Sabtu, 22 April 2017

Tanjung - Balikpapan & Ada-Ada Ajanya

Tanjung - Balikpapan lagi.
Perjalanan yang sebisa mungkin ku hindari karna terlalu banyak kisah my trip my adventure di sini.
Kali ini naik bus yg full AC dengan pertimbangan bisa tiba pagi di Bpp, trus bisa istirahat dulu, sebelum cusss nonton Stand Up nya koko.
What's special from that trip?
Seperti biasa. Pesan tiket, dapat kursi nomer 7. Lumayaaann, di depan. Naik mobil dengan pertanyaan di kepala, "dengan siapa eike duduk kali ini?"
Taraaa, ternyata udah ada 2 orang yang duduk di kursi 7&8, seorang anak kecil kira2 berumur 4 tahun, trus ibuknya (sepertinya). Okay fine, kita duduk bertiga. Bayar 5ribu, duduknya 2rb yah. Fine.
Okay fineeeee, kalo ibuk2nya ada usaha untuk merasa gak enak karna anaknya udah mengambil 1/2 tempat duduk akuhhh. Ini enggak, eyuhhh. Malah dengan santainya tidur trus anaknya juga tidur. Trus aku jadi security gitu?? Bhayyy. Yasudah. Aku berusaha tidur aja dengan segala keterbatasan kursi yang ada. Mana jalanan gak bagus lagi, jadi sering jatuh2 duduknya. Pengen ta geser, gak tega juga sama anak2. Haduhhhh, aku langsung mikir, yaolohhhh, koq perjalanan Tanjung-Bpp gini amat yahh??? Hikssss. Gak mau pulang sendiri nantiiiiii, pikir ku.
Busnya berhenti di tempat makan, dan si ibuk anak mau turun. KESEMPATAN! Bisa tidur tenang beberapa menit lah, setelah sepanjang perjalanan terombang ambing di dalam bus, saking goncangannya gede banget sampai barang2 di bagasi atas berjatuhan. Mungkin gini yah rasanya ketika dinosaurus mengalami hujan meteor?
Sebelum turun, ibuk2 nya melakukan sesuatu. Guess what!!!! Omaigat,, dia gincuan dulu boo. Ulala. Udah malam ini, turun makan pula, di mana orang turun dari bus juga setengah sadar. Abismakan juga gincu udah ilang lagi. But, I dont care deh, yang penting bisa duduk dengan tenang, dan tidur dengan nyaman, tanpa sempit2an yang ga jelas. Selama bus istirahat, akhirnya bisa tidur. Lumayaannn. Sampai si ibuk datang dan ngomong permisi untuk duduk.
Tapiii, satu hal yang menampar ku setelah suuzon selama beberapa jam sama si ibuk ini. Dia nawarin aku duduk di dalam, katanya daripada terganggu akunya karena mereka akan sering2 keluar pipis katanya. Otokkeeee!!!  Aku jadi ENAK. Hehehe. Maap yah. Terlepas dari aku suuzon, aku emang gak bisa diginiin. Maksudnya, duduk dengan kondisi kek gitu. Hiksss, bisa rontok badan akuhhh. Makanya tawarannya ku terima dong. Lagian juga, anak segede itu di bawa kenapa ga pesan 2 kursi aja sih. Atau ngomong gitu, soalnya sebelumnya pernah sekali duduk bertiga, tapi karena ibuknya ngomong jadi anaknya ta cariin posisi yg bagus untuk tidur. Ini?? Ahhsudahlahhh.
Tidur ga tidur sih sepanjang perjalanan. Secara, kondisi jalan yang kurang musik dan lampu disco udah bisa bikin bus jadi diskotik berjalan. Selain itu, ada ibuk2 di samping kurai kami yabg anaknya lagi sibuk main games dengan volume yang  maksimal. Jadi bikin berisik maksimal sampe anak di sampingku jadi mupeng. Ppfftthhh. Ada2 aja sih bus ini.
Mana agak2 parno lagi karna sebelumnya di ceritain sama mas2 medik kalo driver bus itu kejar setoran makanya jalannya 'fast to furious' gitu, dan kemungkinan besar bisa fatigue karna ga ada istirahatnya. Yampyuuunnnn, mulai deh mikirin bus Mks-Trj. Aku rinduuuuuu . Tapi yasudahlah. At least bantal leher bisa membantu untuk tidur lebih manusiawi.
Semua berjalan normal sampai tiba di Balikpapan, soalnya aku Babi banget, kepala kena bantal dan kursi bus aja udah tepar, tumben. Haha.
Turun dari bus kegalauan terjadi, walaupun hanya sedetik. Jiahhh. Galau mau naik ojek apa angkot. Bukan masakah duitnya sih. Aku lagi rindu aja naik angkot tapi masih gelap banget, sekita jam 5, kalo mau jalan lewat gang agak2 gimanaa gitu. Tapi kegalauan hilang dan menetapkan hati untuk naik angkot aja dengan menunggu sampai jam 6 di terminal.
Si bapak ojek yang tanpa menyerah menawarkan jasanya mulai dari 20rb menjadi 15rb setelah ku tawar jadi 10rb (padahal emang ga mau naik angkot, hehehe. Maap jahat). Di ekorin terus sampai kata 10ribu keluar dari mulutnya, tapi sorry pak. Saya tidak akan goyah. I miss angkot in the morning soalnya. Pikir ku, kapan lagi nik angkot kalo bukan sekarang. Yakab..yakan.. Akhirnya naik angkot dan jalan ke rumah. Hoo I miss this moment.
Welcome me to Bpp Lytozz. Selamat flashback dan menikmati hari2 di sini.
So whats our plan??
Rapak, 220417

Jumat, 21 April 2017

Ada Kartini di Sini

"Anak kecil itu sudah jadi gadis sekarang," kata seorang ibu-ibu
Gadis, sebutan yang sangat manis menurut ku.
Anak gadis itu sudah berapa tahun meninggalkan kenyamanan rumah orang tuanya?
Meninggalkan rumah 4 tahun untuk kuliah di ibukota provinsi.
Sekarang, sudah hampir 2 tahun menghabiskan hari-harinya di pulau seberang.

Menghadapi kerasnya dunia kerja adalah hal baru baginya kala itu.
Tidak ada duduk sore bersama orang tua tempat ia berbagi kisah dan berbagi lelah.
Tidak ada sahabat yang akan langsung memeluknya ketika ia sedih
Saudara pun sudah jauh di sana untuk sekedar nyanyi bareng.
Belum lagi tanggung jawab 'anak sulung' ada di pundaknya, pikirnya tanggung jawab itu besar.
Tapi dia tahu ada Big Boss yang selalu melihatnya kemanapun ia melangkahkan kakinya.

Dia belajar banyak hal.
Bahwa dunia itu luas, terlalu banyak perbedaan, yang sekarang di sebut sebagai keberagaman, di dalamnya.
Dan baginya keberagaman itu indah.

Dia belajar untuk lebih dewasa menghadapi setiap persoalan, karena semakin jauh dari rumah rasanya menjadi beban tersendiri baginya.
Dia belajar melindungi dirinya sebagai seorang perempuan di tempat yang kadang dia sebut sebagai "sarang penyamun". Perempuan harus setrong, katanya.
Dia berusaha berteman dengan siapapun di tempat baru yang dia tuju.
"Bertemanlah sebanyak-banyaknya, tapi jangan sebebas-bebasnya," katanya kala itu.
Dia berusaha ceria bahkan di tengah kondisi tertekan sekalipun, karena baginya kesedihan itu bukan untuk dibagi dan ia tahu dia tidak berjalan sendiri.
Dia memiliki Big Boss yang luar biasa, keluarga yang luar biasa, sahabat yang liar dan juga luar biasa. Iyah, mereka saling menguatkan dalam perjuangan masing-masing.

Bohong jika dalam perjuangan ini tidak ada air mata, marah, kecewa yang dialaminya.
Tapi anggap saja itu sebagai kerikil kecil walaupun kadang2 ada yang besar juga, yang harus dilewati. Iyah, akan terlewati koq.

Ahh, anak gadis itu.
Akan sejauh mana ia melangkah?
Apa saja impiannya?

Pagi ini, seperti biasa dia dibangunkan tepat pukul 6 oleh wanita setrong inspirasinya sepanjang masa, ibuk.

"Woi, selamat pagi ibu kita Kartini," si gadis membuka pembicaraan di telpon.
"Halooo, selamat pagi juga Kartini," di balas dengan suara teduh si ibuk.

Dahai, 210417

Kamis, 20 April 2017

(berusaha) Melek Politik Berkat Jakarta

Hari ini pilkada Jakarta berlangsung.
Sudah lama memang aku mengikuti 'sinetron' pilkada ini.
Dari awal pemilihan calon, sampai detik ini aku mulai menaruh perhatian pada politik.
Debat demi debat kuikuti.
Timses demi Timses ku follow di sosmed
Walaupun sebenarnya hati ini memihak, padahal hak memilih di Jakarta gak ada.
Haha, lucu yah.
Tapi inilah salah satu hal yang ku apresiasi dari pilkada kali ini.
Utamanya bagi pemeran utama dalam sinetron kali ini, AHOK.
Sosok Ahok yang mengajarkan tegas,
Sosok Ahok yang mengajarkan untuk lebih berprinsip
Sosok Ahok yang mengajarkan bahwa memimpin itu bukan hanya modal berani, tapi juga harus cerdas
Sosok Ahok yang mengajarkan untuk mengatakan ya di atas ya, dan tidak di atas tidak, apapun tekananannya.
Dan sosok Ahok juga yang mengajarkan bahwa sebagai pemimpin, kesalahan kecil pun akan menjadi besar, so be carefull. (contohnya, berhati-hatilah dengan mulutmu).

Mungkin pola berpikirku masih picik yah.
Tapi berkat Ahok, aku termotivasi bahwa kaum minoritas juga masih punya tempat di negeri ini. Ku katakan ini karena aku merasa sebagai kaum minoritas beberapa tahun belakangan ini.

Berkat Ahok, aku jadi sadar bahwa melek politik itu perlu, di tambah buku-buku dari Bang Pandji Pragiwaksono yang ku baca saat ini. Anak muda harus peduli pada politik. Dan berkat sinetron "Memilih Jawara Jakarta" beberapa bulan ini membuat ku tertarik untuk mengikutinya.

Terima kasih Pak Ahok.
Sedikit waktu tapi dikenang dengan kinerja mu.
Semoga aku bisa mengambil hal yang baik dari kisah yngg kau torehkan ini, dan menjadikan hal buruknya sebagai pelajaran bagiku.

Selamat berpesta.
Inilah demokrasi Indonesia.

Dahai, 190417

Senin, 03 April 2017

Pantaskah Anda Berpredikat Atasan?

Atasan yang baik adalah dia yang memikirkan kebaikan bawahannya kelak.  Menegur ketika salah. Memuji ketika berprestasi. Mengayomi. Menjadi teladan.

Bertindak ketika bawahan salah itu adalah salah satu bentuk kepedulian atasan. Apa yang membuat mereka salah, adakah yang belum disampaikan? Adakah yang kurang diperhatikan? Ataukah mungkin mereka lalai?

Adalah tugas atasan untuk menyampaikan, memperhatikan, mengingatkan ketika lalai.
Ketika atasan tidak bertindak, artinya ada ketidakpedulian di dalamnya kan?

Ketika anda menyandang predikat sebagai seorang atasan, artinya banyak hal yang harus anda perhatikan, bukan hanya focus kepada satu hal saja.

Kalo boleh ngomong kasar, itulah gunanya gaji anda lebih banyak dari bawahan anda. Karena tanggung jawab dan ruang lingkup anda besar.  Semoga kita tidak menjadi atasan yang makan gaji buta karena tidak mempedulikan bawahan.

Seberat itu kan tanggung jawab seorang atasan? Iyah, dan itu adalah resiko yang harus didapatkan atas gaji yang lebih dari bawahan.

Ketika anda membiarkan bawahan anda tetap berada dalam lingkaran kesalahan, artinya anda tidak peduli dengan orang-orang yang sudah menjadi tanggung jawab anda.


Masih layakkah anda disebut atasan? Masih layakkah mendapat gaji lebih?

Sabtu, 18 Maret 2017

Gadis Egois yang Menangis dalam Diam

Gadis itu hanya bisa duduk di depan laptop di dalam ruang kerjanya.
Berpikir.
Entah bagaimana perasaannya saat itu.
Tertawa susah, menangis pun enggan.
Ia hanya merasa bahwa seakan hari ini dunia tidak ingin mendengarkannya. Dia hanya ingin bercerita, bahasa kekiniannya curhat, bukan untuk balik di jadikan tempat curhat. Dia hanya ingin bercerita mengenai hal memalukan yang dialaminya, bukannya malah melawak yang dianggap sebagai sebuah lelucon yang ditertawai karena di anggap lucu.  
Bukan!
Ataukah si gadis terlalu egois saat berpikir bahwa saat ini dia hanya butuh didengarkan, untuk sementara tidak ingin mendengarkan. Si gadis sedang bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini. Okay, sebenarnya dia tahu bahwa dia hanya perlu cuek dengan pikiran orang lain namun dia hanya butuh di berikan kata-kata penguatan saat itu. Cukup saat itu saja.
Hari ini di dikejutkan dengan berita bahwa ‘kotoran’ yang bukan dari dirinya ditemukan berada di dalam messnya, yang mana jika diperhatikan sepintas, seisi mess akan berpikir bahwa ‘kotoran’ itu berasal dari dirinya. Padahal ada anak gadis lain tadi pagi yang sekamar dengannya dan tidak sengaja meninggalkan ‘kotoran’ itu di tempat yang tidak semestinya. ‘Kotoran’ itu tidak di bersihkan oleh si pembersih ruangan. Siapa juga yang mau membersihkan ‘barang’ yang bagi sebagian orang itu menjijikkan. Si gadis juga enggan untuk menyentuhnya. Terlalu menjijikkan, pikirnya. 
Namun si gadis berpikir lagi, jika bukan dia yang membersihkan, barang ‘kotor’ itu akan terus berada di situ sampai sang empunya kembali, mungkin sekitar 2 minggu lagi. selama itu pula ‘kotoran’ itu akan terekspose oleh para lelaki di mess itu. Terlalu memalukan. Mengumpulkan seluruh niat, akhirnya si gadis mengambil kotoran itu dan membuangnya, walaupun saat itu dia merasa sangat jijik. 
Si gadis sangat malu pada saat itu, walaupun memang bukan dia pelakunya, namun dia berpikir bahwa orang-orang yang melihat hal itu akan langsung menjadikan si gadis sebagai ‘tersangka utama’, karena tidak ada gadis lain di tempat itu. Mau dijelaskan ke semua pihak juga, si gadis merasa tidak enak, kesannya menyebar aib orang ke muka umum.
Si gadis merasa marah pada gadis ‘tersangka’ pembuangan kotoran itu, tapi apa daya dia sudah pulang dan mungkin malah sudah menyebrangi pulau tempatnya berpijak. Si gadis ingin menceritakan kekesalan dan perasaan malunya pada sahabatnya yang dia tahu akan mendengarnya, namun ternyata si sahabat sedang sibuk kerja, yang satunya gak aktif handphonennya. Si gadis  tidak kehilangan jalan, dia mencari nomer telpon ibunya. Sialnya, si ibu sedang bekerja dan tidak dapat berbicara lama untuk sementara waktu. Perasaan si gadis bercampur aduk. Dia hanya ingin bercerita, apakah itu salah? Atau memang waktu baginya yang tidak tepat? Akhirnya dia memilih untuk tidur, berharap perasaannya kembali normal saat bangun.
Kenyataannya, si gadis dibangunkan oleh sang ibu, dan dia menceritakan keadaannya. Si ibu mendengarkan, memberikan sedikit petuah yang bagi si gadis belum cukup, lantas si ibu melanjutkan dengan curhat pada si gadis. Egoisme si gadis timbul, dia hanya ingin di dengarkan. Akhirnya dia tidak banyak berkomentar sampai pembicaraan dengan si ibu diakhiri. Seakan masih belum puas dengan tidak di dengarkan, curhatannya yang dia sampaikan di grup sahabatnya ternyata di balas namun tidak sesuai dengan harapannya. Di awali dengan ‘hahaha’ kemudia ada kata ‘lucu’ kemudian kata ‘manusiawi’. Well, cukup! Si gadis marah. Entah kepada siapa.
Si gadis bertanya dalam hati, “apakah salah jika aku memikirkan hal yang bagi orang lain simple tapi ternyata bagiku ini adalah hal yang terlalu menguasai pikiran ku?”
“Apakah aku salah jika ingin curhat kepada teman-teman ku tentang hal ini namun kenyataannya salah satu dari mereka hanya tertawa dan menganggap hal ini lucu, sisanya hanya membaca tanpa memberikan komentar?”
“Apakah aku tidak punya hak untuk menceritakan keluh kesahku sehingga setiap kali aku mengeluh rasanya hanya dianggap hal sepeleh sehingga tidak jarang hanya menjadi angin lalu saja?”
Si gadis terlalu banyak pertanyaan. Salah satunya di jawab pun belum tentu. 
Si gadis hanya ingin didengarkan. Mungkin bagi sahabatnya, masalah ini adalah masalah yang sangat sepeleh, tapi bagi si gadis tidak sesepele itu. Ini terlalu memalukan baginya. Namun si gadis berusaha menyadarkan dirinya bahwa hal ini tidak perlu menjadi besar karena di luar sana banyak masalah yang lebih besar yang perlu dijadikan perhatian.
Si gadis berusaha menerima, namun ada sebagian hati kecilnya berkata “Aku sedih disepelehkan seperti ini. Masih berhak kah aku mengungkapkan perasaan ku?”
Dan si gadis menangis dalam diam di ruangan kerjanya pada sore yang mendung itu.

Senin, 06 Maret 2017

Sepenggal kisah di Kota Nyiur Melambai

Seminggu lalu, ketika tubuh ini gentayangan untuk pertama kalinya di kota ini, Kota Manado. Sebuah perasaan bahwa akan terjadi hal luar biasa 2 hari ke depan.
Dan benar saja.
3 jam dari kota ini, tepatnya di Desa Bahoi, Kec. Likupang, Kab. Minahasa Utara, petualangan itu dimulai.
Dengan mobil Truk Basarnas yang membawa raga kami ke lokasi, entah pikiran setiap kami ada di mana saat itu, yang jelas pikiran ku sudah melayang2 memikirkan bagaimana keadaan lokasi TnT ini. I'm just curiuos.
Duduk semobil, sempit-sempitan, dengan orang-orang yang boleh dikatakan masih asing, yg baru kenalan kurang dari 5 jam, seyogyanya akan menimbulkan perasaan yang asing bukan? Tapi tidak untuk kali ini. Sebaris kalimat perkenalan sembari mengucapkan nama masing-masing dan jabat tangan yang hangat rasanya sudah cukup untuk membuat kami merasa, "Heii, I met an old friend."
Lebay?
Gak masalah, saat kau mengalaminya secara langsung, kau akan tahu bahwa tulisan lebay ku itu nyata. Nyata tidak lebay.  Tahu alasannya kenapa? Mungkin karna kami punya 1 misi yang sama? Mungkin. 
Desa Bahoi menyambut kami di tengah gerimis dan gelapnya subuh. Rumah ibu kepala sekolah menjadi pelindung raga kami ditengah dinginnya subuh itu untuk melanjutkan istirahat sebelum ke sekolah di pagi harinya.
Lelah? Banget. Excited? Mengalahkan lelah kami. Bangun pagi untuk ngantri di kamar mandi rasanya 'not a big problem' karena pantulan sunrise di air laut belakang rumah ibu kepala sekolah menjadi salah satu pemandangan yang menghipnotis pagi itu. Lebay? Gak masalah, untuk seorang anak gunung yang jarang lihat laut seperti saya, lebay adalah hal biasa. 
Setelah mata dikenyangkan dengan pemandangan sunrise, ternyata perut juga dikenyangkan oleh sepiring bubur Manado. What a great 'smokol' (dalam bahasa Indonesia, 'smokol' sama dengan 'sarapan'). Salah satu dari 10 pesan dasar gizi seimbang sudah terpenuhi kan? 
Heii. Adik2 SD GMIM Bahoi sepertinya sudah menunggu. Can't wait to see them!! Let's gooo...
Jarak sekolah dari rumah ibu kepala sekolah yang tidak terlalu jauh membuat kami cukup berjalan kaki. Kakak2 volunteer dengan seragam putihnya yang berombongan berjalan ke sekolah terlihat seperti 'mereka yang di kota yang kebiasaan berdemo'.  psstt 
Adik-adik berlarian ke luar kelas untuk berbaris di lapangan dekat sekolah. Sstt, bukan lapangan sekolah yah, soalnya lapangan becek banget (abis ujan dan gak ada ojek), gak bisa buat baris.
Wajah-wajah lugu itu berbaris di depan kami, kadang bingung mau ngapain, bingung melihat wajah2 baru berbagai karakter di hadapan mereka, bingung mau meluruskan barisan, bingung lagi berbaris di kelas mana, bahkan sampai2 yel2 selamat pagi terlupakan. So cute!! Uncchh..unncchhh..
Senyum mereka menjadi penyemangat di pagi ini, walaupun lapangan tempat berbaris di penuhi 'ranjau', entah itu ranjau nyaris kadaluarsa sampai yang masih fresh from the oven. If you know what I mean, yahh . (Hewan piaraan di sini dibiarkan bebas berkeliaran, seperti anjing dan babi)
Tak kenal, maka tak sayang (maka ta'aruf), perkenalan diri dan tepuk semangat menjadi awal untuk mencairkan suasana dengan adik-adik, ehh, masih ada "UAYA". They were sooo excited!!
Teaching is began.
Umm, semangat mereka rasanya tidak sebanding dengan keadaan lantai kelas yang bolong-bolong dan kursi meja yang sudah mulai rusak. Mereka terlalu bersemangat untuk keadaan seperti itu.
Mereka terlalu bersemangat untuk membuat 'hanya' sebuah kotak tissue, tempat pensil, atau pigura dari kardus bekas. Mereka terlalu bersemangat untuk menyampaikan cita-cita dan harapan mereka. Iyah,  ter-la-lu.
Tahu ga sih? Sebenarnya bukan kami yang mengajar mereka, tapi mereka yang sudah mengajarkan kami banyak hal, salah satunya untuk banyak-banyak bersyukur. Mungkin mulut mereka tidak mengeluarkan kalimat, "bersyukurlah," tapi tindakan mereka sudah menyampaikan yang tidak perlu diucapkan oleh mulut. Talk less do more banget kan yah?
Satu bagian yang paling menyenangkan setiap TnT adalah, saat sesi pemberian donasi sembari berbagi motivasi. Saya gak bisa memberikan barang mahal, tapi hanya bisa memberikan kisah hidup yang harapannya bisa memotivasi mereka. I love to talk privately with them. 
Actually, too many sweet memories with this child. When they talk to us with their jokes like "kita kan kelas 6 romantis". Heii, are they understand what 'romantis' is?? Or when they just talk about their life with their own style and their innocent face. Or when you see their 'want-to-know' face while ask you about 'where do you come from'. Or, when they want to talk to you but maybe they are to shy so they just call your name and when you say "hai!!" they smile and look soo happy. Can you imagine how cute their expression??
Rasanya itu tidak bisa dibayar dengan uang kan?
Selain anak-anaknya, persahabatan juga kami dapatkan di acara TnT ini. Berkenalan dengan berbagai pribadi dengan latar belakang suku, agama, ras, dan kebudayaan yang berbeda menjadi salah satu daya tarik tersendiri saya mengikuti kegiatan ini. Yahh, di tengah krisis SARA bangsa ini saat sekarang ini, kami masih bisa membuktikan bahwa SARA bukanlah penghalang untuk bisa bersatu mencapai satu tujuan. Rasanya kegiatan ini ingin menunjukkan bahwa, "heii, kita ini bangsa Indonesia, yang dari dulu sudah berbeda, tapi kita tetap satu kan?".
Kalo kata Bung Fiersa, "perbedaan itu indah. Sebuah hubungan yg dilandasi oleh perbedaan akan sangat menyenangkan. Berbagi perspektif baru, ilmu baru, wawasan baru. Tapi harus mempunyai visi dan misi yang sama."
Indah kan? Rasanya perbedaan itu tidak terlalu berarti.
Mau bukti dan saksi?
Bukti ada di foto2 kami.
Saksi?
Banyaakk.
Truk Basarnas menjadi saksi kami sempit-sempitan ke lokasi.
Dapur ibu kepala sekolah menjadi saksi kami talk about anything, ketika radar 'want-to-know' kami menunjukkan sinyal full. Such as, saat kk2 menjelaskan tentang 'smokol', atau ketika they talk about makan rica bagi orang Manado. Atau ketika istilah, 'orang kacili kasiang' mulai booming.
Ruang tamu kepala sekolah menjadi saksi permainan 369 yang seharusnya menjadi fun malah ujung2nya jadi horor dengan punishmentnya  sampai pada pembicaraan berat mengenai pernikahan. Ohhh gak sanggup.
Ruang tamu tetangga ibu kepala sekolah beraroma dedak menjadi saksi perkenalan & sharing kami yang membuka tabir kebenaran bahwa menjadi 'ibu tidak harus perempuan, laki-laki pun bisa' .
Dermaga Desa Bahoi menjadi saksi kami mengejar matahari skalian mengejar sinyal tumpeh-tumpeh sambil menonton drama 'aku-gak-sanggup-berenang-kalo-dilempar-langsung-ke-laut' atau nonton ATH (Aksi Tutup Hidung) sebelum menyentuh air laut.
Umm, what else?
Tempat makan apa tuh namanya, yang ada Jangkar apaa gitu, menjadi saksi kami having dinner together saat sudah tiba di Manado dan berujung pada pemesanan gojek yang lama banget jadi terpaksa ikutan tidur di hotel bareng yang lain daripada menggembel di pinggir laut, nanti malah masuk angin.
Atau, kamar hotel Travelo menjadi saksi kami berkreasi mengubah posisi tempat tidur untuk bisa ditempati bobo bareng.
Last but not least, ruang makan hotel menjadi saksi kami smokol bareng sebelum Curly ke bandara dan harus ada drama lari2 balik ke hotel karena ketinggalam ole-ole yang berdampak pada telat ke bandara tapi masih sempat "Eksis First" terus lanjut berdrama 'Rangga-Cinta' lari-lari ke ruang tunggu.
Terlalu banyak drama yah? 
Tapi drama tanpa acting ini yang menyenangkan. Unforgetable moment with unforgetable people. Kelak, anak cucu ku akan bangga mengetahui.bahwa mamanya dulu pernah melakukan hal ongol tapi bermakna. Haha.
So, thanks for this TnT. Tetap berbagi, dan tetap bersyukur. Jangan lupa bahagia. Torang samua basudara. Apalagi yah?
I really enjoy this TnT.
Mm udah..
Nb: maafkan kalo tulisannya lebay, kalo lagi produktif nulis ya kek gini. Seruput kopi duluuuu... ☕ ☕

Selasa, 10 Januari 2017

Memantaskan Diri

Dahsyatnya sebuah pemikiran orang lain bisa mempengaruhi keadaan hati.
Ketika tulisan orang sedang berusaha ku nikmati, pikiran ini ternyata memikirkan yang lain.
Lain.
Memikirkan kamu.
Memikirkan aku.
Memikirkan bagaimana mungkin kamu dan aku dipertemukan sementara hubungan ku dengan Sang Pemberi hati sepertinya tidak baik.
Bagaimana mungkin aku meminta ciptaanNya ketika hati ini tidak sejalan dengan Sang Pencipta.
Bagaimana mungkin?

Aku belum tahu siapa kamu
Tapi aku tahu kamu ada

Tugas ku?
Memantaskan diri dan percaya padaNya.

100117
Suatu siang di atas Kapal Ferry Balikpapan-Penajam

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts