Minggu, 07 Mei 2017

PEOPLE COME AND GO.....

When people go out from your life, it’s not the end of your life, it’s the end of their story on your life. (Unknown)

Tulisan ini diniatkan ketika salah seorang anak magang mengakhiri masa magangnya di tempat ku bekerja, sebut saja namanya Hanum (nama Samaran). Tolong jangan membayangkan aku bakalan buat nama samaran dengan sebutan Anggrek, Mawar, Melati, ‘semuanya indah’ yah, kesannnya kek lagi mewawancarai PSK di acara Investigasi aja, gak sekalian ngomong sambil tutup hidung trus di buram-buramkan sedikit suasananya biar lebih dapat feelnya? Haha. Back to si anak magang. Jadi si Hanum ini sudah mengakhiri masa magangnya di Adaro, - sebuah perusahaan yang disupport makanan dan housekeeping oleh perusahaan tempat ku mengabdi untuk mendapatkan segenggam duit untuk bisa makan, nongkrong, hedon, dll (rempong skali yah sepertinya penjelasan ijk? Yaa pokoknya anak maganglah, sudah, titik)- dan di akhir masa magangnya itu dia udah mau kembali ke habitatnya di Jogja sana.
Hanum ini satu dari sekian manusia yang kusebut sebagai ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’, hahaha. Teman-temannya yang lain udah selesai magang satu persatu, meninggalkan dia satu-satunya menikmati kesendirian dan kebosanan di Dahai. Hah!! Rasakan apa yang selama sekian purnama ini kurasakan anak muda, hah! HAHAHAHA... (Tolong kalian membayangkan ketawanya Belatrix Lestrange ketika selesai mengucapkan mantra Avada Kedavra untuk Sirius Black yah. Sumpah itu sedih banget dan kriwil-kriwilnya tante Bellatrix terbang-terbang manjah gitu. Ini kenapa ngomongin Harry Potter sih? LANJUT!!). Jadi gitu. Si Hanum akhirnya mengakhiri masa kesendirian dan kebosanannya di Peradaban Dahai.
Kenapa jadi pengen mengangkat tulisan ini? Sebenarnya bukan hal yang aneh ketika anak magang datang ke mess ini. Hal itu udah biasa di sini, se-biasa kamu yang selalu cuekin aku bang (ehhh, ini koq malah curhat sih). Anak magang yang pernah datang di mess ini jumlahnya sudah tidak terhitung dengan jari tangan (ciyeee, yang kalimatnya pake makna kiasan, berharap mamak ku yg guru Bahasa Indonesia melihat perkembangan anaknya ini yang sudah bisa menerapkan secuil ilmu mamaknya). Sejak mulai mengais sesendok demi sesendok berlian di tempat ini, sekitar 22 bulan lalu (hampir 2 tahun), aku sudah menyaksikan kehadiran anak magang yang datang dan pergi di tempat ini. Dari situ aku mulai senang memperhatikan karakteristik mereka masing-masing. Mulai dari yang pendiam, supel, sibuk sendiri, sok cool, banyak omong, cuek, sampai yang ‘pakarusu’ kalo kata orang Makassar (bahasa Indonesianya apa yah? Haduhh, gagal nih mamak mengajarkan bahasa Indonesia ke anaknya).
Kehadiran mereka bagi saya pribadi membawa ‘angin segar’ di tempat ini. Biasanya saat jam makan, aku masuk kantin, gak ada orang yang asik di ajak ngobrol, dan aku makan dengan rutinitas sehari-hari seperti makan sambil megang HP untuk buka Twitter mencari informasi terbaru biar gak kudet plus menemani kesendirianku makan (koq kek ngenes banget yah?). Namun dengan hadirnya si mahasiswa magang, biasanya aku ada teman duduk untuk makan. Bukannya ga ada orang lain sih, ada aja, hanya aku bosen lihat wajah-wajah mereka terus di sini. Pagi sampai malam ketemunya orang-orang itu aja, untung kalo sempat ngobrol kalo makan. Atau, kalo ngobrol, paling bahasnya masalah kerjaan, atau lagi konsultasi, atau kalo agak berat sedikit bisa membahas politik yang lagi lucu-lucunya. Kan, seru aja kalo pas masuk kantin trus ada wajah baru di peradaban yang disebut Peradaban Dahai ini (peradaban yang ditemukan oleh seorang cewek karinyol kece yang sering dipanggil Curly, hehehe.), trus bisik-bisik ke spv housekeeping, “ehh ada yang balu nih”. Bentar! Koq kesannya kek pedofil banget yah? Bukan pedofilll!!! No..no..no..
Banyak hal yang aku dapatkan dari mengenal mereka walaupun dalam waktu yang cukup singkat. Berkenalan dengan mereka dengan cara yang aneh-aneh juga membuat kehidupan hitam, putih, abu-abu di peradaban ini bisa lebih berwarna. Ada yang tiba-tiba datang menghampiri (ecieee) entah itu tiba-tiba datang nimbrung pas lagi main basket di lapangan tennis (yang dari ketemu sampai dia enyah dari Dahai aku gak pernah tahu namanya) atau yang tiba-tiba datang ketok pintu kamarku dan pas aku buka pintu dengan tampang shock karena takut mengalami penculikan anak, dia langsung ngomong. “Mba, aku mau ke gereja, katanya disuruh tanyain Mba Eka.” Fiuuuhh,, untung gak jadi diculik (tapi dipikirnya aku penjaga gereja kali yah?). Ada juga yang tiba-tiba aku hampiri (semoga dia gak berpikir akan diculik sih), kalo ini karena beberapa alasan yang kuat, kalo gak kuat mana mau aku kenalan, gengsi layauuu, hehe bercanda.
Salah satu alasan kenapa aku yang duluan memperkenalkan diri adalah karena setelah ku observasi dengan cara memperhatikan, si anak magang itu tidak punya teman makan dan setiap masuk kantin pasti sendiri, duduk sendiri, makan sendiri, minum sendiri, ngomong sendiri *ehh gila dong, gak ding. Jadi aku merasa memiliki nasib yang sama dengan dia dan sebagai orang yang bernasib sama sudah sepantasnya aku mengajaknya untuk keluar dari nasib yang tidak menyenangkan itu. Hehe. Seperti mahasiswa ITB, cewek, yang saat itu lagi makan sendiri di hari kedua lebaran. Bayangkan meenn, hari kedua lebaran itu kantin masih sepi banget, paling 1 atau 2 orang yang makan, suasana mess juga masih sangat sepi (mengalahkan kesepian hati adek di malam minggu, eeaaa). Kasihan bangeettt, di saat yang lainnya pada pulang lebaran ternyata dia harus menyelesaikan tanggung jawabnya untuk magang dan menikmati kesendirian di mess, kebetulan saat itu dia sendiri di kamar. Sebagai seorang wanita yang memiliki hati yang mudah tersentuh (gas beracun) ya aku merasa si anak magang butuh teman lah ya. Lalu datanglah ibu peri ini, hehehe. Jadi sejak saat itu kami mulai sering ngobrol saat makan (walaupun kebanyakan ga ngobrol sih karena si anak agak pendiam), kadang kupinjamkan buku bacaan ku biar dia gak kesepian amat, takutnya kalo kesepian dia berpikir macam-macam lagi. Mungkin dia berpikir lagi ada di Eropa kan, saat musim semi, trus keluar-keluar dari kamar langsung nyanyi ala Syahrini, “banyak bunga-bunga, kiss kiss.” Kan horror juga.
Alasan lain aku berkenalan duluan adalah, karena aku membutuhkan mereka dengan kata lain aku pengen memanfaatkan mereka. Hahahaha. Jahat banget sih. Maksudnya memanfatkan informasi dari mereka. Seperti pada saat aku berkenalan dengan seorang mahasiswa magang hanya karena dia berasal dari Aceh, trus langsung menawarkan diri duduk makan bareng. Waktu itu aku lagi penasaran dengan yang namanya Kopi Aceh ‘bersayur’. Jadi pembahasan awal ya tentang ‘kopi bersayur’ itu, yang ujung-ujungnya minta di kirimkan kopi dari Aceh tapi gagal diterima karena aku keburu off. Emang bukan rezeki ku sih, rezeki ku mungkin adalah bersamamu bang, *ehh.
Berasal dari satu kampung yang sama juga adalah salah satu alasan kuat kenapa aku harus menjatuhkan harga diriku untuk memulai berkenalan dengan mereka. Beberapa kali saya mendapati mahasiswa atau siswa yang berasal dari Makassar. Dari segi bahasa dan pembahasan kan pasti kita merasa ada ikatan yang lebih dekat kalau dari 1 kampung kan, dan di situ aku merasa bahwa akhirnya aku bisa berbicara bahasa ibu di tanah rantau (air mata mulai menggenang nih, aku butuh canebo bentar lagi nih). Feels like home.
Berkenalan dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang ini membawa keuntungan tersendiri bagiku, walaupun kerugiannya juga ada seperti aku jadi semakin banyak yang kenal dan bisa saja mereka adalah paparazzi yang menyamar menjadi mahasiswa untuk meliput kehidupan pribadiku (maaf, obsesi artis. Hahaha.). Keuntungan tersebut diantaranya, kalo mahasiswanya beragama Kristen dan mendapatkan ilham untuk bangun pagi dan pergi gereja pada Hari Minggu, maka aku jadi ada teman untuk ke gereja. Jadi lebih rame ke gerejanya, soalnya kadang aku sendiri kalo partner kerja lagi off. Biasanya kebanyakan temen yang Kristen itu dari Batak, walaupun pernah sekali dapat orang Cina (dapat? Lu kate lagi mancing??), dan kalo lagi beruntung punya duit lebihan, kadang kami pergi makan ke Lapo (rumah makan khas Batak) untuk makan 'ngok-ngok’, hehehe.
Keuntungan lainnya adalah aku jadi semakin dilatih untuk bersosialisasi membangun komunikasi dengan orang yang baru kenal, supaya nanti aku bisa bersosialisasi dengan baik dengan kamu yang akan menjadi pendamping hidupku kelak (Hehehe, pliss jangan muntah yah). Aku belajar bagaimana berkenalan dengan orang lain, bagaimana meninggalkan kesan baik bagi orang lain supaya orang gak melihat keJUTEKan wajahku ini tapi melihat sisi ingin berteman dari hatiku yang paling dalam sedalam sumur bor. Beberapa cara berkenalan yang kupraktekkan adalah ngajakin olahraga, soalnya aku juga sering olahraga sendiri dan kadang aku butuh teman lari, teruma berlari mengarungi kehidupan ini (pliisss stop it!). Atau kadang aku cuman ngasih info olahraga sih, kalo tiap sore ada Warukin Super Series di depan mess Warukin di mana para bapak-bapak kalo jam 5 udah stand by di lapangan badminton untuk untuk cari lawan tanding. Koq kesannya aku seperti Information Centre yang di mall-mall gitu yah? Mungkin kalo aku jalan, di jidatku yang selebar lapangan terbang ini ada tulisan Information Centre kali yah? Hehe. Kadang berhasil sih karena mereka ada yang emang suka olahraga, bagi yang ga suka olahraga yaudah gak ikutan.
Satu keuntungan terpenting yang kudapatkan adalah, setidaknya ada alasan bagiku untuk tersenyum menyapa mereka yang sedang makan di kantin setelah seharian kerjaan ku hanya marah-marah terus menegur karyawan yang selalu saja melakukan hal-hal yang tidak sesuai aturan. Aku kan gak mau juga kerutan di dahiku muncul lebih cepat karna gak pernah senyum.
Itulah beberapa hal menarik yang pernah kualami dengan beberapa anak magang yang pernah tinggal di mess ini. Sedikit mengisi kebosanan ijk juga sih di sini. Namun dari semua anak magang yang pernah mengisi hari-hari ku di sini, gak ada yang meninggalkan kesan lebih setelah mereka pulang. No farewell, walaupun dulu pernah sih ada 2 anak magang yang ngajakin Farewell bareng karyawan satu Departmennya yang notabene mereka yang traktir. Catat!! Mereka yang traktir sodara-sodara. SEKALI LAGI!! M-E-R-E-K-A. Agak-agak gak terima aja saat itu. Koq yang bayar malah anak sekolah yang belum punya penghasilan sih, harusnya kan yang bayar itutuh para pegawai tempat mereka magang yang notabene orang kerja semua. Eyuhhhh, apa-apaan (sewot sendiri, hihihi). Back to kesan berlebih. So, gak ada kesan berlebih yang datang sampai pada awal tahun ini, muncullah mereka yang kusebut “Geng Penghancur Ketenangan Kantin”.
Kenapa aku bilang mereka sebagai ‘Geng Penghancur Ketenangan Kantin’? Karena semenjak ada dirimu, dunia terasa indahnya...FOKUS!! (Sorry, sering gagal focus nih, lagi malam minggu soalnya, hehehe). Karena semenjak ada mereka, kantin yang biasanya sepi banget kek kuburan di malam Jumat jadi rame banget kek pasar malam di malam Minggu. You know what does it mean? KEHIDUPAN!!!!!!! YEAHHHH!! Yang selama ini kaku banget dan tidak ada suara selain suara sendok garpu yang berdenting tertabrak piring, plus suara TV, masih untung kalo ada yang lagi ngobrol sambil makan tapi itupun pembahasannya masalah pertambangan dan teman-teman segengnya, egileeeeeee, gimana gak horror banget tuh suasananya? Terus si Anak Geng datang membawa pasar malam itu ke kuburan ini, ehhh.
Awalnya si ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ ini ada 4 orang, cewek, dengan ke-ribut-an dan ke-cuek-an khas anak kuliahan yang mereka miliki, yang kalo dilihat sama orang berumur pasti bakalan ditabok pake kapas yang isinya batu bata karena bakalan dikatain ‘gak sopan’ udah bikin ribut di kantin yang tenang plus adem ayem itu (Kebanyakan gaul sama orang tua nih makanya jadi punya pikiran kek gitu. Apasih gini gitu?). Ya gimana enggak ribut, mereka ada berempat. Ngomong berdua aja untuk level mahasiswa, cewek pula, udah minimal 80 desibel, apalagi 4 orang bo’, pasar ikan kalah deh. Hehehe. Di tegur juga jawabnya, “bodo amat deh,”. Uisshhh, gue suka gaya lu men, belum pernah di tabok sendal jepit dari logam mulia yah?
Beberapa kali aku makan bareng dengan mereka. Makan plus membicarakan berbagai hal yang bisa di bicarakan pada saat itu mulai dari hal yang gak penting sampai yang GAK penting banget. Daannn, as always, selalu rusuh, apalagi kalo di kantin Dahai yang mana kalo sendok ketemu piring aja bisa kedengaran sampe parkiran saking tenangnya suasana kantin itu. Mereka ngomong mungkin kedengaran sampai Bandara Banjarbaru kali yah (soalnya ada orang Dahai yang telponan sama orang di bandara dan kebetulan mereka lagi TOA maksimal jadi kedengaran deh sampai ke sana, hehe).
Tapi ini yang aku suka dengan mereka. Hal ini membuat ku merasa kembali ke masa-masa aku masih berstatus seperti mereka, dan entah mengapa hal itu membawa warna tersendiri di tempat ini. Owww, cini cini peyuk duyu *plakkkk.  Karakteristik khas mahasiswa yang melekat pada mereka membuat akuhh jadi flashback ke masa-masa kuliah dulu. Keliaran-keliaran masa-masa kuliah kek ngomong keras-keras tanpa peduli tempat, kalo ditegur jawabannya ‘bodo amat’, yang ketawanya menyaingi gempa akibat peledakan tambang (istilahnya blasting), ngobrol berlama-lama di kantin dari mulai jam buka sampai kantin dibersihkan (untung gak sampai diusir) tapi ya cuek aja. Dan itu adalah GUE BANGET pas kuliah, umm, sampai sekarang juga sih kalo lagi off dan kumpul bareng teman-teman, hehe. That’s why I said jiwa mereka seperti ada dalam jiwa ku, jadi ketika mereka pergi separuh jiwa ku juga pergi (pergi ke hati abang maksudnya, eeaaa). Mungkin hal ini yang membuat ku merasa lebih dekat dengan mereka. Karena mereka melakukan hal-hal antimainstream yang pernah kulakukan dulu, dan mereka sama-sama perempuan yang pembahasannya agak-agak nyambung.
Mengakhiri masa magang mereka di tempat ini pun tergolong antimainstream karena mereka membuat yang namanya FAREWELL alias perpisahan. Jangan membayangkan perpisahan dengan makan-makan atau pesta gitu yah. Enggak! Farewell pertama dicetuskan oleh ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ gelombang 1 yaitu dengan foto-foto di kantin setelah makan malam dan mereka mengajak semua yang ada di dalam kantin itu untuk foto bareng. Yah, that’s it! Imagine that. Ala-ala banget kan? Maklum, mahasiswa, modal duit masih kurang, hahaha. Tapi walaupun hanya sesederhana itu, ada nilai yang dihasilkan dari hal tersebut. Sejak itu, setiap farewell dengan anak magang dilakukan dengan foto-foto atau saling mengunjungi kamar masing-masing. Kalo gak mereka ke kamar aku untuk ‘minta ole-ole’, aku yang berkunjung ke kamar mereka untuk ngobrol bentar trus say goodbye.
Satu hal yang juga selalu kulihat dalam setiap perpisahan adalah, bagaimana yang menyelesaikan tugasnya merasa bahagia akan kembali kepada keluarga atau kehidupannya sebelumnya, dan bagaimana yang ditinggalkan akan merasa sedih entah karena udah ga ada teman atau masih belum waktunya bertemu keluarga dan teman. But we have to moving forwards kan?
Seperti itu kisah segelintir ‘Anak Magang Geng Penghancur Ketenangan Kantin’ yang meninggalkan kesan bagi aku pribadi. Btw, siapakah mereka si pembuat rusuh aintimainstream itu? Dengan gak hormat, ku sebutkan inisial mereka yaitu Mirah & Riska Si Antek UH, Bella Si Antek Unpad, Restu Si Antek Luar Negeri China, Marlina Si Antek Palangkaraya, Hanum Si Calon HSE ITS, Mba Yuni Calon Master Teknik ITB, dan terakhir yang masih ada sampai saat ini Kori Si Antek . Itu dia DPO nya, jangan lupa kalo dosennya baca tulisan ini mohon langsung di luluskan dan diberikan nilai terbaik. AMIIIIINNNNNN.

Gbr 1. Farewell Mirah & Riska: "Ayo semua kita foto bareng yuk!" 
Gbr 2. Farewell Mirah & Riska: Mahasiswa in One Frame

Gbr 3. Farewell Restu & Marlina: Makes me forever young dengan selfi rusuh di kantin

Gbr 4. Farewell Bella: Ke Kamar Ambil Ole-ole Toraja Plus Pamitan
Gbr 5. Hanum: Gak ada foto pas farewell saking serunya ngobrol di kamarnya

Gbr 6. Farewell Mba Yuni: at Adaro Office KM 73 Tutupan

Gbr 7. Pra Farewell Curly: After have a conversation with Kori

Salah satu hal menyenangkan dalam hidup adalah dapat bertemu atau berkenalan dengan orang-orang baru dan kamu bisa membantunya dalam hal apapun semampumu. Hal yang paling kusuka adalah saat bisa membantu mereka keluar dari kebosanan mereka di Peradaban Dahai ini, entah itu ngajakin nongkrong kalo lagi ada rezeki, meminjamkan buku bacaan, atau sekadar saling berkunjung ke kamar untuk ngobrol ngalor ngidul. Hal seperti itu mungkin kelihatan simple, tapi akan meninggalkan kesan. So let's try to be light to other people.
Terima kasih sudah menjadi salah satu bagian yang mengubah warna hitam-putih-abu dalam kehidupan pekerjaanku selama ini dengan warna mejikuhibiniu kalian masing-masing. Kalian luar biasa! Sukses Selalu.

Berkawanlah sebanyak-banyaknya, tapi tidak sebebas-bebasnya.





Jumat, 05 Mei 2017

Keringat Mengundang

Kau tahu..
Kadang aku suka berolahraga lari
Olahraga lari membuat ku berkeringat
Berkeringat dari ujung kepala itu loh, lalu turun ke wajah ku
Keringat yang dapat menutupi air mata yg mengucur pada waktu yang sama.

Yah, aku suka berkeringat.

Dahai, 050517

Sabtu, 22 April 2017

Tanjung - Balikpapan & Ada-Ada Ajanya

Tanjung - Balikpapan lagi.
Perjalanan yang sebisa mungkin ku hindari karna terlalu banyak kisah my trip my adventure di sini.
Kali ini naik bus yg full AC dengan pertimbangan bisa tiba pagi di Bpp, trus bisa istirahat dulu, sebelum cusss nonton Stand Up nya koko.
What's special from that trip?
Seperti biasa. Pesan tiket, dapat kursi nomer 7. Lumayaaann, di depan. Naik mobil dengan pertanyaan di kepala, "dengan siapa eike duduk kali ini?"
Taraaa, ternyata udah ada 2 orang yang duduk di kursi 7&8, seorang anak kecil kira2 berumur 4 tahun, trus ibuknya (sepertinya). Okay fine, kita duduk bertiga. Bayar 5ribu, duduknya 2rb yah. Fine.
Okay fineeeee, kalo ibuk2nya ada usaha untuk merasa gak enak karna anaknya udah mengambil 1/2 tempat duduk akuhhh. Ini enggak, eyuhhh. Malah dengan santainya tidur trus anaknya juga tidur. Trus aku jadi security gitu?? Bhayyy. Yasudah. Aku berusaha tidur aja dengan segala keterbatasan kursi yang ada. Mana jalanan gak bagus lagi, jadi sering jatuh2 duduknya. Pengen ta geser, gak tega juga sama anak2. Haduhhhh, aku langsung mikir, yaolohhhh, koq perjalanan Tanjung-Bpp gini amat yahh??? Hikssss. Gak mau pulang sendiri nantiiiiii, pikir ku.
Busnya berhenti di tempat makan, dan si ibuk anak mau turun. KESEMPATAN! Bisa tidur tenang beberapa menit lah, setelah sepanjang perjalanan terombang ambing di dalam bus, saking goncangannya gede banget sampai barang2 di bagasi atas berjatuhan. Mungkin gini yah rasanya ketika dinosaurus mengalami hujan meteor?
Sebelum turun, ibuk2 nya melakukan sesuatu. Guess what!!!! Omaigat,, dia gincuan dulu boo. Ulala. Udah malam ini, turun makan pula, di mana orang turun dari bus juga setengah sadar. Abismakan juga gincu udah ilang lagi. But, I dont care deh, yang penting bisa duduk dengan tenang, dan tidur dengan nyaman, tanpa sempit2an yang ga jelas. Selama bus istirahat, akhirnya bisa tidur. Lumayaannn. Sampai si ibuk datang dan ngomong permisi untuk duduk.
Tapiii, satu hal yang menampar ku setelah suuzon selama beberapa jam sama si ibuk ini. Dia nawarin aku duduk di dalam, katanya daripada terganggu akunya karena mereka akan sering2 keluar pipis katanya. Otokkeeee!!!  Aku jadi ENAK. Hehehe. Maap yah. Terlepas dari aku suuzon, aku emang gak bisa diginiin. Maksudnya, duduk dengan kondisi kek gitu. Hiksss, bisa rontok badan akuhhh. Makanya tawarannya ku terima dong. Lagian juga, anak segede itu di bawa kenapa ga pesan 2 kursi aja sih. Atau ngomong gitu, soalnya sebelumnya pernah sekali duduk bertiga, tapi karena ibuknya ngomong jadi anaknya ta cariin posisi yg bagus untuk tidur. Ini?? Ahhsudahlahhh.
Tidur ga tidur sih sepanjang perjalanan. Secara, kondisi jalan yang kurang musik dan lampu disco udah bisa bikin bus jadi diskotik berjalan. Selain itu, ada ibuk2 di samping kurai kami yabg anaknya lagi sibuk main games dengan volume yang  maksimal. Jadi bikin berisik maksimal sampe anak di sampingku jadi mupeng. Ppfftthhh. Ada2 aja sih bus ini.
Mana agak2 parno lagi karna sebelumnya di ceritain sama mas2 medik kalo driver bus itu kejar setoran makanya jalannya 'fast to furious' gitu, dan kemungkinan besar bisa fatigue karna ga ada istirahatnya. Yampyuuunnnn, mulai deh mikirin bus Mks-Trj. Aku rinduuuuuu . Tapi yasudahlah. At least bantal leher bisa membantu untuk tidur lebih manusiawi.
Semua berjalan normal sampai tiba di Balikpapan, soalnya aku Babi banget, kepala kena bantal dan kursi bus aja udah tepar, tumben. Haha.
Turun dari bus kegalauan terjadi, walaupun hanya sedetik. Jiahhh. Galau mau naik ojek apa angkot. Bukan masakah duitnya sih. Aku lagi rindu aja naik angkot tapi masih gelap banget, sekita jam 5, kalo mau jalan lewat gang agak2 gimanaa gitu. Tapi kegalauan hilang dan menetapkan hati untuk naik angkot aja dengan menunggu sampai jam 6 di terminal.
Si bapak ojek yang tanpa menyerah menawarkan jasanya mulai dari 20rb menjadi 15rb setelah ku tawar jadi 10rb (padahal emang ga mau naik angkot, hehehe. Maap jahat). Di ekorin terus sampai kata 10ribu keluar dari mulutnya, tapi sorry pak. Saya tidak akan goyah. I miss angkot in the morning soalnya. Pikir ku, kapan lagi nik angkot kalo bukan sekarang. Yakab..yakan.. Akhirnya naik angkot dan jalan ke rumah. Hoo I miss this moment.
Welcome me to Bpp Lytozz. Selamat flashback dan menikmati hari2 di sini.
So whats our plan??
Rapak, 220417

Jumat, 21 April 2017

Ada Kartini di Sini

"Anak kecil itu sudah jadi gadis sekarang," kata seorang ibu-ibu
Gadis, sebutan yang sangat manis menurut ku.
Anak gadis itu sudah berapa tahun meninggalkan kenyamanan rumah orang tuanya?
Meninggalkan rumah 4 tahun untuk kuliah di ibukota provinsi.
Sekarang, sudah hampir 2 tahun menghabiskan hari-harinya di pulau seberang.

Menghadapi kerasnya dunia kerja adalah hal baru baginya kala itu.
Tidak ada duduk sore bersama orang tua tempat ia berbagi kisah dan berbagi lelah.
Tidak ada sahabat yang akan langsung memeluknya ketika ia sedih
Saudara pun sudah jauh di sana untuk sekedar nyanyi bareng.
Belum lagi tanggung jawab 'anak sulung' ada di pundaknya, pikirnya tanggung jawab itu besar.
Tapi dia tahu ada Big Boss yang selalu melihatnya kemanapun ia melangkahkan kakinya.

Dia belajar banyak hal.
Bahwa dunia itu luas, terlalu banyak perbedaan, yang sekarang di sebut sebagai keberagaman, di dalamnya.
Dan baginya keberagaman itu indah.

Dia belajar untuk lebih dewasa menghadapi setiap persoalan, karena semakin jauh dari rumah rasanya menjadi beban tersendiri baginya.
Dia belajar melindungi dirinya sebagai seorang perempuan di tempat yang kadang dia sebut sebagai "sarang penyamun". Perempuan harus setrong, katanya.
Dia berusaha berteman dengan siapapun di tempat baru yang dia tuju.
"Bertemanlah sebanyak-banyaknya, tapi jangan sebebas-bebasnya," katanya kala itu.
Dia berusaha ceria bahkan di tengah kondisi tertekan sekalipun, karena baginya kesedihan itu bukan untuk dibagi dan ia tahu dia tidak berjalan sendiri.
Dia memiliki Big Boss yang luar biasa, keluarga yang luar biasa, sahabat yang liar dan juga luar biasa. Iyah, mereka saling menguatkan dalam perjuangan masing-masing.

Bohong jika dalam perjuangan ini tidak ada air mata, marah, kecewa yang dialaminya.
Tapi anggap saja itu sebagai kerikil kecil walaupun kadang2 ada yang besar juga, yang harus dilewati. Iyah, akan terlewati koq.

Ahh, anak gadis itu.
Akan sejauh mana ia melangkah?
Apa saja impiannya?

Pagi ini, seperti biasa dia dibangunkan tepat pukul 6 oleh wanita setrong inspirasinya sepanjang masa, ibuk.

"Woi, selamat pagi ibu kita Kartini," si gadis membuka pembicaraan di telpon.
"Halooo, selamat pagi juga Kartini," di balas dengan suara teduh si ibuk.

Dahai, 210417

Kamis, 20 April 2017

(berusaha) Melek Politik Berkat Jakarta

Hari ini pilkada Jakarta berlangsung.
Sudah lama memang aku mengikuti 'sinetron' pilkada ini.
Dari awal pemilihan calon, sampai detik ini aku mulai menaruh perhatian pada politik.
Debat demi debat kuikuti.
Timses demi Timses ku follow di sosmed
Walaupun sebenarnya hati ini memihak, padahal hak memilih di Jakarta gak ada.
Haha, lucu yah.
Tapi inilah salah satu hal yang ku apresiasi dari pilkada kali ini.
Utamanya bagi pemeran utama dalam sinetron kali ini, AHOK.
Sosok Ahok yang mengajarkan tegas,
Sosok Ahok yang mengajarkan untuk lebih berprinsip
Sosok Ahok yang mengajarkan bahwa memimpin itu bukan hanya modal berani, tapi juga harus cerdas
Sosok Ahok yang mengajarkan untuk mengatakan ya di atas ya, dan tidak di atas tidak, apapun tekananannya.
Dan sosok Ahok juga yang mengajarkan bahwa sebagai pemimpin, kesalahan kecil pun akan menjadi besar, so be carefull. (contohnya, berhati-hatilah dengan mulutmu).

Mungkin pola berpikirku masih picik yah.
Tapi berkat Ahok, aku termotivasi bahwa kaum minoritas juga masih punya tempat di negeri ini. Ku katakan ini karena aku merasa sebagai kaum minoritas beberapa tahun belakangan ini.

Berkat Ahok, aku jadi sadar bahwa melek politik itu perlu, di tambah buku-buku dari Bang Pandji Pragiwaksono yang ku baca saat ini. Anak muda harus peduli pada politik. Dan berkat sinetron "Memilih Jawara Jakarta" beberapa bulan ini membuat ku tertarik untuk mengikutinya.

Terima kasih Pak Ahok.
Sedikit waktu tapi dikenang dengan kinerja mu.
Semoga aku bisa mengambil hal yang baik dari kisah yngg kau torehkan ini, dan menjadikan hal buruknya sebagai pelajaran bagiku.

Selamat berpesta.
Inilah demokrasi Indonesia.

Dahai, 190417

Senin, 03 April 2017

Pantaskah Anda Berpredikat Atasan?

Atasan yang baik adalah dia yang memikirkan kebaikan bawahannya kelak.  Menegur ketika salah. Memuji ketika berprestasi. Mengayomi. Menjadi teladan.

Bertindak ketika bawahan salah itu adalah salah satu bentuk kepedulian atasan. Apa yang membuat mereka salah, adakah yang belum disampaikan? Adakah yang kurang diperhatikan? Ataukah mungkin mereka lalai?

Adalah tugas atasan untuk menyampaikan, memperhatikan, mengingatkan ketika lalai.
Ketika atasan tidak bertindak, artinya ada ketidakpedulian di dalamnya kan?

Ketika anda menyandang predikat sebagai seorang atasan, artinya banyak hal yang harus anda perhatikan, bukan hanya focus kepada satu hal saja.

Kalo boleh ngomong kasar, itulah gunanya gaji anda lebih banyak dari bawahan anda. Karena tanggung jawab dan ruang lingkup anda besar.  Semoga kita tidak menjadi atasan yang makan gaji buta karena tidak mempedulikan bawahan.

Seberat itu kan tanggung jawab seorang atasan? Iyah, dan itu adalah resiko yang harus didapatkan atas gaji yang lebih dari bawahan.

Ketika anda membiarkan bawahan anda tetap berada dalam lingkaran kesalahan, artinya anda tidak peduli dengan orang-orang yang sudah menjadi tanggung jawab anda.


Masih layakkah anda disebut atasan? Masih layakkah mendapat gaji lebih?

Sabtu, 18 Maret 2017

Gadis Egois yang Menangis dalam Diam

Gadis itu hanya bisa duduk di depan laptop di dalam ruang kerjanya.
Berpikir.
Entah bagaimana perasaannya saat itu.
Tertawa susah, menangis pun enggan.
Ia hanya merasa bahwa seakan hari ini dunia tidak ingin mendengarkannya. Dia hanya ingin bercerita, bahasa kekiniannya curhat, bukan untuk balik di jadikan tempat curhat. Dia hanya ingin bercerita mengenai hal memalukan yang dialaminya, bukannya malah melawak yang dianggap sebagai sebuah lelucon yang ditertawai karena di anggap lucu.  
Bukan!
Ataukah si gadis terlalu egois saat berpikir bahwa saat ini dia hanya butuh didengarkan, untuk sementara tidak ingin mendengarkan. Si gadis sedang bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini. Okay, sebenarnya dia tahu bahwa dia hanya perlu cuek dengan pikiran orang lain namun dia hanya butuh di berikan kata-kata penguatan saat itu. Cukup saat itu saja.
Hari ini di dikejutkan dengan berita bahwa ‘kotoran’ yang bukan dari dirinya ditemukan berada di dalam messnya, yang mana jika diperhatikan sepintas, seisi mess akan berpikir bahwa ‘kotoran’ itu berasal dari dirinya. Padahal ada anak gadis lain tadi pagi yang sekamar dengannya dan tidak sengaja meninggalkan ‘kotoran’ itu di tempat yang tidak semestinya. ‘Kotoran’ itu tidak di bersihkan oleh si pembersih ruangan. Siapa juga yang mau membersihkan ‘barang’ yang bagi sebagian orang itu menjijikkan. Si gadis juga enggan untuk menyentuhnya. Terlalu menjijikkan, pikirnya. 
Namun si gadis berpikir lagi, jika bukan dia yang membersihkan, barang ‘kotor’ itu akan terus berada di situ sampai sang empunya kembali, mungkin sekitar 2 minggu lagi. selama itu pula ‘kotoran’ itu akan terekspose oleh para lelaki di mess itu. Terlalu memalukan. Mengumpulkan seluruh niat, akhirnya si gadis mengambil kotoran itu dan membuangnya, walaupun saat itu dia merasa sangat jijik. 
Si gadis sangat malu pada saat itu, walaupun memang bukan dia pelakunya, namun dia berpikir bahwa orang-orang yang melihat hal itu akan langsung menjadikan si gadis sebagai ‘tersangka utama’, karena tidak ada gadis lain di tempat itu. Mau dijelaskan ke semua pihak juga, si gadis merasa tidak enak, kesannya menyebar aib orang ke muka umum.
Si gadis merasa marah pada gadis ‘tersangka’ pembuangan kotoran itu, tapi apa daya dia sudah pulang dan mungkin malah sudah menyebrangi pulau tempatnya berpijak. Si gadis ingin menceritakan kekesalan dan perasaan malunya pada sahabatnya yang dia tahu akan mendengarnya, namun ternyata si sahabat sedang sibuk kerja, yang satunya gak aktif handphonennya. Si gadis  tidak kehilangan jalan, dia mencari nomer telpon ibunya. Sialnya, si ibu sedang bekerja dan tidak dapat berbicara lama untuk sementara waktu. Perasaan si gadis bercampur aduk. Dia hanya ingin bercerita, apakah itu salah? Atau memang waktu baginya yang tidak tepat? Akhirnya dia memilih untuk tidur, berharap perasaannya kembali normal saat bangun.
Kenyataannya, si gadis dibangunkan oleh sang ibu, dan dia menceritakan keadaannya. Si ibu mendengarkan, memberikan sedikit petuah yang bagi si gadis belum cukup, lantas si ibu melanjutkan dengan curhat pada si gadis. Egoisme si gadis timbul, dia hanya ingin di dengarkan. Akhirnya dia tidak banyak berkomentar sampai pembicaraan dengan si ibu diakhiri. Seakan masih belum puas dengan tidak di dengarkan, curhatannya yang dia sampaikan di grup sahabatnya ternyata di balas namun tidak sesuai dengan harapannya. Di awali dengan ‘hahaha’ kemudia ada kata ‘lucu’ kemudian kata ‘manusiawi’. Well, cukup! Si gadis marah. Entah kepada siapa.
Si gadis bertanya dalam hati, “apakah salah jika aku memikirkan hal yang bagi orang lain simple tapi ternyata bagiku ini adalah hal yang terlalu menguasai pikiran ku?”
“Apakah aku salah jika ingin curhat kepada teman-teman ku tentang hal ini namun kenyataannya salah satu dari mereka hanya tertawa dan menganggap hal ini lucu, sisanya hanya membaca tanpa memberikan komentar?”
“Apakah aku tidak punya hak untuk menceritakan keluh kesahku sehingga setiap kali aku mengeluh rasanya hanya dianggap hal sepeleh sehingga tidak jarang hanya menjadi angin lalu saja?”
Si gadis terlalu banyak pertanyaan. Salah satunya di jawab pun belum tentu. 
Si gadis hanya ingin didengarkan. Mungkin bagi sahabatnya, masalah ini adalah masalah yang sangat sepeleh, tapi bagi si gadis tidak sesepele itu. Ini terlalu memalukan baginya. Namun si gadis berusaha menyadarkan dirinya bahwa hal ini tidak perlu menjadi besar karena di luar sana banyak masalah yang lebih besar yang perlu dijadikan perhatian.
Si gadis berusaha menerima, namun ada sebagian hati kecilnya berkata “Aku sedih disepelehkan seperti ini. Masih berhak kah aku mengungkapkan perasaan ku?”
Dan si gadis menangis dalam diam di ruangan kerjanya pada sore yang mendung itu.

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts