Minggu, 19 Juni 2016

"Teruntuk Cucunda Terkasih."

Tungguru Saranga'

Kalimat di atas di ungkapkan oleh sosok di dalam gambar ini. diungkapkan dalam sebuah surat di zaman modern ini. He is my grandpa. ^_^

 Saya juga punya kakek lohh, emang kalian doang yang punya. (Ceritanya ada anak kecil lagi main di taman sambil ejek-ejekan). Hahaha.
Yup. He is my Kakek. Dulu saya memanggilnya “Papak Tua” tapi semenjak “mamak tua” meninggal, akhirnya sepupu-sepupu kecil lainnya mulai manggil kakek, jadilah saya ikutan dengan panggilan tersebut. (gak berpendirian teguh banget yah, bisa-bisanya digerus sama selusin kacuping, haha)
Kakek adalah sosok yang sangat peduli pada pendidikan. Kami sering diceritakan oleh mamak tentang bagaimana pedulinya kakek terhadap pendidikan. Bukan hanya kebutuhan seperti uang sekolah, buku sekolah, dan pakaian sekolah saja, tapi juga yang berhubungan dengan fasilitas untuk menuju tempat menimba ilmu. Hal ini lebih mulai kelihatan saat mamak melanjutkan studinya di Makassar (dulu Ujung Pandang) untuk menyelesaikan pendidikan S1 nya. Saat kuliah dulu, kakek memberikan mamak sebuah sepeda, yang pada saat itu masih jarang digunakan orang. Jadi, saat orang-orang masih berjalan kaki ke kampus, mamak sudah menggunakan sepeda pemberian kakek. Gilakk. Kece dong emak ku dulu. Haha.
Mamak juga sering menceritakan bahwa kakek tidak pernah mengatakan “tidak” jika ada uang yang harus disediakan untuk membayar kebutuhan sekolah, pasti selalu diusahakan entah itu dipinjam ke bank atau bahkan orang lain. Sepertinya sifat ini yang menurun ke mamak, saat kuliah dulu beliau juga tidak pernah mengatakan tidak ada uang pada kami jika tentang kebutuhan pendidikan, pasti selalu diusahakan. Walaupun kadang telat, namun pasti ada.
Dari dulu memang kepedulian kakek terhadap pendidikan sudah terbukti sih. Salah satunya adalah jabatan terakhirnya sebelum pensiun yang merupakan seorang kepala sekolah di sebuah SD. Jabatan yang boleh dikata masih terpandang di kalangan orang di kampung kami pada masa itu. Makanya beliau kadang dipanggil oleh masyarakat sekitar dengan sebutan “Tungguru Saranga’”.
Salah satu hal yang paling saya ingat tentang beliau adalah caranya memberikan motivasi kepada cucunya untuk mau belajar. Dulu, beliau selalu memberikan reward untuk setiap nilai 9 yang didapatkan cucunya di raport. Jadi 1 angka Sembilan itu di tukarkan dengan uang Rp 50.000,-. Duit yang gede banget untuk cucunya yang saat itu masih sekolah di SD (ehhmm, sebagian besar cucunya masih SD yah, saya mah udah SMA kala itu -_-). Berhubung udah gede, jadi udah tau kalo motivasi belajar bukan tentang uang lagi. Halllahhh padahal sebenarnya mupeng, malu aja mau minta di kakek. Hahaha. Makanya setiap abis terima raport, pasti rumah kakek selalu rame dikunjungi oleh cucunya dengan modus ‘mau menjenguk kakek’ padahal di dalam tas mamaknya udah ada raport siap diperlihatkan. Paneennn. Hahaha. Tapi cara ini berhasil membuat cucunya belajar yang tekun dan terbukti sampai saat ini mendapatkan ranking di kelas mereka masing-masing. T-O-P dahh!!
Kakek juga seorang pendidik yang kreatif. Beliau mengajarkan kami mengenai pengetahuan umum Seputar Toraja melalui sebuah lagu. Saya yan masih kecil saat itu berpikir bahwa lagu itu adalah ciptaan Kakek, gak tau yah kalo beneran ciptaan beliau atau orang lain. Lirik lagunya seperti ini
“Gunung di Tana Toraja banyaklah sungguh yang ada.
Yang tinggi hanya satu saja. Gunung Sesean namanya.
Sungai di Tana Toraja, banyaklah sungguh yang ada.
Yang panjang hanya satu saja, Sungai Sa’dan namanya.
Pasar di Tana Toraja banyaklah sungguh yang ada.
Yang ramai hanya satu saja, Pasar Bolu namanya.
Kolam di Tana Toraja banynaklah sungguh yang ada,
Yang indah hanya satu saja, Kolam Tilanga’ namanya.”
Kakek juga adalah seorang sosok yang romantis. Kenapa? Jangan-jangan sering dapat bunga dari kakek. Boro-boro dapat bunga, yang ada kita malah dapat utan bai (baca: tambai). Hahaha. Jadi dulu, saat baru saya cucunya yang merantau untuk kuliah ke Makassar, beliau mengirimkan sepucuk surat. Pucuk...pucuk...pucuk... (Iklan Teh Pucuk Harum *ehh). Jadi amplopnya dititipkan ke mami eike (Kami memanggil saudara mamak dengan sebutan mami dan papi) yang saat itu sedang ke Makassar. Saat menerima amplop itu, keadaan bingung menyelimuti. Tssahhh. Mami bilang bahwa itu kiriman dari kakek, dan saat dibuka ternyata isinya adalah uang. Nominalnya saya lupa, namun yang paling saya ingat adalah ada sesuatu di dalam amplop tersebut bersamaan dengan uang yang dikirim, yaitu sepucuk surat. Pucuk...Pucuk...Pucuk..(lagi), dengan kalimat pembukaan “Teruntuk cucunda terkasih”. Ooohhheeemmmjjiii!!!! I am so melting!! Kemudian dilanjutkan dengan nasehat-nasehat belajar yang baik, jangan lupa berdoa, gunakan uangnya sebaik mungkin. Uweww, itu kek oase di tengah padang gurun men. Nah, belakangan saya bertanya ke mami, kenapa kirim uangnya pake amplop, emang gak bisa di titipkan ke mamak biar di kirim lewat bank yah? Kalo surat itu masih masuk akal sih, soalnya kakek gak pegang handphone. Penjelasan dari mami adalah, karena kakek gak percaya sama anak-anaknya, takutnya entar di salahgunakan lagi. Hahaha. Satu kepercayaan terbesar dari kakek sudah ada di genggaman, bahwa kakek lebih percaya cucunya daripada anak-anaknya. Hahahaha. (ketawa iblis).
Semenjak kuliah, kebiasaan membawakan raport berubah, berganti dengan kebiasaan meminta uang transport sebelum kembali ke kota tempat kuliah masing-masing. Hahaha. Selalu saja ada akal bulus cucu. Jadi sebelum balik ke tempat kuliah, kami pasti ke rumah kakek untuk ‘pamitan’. Yaaa, you knowlah, bahasanya aja ‘pamitan’ padahal modus di balik itu semua. Setibanya di rumah kakek, ngobrol bentar sebagai mukadimmah, lalu perkataan serangan itu dikeluarkan, “kakek, la male mo’ lako mangkasa’ dau bongi tapi tae’ sewa oto ku.” (kakek, nanti malam udah mau balik Makassar tapi gak ada uang transport)
“Tae’ mo seng ku totemo (saya udah gak punya uang sekarang),” jawabnya. Jawaban yang pasti akan keluar dari mulutnya setiap kami menyerangnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar bahwa beliau abis potong babi, abis ada acara orang mati, abis beli ini, beli itu, bla, bla, bla. Namun, saat kami beneran mau pulang, beliau masuk kamar sebentar lalu keluar dengan memberikan uang, “ya manna mora te seng ku. Ya bang mo mi pake male.(tinggal ini uang kakek, kalian pake aja)”
Yup, itulah beliau. Awalnya bilang gak ada duit, dengan semua pengeluarannya itu, tapi beliau selalu ada untuk kebutuhan kami untuk mencapai cita-cita. Tapi jangan bilang bahwa beliau selalu ada duit. Saat kami meminta, dan emang kebetulan beliau bener-bener gak punya duit, kami beneran gak dapet apa-apa. Biasanya karena beliau abis beli obatnya yang banyak banget itu. Iyah, kakek sudah sering sakit-sakitan dan mengkonsumsi banyak obat. Tapi kadang kalo mama yang minjam untuk kami, beliau sepertinya masih mengusahakan.
Jadi tiap pulang kampung, mamak selalu mengingatkan kami untuk menjenguk kakek, entah itu membawakan ole-ole atau hanya sekadar menyapa dan menanyakan kabar. Membawakan roti yang bisa beliau makan, karena kadang kakek juga sudah tidak dapat memakan sembarang jenis makanan akibat alerginya. Saat akan ke rumah kakek pun kami kadang harus berlomba dengan waktu loh. Jangan salah, kakek adalah salah satu orang dengan jam terbang yang tergolong tinggi. Jangan pikir artis aja yang kek gitu, kakek kami pun juga kek gitu, bahkan kemungkinan menurun ke turunanya. Buktinya si Curly ini jam terbangnya tinggi, tiap 2 bulan sekali bolak-balik nyebrang pulau. Hahaha. Ehh, back to Kakek. Jadi telat dikit tiba di rumah kakek, beliau sudah tidak ada. Biasanya pagi hari beliau sudah jalan ke sawah sambil menenteng payung warna-warni super gedenya, dan beliau akan nongkrong di sawah sampai sore. Sepulang dari sawah, beliau akan lanjut untuk ibadah di rumah tetangga (beliau juga adalah seorang majelis gereja). Mau ketemu malam hari sepulang ibadah, hadeuuhhh, udara dingin Toraja di malam hari tidak dapat ditahan oleh tubuh anak muda ini. hahaha. Kalo bukan pagi hari, berarti anda harus kembali legi keesokan harinya, pada pagi hari juga. haha. Jadi seperti itu kebiasaan kami setiap kali kembali ke kampung, yaitu bertemu kakek..
Saat saya menyelesaikan study S1, saya masih sempat beberapa bulan menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) yang galau dengan setiap surat lamara yang dikirimkan. Beberapa kali bolak-balik Makassar-Toraja, dan masih dengan kebiasaan yang sama yaitu mengunjungi kakek. Nasehat untuk yang masih sekolah dan yang udah selesai sekolah (alias nganggur) emang beda yah. Saat itu saya lagi santai-santai, ehhh gak ada hujan gak ada angin langsung meluncur kata-kata nasehat untuk cucunya paling Karibo kece sejagat ini, “Dau mendapo’ ke tae’ pa mu ma’jama. Dau daka’ tau mambela, tae’ na di bela male lako dau. Yake ma’jama moko, dau langsung mendapo’, di ben dolo tomatuanta tu gaji ta. Parallu to menabung.” (jangan menikah dulu kelo belum kerja. Gak usah cari orang jauh, nanti kami susah kalo mau ke sana. Kalo udah kerja jangan langsung nikah, orang tua dulu yang diberikan gaji kita. Menabung itu perlu)
Postingan saat dapat ceramah tiba-tiba dari kakek. Saking membekasnya sampe di buat postingan. ^_^


Ruarrr biasa!! Otomatis eike shock lah bo. Tiba-tiba ngomongin soal mendapo’ alias nikah. Udah galau kerjaan, ditambahin lagi galau mendapo’nya. Kakekku udah nasehatin mendapo’ tuh, kamunya di mana sekarang? Ehh. Hahaha. Iyup. Nasehat berganti mengenai pekerjaan dan pasangan hidup. Hadeuhhh. -_-. Tapi, sebagai cucu yang baik hati dan tidak sombong dan tidak makan sabun, saya tetap mendengarkan nasehat itu.
Sekarang, Curly sudah bekerja dan merantau di tempat yang jauhhhhhhh banget, yang kalo dari kampung ke tempat kerja harus melalui 3 jenis transportasi dulu untuk bisa sampai, yaitu transportasi darat, laut, dan udara. Untungnya setiap 2 bulan kami memliki jatah libur selama 2 minggu yang pastinya kesempatan itu saya gunakan untuk pulkam. Setiap kali pulang kampung, hal yang sama tetap kami lakukan. Setiap libur dan balik ke Toraja, hal pertama yang kami lakukan saat sudah tiba di Toraja adalah, masuk rumah dan langsung tidur, soalnya tibanya subuh. Yaeyaallaahh!!! :D Sebelum ke mana-mana kami mengunjungi kakek, membawa ole-ole atau sekadar menyapa menanyakan kabar. Semenjak kerja, waktu yang saya habiskan jika berkunjung ke rumah kakek lumayan lebih lama dari biasanya, apalagi kalo beliau lagi ada di rumah. Banyak yang kami bicarakan. Lebih tepatnya beliau yang lebih banyak bicara, dan kami hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali, yang harus dilakukan sambil teriak. Pendengaran kakek udah terganggu sekarang, jadi harus bicara dengan volume yang agak besar. Jadi kalo ada yang dengar di jalan, mungkin ada yang berpikir kalo kami sedang marah sama kakek. Padahal kannn,, ahhhsudahhlahhh. :D
Kebanyakan yang kakek bicarakan adalah aktifitasnya selama ini. Ke mana saja uangnya habis digunakan, habis potong babi di mana, habis acara orang mati di mana, dll.  Selain itu, tentang pekerjaan kami, kebetulan saya dan Erik adalah cucunya yang saat ini sudah bekerja. Entah kenapa kakek sangat menjunjung tinggi yang namanya menjadi PNS. Mungkin karena beliau adalah seorang PNS yang notabene bisa dibiayai seumur hidup. Beliau gak suka dengan orang yang gak punya pekerjaan tetap karena beliau berpikir, jika tidak ada penghasilan tetap tiap bulan, apa yang akan digunakan untuk menghidupi cucunya kelak. How sweet!! Selain pekerjaan, masih ada satu hal yang tidak pernah absen disampaikan saat kami  mengunjunginya. Masih dengan masalah pasangan hidup. Sekali lagi saudara-saudara, PASANGAN HIDUP. Menabung dulu, gaji diberikan dulu ke orang tua, jangan langsung menikah, and something like that. Di situ kadang saya merasa lelah. Haha. Banyak yang beliau ceritakan, dan saya juga senang mendengarnya, atau sekedar melihat beliau bercerita sambil tersenyum. Salah satu moment yang paling saya suka saat berbicara dengan kakek, yaitu beliau tersenyum.
Itu kebiasaan kami setiap kali pulang kampung, mengunjungi kakek. Gak ada yang berubah. Mungkin yang berubah adalah, dulu kami yang meminta uang dari kakek, tapi sekarang sepertinya sudah saatnya kami yang memberikannya perhatian dalam bentuk apapun. Terakhir saya ke sana, kakek kebetulan lagi ada di rumah, karena sudah beberapa hari sakit dan gak bisa keluar rumah. Beliau, seperti biasa, bercerita tentang aktifitasnya, uangnya yang habis untuk ‘mantunu, bayar utang, dll. Kue  yang saya bawakan (Brownis Amanda) juga sama sekali gak dimakan, beliau gak suka dengan kue itu. Beliau sukanya roti biasa aja. Keadaan usia yang sudah tua, menjadi salah satu penyebab banyaknya penyakit yang menggerogoti. Ditambah lagi kebiasaan buruknya yang suka minum ‘tuak/ballo’.
Demikian sedikit yang dapat saya ceritakan tentang kakek. Seorang sosok pendidik dan orang tua yang melekat di hati anak dan cucunya. We love you grandpa. Keep healthy yahh.

_curly_

Senin, 23 Mei 2016

Ma'Bugi'

Jika di tanah Jawa ada yang namanya Reog Ponorogo, di Toraja ada yang namanya Ma'bugi'. Jika di Jawa ada namanya Debus, di Toraja juga punya hal serupa. Want to know? Check this up. 
Ma'bugi' adalah salah satu upacara adat Toraja yang terdiri atas prosesi tarian/nyanyian yang di laksanakan dalam acara rambu tuka' (ucapan syukur). Sepintas, nyanyian yang diserukan dalam upacara ini kedengaran seperti Ma'badong (nyanyian kesedihan atau belasungkawa di upacara kematian), tetapi yang membedakan adalah syair-syairnya yang merupakan syair ucapan syukur atau kebahagiaan.
Tarian Ma'bugi' dilakukan biasanya di tempat Pa'bugiran (tempat untuk Ma'bugi'), tempat yang lapang dan luas biasanya sawah sehabis panen yang sudah kering.
Ma'bugi biasanya dilaksanakan selama 6 bulan untuk mencapai puncak upacaranya. Dalam 6 bulan tersebut, ada waktu pada malam-malam tertentu orang-orang akan melakukan "Nondo" dengan membentuk  lingkaran sambil saling mengaitkan tangan  dan menyanyikan syair-syair ungkapan syukur dan di bantu oleh teriakan "Meoli" dari penonton. Hal ini dilakukan hingga mencapai puncak acara.
Puncak acara Ma'bugi' dilaksanakan pada siang hari dimana seluruh hasil bumi di daerah tersebut di bawa serta dalam arena upacara. Hasil bumi tersebut digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut.
Mengawali puncak acara Ma'bugi' tersebut, peserta melaksanakan "Nondo" dan menyanyikan syair yang lebih seru dari biasanya yang dilaksanakan pada malam hari. Semakin lama nyanyian tersebut akan semakin ramai dan pada puncak keramaian itu akan ada peserta yang kerasukan. Peserta yang kerasukan itu akan melakukan hal-hal yang tidak biasa yang menurut logika manusia dapat melukai dirinya.
Dalam puncak acara Ma'bugi' ini, terdapat beberapa prosesi yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang kesurupan, diantaranya:
▶ Mantere, yaitu prosesi dimana orang yang kerasukan akan mengiris-iris badannya tubuhnya (leher, tangan, perut) dengan parang yang tajam hingga berdarah namun sesaat setelah darah mengucur dia akan mengusapkan daun Tabang (lihat gbr : daun berwarna merah yang dipegang oleh barisan nenek di depan) di luka itu dan langsung sembuh (saya lagi cari info mengenai bahasa Indonesia dari daun tabang. Daun ini berbentuk panjang dan berwarna merah. Daun ini sudah sangat dekat dengan krhidupan masyarakat Toraja dalam setiap upacara yang dilakukan). Dulu, ada seorang yang paling terkenal saat melakukan Mantere yang dikenal dengan nama Lala. Dia merupakan pemeran utama dalam acara puncak, dimana dia akan menusuk keningnya  dengan pisau hingga darahnya mengucur keluar, namun daun Tabang udah stand by di tangannya.
▶ Memanjat tangga dengan anak tangganya adalah susunan parang yang tajam namun kaki orang tersebut tidak terluka sama sekali (ilmu kebal)
▶ Memanjat pohon bambu dan saat sampai di puncak orang yang kerasukan tersebut akan melakukan "Mantere".
Setelah kerasukan, maka selesai pulalah prosesi Ma'bugi' yang diakhiri dengan makan bersama oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut.
Jadi ini salah satu upacara di Tana Toraja yang baru saya dengar kisahnya dari orang tua saya sendiri. Berawal dari kegiatan Ulang Tahun KSP Balo'ta yang saya hadiri dan menampilkan sebagian kecil dari prosesi Ma'bugi' (videonya dapat dilihat di akun intagram saya @ekaismaliliany).
Ini sejarah versi kedua orang tua saya, jika ada yang ingin menambahkan atau meluruskan silahkan tinggalkan komen atau kirimkan ke email saya (ekaismaliliany@gmail.com) karena saya juga masih belajar untuk mengenal sejarah budaya saya sendiri.
Karena Toraja masih memiliki banyak rahasia yang belum saya kupas.
Kurre.

Sabtu, 02 April 2016

Sehari Bersama SAMARINDA

Helaaww guys. Liburan kemarin eike bareng temen memutuskan stay di Kalimantan, gak keluar pulau maksudnya, jadi gak ke Sulawesi apalagi pulang kampung. Karena satu dan lain hal maka kami hanya menghabiskan liburan di Kalimantan aja. HANYA?? Oww. Jangan salah. Kalimantan punya banyak tempat yang layak dijadikan tempat wisata. Liburan 2 minggu ini hanya kami habiskan di kota Balikpapan dan Samarinda. Yup, anda gak salah baca. Itu tulisannya Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang dijuluki orang sebagai Kota Tepian.
            Saya yang numpang di kosan SIST saya di Balikpapan tentunya gak bakalan betah kalo off duty selama 2 minggu hanya dihabiskan di kamar saja. Bangun tidur hanya lihat dinding, kasur, bantal guling, bantal kepala, gallon air, lemari pakean, kipas angin, paling jauh jalan ke kamar mandi, yaa lumayan di sepanjang lorong kosan bisa lihat sepatu berjejer depan masing-masing kamar. Bangun tidur gak ngerjain apa-apa, dari Shalat Subuh sampe Maghrib hanya satu posisi aja yang kami buat, posisi tidur sambil megang Xperia dan Samsung, itu aja. Atau kalo ada bahan makanan, kami masak untuk makan siang, atau paling berat  cuci pakean yang lamanya bisa sampe 2 jam karena harus nampung air dulu. That’s it. Itu kalo kami di kosan terus yah. Tapi untungnya kami sama-sama memiliki golongan darah O. Hubungannya? Kami sama-sama masih manusia. Haha. Yaeyalahh. Di samping kami masih manusia, kesamaan golongan darah menunjukkan kesamaan karakter kami, terutama dalam hal stay in a one place while you are on holiday.
            Saya pernah membaca postingan sebuah akun di Line bernama Golongan Darah yang mengatakan bahwa “Golongan darah O itu gak bakalan betah kalo seharian hanya di kamar, pengennya jalan terus”. Iyup, karena saya merasa didukung sama postingan ini makanya saya melakukan hal untuk membenarkannya. Biasa, sifat dasar manusia kan gak suka disalahkan. Hahaha.. Maka kami berdua si darah O akhirnya memutuskan untuk sering-sering jalan, memanjangkan kaki. Jadi selama off duty kemarin kami mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah akmi datangi selama di Balikpapan diantaranya adalah Maha Vihara Buddha Manggala, nongkrong di Pantai Melawai, mengikuti pameran Budaya di Dome yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan yang mana di sana kami mendapatkan goody bag gratis di Stan KKP Dinkes dan di stan Dinas Pariwisata kami mendapatkan peta tempat wisata apa aja yang wajib dikunjungi di Balikpapan. Tapi kali ini saya gak akan menceritakan soal Balikpapan, ada satu tempat yang kami jadikan perpanjangan kaki kami (perpanjangan kaki? Istilah apaan nih) yaitu Samarinda.
Samarinda menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk traveling kami karena si partner in crime saya ini, inisialnya Febi, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kota Samarinda. Dengan alasan yang menurutnya udah kuat banget bahwa sudah 1,5 tahun dia berada di Pulau Kalimantan, tapi menginjakkan kaki di Ibu Kota Kaltim aja yang jaraknya hanya 2 jam dari Balipapan itu sekalipun gak pernah, padahal sampai hutan paling hutannya Kalsel aja yang ditempuh dengan perjalanan ekstrim udah dia datangi. Saya yang udah beberapa kali ke Samarinda sempat mikir sih, dia mau lihat apa di sana, gak ada tempat menarik menurut saya. Tapi selama 3 kali saya berkunjung ke Samarinda (jiah, berkunjung, situ ibu negara? :D) ada satu tempat yang sangat ingin saya datangi dan gak pernah kesampaian, yaitu Mesjid Islamic Centre Samarinda meeegaaahhhh yang konon katanya adalah mesjid terbesar se-Asia Tenggara. Karena keinginan itu akhirnya saya ikut juga ke Samarinda .
Akhirnya salah satu syarat untuk melakukan suatu perjalanan sudah terpenuhi, yaitu niat (Tolong di garis bawahi). Iyup, hal pertama yang harus anda siapkan saat akan melakukan traveling adalah niat karena tanpa niat semuanya gak akan terlaksana dengan baik . Yakan?? Yakan?? Correct me if I’m wrong :D. Partner saya ini berencana hanya sehari di Samarinda yaitu berangkat pagi dan pulang sore, jadi kami mencari tempat wisata yang dapat kami datangi dalam sehari itu dan sarana yang dapat digunakan untuk menempuhnya. Maka kami mencari informasi mengenai tempat wisata di Samarinda melalui social media dan bertanya ke beberapa kenalan kami di Samarinda. Umm, koreksi, bukan beberapa teman sih, hanya satu teman kami yang menjadi sumber informasi mengenai Samarinda (sebut saja dia dengan inisial Keket). Iyah, wanita yang berperan besar untuk perjalanan kami terutama mengenai kendaraan apa saja yang dapat kami gunakan untuk mencapai daerah tersebut. So, remember guys. Saat anda ingin mengunjungi tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya, pastikan untuk mencari informasi dahulu, seperti akses ke sana, waktu kunjungannya, jika itu tempat ibadah pastikan apakah dibuka untuk umum dan tata krama memasuki wilayah tersebut, dan kalo sempat cari informasi mengenai waktu atau musim apa tempat itu bagus di kunjungi oleh turis. Eitss,, iyah. Kami udah tergolong turis loh yah, turis domestic.
Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, akhirnya selama jalan-jalan sehari itu kami berencana mengunjungi Vihara terbesar di Asia Tenggara yang baru di resmikan pada bulan Maret ini, Mesjid Islmic Center, Pasar Pagi, Nongkrong di Tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrongnya anak gaul Samarinda (belakangan saya tau kalo di situ tempat nongkrongnya anak alay). Untuk sementara itu dulu tempat yang akan kami kunjungi berhubung waktu kami sangat terbatas. Setelah menentukan tempat, kami mengatur waktu dan urutan tempat yang akan kami kunjungi dengan memperhitungkan estimasi waktu perjalanan dan waktu yang akan dihabiskan di setiap tempat.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar sebelum Shalat Subuh berkumandang (kosannya Febi dekat banget sama mesjid jadi suara Adzan kedengaran banget)kami belum bangun. Kami bangun setelah Adzan berkumandang. Demi mendapatkan bus pertama ke Samarinda, kami mempersiapkan segala sesuatunya, merasakan kembali segarnya mandi pagi (ketahuan banget yang selalu bangun kesiangan), menunggu angkot menuju terminal Batu Ampar yang susah banget.  Kami berangkat dari kosan pukul stengah 7 pagi untuk mendapatkan bus pertama yang katanya berangkat jam 7. Namun, berhubung area kosan kami di daerah MT. Haryono jam segitu masih jarang angkot maka kami agak lama menunggu. Hampir jam 7 kami mendapatkan angkot menuju Terminal Batu Ampar. Terminal Batu ampar adalah terminal dengan tujuan Balikpapan Samarinda. Di sana bus-bus berkumpul menunggu penumpang, namun dari pengalaman saya sebelumnya bus di terminal akan lama banget ngetem jadi kami memutuskan untuk langsung ke pertigaan menuju terminal. Di sana kami mendapatkan bus yang gak terlalu lama ngetem. Untungnya kami masih mendapatkan bus pertama yang berangkat pukul 07.30. Dengan bermodalkan 30ribu rupiah, bus pun membawa kami menyusuri jalanan yang membelah hutan Kalimantan menuju Samarinda. Tarif bus Samarinda-Balikpapan ataupun sebaliknya berkisar antara 30-40 ribu rupiah, tergantung fasilitas busnya. Bus yang kami gunakan adalah bus non-AC yang sempat di komen oleh salah satu teman saya, “bus ji itu?”. Iyah. Ini bus. Jangan mengharapkan anda mendapatkan bus Toraja dengan full AC, suspense nyaman (pake banget), ada selimut dan tempat duduk lebaaarrr. Big no. Lagian ini hanya perjalanan 2 jam doang. Naik pete-pete juga bisalah :D. Selain bus non AC, ada juga bus yang sepertinya lebih nyaman yaitu bus AC yang bisa didapatkan dengan harga 38 ribu rupiah, hanya saya belum pernah menggunakannya.

Keadaan Bus Balikpapan - Samarinda

Tiket Bus Angkutan Balikpapan - Samarinda

Di sepanjang perjalanan menuju Samarinda mata anda akan dimanjakan oleh pemandangan hijau dan lebatnya hutan Kalimantan terutama saat anda memasuki wilayah Bukit Soeharto, sebuah area hutan lindung bagi flora dan fauna Kalimantan. Bus juga akan melewati beberapa rest area yang menjual berbagai makanan, perkampungan warga, area kebun sawit, dan jalan hauling menuju area pertambangan. Kadang saya miris setiap kali melewati daerah ini karena terlihat bagaimana terlihat pembukaan lahan sehingga pohon-pohon ditebang dan dijadikan area untuk membangun perumahan. Sekitar 2 jam perjalanan kami memasuki wilayah Kota Samarinda (Samarinda Seberang) dan kami masih harus berjalan selama 30 menit untuk tiba di Terminal bus di Samarinda Kota. Samarinda terbagi atas 2 wilayah yaitu Samarinda kota dan Samarinda Seberang. Dari Samarinda Seberang ke Samarinda kota kami melewati jembatan penghubung antara kedua wilayah tersebut, jembatan yang melintasi Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan timur. Dari atas jembatan tersebut, anda dapat menyaksikan kehidupan masyarakat di bantaran sungai Mahakam dengan kapal atau klotok atau speed yang berlalu lalang di sungai. Selain itu, ada juga kapal pengangkut batu bara yang melalui sungai ini.
Tepat pukul 10.00 bus yang kami tempati memasuki area terminal. Saat turun dari bus, ada akan langsung di tawari oleh tukang ojek atau supir taksi (di Samarinda, orang menyebut angkot dengan sebutan “taksi”) untuk mengantarkan anda ke tujuan anda. Berhubung kami gak mau menunggu terlalu lama (karena menunggu itu butuh energi, apalagi nunggui kamu, eehh), akhirnya kami berjalan ke depan terminal dan mengambil angkot hujau menuju Mall Lembuswana, namun karena ada seorang penumpang yang searah dengan kami jadi kami ikut dengan beliau dan turun di Pasar pagi untuk ganti angkot menjadi Angkot merah menuju Vihara. Biaya yang kami keluarkan untuk sekali naik angkot adalah 7ribu rupiah per orang.
Terminal Samarinda

Di angkot merah kami cukup memberitahu supir angkot bahwa tujuan kami ke Vihara di daerah Damahuri dan pak supir langsung tahu. Sepertinya tempat itu cukup dikenal. Sekitar 15 menit kami akhirnya tiba di Vihara yang dimaksud, tempatnya ternyata langsung berada di pinggir jalan yang dilalui angkot jadi kelihatan dari jauh patung Buddha nya.
Gak membuang waktu kami langsung menuju pintu gerbang Vihara yang gedenya Naudzubillah. Selayaknya tamu yang wajib lapor kalo datang ke tempat baru, kami juga seperti itu. Kami minta izin ke security untuk masuk di area Vihara. Tapi sayangnya ternyata Vihara itu gak di buka untuk umum untuk saat ini. Yang boleh masuk hanya orang yang sudah buat janji dengan pengelola Vihara atau jemaat yang akan beribadah di dalam. Hiks. Syedih. Mana udah jauh-jauh datang lagi, ujung-ujungnya gak bisa masuk. Tapi dari informasi yang saya dapat dari internet emang belum gak ada info kalo bisa dibuka untuk umum sih, jadi yasudahlah. Akhirnya kami ngobrol aja sama bapak securitynya, lumayan kan si bapak bisa ngobrol sama petualang cantik yang belum sempat masuk tipi. Dari informasi bapak security, katanya pengujung boleh masuk tapi Cuma sampai di kafenya aja. Kafenya itu tepat di bawah patung Buddha, jadi kita bisa lihat patungnya dari dekat. Kafenya menyediakan makanan untuk vegetarian, soalnya penganut agama Buddha kan emang gak boleh makan daging. Kami pengen sih masuk nongkrong di kafenya, tapi kelamaan kalo mau nunggu, soalnya kafenya buka jam 12. Karena merasa udah cukup dengan bertanya-tanya ke security, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Pintu Gerbang Buddha Centre

 Perut udah keroncongan menandakan cacing-cacing di perut butuh asupan nutrisi. Berhubung pada saat itu hari Jumat, Mesjid yang selanjutnya akan menjadi destinasi kami pasti akan dipenuhi dengan jamaah yang akan melaksanakan shalat Jumat sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di depan Mesjid. Ada banyak penjajah makanan yang berjualan di sepanjang jalan depat Islamic Centre tersebut. Karena tujuan kami ke sana, akhirnya kami kembali menaiki taksi merah untuk kembali melanjutkan dengan angkot hijau menuju Islamic Center. Di sepanjang perjalanan, kami sibuk membahas tentang makanan wajib jika berkunjung ke Samarinda, tapi gak ada clue. Kami sudah bertanya ke seorang ibu-ibu asal Sulawesi di taksi tapi bilangnya gak ada makanan khas di Samarinda. Sampai akhirnya naiklah seorang ibu menggandeng anaknya yang masih SD menaiki angkot. Mendengar kami membahas makanan khas Samarinda si ibu langsung nimbrung, dan memberikan informasi mengenai makanan wajib jika ke Samarinda. Ibu ini bener-bener seperti oase di tengah gurun pasir, membawa informasi saat lagi butuh-butuhnya, apalagi informasi tentang makanan, diberkatilah anda bu :D. Si ibu bilang kalo ada sate  namanya sate paliat yaitu sate dari daging sejenis daging rusa yang di jual di salah satu rumah makan bernama RM Amado di Jl. Diponegoro. Karena penasaran dengan makanan tersebut, kami langsung menuju jalan Diponegoro. Rela deh kami nunggu 1,5 jam demi merasakan gimana rasa sate yang dimaksud. Nunggunya bukan karena dagingnya baru di cari yah, tapi karena saat itu kami tiba tepat pada waktu shalat Jumat sehingga rumah makannya di tutup untuk sementara while karyawannya melaksanakan Shalat dulu. So, buat temen SMP gue, teman SMA gue, yang mau coba makan di sana, pastikan elu semua gak datang tepat pada shalat Jumat yah.
Setelah nunggu bodo-bodo selama 1,5 jam akhirnya warung makannya buka dan itu bagaikan oase di padang gurun. Jadi pas si pegawai buka pagarnya itu kek slow motion banget trus rumah makannya langsung bercahaya, dan cacing di perut langsung menabuh gendang tanda perang dimulai, perang terhadap kelaparan. Gak nunggu waktu lama, langsung masuk ke warung makan tersebut, duduk manis di kursi (arti ‘duduk manis’ adalah cewek manis lagi duduk), waiter datang, kami langsung pesan. Dengan kepedean tingkat tinggi saya langsung nanya, “Ada sate rusa gak?”
Si waiter dengan wajah bingung menggelengkan ke kepala sambil berkata, “gak ada, Mba. Di sini gak ada sate kek gituan.
“Trus adanya sate apa?”
“Sate ayam aja.”
Whattt???? Trus maksudnya ibu itu tadi apaan. Wah kita di bohongin nih. Yaudah, karena gak ada menunya dan kami juga kelaparan udah nunggu selama 1,5 jam jadi kami mesan yang ada aja. Di dinding rumah makan tersebut ada terpajang menu makana yang kemungkinan dijadikan sebagai menu andalan rumah makan ini, jadinya kami mesan Sup Kimlo Ayam Kampung aja.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami memperhatikan rumah makan tersebut. Ternyata banyak juga yang datang untuk makan siang di tempat ini. Mulai dari bapak-bapak sampai ibu-ibu semua yang ada di sini, dari yang bermobil sampai yang jalan kaki, dari yang kurang cantik sampai yang cantik banget, datang di sini. Intinya dari kata-kata saya yang bertele-tele dari tadi itu adalah rumah makan ini lumayan laris. Dan dari informasi teman saya, tempat makan ini memang terkenal.
Pesanan kami pun nongol. Dari kuahnya sepertinya enaaakkk banget. Entahlah kalo saat itu mungkin karna kami sedang lapar-laparnya yah. Tapi dari penampilannya sih good looking. Telur rebusnya di suwir-suwir jadi gak bikin saya illfeel duluan, yang notabene kadang menilai makanan dari luarnya dulu. When we tasted the soup, wow. Enak. Beneran enak loh yah. Awalnya kami juga penasaran dengan menu ini, kek gimana sih rasa Sup Kimlo itu. Ternyata rasanya sama aja sih kek soto ayam pada umumnya, tapi ini soto ayam versi enak.
Kalo soal harga makanan, di tempat ini memberikan harga yang terjangkau. Awalnya kami piker akan mahal, melihat banyaknya orang yang datang makan ke tempat ini, tapi opini itu terpatahkan di meja kasir. Tsahh. Kami hanya membayar Rp 25.000,- untuk seporsi soup kimlo dan Rp 5.000,- untuk sebotol air mineral. Terjangkau kan?
Menu Makanan di RM Amado

Selesai memberi makan cacing di perut, kami melanjutkan ke tujuan awal kami. Mesjid Islamic Centre Samarinda. Here we come!!!! Kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot hijau, yang kami rasa udah jauh banget mutar-mutar. Kirain udah mau di bawa lari sama si sopir taksi, tapi saya piker gak mungkinlah dia berani, mau di smack down sama salah satu penumpangnya ini. And Finally, we are here!!
Mesjin Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim

           Masjid Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim. The largest mosque in Kalimantan. Mesjid  terbesar kedua di Asia tenggara setelah Mesjid Istiqlal (pengen [ake bahasa inggris tapi gak tau bahasa inggrisnya :D). Akhirnya eike bisa menginjakkan kaki di mesjid ini setelah keempat kalinya datang di kota Tepian ini. Mesjidnya luar biasa gede. Bagi perempuan, gak harus pakai penutup kepala koq kalo mau masuk ke area mesjid. Di dalam mesjid juga koq orang yang nongkrong. Entah itu bapak2, pemuda pemudi Indonesia. Entah itu yang sedang belajar agama, sharing, atau yang lagi hunting foto. Entah itu ayah ibu anak atau sepasang sejoli yang sedang menjalin cinte. Dan kami hadir sebagai pelacong yang mengagumi keindahan arsitektur tempat ini. Kami nongkrong di sana sampai setengah empat saat suara adzan untuk shalat Ashar sudah dikumandangkan. 
Landscape Mesjid Islamic Centre 

Puas melihat-lihat kami langsung nyebrang ke depan Mesjid. Sebenarnya salah satu destinasi temen saya ini adalah pengen nongkrong di tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrong anak gaolnya Samarinda. Tapi berhubung kami ga tau tempatnya di mana jadi kami nongkrong aja di seberang jalan Mesjid, masih tepian Mahakam juga koq. Lagian kami udah gaul, ngapain carri tempat gaul lagi. Haha.
            Tepian Mahakam ini menurut saya seperti pinggir sungai pada umumnya. Bau air sungai dan sampah-sampah yang di buang ke sungai memperjelek penampilan tepian ini. Ditambah air sungainya yang keruh berwarna coklat, warnanya emang kek gitu sepertinya. Tapi pemandangan yang disajikan gak membosankan juga. Di hadapan anda terhampar luas sungai Mahakam yang lebarnya minta ampun jauhnya. Gede banget pokoknya. Ada juga kegiatan anak-anak yang main kantinting di sungai. Oyah, satu fenomena luar biasa yang bisa kamu lihat di sini  yaitu Gunung Berjalan. WOW. Iyah, kamu bisa melihat kapal-kapal pengangkut batu bara lalu lalang di sungai ini, itu gunung berjalannya :D. Tapi katanya kapal pengangkut batu bara ini hanya lewat sampai sore hari.
Tepian Mahakam

            Puas duduk-duduk di tepian Mahakam akhirnya kami beranjak, dan kami berpisah di sana. Febi akan kembali ke  Balikpapan dan saya masih tinggal sehari di Samarinda mengunjungi sanak keluarga di sana, maklum keluarga besar. Torayakan, aihihi. :D
            Pada malam harinya saya masih berkesempatan untuk mengunjungi Mahakam Lampion Garden. Bukanya ini mulai malam hari, yaeyalahhh namanya juga lampion. Sebuah tempat di mana semua keajaiban dunis berkumpul di sana :D. Hanya dengan modal sepuluh ribu kamu bisa dapat gelang sebagai tanda kamu bisa masuk ke lokasi lampion Garden itu. Lumayan lah cuci mata malam-malam. Cuci mata melihat para ibu-ibu gendong anaknya dan di temani suami tercinta, ahhsyudahlah, pulang yuks.
Mahakam Lampion Garden

Jadi itu beberapa tujuan wisata kammi selama di Samarinda. Masih banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Samarinda dan sekitarnya, diantaranya Desa Pampang yang merupakan desa adat suku Dayak, Kota Tenggarong yang hanya berjarak sejam dari Samarinda, tempat pembuatan tenun Kalimantan, dan masih banyak lagi. Sayangnya waktu kami hanya sebentar jadi hanya beberapa tempat yang bisa kami kunjungi. But we love this trip. Ngetrip kilat namun hasilnya memuaskan bagi para pemula seperti kami.
Pulau Kalimantan adalah tempat kami meraup sesendok berlian, dan pulau Kalimantan juga menyuguhkan keindahan pesonanya. Indonesia is the best country that I ever had :D.
Holiday is over, saatnya kembali ke rutinitas pekerjaan lagi. Next time, kami akan mengunjungi tempat-tempat yang baru lagi.  :D 

Jumat, 01 April 2016

CURLY, SINETRON, DAN PS (VERSUS? I DONT THINK SO)

LUCU.
Lucu rasanya mengingat kembali bagaimana melihat seorang laki-laki separuh baya melemparkan remote di depan wajah saya. Bukan ke wajah saya yah. Jadi remotenya dibanting ke lantai, kan kasihan remotenya, gak salah apa-apa koq di banting. Setelah itu balik ke kamarnya, meninggalkan ruang TV dan sambil berkata kepada saya, “Dasar bawel. Jadi orang bawel banget.”
Dikatain bawel itu lucu yah? Iyah, dan sekarang saya lagi merasa lucu banget di kamar mengingat kejadian itu. Jadi pengen menumpahkan kelucuan itu dalam sebuah tulisan. Tssaahhh. Jadi kek apa kisahnya?
            Kejadiannya sekitar 2 jam yang lalu di ruang nonton mess kami. Entahlah, hari ini saya merasa pengennnn banget duduk di depan tivi, senderan di lengan kursi (berharapnya sih di lengan abang, *uhuk), sambil minum kopi. Wuisshh, nyamannya dunia. Mungkin bagi sebagian besar orang, kegiatan itu sudah sangat lazim dilakukan, tapi bagi saya kegiatan itu langka banget.
Saya, yang notabene seorang pekerja di lokasi tambang, jauh dari keluarga dan teman-teman, menjadi kaum minoritas di mess (dalam hal ini jenis kelamin), paling malas duduk  di depan tivi, apalagi akhir-akhir ini. Gimana mau nonton, saya baru selesai mandi aja si bapak-bapak udah duduk manis di depan tivi sambil nonton sinetron (yang paling saya tau tuh yang judulnya “Anak Jalanan”), dan saya gakk suka banget sama sinetron yang menurut saya itu pembodohan banget. Belum lagi kalo ada yang merokok, dan PASTI bakalan ada yang merokok. Saya paling gak suka dengan asap rokok, sebisa mungkin kalo bisa saya hindari ya mending menjauh deh, daripada terpapar. Baunya itu loh gak enak banget, bikin sesak napas aja. Bodo amat mereka tersinggung. Merokok adalah hak anda, dan menghindari asap rokok adalah hak saya. Titik.
Back to the reason kenapa saya jarang nonton di ruang TV. Akhir-akhir ini para pecinta olahraga jari (baca: PS) lagi gencar-gencarnya melakukan invasi ke mess. Terserahlah yah kalo ada yang gak setuju itu dikatakan sebagai penyerangan, tapi menurut saya ya emang kek gitu. Mereka bisa main sampai berjam-jam selama beberapa hari loh. Bayangkan saja, saya pernah tiba di mess sekitar jam setengah 8 malam, mereka udah main dan itu lanjut sampe saya udah mau tidur sekitar jam setengah 12 malam, belum kalo malam minggu yang bisa mencapai jam 1. Trus invasinya di bagian mana? Kalo orang main PS, gak mungkin gak ribut kan? Nah, that’s the point. Para pelaku itu ributnya minta ampun. Para pelakunya kan kadang mencapai 8-10 orang yang ngantri untuk megang stick PS, nah bayangin kalo mereka teriak rame-rame, entah karena gol, entah karena salah trik penyerangan, entah karena salah pencet tombol, dan karena karena yang lain, I dunno. Gimana gak terganggu.  Dan gak mungkin kan saya, sebagai makhluk Tuhan paling cantik se-mess (baca: cewek satu-satunya), mau duduk manis di ruang tivi while they playing PS. Kurang kerjaan banget, apalagi di situ jumlah asap rokoknya akan lebih banyak lagi. Mending di kamar deh.
Jadi itu beberapa alasan kenapa saya paling malas nongkrong di ruang tivi. Walaupun masih nongkrong bentar sih kalo si bapak-bapak nonton sinetron. Yahhh sekedar comot cemilannya, atau sekedar gangguin, atau sekedar ngobrol bentar, atau sekedar komentarin pemain sinetronnya, tapi gak lama-lama banget lah, paling 5-10 menit doang. At least bisa keluar dari kamar dan melayangkan pandangan ke tempat yang lebih luas dibandingkan hanya di kamar yang ke manapun mata memandang hanya ada dinding warna putih yang kelihatan, untungnya di salah satu dinding udah ada hiasan puku-puku.
Tapi sebenarnya kadang saya betah juga sih yah di kamar berlama-lama, apalagi kalo kuota internet tumpeh-tumpeh. Hanya dengan memandang handphone waktu gak terasa udah berlalu aja. Makanya, sempat salah seorang teman kerja penghuni mess nanya, “kamu ngapain aja di kamar? Betah banget.” Saya juga bingung kenapa bisa sehebat itu dampak smartphone, bener-bener menjadikan manusia anti-sosial. Selain ngenet (bukan Ngenest loh yah), alasan lain saya betah di kamar adalah karena ada bacaan. I really love reading, utamanya sekarang yang lagi numpuk di kamar adalah novel. Salah satunya yaitu berduaan dengan om Sher, itu Buku Sherlock Holmes yang lagi saya baca sekarang. Jangan sampai ada yang mikir kalo itu adalah om-om selingkuhan saya yah, mau selingkuh dari siapa juga, gak ada yang diselingkuhin (kesannya koq ngenes banget yah??). Jadi membaca bener-bener bisa bikin saya lupa waktu banget, apalagi kalo lagi fit-fitnya. Di siang hari saya semangat menyelasaikan tugas demi untuk bisa berduaan sama om Sher di malam hari. Dari situ saya belajar me-manage waktu supaya setiap rencana saya bisa terlaksana tanpa mengorbankan kegiatan lain. Tsaahhh!!
Back to the insiden remote terbanting. Hari ini bener-bener pengen banget nonton tivi. Salah satu penyebab yang paling bertanggung jawab atas keinginan itu adalah karena ini adalah akhir bulan dan kuota sedang sekarat-sekaratnya. Kosong melompong tidak berbekas. Mau di kamar, gak bisa ngenet, walaupun masih ada bacaan sih, tapi keinginan noton tinggi banget. Pulang kantor sekitar jam 7, udah berinisiatif untuk tidak mandi malam lagi. Tiba di mess, ternyata tivi lagi gak ada yang nontonin, dalam hati, “tumben”.  Selesai mandi ternyata bapak pecinta sinetron lagi nonton, wahh remote gak bisa di rebut nih, dikuasai soalnya. Dan dimulai lah kebawelan itu.
Memulai kebawelan dengan mengomentari acara tivi yang lagi di nonton, karena sinetronnya lagi iklan jadi saya minta channelnya dipindahkan ke siaran berita, eh di gantinya ke siaran National Geography, emang saya kelihatan kek pawang hewan yang suatu saat nanti bakal tersesat di daratan Afrika yah? Bosan dengan acaranya, kebawelan dilanjutkan dengan mengomentari air gallon yang habis, jadi terpaksa saya ke kantin untuk ambil air, sekalian buat kopi (lagi pengen banget ngopi juga). Sekembalinya dari kantin, si bapak masih stay on chair, duduk manis nonton sinetronnya. Kebawelan masih lanjut. Sinetronnya udah main. Saya duduk sambil mengomentari acaranya, dan menunjukkan gelagat-gelagat gak betah. Emang gak betah banget. dan saya akui emang saya bawel banget saat itu, ribuuuttt banget pokoknya. Saya bahkan berkelakar, “Yaudah, kita lihat besok, siapa yang lebih duluan menguasai TV, aku, sinetron, atau PS. Hahaha.” Ada hahaha-nya loh, artinya lagi bercanda jadi sebaiknya gak dimasukkan ke hati.
Kebawelan terhadap sinetron masih berlanjut, bahkan bahkan semakin menjadi-jadi. Di tambah lagi ada satu akak pemain pendukung keributan, jadi sukses lah 2 lawan 1 pada saat itu. Sempat si Bapak bilang, “kalo gak suka ya gak usah nonton, ke kamar aja nonton laptop kek.”
Saya ngejawab, “kita nonton yang berkualitas lah pak, berita kek, biar update informasi.”
Mungkin saking jengkelnya si bapak denger saya bawel banget akhirnya dia menyerah dan melemparkan remote ke lantai, “tuh nonton. Bawel. Jadi orang koq bawel banget!”
Akhirnya senyum lebar merekah menghiasi wajah saya. Dengan penuh semangat saya memungut remotenya dan tidak lupa berterima kasih ke bapaknya. Yesss... Finally bisa nonton juga. Kebetulan pada saat itu ada penghuni mess lain yang lagi melakukan kegiatan mencukur rambut. Ya mereka ketawa-ketawa aja. Bahkan salah satu penghuni mess lewat sambil berkata, “Yaudah, besok tak belikan TV tiap kamar deh.”
Tapi kebawelan itu semuanya saya anggap lucu-lucuan aja yah. Saya bahkan gak merasa itu bawel sampai si Bapak mengatakan kalo saya itu bawel. Haha. Oh ternyata saya bawel? Yaudah gak papa deh yang penting bbukan bawal aja (bawal = sejenis ikan). Lucu kan?? Lucu kan?? Kan?? Kan??
Whatever. I just wanna sit down there dan menonton sesuatu yang berkualitas. Saya akhirnya bisa melihat Mba Najwa Shihab lagi di tivi. Saya nonton Acara 360 yang saat itu membahas tentang rare disorder di Indonesia, kunjungan presiden Mesir ke Indonesia yang bertujuan menyampaikan bagaimana Islam itu sebenarnya (yang saya setuju banget dengan salah satu quotenya yaitu bukan hak manusia untuk meng-kafirkan sesamanya dan bagaimana manusia harus saling bertoleransi), dan  berita tentang penangkapan Hiu Martil di pulau Lombok yang sebenarnya sudah dilarang penangkapannya oleh pemerintah karena alasan kepunahan namun Masyarakat masih gencar menangkapnya. So many things that I got. Yaa, walaupun ada hal yang tidak mengenakkan banget dari bapak-bapak para peng-invasi yang mengatakan, “ah lu kek ngerti aja” yang udah bolak-balik pengen main PS padahal remote masih di tangan saya. Tunggu yah sampai kopi saya habis dan acaranya selesai. Hahaha.
Intinya adalah saya hanya mau nonton, itu saja. Gak lama koq, paling sejam – 2 jam. Gak sering kok, paling sekali seminggu, ini aja karena lagi gak ada kuota jadi pengen nonton. Dibandingkan yang dulu setiap hari nonton sinetron, 7 hari dalam seminggu (tapi itu dulu yah sebelum invasi PS menyerang mess). Dibanding yang main PS berjam-jam sehari , setiap hari, 7 hari dalam seminggu.
Hampir pukul 10 saya meninggalkan lokasi kejadian karena udah puas nonton, karena kopi udah habis, dan lebih karena acara berita udah selesai. Masuk kamar. Gak lama, ternyata para peng-invasi mengambil gulungan kabel dan memesang PS. Jiahhh, lanjut ternyata. Haha. Tapi nilai plusnya mala mini adalah, mereka gak terlalu rebut, dan volume PS nya gak segede toa mesjid. Fiuhh. Syukurlah. :D
Nah, itu yang saya bilang lucu. Lucu kan? Lucu aja deh.
Udah ah, mau lanjut sama om Sher. Yeayyy besok gajian!!! (apacih)
Bubyeee!!

Dahai, 31 Maret 2016


Selasa, 22 Maret 2016

PEMALI NA TORAYA

Saya lahir di daerah di mana adat istiadat masih sangat dijunjung tinggi, Tana Toraja. Tapi saya juga lahir di mana modernisasi sudah merangkak masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Dan saya juga lahir dalam keluarga di mana pemali masih sering di kumandangkan.
Pemali.
Sebuah paham dimana ada sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena apabila hal tersebut dilanggar maka dipercaya akan membawa petaka kepada yang bersangkutan, dan ini sudah menjadi pesan turun temurun dari nenek moyang.
Sebagai anak yang sudah terpapar modernisasi, kadang saya tidak percaya dengan pemali itu, apalagi sekarang kita sudah memeluk kepercayaan, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ketidakpercayaan itu terbentur dengan orang tua yang sampai saat ini masih kadang mempercayainya.
Beberapa pemali yang pernah saya dengar dari orang Tua.
Kalo baru bangun tidur, jangan duduk di tangga, ntar bisa ditendang bombo (setan). Itu kata2 nenek dulu, tapi sekarang saya paham kenapa gak boleh. Jadi penjelasannya, saat anda baru bangun tidur (terutama org dulu yang bangunnya subuh) tingkat kesadaran kita masih belum sempurna, jangan sampai anda duduk di tangga dalam keadaan masih mengantuk, dan karena kesadaran masih berkurang anda akhirnya rebah. Jatuh ke hati aku, ehh, maksudnya jatuh terguling2 di tangga.
Gak boleh duduk di depan pintu, nanti berkat gak masuk ke rumah. Ini mah karena alasan kita nutupin jalan aja yah. Pada saat kita duduk di pintu, akses untuk lewat akan lebih kecil sehingga susah untuk melewati pintu dan kita akan menghalangi orang yang akan lewat. Jadi alasannya supaya kita tidak menghalangi akses di pintu, utamanya pintu hati adek tidak akan tertutup buat abang. 
Ayah saya juga pernah berkata, jangan meletakkan gayung di air dalam bak kamar mandi, nanti rezeki kita terombang-ambing kek gayung di air tersebut. Rezekinya gak tetap. Tapi jangan sampai jodoh juga terombang-ambing ding . Tapi saya selalu mencari alasan yang bisa di terima logika, tapi kalo soal cinta lain lagi yah, kadang-kadang tak ada logika. Jadi alasan yang bisa saya terima adalah gayung kalo keseringan terendam akan kotor dan di tumbuhi lumut, jadi bersihkannya susah. Gayung aja bisa di tumbuhi lumut kalo lama gak dibersihkan, apalagi hati. *ehh  Jadi gitu.
Namun ada satu pemali yang masih belum dapat saya pahami dan masih sering di terapkan di keluarga saya. Kedua orang tua saya sangat melarang apabila kami akan meninggalkan rumah bersamaan dengan arah yang berbeda, misalnya satu ke utara dan salah satunya ke selatan. Saya mengalaminya secara langsung. Saat itu saya sekeluarga di Makassar dalam acara wisuda adik. Setelah kegiatan berlangsung, kami berencana kembali ke daerah masing-masing, orang tua kembali ke Toraja dan saya kembali ke Kalimantan. Penerbangan saya ke Balikpapan pada saat itu pukul 13.00, dan pada hari yang sama orang tua dan keluarga yg lain juga akan kembali ke Toraja. Berhubung tiket pesawat saya sudah tidak bisa diundur dan keluarga juga sudah harus balik Toraja pada saat itu maka di aturlah jadwal keberangkatan. Tssaaahhhh.. 
Akhirnya diputuskan bahwa orang tua saya harus berangkat subuh dari Makassar agar diperhitungkan bahwa mereka tiba di rumah dulu baru saya berangkat dari Makassar. Dengan estimasi waktu 8 jam perjalanan dari Makassar - Toraja maka mereka berangkat pukul 05.00 pagi agar tiba di Toraja sebelum pukul 13.00 (waktu penerbangan saya).
Di lain waktu, saat itu saya sedang libur dan pulang ke Toraja. Karena ada kegiatan yang ingin saya ikuti di Makassar sehingga saya berencana mempercepat kepulangan sy ke Makassar. Setelah saya menjadwalkan waktu kepulangan ke Makassar,  ternyata sehari sebelumnya ayah saya akan berangkat ke Toli-Toli, dan perjalanan darat ke Toli-Toli di tempuh selama kurang lebih 2 hari. Dengan kata lain, ayah saya belum tiba di tempat tujuan sementara saya sudah akan berangkat lagi. Dan itu tidak boleh dilakukan. Sooo, saya harus menunggu beliau tiba di Toli-Toli dulu baru bisa berangkat ke Makassar.
Kadang saya merasa pemali ini terlalu merepotkan. Saya pernah sharing dengan indo' saya tentang hal ini. Saya bahkan menyampaikan bahwa, kita sekarang udah percaya pada Tuhan, hidup mati kita di tanganNya, kenapa masih percaya dengan pemali seperti itu. Beliau memberikan jawaban bahwa ada memang 'pepasan tomatua' istilahnya (pesan dari nenek moyang) yang sebisa mungkin tidak kita langgar karena biar bagaimana pun mereka pernah mengalaminya sehingga menyampaikan pesan tersebut kepada anak-anaknya. Entahlah. Dan sekarang saya juga melakukan itu, tapi alasannya lebih kepada saya gak mau orang tua kepikiran karena melanggar pemali. Itu aja, gak lebih.
Tapi satu hal yang saya pegang teguh, pemali to ke pabali-bali ki lako tomatuan ta.
Meoli ko toraya.
Balikpapan, 220316

Rabu, 16 Maret 2016

MAHAVIHARA BUDDHAMANGGALA BALIKPAPAN

Jangan berpikir kalo saya lagi jalan-jalan ke Thailand. Mohon dengan sangat jangan terlalu jauh pemikirannya . Bahkan kalo saya mau bohong pun kalo ini di Thailand gak bakalan bisa karena udah ada Ahli Analisis Informatika dari Kerajaan Sahabat (dengan hormat saya sebut inisialnya “PIA”) yang bakalan membongkar kebohongan sampai ke akar-akarnya.   Walaupun yahh salah satu harapan saya adalah jalan-jalan ke luar negeri (tolong di aminkan kalo perlu di like dan dan di share, maka berkat melimpah akan menghampiri anda. Hehe).  Masih dalam negeri koq, tapi bukan di Lombok juga, masih terlalu jauh untuk ke sana, budget liburan belum cukup. Tempat ini terdapat di sebuah kota kecil yang dijuluki sebagai ‘Kota Minyak’, Kota Balikpapan. Sebuah kota yang secara territorial tergolong kecil tapi ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa di pandang sebelah mata. Tsaahh. (Masih dalam proses pembuatan artikel yang serius).

Beberapa hari lalu, saya dan teman menemukan sebuah postingan di Instagram tentang suatu tempat wisata di Balikpapan. Mahavihara Buddhamanggala nama tempat tersebut. Menurut informasi yang kami dapatkan dari hasil browsing, tempat tersebut adalah tempat ibadah Agama Buddha.
Kami mengumpulkan seluruh informasi  mengenai tempat tersebut. Akhirnya dengan kemampuan smartphone yang ada, kami berhasil mendapatkan info mengenai lokasi, syarat masuk lokasi, akses, dan waktu berkunjung ke lokasi tersebut.


Mahavihara Buddha Manggala merupakan sebuah vihara yang berlokasi di Jl. M.T. Haryono, RT. 033, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Indonesia. Lokasi ini sebenarnya sangat berdekatan dengan lokasi tempat tinggal kami pada saat ini sehingga dari tempat tinggal ke lokasi vihara dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki, namun karena kami belum tahu lokasi pada saat itu maka kami mengendarai angkot dengan membayar 5rb rupiah/orang. Tidak ada jalur angkot ke vihara tersebut . Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan  naik motor, mobil pribadi, atau berjalan kaki. Berhubung tempatnya belum tahu, maka kami menyewa angkot khusus untuk mengantarkan ke lokasi  vihara. Padahal ternyata dekat banget kalo mau jalan kaki, hanya sekitar 100 meter dari jalan utama.
Papan Selamat Datang di Mahavihara Buddha Manggala

Sesampainya di lokasi Vihara, kami di sambut oleh penjaga Vihara yang menanyakan maksud dan tujuan kami ke Vihara tersebut. Dari si penjaga Vihara kami mendapatkan informasi mengenai peraturan-peraturan yang harus di taati selama berada dalam lokasi Vihara, salah satunya adalah berpakaian yang sopan. Salah satu rekan kami terpaksa harus kembali untuk mengganti pakaian karena menggunakan celana pendek. Selain itu, ada beberapa peraturan tertulis yang di berikan dan harus di pahami sebelum memasuki area Vihara, diantaranya :
1.    Dilarang masuk ruangan Dhammasala (Buddha tidur), kecuali ibadah.
2.    Dilarang memanjat/menaiki arca-arca/patung-patung
3.    Dilarang masuk area/halaman Kuti utama
4.    Dilarang memetik bunga/merusak tanaman
5.    Alas kaki mohon dilepas ketika berada di area Candi dan Stupa
6.    Jagalah ketertiban dan kenyamanan serta kesopanan di tempat ibadah. Terima kasih.
Si penjaga sangat menekankan pada peraturan nomor 1 dan nomor 5. Untuk peraturan nomor 1, si penjaga menekankan bahwa yang masuk hanyalah untuk orang yang akan beribadah, jika tidak melakukan peribadatan maka tidak boleh masuk (saya rasa peraturannya sangat jelas). Namun, apabila ingin melihat patung Buddha tidur atau ingin mengambil gambar, pengunjung hanya boleh sampai di pintu masuk saja, tidak boleh menginjakkan kaki di ruangan. Selain memasuki ruangan Buddha tidur, si penjaga juga menekankan pada peraturan nomor 5, melepaskan alas kaki pada area Candi dan Stupa. 
Peraturan tertulis bagi pengunjung Mahavihara Buddha Manggala

Selain mendapatkan informasi mengenai peraturan di Vihara, kami juga harus mengisi buku tamu di pos tersebut. Bapak penjaga juga menyampaikan informasi jadwal kunjungan di Vihara tersebut. Lokasi ini dibuka untuk pengunjung setiap hari Senin-Sabtu pukul 08.00-17.00, dan pada hari Minggu pukul 14.00-17.00. Kemungkinan jadwal kunjungan ini di luar hari raya keagamaannya. Oyah, untuk masuk ke lokasi ini tidak di pungut biaya sepeser pun, yang penting anda menjaga ketertiban dan kebesihan aja, dan jangan lupa menaati peraturan yang sudah diberlakukan. Setelah mengisi buku tamu, perjalanan pun di mulai.

Dari pos penerimaan tamu, stupa dengan warna emas sudah begitu menarik perhatian kami. Melewati jalanan menanjak menuju stupa, pikiran saya pada saat itu hanya satu. Di mana kami harus melepaskan alas kaki. Sesampainya di ujung tanjakan, bangunan stupa semakin jelas dengan patung yang berdiri di depannya, dan kami masih mancari papan informasi mana yang memberikan tanda untuk melepaskan alas kaki. Namun mata saya tertuju pada sebuah papan peraturan yang berada di sebuah taman. Peraturan tersebut lebih spesifik dibandingkan yang kami dapatkan di pos tadi.
Papan peraturan di Wilayah Mahavuhara Buddha Manggala

Jujur, peraturan ini tidak saya baca saat berada di lokasi karena otak saya hanya mencari tulisan “alas kaki di lepas”. Pada saat menulis postingan ini baru saya baca baik-baik peraturan ini dan ternyata peraturan ini lebih spesifik. Harusnya di baca dulu sebelum melangkahkan kaki ke tempat suci ini.
Peraturan ini berhadapan dengan stupa, sehingga setelah mencari tulisan “alas kaki di lepas” pada peraturan ini dan tidak ada, kami memutuskan untuk mendekati stupa.
Landscape Wilayah Mahavihara Buddha Manggala

Di depan stupa tersebut terdapat undakan dan kolam yang berisi bunga teratai. Area kolam sampai stupa tersebut adalah area suci sehingga di area itu alas kaki sudah harus di buka. Jangan khawatir, ada informasi untuk melepaskan alas kaki koq. Yahh, walaupun lantai nya itu panas banget, soalnya langsung kena matahari. Tapi untungnya saat kami datang ke sana, cuaca sedang tidak terlalu panas.
Tanda Larangan Menggunakan Alas kaki

Batas Alas Kaki


Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, ukiran pada kolam dan lantainya yang menurut saya unik, hanya saja saya tidak tahu apa maksud dari ukiran tersebut. Tidak ada guide yang menjelaskan tentang tempat ini.

Setelah melepaskan alas kaki, kami memasuki area stupa dan naik sampai ke depan stupa tersebut. Ukiran-ukiran dan desainnya memanjakan mata banget. Suasananya sangat berbeda, seperti berada di sisi lain Indonesia. Selama ini saya yang bergaul di daerah dengan mayoritas Kristen dan Islam, memasuki tempat ini di suguhkan dengan kenyataan bahwa Indonesia kaya dengan ragam budaya dan kepercayaan. So I proud to be a part of this country. Selayaknya para traveler, yang kemudian akan saya sebut sebagai tukang jalan, tentunya kami mencari angle yang bagus untuk mendokumentasikan perjalanan kami kali ini. Banyak spot yang dapat dijadikan pilihan sebagai latar belakang foto. Namun perlu diingat bahwa tempat ini memiliki peraturan yang harus di patuhi, salah satunya adalah dilarang memanjat stupa. Jadi pastikan saja saat anda berkunjung ke sini untuk tidak memanjat atau berdiri di atas stupa.

Setelah puas mengambil gambar di depan stupa, kami melanjutkan perjalanan ke belakang stupa. Di bagian belakang terdapat 2 buah kolam yang di pisahkan oleh jalan menuju candi. Saya pikir kolam itu tidak ada isinya, namun setelah semakin mendekat ternyata di dalam kolam tersebut terdapat kura-kura. Belasan kura-kura berenang di dalam kolam tersebut. Saya gak tahu apa makna dari kura-kura yang diletakkan di belakang stupa tersebut karena sekali lagi, gak ada guide yang memberikan informasi mengenai hal itu di tempat ini. Namun dari yang saya search, kura-kura bagi umat Buddha adalah simbol umur panjang. Kura-kura di kolam ini juga sangat ramah, malam terkesan agresif. Saat saya mendekati kolam, mereka berbondong-bondong menuju ke arah saya, dan saat tangan di turunkan dekat kolam mereka mengangkat kepala seakan ingin menerkam. Singa kali menerkam.
Kolam Kura-Kura

Kura-Kura Mendekat

Aturan tertulis diterapkan di tempat ini untuk mengingatkan para pengunjung untuk tetap menjaga kenyamanan Vihara ini. salah satunya adalah larangan untuk mencoret dinding vihara.
Informasi Larangan mencoret di Belakang Stupa

Di belakang Stupa tersebut terdapat bangunan candi yang kemungkinan juga dijadikan sebagai tempat berdoa. Di area candi ini, pengunjung diharapkan untuk tidak menginjak rumput, ada jalan khusus yang diberikan apabila ingin memasuki area candi. Selain itu larangan untuk memanjat juga di tuliskan di area tersebut.
Larangan Menginjak Rumput dan Memanjat Candi
View Candi 

Di sebelah kiri candi terdapat jalan setapak menuju bangunan yang bernama “Area Kuti” namun pengunjung dilarang memasuki area tersebut. Terlihat dari papan larangan melintas ke area tersebut.

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Samping)

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Depan)



Setelah puas dengan pesona yang diberikan oleh stupa dan candi, kami melanjutkan ke sebuah gedung di sebelah kiri stupa. Saya kurang tahu gedung itu fungsinya untuk apa, soalnya pintunya tertutup. Setelah puas dengan bentuk-bentuk candi dan stupa yang memanjakan mata, kami pun segera menuju ke tempat tujuan kami dari awal yang di simpan-simpan biar penasarannya numpuk, yaitu patung Buddha tidur. Berhubung sesuai informasi dari penjaga tadi bahwa kami tidak boleh memasuki gedung tempat Patung Buddha Tidur, maka kami pun hanya dapat melihat dan mengambil gambar patung tersebut dari luar ruangan.
Patung Buddha Tidur

Finally, keliling-keliling di Vihara udah selesai, lumayan capek lah. Apalagi jalannya bareng si Adelia yang super aktif tapi ngegemesin. Keringat yang udah di produksi udah berliter-liter, beluum lagi si kacuping minta dinyanyiin lagu twinkle-twinkle sementara dia muter-muter di atas kursi kayu. Setidaknya kami sudah melanggar salah satu peraturan tertulis yang disampaikan sebelum masuk tadi, yaitu pada point terakhir. Keributan bisa menimbulkan ketidaknyamanan kan? Iyuhuuu.. Berkat kacuping kecil Adelia yang di sepanjang tempat selalu ribut dengan panggilan andalannya “woii” atau “hei kawan” atau “guys”, membuat suasana jadi gak pernah diam, kecuali saat dia bilang “sssttt”. Dan badan gempalnya yang lari ke sana ke mari hanya untuk lihat rusa atau kura-kura dan manjat sana sini membuat perjalanan kali ini membutuhkan keringat extra. :D Maklum, anak kecil. Hanya saja belum ada teguran selama di dalam, berarti frekuensi suara si kacuping ini masih berada dalam batas normal dong yah. Jadi saya sarankan, dalam melakukan perjalanan ke tempat wisata, gak usah bawa anak kecil terutama bagi yang tidak sanggup menjinakkannya :D. Apalagi jika belum tahu peraturan di tempat tersebut. Berhubung kami masih bisa menghadapi si kacuping kecil unyu-unyu ini, jadi perjalanan masih bisa dinikmati dan aman terkendali.

That was our best picture. Maksudnya foto versi lengkap yah. Di telinga kami itu ada bunga sementara tadi ada peraturan gak boleh memetik bunga kan? Tapi tenang aja, kami bukan pengunjung yang tidak taat aturan. Bunga itu udah gugur dan berhubung kami orang yang tidak tega melihat sesuatu tergeletak terkulai lemah di tanah, akhirnya kami ambil dan manfaatkan untuk jadi property. Hehehe. Setelahnya kami balikin lagi koq bunganya, di tempat sebelumnya ia tergeletak.

Kamipun mengakhiri perjalanan kami siang itu. Harapan saya untuk tempat ini adalah, semoga ada pemandu yang bisa menjelaskan mengenai tempat ini agak para pelancong juga dapat memahami tentang Mahavihara Buddha Manggala.

Happy Holiday.

Balikpapan, 1603116

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts