas kursi kayu. Setidaknya kami sudah melanggar salah satu peraturan tertulis yang disampaikan sebelum masuk tadi, yaitu pada point terakhir. Keributan bisa menimbulkan ketidaknyamanan kan? Iyuhuuu.. Berkat kacuping kecil Adelia yang di sepanjang tempat selalu ribut dengan panggilan andalannya “woii” atau “hei kawan” atau “guys”, membuat suasana jadi gak pernah diam, kecuali saat dia bilang “sssttt”. Dan badan gempalnya yang lari ke sana ke mari hanya untuk lihat rusa atau kura-kura dan manjat sana sini membuat perjalanan kali ini membutuhkan keringat extra. :D Maklum, anak kecil. Hanya saja belum ada teguran selama di dalam, berarti frekuensi suara si kacuping ini masih berada dalam batas normal dong yah. Jadi saya sarankan, dalam melakukan perjalanan ke tempat wisata, gak usah bawa anak kecil terutama bagi yang tidak sanggup menjinakkannya :D. Apalagi jika belum tahu peraturan di tempat tersebut. Berhubung kami masih bisa menghadapi si kacuping kecil unyu-unyu ini, jadi perjalanan masih bisa dinikmati dan aman terkendali.

That was our best picture. Maksudnya foto versi lengkap yah. Di telinga kami itu ada bunga sementara tadi ada peraturan gak boleh memetik bunga kan? Tapi tenang aja, kami bukan pengunjung yang tidak taat aturan. Bunga itu udah gugur dan berhubung kami orang yang tidak tega melihat sesuatu tergeletak terkulai lemah di tanah, akhirnya kami ambil dan manfaatkan untuk jadi property. Hehehe. Setelahnya kami balikin lagi koq bunganya, di tempat sebelumnya ia tergeletak.

Kamipun mengakhiri perjalanan kami siang itu. Harapan saya untuk tempat ini adalah, semoga ada pemandu yang bisa menjelaskan mengenai tempat ini agak para pelancong juga dapat memahami tentang Mahavihara Buddha Manggala.

Happy Holiday.

Balikpapan, 1603116

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts