Jumat, 08 Juli 2016

24th on 24

Welcome june, 24th 2016.
Kemarin aike ulang tahun.
.
.
.
.
Gak ada yang mau ngasih selamat?
OK BYE!!
(ceritanya ngambek) haha
.
.
.
Masih gak ada yang mau bujuk???
Okeh. Lanjut. (yaelah!!)

Aku ada tebakan yah.
Angka berapa yang paling kece??
Iyah bener!!! Jawabannya 2 4 6. Angka terkece ever. Kenapa? Karena angka tersebut adalah 3 angka genap pertama dalam urutan bilangan.
That’s why aku termasuk orang kece karena tanggal lahir ku termasuk 3 angka kece itu. (yang protes sia-siap berurusan sama golok di tangan ku) :D.
Yuhuuu. I was born on June 24th, 1992. 24 years ago. And know, I’m officially 24 years old. Maka semakin bertambahlah kekecean ku. Prok..prok..prok..
Sudah..sudah..sudah gak usah terlalu memuji, aku kan jadi senang.

Sepertinya prolognya terlalu panjang yah. Okeh mari kita ke bab 1. (lagi mimpi jadi penuliss jadi bahasanya kek gini)

Sooo, tahun ini adalah tahun kedua saya berulang tahun di tanah Kalimantan, yang katanya Desy di tanah rantau padahal dari 2010 juga saya udah merantau dari kampung.  Memang sotta itu manusia satu. Daann,, tahun ini adalah tahun pertama saya bener-bener ulang tahun tanpa keluarga dekat, so far far away from eye buat near on heart (jauh di mata namun dekat di hati, apacihh). Kalo tahun lalu saya masih di Balikpapan, masih ada kue ulang tahun kiriman SOK sweet dari manusia (sok) kece dari Makassar yang sempat membuat terharu (huhuhuhu), masih ada doa bersama keluarga di sana, masih ada foto ulang tahun, masih ada jabat tangan ulang tahun, sekarang bener-bener sendiri. Untung masih ada jaringan internet dan jaringan telpon jadi masih ada yang ngucapin, tapi jangan sampai ada jaringan teroris yah ntar malah di bom lagi.

Sedih? Gak juga. Paling mengunci diri di kamar, trus guling-guling di kamar sambil cakar-cakar dinding, sambil bilang ‘miawww’. *eh haha. Gak ding. Beneran gapapa. Entah kenapa tahun ini emang bener-bener gak gimana banget dengan perayaan ulang tahun, mungkin karena saya udah kerja, (sok) sibuk atau menyibukkan diri(?), karena di balik menyibukkan diri ada sesuatu yang ingin dilupakan. haha. Entahlah.

Pada dasarnya memang saya gak merayakan ultah dengan tiup lilin. (kali ini serius yah). Jadi dari kecil saya dibesarkan dalam keluarga yang tidak terbiasa dengan lilin dan kue ulang tahun. Ulang tahun saya paling rame adalah saat ulang tahun pertama, dimana  (sepertinya) pada saat itu ada ibadah bersama di gubuk kami dulu di Kamali, Kec. Makale, Kab. Tana Toraja. Ini semua hanya berdasarkan foto-foto yang pernah saya lihat loh yah. Jadi di acara itu (sepertinya) keluarga dan kerabat dekat diudang. Trus acara makan-makannya rame banget, udah KAYAK ada acara lamaran aja. (padahal masih satu tahun loh, koq udah di lamar yah). Huuffftthhh, lelah, telmi. Dari situ saya tahu kalo perayaan ulang tahun saya di usia 1 tahun memang rame banget, mengalahkan acara ulang tahun di tahun-tahun berikutnya, yang lebih tepatnya tidak ada acara sama sekali.

Gak tau kenapa yah, tapi kami juga gak nuntut. Mungkin karena kami juga jarang di undang ke acara ulang tahun teman-teman lain, entah itu karena keberadaann kami tidak terdeteksi (kemungkinan 0,005%) atau karena memang pada zaman itu teman main kami juga sangat jarang merayakan ulang tahunnya (kemungkinan 99,995%), tetap gak mau disalahkan yah. Haha. Umm, teman-teman yang merayakan ulang tahun saat itu kebanyakan merayakan di gereja, atau di sekolah (dalam hal ini TK & SD) utamanya yang ekonominya menengah ke atas. Kalo kami mah apa atuh, hanya anak seorang guru dan seorang PNS yang sekarang udah bisa membiayai hidup sendiri. Tsahhhh. (sombong dikit bolehlah yah).

Jadi sebelum sekolah dulu, saya gak pernah merayakan ulang tahun setelah ulang tahun pertama itu, sampai pada suatu hari saya di tipu oleh mamak mengenai perayaan ulang tahun saya (yang dengan lugunya langsung aja dipercaya). Memaang lugu yah haha.

Jadi dulu, saya ngikut mamak untuk penataran (bukan Uttaran loh yah) di Makassar, tepat pada tanggal ulang tahun saya. Pada saat itu, saya ditipu habis-habisan. Jadi saat itu kebetulan sehari setelah ulang tahun saya ada undangan pernikahan di hotel, jadi kami sekeluarga berencana berangkat ke sana. Daaannn,, dengan bangganya mama’ mengatakan bahwa kami akan pergi merayakan hari ulang tahun saya di hotel tersebut. What a great scenario. Saya yang masih lugu saat itu ya percaya percaya aja, mau gimana lagi. Apalagi apalagi di depan pelaminan itu ada kue pernikahan bertingkat (yg di dalam otak ku itu adalah kue ultang tahun) yang saat salam-salaman ke pengantin dengan usilnya saya colek dan ternyata itu hanya gabus yang di susun dan diberikan cream di beberapa bagiannya. Belum lagi di suap pake 1 cup eskrim. E hellooww. Moment itu menjadi momen yang paling saya ingat sampai saya sadar bahwa saya sudah dipermainkan (huhuhuhu). Polisi..mana polisi??

Memasuki bangku sekolah, kebiasaan ulang tahun mulai berubah. Mulai ada perasaan untuk berbagi dengan teman-teman (atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan?). So, setiap kali ulang tahun, saya pasti dibekali permen oleh mama’ untuk dibagikan ke teman-teman kelas. Tiap orang dapat jatah 2 permen yang saat itu permen andalan saya adalah “SUGUS”. Ummm yummy. Itu aja perayaan ulang tahun saya selama SD. Itu doang sih, nothing special (tapi pada saat itu rasanya udah special banget, se-special mie goreng special pake telur, hahaha)

Tapi memang yah, kehidaupan berulang tahun kami di masa kecil utamanya SD kalo bisa di bilang ya ngenes banget,. Bahkan pernah satu kali temen dekat saya ulang tahun. Dia termasuk anak orang berada lah yah (keknya emang dari kecil gue udah jadi parasit yang berteman dengan anak orang kaya yah? Hahaha). Jadi dia ulang tahun, yang diundang ke ultahnya itu gak banyak, eksekutif lah menurut saya (jangan membayangkan acaranya di hotel bintang 5 dengan dress code yah, ini jaman dulu, di sebuah kampung di Toraja). Terusss, saya gak tau mau ngasih kado apa, soalnya setiap kali ikut acara ulang tahun (yang jarang banget saya lakukan) pasti si mamak cuman ngasih amplop berisi duit doang (dikiranya ini acara nikahan kali yah). Soalnya mungkin mamak mikir, kal0 beli kado gak tau jenis kado seperti apa dan takutnya nanti malah gak disuka dan gak kepake, kan ujung-ujungnya mubazir. Bijaksana bangat yang emak gue. MUNGKIN loh yahh, atau mungkin juga karena gak mau rempong aja bawa hadiah kesana-kemari. Haha. Kebijaksanaannya itu akhirnya berdampak pada ulang tahun sahabat kecil saya yang ulang tahun pada saat itu, di mana saya gak tau mau membawakan kado (defenisi ku dulu tentang kado adalah sebuah benda yang dibungkus kertas kado dan dililit pita) seperti apa. Sampai pada detik-detik terakhir, saya masih belum punya ide, dan mamak juga tidak mau repot-repot membantu, dan saat akan berangkat akhirnya jurus andalan mamak dikeluarkan (amplop dan uang). Yuhuuu, amplop berisi uang menjadi hadiah andalang, dengan amplop berisi 5rb pada saat itu. Dengan kado andalan itu saya melenggok ke rumah sahabat kecil kuhh itu. Di rumah sahabat saya, udah ada teman-teman yang lain, kado udah di meja (kado menurut pemahaman saya loh yah) dan amplop KECIL itu saya selipkan di antara kado-kado BESAR. Ibaratnya, smplop saya itu terlihat seperti kerupuk bawang di antara alat berat eskavator (hiperbola banget yah?). Acara makan-makannya berlangsung hikmat dan sampai selesai semua berjalan lancar dan satu persatu teman-teman udah pada pulang dan tinggal saya dan 1 orang teman yang masih menunggu jemputan (berhubunga eike orang special, jadi emaknya bungkusin nasi gorengnya, kelihatan memang yah parasitnya). Sambil nunggu jemputan di depan rumahnya, ternyata sahabat saya (yang super) ini lagi sibuk-sibuk bongkar kado di atas rumahnya, dannnnn sebelum pulang dia juga udah selesai bongkar kado. Jadi dia keluarkan satu persatu kado yang dia dapat sambil loncat kegirangan, tapi ku terjatuh dari kursi goyang, ehhh. Kok malah nyanyi. Jadi dia mengeluarkan satu persatu kado yang dia dapat, sampai pada akhirnya muncullah benda itu di tangannya. Sebuah kertas berbentuk segiempat berwarna coklat yang udah lecek terkulai lemah di tangannya, tapi dia tetap lompat kegirangan. Iyahh!! Dia megang duit 5ribu yang saya isi di amplop untuk kado ulang tahunnya. Dia lompat sambil menyebutkan nama pemberi kado itu. Jangan ditanya muka ksayau saat itu. Malu bangeettt men.  Duit 5ribu gitu dipamer. Hadeeeuuuhhhh... untung gak lama setelah itu saya udah di jemput jadi selamatlah malu ini.  Tapi saya sampaikan bahwa persahabatan kami itu tidak di batasi oleh materi (cieeee), jadi sahabat saya itu gak masalah dengan kado uang lecek itu, hanya saya aja yang tengsin parah. Haha.

Memasuki masa SMP, keknya gak ada sesuatu yang special dengan perayaan ultah saya, soalnya diriku gak ingat apa-apa tentang SMP. Apakah ini yang namanya insomnia, eh anamnesis, eh amnesia? Hahaha. Ini lebih dikarenakan ulang tahun saya selalu bertepatan dengan hari libur semester jadi pasti hanya dirayakan di rumah aja dengan keluarga (dengan mamak, bapak, erik lebih tepatnya, hahaha). Jadi kami punya tradisi (atau kebiasaan yah?) bahwa pada saat ulang tahun, mamak akan memotong ayam untuk dimakan bersama-sama di rumah. Ayam merupakan lambang ucapan syukur, jadi kalo ada yang potong ayam di rumahnya biasa lagi ada sesuatu yang special. Kamu juga yang special nanti akan di potongkan ayam koq, eeaaaa.

Memori ulang tahun justru datang saat SMA, tepatnya di ulang tahun ke-17, baru ada sesuatu yang diingat karena emang lain daripada yang lain. Jadi saat ulang tahun saya yang ke-17 itu, kebetulan kami ada ibadah PPGT di rumah jadi teman-teman PPGT dan beberapa keluarga datang beribadah di rumah, ada teman kelas juga saat itu. Jadi momennya pas. Pas dapat ibadah rutin PPGT, pas momen ultah, dan pas di hati kamu, ehh, jadi sekalian ibadah syukuran lah. Nahhhhh, saat itu Mami saya yang kece dan kreatif banget membawa sesuatu dalam wadah besar berbentuk kubus. Belakangan ketahuan kalo itu adalah kue tart, and that was the first birthday cake for me. Pastinya saya excited dongg, pertama kali dapat kue, tiup lilin, di usia nyaris kepala 2 itu (3 tahun lagi sih baru kepala 2). Saking baru pertama kalinya, pas acara tiup lilin, saya malah salting di depan, dilihatin seluruh orang di ruangan itu. Tapi dari situ saya harus bisa bertahan karena saya tau jadi artis bakalan jadi pusat perhatian *ehhhh. Acaranya jadi seperti acara ulang tahun pada umumnya. Nyanyi lagu ulang tahun (yang mana ada persembahan lagu special dari jeng Lucky, yang sumpah bikin tengsin banget dengerin suara dan ekspresi luar biasanya yang Agnesmo wanna be banget), tiup lilin, potong kue, suap-suapan kue, itu semua first time, jadi kek shy shy cat gimanaaa gitu. Dari situlah berawal kue ulang tahun selanjutnya.


Selama kuliah pernah sekali dapat kue ulang tahun pas di lokasi KKN, dan itu adalah late surprise. Tanggal 24 Juni 2013. Saat itu saya kebetulan lagi ada di Makassar (Lokasi KKN saat itu di Desa Banggae, Kec. Mangarabombang, Kab. Takalar)tapi teman-teman di lokasi nelponin dan ngucapin selamat. Huhu. Co cweet eaa. Pas balik ke lokasi KKN, kebetulan ada acara kawinan jadi kita di ajakin ke sono. Pulang dari acara kawinan, penghuni posko udah pada lari-larian aja ke posko, masuk rumah, dan saya dibiarkan terkunci di luar rumah, kedinginan, tak tau arah jalan pulang (heh!! Butiran beras kaleee.). Katanya mau pasang lilin ulang tahun dulu, emang dasarnya pada somplak teman-teman posko ini, jadi ya dibeberin aja kalo mau kasih kue ultah. Dan persiapannya lamaaa banget, sampai saya berpikir kalo mereka buat kue ultahnya dari campuran semen dan pasir, nyari batu dulu, campur air dulu, nunggu kering dulu. Euuhh, ga ada persiapan banget sih. Finally, pintu di buka and taraaa!! Bola-bola kacang di piring ceper dengan lilin mati lampu yang segede tiang listrik udah nongol syaantik. Uhyeahhh. Simple but meaningfull. Hehehe. Bahkan ibu desa pun ikut-ikutan ngerjain. Haha. (gak) asik banget sih.
Bersama Ibu Desa dan  Teman KKN Posko Desa Banggae, Kec. Marbo, Takalar
Juni 2013


Next year, tepatnya tahun 2014, ulang tahun saya bertepatan dengan Yudisium. Ini yang ngerjain gak tanggung-tanggung banget. Pada saat malam yudisium, saat satu Fakultas FKM yang sekitar 600an orang yang akan di yudisium saat itu berkumpul dalam auditorium, nama saya dipanggil oleh prof dari depan auditorium. Semua orang sontak diam. Saya disuruh berdiri dan semua mata tertuju padaku, disorot kamera, dan lampu benderang, akulah sang bintang, ehh koq malah nyanyi lagunya mamammia sih. Jadi saya berdiri, dengan muka bingung, hati deg deg serr, dan tib-tiba Pak Prof langsung bicara, ‘Selamat Ulang Tahun”. Aaarrggggghhh, saya langsung senyum-senyum shit pada saat itu. Sontak pipi langsung merah, untuk kulit hitam jadi gak terlalu kentara. Hahaha. Namun birthday cakenya baru di bawakan oleh gengs keesokan harinya, yang dibawa telat ke rumah setelah acara wisuda berlangsung. Saya udah pulang ke rumah, udah bongkar baju, udah bersihin make up, baru datang bawa Kue dan bunga yang kece banget (yang dengan bangganya di bilang mahal jadi harus di jaga baik2). Heellll to the loowwww. But they are so sweet.
Surprise dari Tim Bede
Juni 2014

Tahun selanjutnya, saya udah semakin jauh dari Sulawesi, sudah merantau ke Kalimantan. Ulang tahun curly tepat 2 hari setelah tandatangan kontrak di tempat kerja perdana. What a kece month. Hehe. Pada tanggal 24 itu, Curly disambut ucapan happy birthday dari atasan di kantor. Malu euyyy di ucapin di kantor, sama orang yang belum di kenal pula, maklum anak baru. Hihi. Sepulang ke rumah juga gak ada yang ngucapin karena emang keluarga di rumah gak ada yang tahu. Sampai sore harinya, para kajibeng-kajibeng (Deso, Titi, Toa, & Mamasri) yang kebetulannya lagi ngumpul di Makassar nelpon Curly dan ngomong kalo ada sesuatu di depan rumah. Eciecie,, baper. Haha. Percaya gak percaya lah eike, secara gak mungkin kan mereka langsung nongol depan rumah, kalo beneran ada pasti langsung kusambit eh maksudnya ku sambut. Sebelumnya itu mereka yang teleconference nyanyi dulu, dan dengan sangat terpaksa telinga tersayangku ini dipaksa untuk mendengarkan suara gak banget dari para kajibeng-kajibeng itu. Suara jangkrik ngamuk juga masih merdu kali. T_T. Setelah itu, saya langsung di paksa lagi ke luar rumah, yaudinglah, buat mereka happy aja. Saya juga sedang buru-buru saat itu karena kebetulan ada jam doa di rumah dan sudah mau dimulai. Soo, diriku keluar daaannnn diberikan bungkusan berbentuk segiempat yang mana saya tahu kalo itu adalah bungkusan kue tart. Di bawain sama spupunya Febi yang ada di Balikpapan saat itu, yang menurutku gak ada asik-asiknya banget soalnya dikasi sama plastiknya, kek orang abis beli ikan di sambalu aja. Haha. Dan setelah ngucapin selamat, eike masuk rumah dan langsung nangis Bombay saking terharunya. Gak ding, saya gak selebay itu yah. Setelah menerima kue itu saya langsung terharu dan menagis dalam diam, tsahhhh. Haha. Berhubung Ibadah udah mau di mulai jadinya telpon kumatikan secara sepiha, gak ding saya gak sejahat itu, telpon langsung ku buang ke got biar langsung mati, ehh saya gak sebego itu. Hallah,, berbelit-belit banget. Saya langsung bilang good bye, thanks, and kiss kiss untuk para kajibeng itu yang udah ngerepotin diriku ambil kue depan rumah. Hehe.. Miss them.

Kue langsung saya simpan di meja dan ibadah pun dimulai tanpa satupun orang rumah yang tahu kalo hari itu saya ulang tahun. Sebenarnya sedih sih berada dalam suasana kek gitu, saat orang jauh sudah mengucapkan bahkan membawakan kue, ehhh yang di depan mata malah gak tau apa-apa. But, I am a setrum ehh maksudnya strong girl. Saat permintaan pokok doa, baru saya minta mohon didoakan salah satunya untuk umur yang sudah bertambah saat itu juga, dan seisi rumah langsung kaget bukan main (yang ini lebay). After pray time, kami makan kue bersama-sama, tidak lupa pake acara tiup lilin, foto-foto, and then potong kue, and then makan bersama. Satu kalimat yang paling saya ingat saat itu dikatakan oleh sepupu saya, “Ohh, ini kue dikirimkan sama Febi, teman geng nya dari Makassar.” Kakkk, pliss, aku bukan anak geng motor koq, tolong jangan salah sangka. Hehe.
Bersama Keluarga di Balikpapan,
Juni 2015

The next year, tepatnya tahun ini, Juni 2016. Saya udah di lokasi kerja. Saya sudah mempersiapkan diri untuk tidak berharap terlalu banyak di tahun ini (oooohhhhh) karena keadaan yang tidak memungkinkan, dan memang gak ada yang terjadi, jiaahhhh. Hahaha. Iyah, karena memang keadaan lokasi yang tidak memungkinkan untuk dikirimkan kue ultah, dan di berikan salam secara langsung, dan memang gak ada yang tahu, soooo begitulah. Tapi tetap ada sesuatu yang special di tahun ini yang menyentuh banget, cedede, ala-ala sok sweet gitu. Pemenang pemberi ucapan tersok sweet tahun ini jatuh kepada dua orang yaitu Ndessoooo dan my one & only sibling, Erik. Erik si kaku dan super cuek dengan Personal Message BBM nya yang berbunyi “Anak paling cantiknya Bu Martha & Pak Nois”. Bagi saya itu so sweet banget saat si cuek ini yang mengatakannya karena loe gak bakalan tahu gimana rasanya punya adek yang super cuek, keras kepala, gak mau tau, dan kapala batu seperti dia. Haha. Juara kedua adalah Ndesooo (nama samarannya Desy) yang dengan kapedean tingkat dewanya mengirimkan video tidak layak tayang yang penyebarannya harusnya di tolak oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Haha. Dia dengan pedenya mengirimkan video berisi dirinya menyanyikan lagu “Saengil Cukkae” yang baru bisa ku buka videonya saat akan makan siang di kantin (maklum wanita sibuk, atau menyibukkan diri yah?). Tapi berhubung di kantin lagi banyak orang, dan saya gak mau mengambil resiko untuk jadi pusat perhatian dengan menonton video tersebut di antara orang banyak karena saya tau videonya bakal malu-maluin banget apalagi dengan suaranya yang luar biasa (parahnya) jadi saya memilih melihat videonya di luar saja setelah keadaan aman (dalam hal ini gak ada yang bisa dengar). Setelah berhasil menyaksikan video yang dikirimkan oleh wanita ini langsung mataku gatal-gatal dan kuping juga mulai memerah, maksudnya karena saking lucunya soo ketawanya sukses bikin meneteskan air mata dan telinga ikutan merah. Sebenarnya mau bilang sedih banget dengar suaranya yang kek gitu sampe nangis dengernya. Haha. But 2 orang ini sukses bikin baper di tengah populasi yang tidak memberikan ucapan sama sekali (yaeyalahhhh, mereka ga ada tau kalii, haha). alavyuuu!! Lewat 2 hari baru dapat ucapan secara langsung, yaa lumayanlah, at least ada yang niat. Hahaha. But I do enjoy (mungkin bahasanya “try to enjoy”) that moment. Yang kebetulan juga karena dari “Program Tukeran Buku” yang pernah saya ikuti, ada 1 bukunya yang sudah tiba tepat pada hari ulang tahun saya, jadi anggap aja hadiah. Haha.. Maksa banget yah. Dilanjutkan kiriman-kiriman buku di hari selanjutnya, yaa anggap aja good timing. Yah, positif aja. Saya memang terbiasa tidak merayakan sejak dulu jadi its okelah (padahal dalam hati lagi nangis Bombay, haha).
1st winner ucapan sok sweet dari si bungsu,
Juni 2016

Ucapan sok sweet (memalukan) dari Desoo,
Juni 2016

 So,,  itulah pengalama ulang tahun sampai pada usia saya yang ke-24 ini, yang mungkin nothing special banget, tapi menurut gue itu luar biasa keceee banget. haha. Juni emang bulan luar biasa. Pada bulan Juni 1992 seorang anak kece, cantik, unyu-unyu (pengen muntah? Silahkan!)  lahir ke dunia ini. Bulan Juni entah tahun berapa, Ibu Martha menyelesaikan ujian mejanya untuk mendapatkan title S1-nya. Bulan Juni 2014 (090614) Curly menyelesaikan ujian meja di Kampus Ungu Tamalanrea (Baca: efkaem). Bulan Juni pada tahun yang sama Curly diwisuda. Bulan Juni 2015, Curly mendapatkan pekerjaan perdananya di Kalimantan dan tandatangan kontrak (220615). Gimana loe gak bilang Juni itu ketjehh??


2.4.6


ps.
Untuk menyelesaikan tulisan ini butuh niat yang bener-bener diniatkan. Jadinya baru  selesai sekarang dan baru diposting sekarang. Hihi.

Dahai, 080716




Minggu, 19 Juni 2016

"Teruntuk Cucunda Terkasih."

Tungguru Saranga'

Kalimat di atas di ungkapkan oleh sosok di dalam gambar ini. diungkapkan dalam sebuah surat di zaman modern ini. He is my grandpa. ^_^

 Saya juga punya kakek lohh, emang kalian doang yang punya. (Ceritanya ada anak kecil lagi main di taman sambil ejek-ejekan). Hahaha.
Yup. He is my Kakek. Dulu saya memanggilnya “Papak Tua” tapi semenjak “mamak tua” meninggal, akhirnya sepupu-sepupu kecil lainnya mulai manggil kakek, jadilah saya ikutan dengan panggilan tersebut. (gak berpendirian teguh banget yah, bisa-bisanya digerus sama selusin kacuping, haha)
Kakek adalah sosok yang sangat peduli pada pendidikan. Kami sering diceritakan oleh mamak tentang bagaimana pedulinya kakek terhadap pendidikan. Bukan hanya kebutuhan seperti uang sekolah, buku sekolah, dan pakaian sekolah saja, tapi juga yang berhubungan dengan fasilitas untuk menuju tempat menimba ilmu. Hal ini lebih mulai kelihatan saat mamak melanjutkan studinya di Makassar (dulu Ujung Pandang) untuk menyelesaikan pendidikan S1 nya. Saat kuliah dulu, kakek memberikan mamak sebuah sepeda, yang pada saat itu masih jarang digunakan orang. Jadi, saat orang-orang masih berjalan kaki ke kampus, mamak sudah menggunakan sepeda pemberian kakek. Gilakk. Kece dong emak ku dulu. Haha.
Mamak juga sering menceritakan bahwa kakek tidak pernah mengatakan “tidak” jika ada uang yang harus disediakan untuk membayar kebutuhan sekolah, pasti selalu diusahakan entah itu dipinjam ke bank atau bahkan orang lain. Sepertinya sifat ini yang menurun ke mamak, saat kuliah dulu beliau juga tidak pernah mengatakan tidak ada uang pada kami jika tentang kebutuhan pendidikan, pasti selalu diusahakan. Walaupun kadang telat, namun pasti ada.
Dari dulu memang kepedulian kakek terhadap pendidikan sudah terbukti sih. Salah satunya adalah jabatan terakhirnya sebelum pensiun yang merupakan seorang kepala sekolah di sebuah SD. Jabatan yang boleh dikata masih terpandang di kalangan orang di kampung kami pada masa itu. Makanya beliau kadang dipanggil oleh masyarakat sekitar dengan sebutan “Tungguru Saranga’”.
Salah satu hal yang paling saya ingat tentang beliau adalah caranya memberikan motivasi kepada cucunya untuk mau belajar. Dulu, beliau selalu memberikan reward untuk setiap nilai 9 yang didapatkan cucunya di raport. Jadi 1 angka Sembilan itu di tukarkan dengan uang Rp 50.000,-. Duit yang gede banget untuk cucunya yang saat itu masih sekolah di SD (ehhmm, sebagian besar cucunya masih SD yah, saya mah udah SMA kala itu -_-). Berhubung udah gede, jadi udah tau kalo motivasi belajar bukan tentang uang lagi. Halllahhh padahal sebenarnya mupeng, malu aja mau minta di kakek. Hahaha. Makanya setiap abis terima raport, pasti rumah kakek selalu rame dikunjungi oleh cucunya dengan modus ‘mau menjenguk kakek’ padahal di dalam tas mamaknya udah ada raport siap diperlihatkan. Paneennn. Hahaha. Tapi cara ini berhasil membuat cucunya belajar yang tekun dan terbukti sampai saat ini mendapatkan ranking di kelas mereka masing-masing. T-O-P dahh!!
Kakek juga seorang pendidik yang kreatif. Beliau mengajarkan kami mengenai pengetahuan umum Seputar Toraja melalui sebuah lagu. Saya yan masih kecil saat itu berpikir bahwa lagu itu adalah ciptaan Kakek, gak tau yah kalo beneran ciptaan beliau atau orang lain. Lirik lagunya seperti ini
“Gunung di Tana Toraja banyaklah sungguh yang ada.
Yang tinggi hanya satu saja. Gunung Sesean namanya.
Sungai di Tana Toraja, banyaklah sungguh yang ada.
Yang panjang hanya satu saja, Sungai Sa’dan namanya.
Pasar di Tana Toraja banyaklah sungguh yang ada.
Yang ramai hanya satu saja, Pasar Bolu namanya.
Kolam di Tana Toraja banynaklah sungguh yang ada,
Yang indah hanya satu saja, Kolam Tilanga’ namanya.”
Kakek juga adalah seorang sosok yang romantis. Kenapa? Jangan-jangan sering dapat bunga dari kakek. Boro-boro dapat bunga, yang ada kita malah dapat utan bai (baca: tambai). Hahaha. Jadi dulu, saat baru saya cucunya yang merantau untuk kuliah ke Makassar, beliau mengirimkan sepucuk surat. Pucuk...pucuk...pucuk... (Iklan Teh Pucuk Harum *ehh). Jadi amplopnya dititipkan ke mami eike (Kami memanggil saudara mamak dengan sebutan mami dan papi) yang saat itu sedang ke Makassar. Saat menerima amplop itu, keadaan bingung menyelimuti. Tssahhh. Mami bilang bahwa itu kiriman dari kakek, dan saat dibuka ternyata isinya adalah uang. Nominalnya saya lupa, namun yang paling saya ingat adalah ada sesuatu di dalam amplop tersebut bersamaan dengan uang yang dikirim, yaitu sepucuk surat. Pucuk...Pucuk...Pucuk..(lagi), dengan kalimat pembukaan “Teruntuk cucunda terkasih”. Ooohhheeemmmjjiii!!!! I am so melting!! Kemudian dilanjutkan dengan nasehat-nasehat belajar yang baik, jangan lupa berdoa, gunakan uangnya sebaik mungkin. Uweww, itu kek oase di tengah padang gurun men. Nah, belakangan saya bertanya ke mami, kenapa kirim uangnya pake amplop, emang gak bisa di titipkan ke mamak biar di kirim lewat bank yah? Kalo surat itu masih masuk akal sih, soalnya kakek gak pegang handphone. Penjelasan dari mami adalah, karena kakek gak percaya sama anak-anaknya, takutnya entar di salahgunakan lagi. Hahaha. Satu kepercayaan terbesar dari kakek sudah ada di genggaman, bahwa kakek lebih percaya cucunya daripada anak-anaknya. Hahahaha. (ketawa iblis).
Semenjak kuliah, kebiasaan membawakan raport berubah, berganti dengan kebiasaan meminta uang transport sebelum kembali ke kota tempat kuliah masing-masing. Hahaha. Selalu saja ada akal bulus cucu. Jadi sebelum balik ke tempat kuliah, kami pasti ke rumah kakek untuk ‘pamitan’. Yaaa, you knowlah, bahasanya aja ‘pamitan’ padahal modus di balik itu semua. Setibanya di rumah kakek, ngobrol bentar sebagai mukadimmah, lalu perkataan serangan itu dikeluarkan, “kakek, la male mo’ lako mangkasa’ dau bongi tapi tae’ sewa oto ku.” (kakek, nanti malam udah mau balik Makassar tapi gak ada uang transport)
“Tae’ mo seng ku totemo (saya udah gak punya uang sekarang),” jawabnya. Jawaban yang pasti akan keluar dari mulutnya setiap kami menyerangnya, yang kemudian dilanjutkan dengan penjelasan panjang lebar bahwa beliau abis potong babi, abis ada acara orang mati, abis beli ini, beli itu, bla, bla, bla. Namun, saat kami beneran mau pulang, beliau masuk kamar sebentar lalu keluar dengan memberikan uang, “ya manna mora te seng ku. Ya bang mo mi pake male.(tinggal ini uang kakek, kalian pake aja)”
Yup, itulah beliau. Awalnya bilang gak ada duit, dengan semua pengeluarannya itu, tapi beliau selalu ada untuk kebutuhan kami untuk mencapai cita-cita. Tapi jangan bilang bahwa beliau selalu ada duit. Saat kami meminta, dan emang kebetulan beliau bener-bener gak punya duit, kami beneran gak dapet apa-apa. Biasanya karena beliau abis beli obatnya yang banyak banget itu. Iyah, kakek sudah sering sakit-sakitan dan mengkonsumsi banyak obat. Tapi kadang kalo mama yang minjam untuk kami, beliau sepertinya masih mengusahakan.
Jadi tiap pulang kampung, mamak selalu mengingatkan kami untuk menjenguk kakek, entah itu membawakan ole-ole atau hanya sekadar menyapa dan menanyakan kabar. Membawakan roti yang bisa beliau makan, karena kadang kakek juga sudah tidak dapat memakan sembarang jenis makanan akibat alerginya. Saat akan ke rumah kakek pun kami kadang harus berlomba dengan waktu loh. Jangan salah, kakek adalah salah satu orang dengan jam terbang yang tergolong tinggi. Jangan pikir artis aja yang kek gitu, kakek kami pun juga kek gitu, bahkan kemungkinan menurun ke turunanya. Buktinya si Curly ini jam terbangnya tinggi, tiap 2 bulan sekali bolak-balik nyebrang pulau. Hahaha. Ehh, back to Kakek. Jadi telat dikit tiba di rumah kakek, beliau sudah tidak ada. Biasanya pagi hari beliau sudah jalan ke sawah sambil menenteng payung warna-warni super gedenya, dan beliau akan nongkrong di sawah sampai sore. Sepulang dari sawah, beliau akan lanjut untuk ibadah di rumah tetangga (beliau juga adalah seorang majelis gereja). Mau ketemu malam hari sepulang ibadah, hadeuuhhh, udara dingin Toraja di malam hari tidak dapat ditahan oleh tubuh anak muda ini. hahaha. Kalo bukan pagi hari, berarti anda harus kembali legi keesokan harinya, pada pagi hari juga. haha. Jadi seperti itu kebiasaan kami setiap kali kembali ke kampung, yaitu bertemu kakek..
Saat saya menyelesaikan study S1, saya masih sempat beberapa bulan menjadi pengacara (pengangguran banyak acara) yang galau dengan setiap surat lamara yang dikirimkan. Beberapa kali bolak-balik Makassar-Toraja, dan masih dengan kebiasaan yang sama yaitu mengunjungi kakek. Nasehat untuk yang masih sekolah dan yang udah selesai sekolah (alias nganggur) emang beda yah. Saat itu saya lagi santai-santai, ehhh gak ada hujan gak ada angin langsung meluncur kata-kata nasehat untuk cucunya paling Karibo kece sejagat ini, “Dau mendapo’ ke tae’ pa mu ma’jama. Dau daka’ tau mambela, tae’ na di bela male lako dau. Yake ma’jama moko, dau langsung mendapo’, di ben dolo tomatuanta tu gaji ta. Parallu to menabung.” (jangan menikah dulu kelo belum kerja. Gak usah cari orang jauh, nanti kami susah kalo mau ke sana. Kalo udah kerja jangan langsung nikah, orang tua dulu yang diberikan gaji kita. Menabung itu perlu)
Postingan saat dapat ceramah tiba-tiba dari kakek. Saking membekasnya sampe di buat postingan. ^_^


Ruarrr biasa!! Otomatis eike shock lah bo. Tiba-tiba ngomongin soal mendapo’ alias nikah. Udah galau kerjaan, ditambahin lagi galau mendapo’nya. Kakekku udah nasehatin mendapo’ tuh, kamunya di mana sekarang? Ehh. Hahaha. Iyup. Nasehat berganti mengenai pekerjaan dan pasangan hidup. Hadeuhhh. -_-. Tapi, sebagai cucu yang baik hati dan tidak sombong dan tidak makan sabun, saya tetap mendengarkan nasehat itu.
Sekarang, Curly sudah bekerja dan merantau di tempat yang jauhhhhhhh banget, yang kalo dari kampung ke tempat kerja harus melalui 3 jenis transportasi dulu untuk bisa sampai, yaitu transportasi darat, laut, dan udara. Untungnya setiap 2 bulan kami memliki jatah libur selama 2 minggu yang pastinya kesempatan itu saya gunakan untuk pulkam. Setiap kali pulang kampung, hal yang sama tetap kami lakukan. Setiap libur dan balik ke Toraja, hal pertama yang kami lakukan saat sudah tiba di Toraja adalah, masuk rumah dan langsung tidur, soalnya tibanya subuh. Yaeyaallaahh!!! :D Sebelum ke mana-mana kami mengunjungi kakek, membawa ole-ole atau sekadar menyapa menanyakan kabar. Semenjak kerja, waktu yang saya habiskan jika berkunjung ke rumah kakek lumayan lebih lama dari biasanya, apalagi kalo beliau lagi ada di rumah. Banyak yang kami bicarakan. Lebih tepatnya beliau yang lebih banyak bicara, dan kami hanya mendengarkan sambil sesekali menimpali, yang harus dilakukan sambil teriak. Pendengaran kakek udah terganggu sekarang, jadi harus bicara dengan volume yang agak besar. Jadi kalo ada yang dengar di jalan, mungkin ada yang berpikir kalo kami sedang marah sama kakek. Padahal kannn,, ahhhsudahhlahhh. :D
Kebanyakan yang kakek bicarakan adalah aktifitasnya selama ini. Ke mana saja uangnya habis digunakan, habis potong babi di mana, habis acara orang mati di mana, dll.  Selain itu, tentang pekerjaan kami, kebetulan saya dan Erik adalah cucunya yang saat ini sudah bekerja. Entah kenapa kakek sangat menjunjung tinggi yang namanya menjadi PNS. Mungkin karena beliau adalah seorang PNS yang notabene bisa dibiayai seumur hidup. Beliau gak suka dengan orang yang gak punya pekerjaan tetap karena beliau berpikir, jika tidak ada penghasilan tetap tiap bulan, apa yang akan digunakan untuk menghidupi cucunya kelak. How sweet!! Selain pekerjaan, masih ada satu hal yang tidak pernah absen disampaikan saat kami  mengunjunginya. Masih dengan masalah pasangan hidup. Sekali lagi saudara-saudara, PASANGAN HIDUP. Menabung dulu, gaji diberikan dulu ke orang tua, jangan langsung menikah, and something like that. Di situ kadang saya merasa lelah. Haha. Banyak yang beliau ceritakan, dan saya juga senang mendengarnya, atau sekedar melihat beliau bercerita sambil tersenyum. Salah satu moment yang paling saya suka saat berbicara dengan kakek, yaitu beliau tersenyum.
Itu kebiasaan kami setiap kali pulang kampung, mengunjungi kakek. Gak ada yang berubah. Mungkin yang berubah adalah, dulu kami yang meminta uang dari kakek, tapi sekarang sepertinya sudah saatnya kami yang memberikannya perhatian dalam bentuk apapun. Terakhir saya ke sana, kakek kebetulan lagi ada di rumah, karena sudah beberapa hari sakit dan gak bisa keluar rumah. Beliau, seperti biasa, bercerita tentang aktifitasnya, uangnya yang habis untuk ‘mantunu, bayar utang, dll. Kue  yang saya bawakan (Brownis Amanda) juga sama sekali gak dimakan, beliau gak suka dengan kue itu. Beliau sukanya roti biasa aja. Keadaan usia yang sudah tua, menjadi salah satu penyebab banyaknya penyakit yang menggerogoti. Ditambah lagi kebiasaan buruknya yang suka minum ‘tuak/ballo’.
Demikian sedikit yang dapat saya ceritakan tentang kakek. Seorang sosok pendidik dan orang tua yang melekat di hati anak dan cucunya. We love you grandpa. Keep healthy yahh.

_curly_

Senin, 23 Mei 2016

Ma'Bugi'

Jika di tanah Jawa ada yang namanya Reog Ponorogo, di Toraja ada yang namanya Ma'bugi'. Jika di Jawa ada namanya Debus, di Toraja juga punya hal serupa. Want to know? Check this up. 
Ma'bugi' adalah salah satu upacara adat Toraja yang terdiri atas prosesi tarian/nyanyian yang di laksanakan dalam acara rambu tuka' (ucapan syukur). Sepintas, nyanyian yang diserukan dalam upacara ini kedengaran seperti Ma'badong (nyanyian kesedihan atau belasungkawa di upacara kematian), tetapi yang membedakan adalah syair-syairnya yang merupakan syair ucapan syukur atau kebahagiaan.
Tarian Ma'bugi' dilakukan biasanya di tempat Pa'bugiran (tempat untuk Ma'bugi'), tempat yang lapang dan luas biasanya sawah sehabis panen yang sudah kering.
Ma'bugi biasanya dilaksanakan selama 6 bulan untuk mencapai puncak upacaranya. Dalam 6 bulan tersebut, ada waktu pada malam-malam tertentu orang-orang akan melakukan "Nondo" dengan membentuk  lingkaran sambil saling mengaitkan tangan  dan menyanyikan syair-syair ungkapan syukur dan di bantu oleh teriakan "Meoli" dari penonton. Hal ini dilakukan hingga mencapai puncak acara.
Puncak acara Ma'bugi' dilaksanakan pada siang hari dimana seluruh hasil bumi di daerah tersebut di bawa serta dalam arena upacara. Hasil bumi tersebut digunakan untuk makan bersama seluruh masyarakat yang hadir dalam upacara tersebut.
Mengawali puncak acara Ma'bugi' tersebut, peserta melaksanakan "Nondo" dan menyanyikan syair yang lebih seru dari biasanya yang dilaksanakan pada malam hari. Semakin lama nyanyian tersebut akan semakin ramai dan pada puncak keramaian itu akan ada peserta yang kerasukan. Peserta yang kerasukan itu akan melakukan hal-hal yang tidak biasa yang menurut logika manusia dapat melukai dirinya.
Dalam puncak acara Ma'bugi' ini, terdapat beberapa prosesi yang terjadi yang dilakukan oleh orang-orang yang kesurupan, diantaranya:
▶ Mantere, yaitu prosesi dimana orang yang kerasukan akan mengiris-iris badannya tubuhnya (leher, tangan, perut) dengan parang yang tajam hingga berdarah namun sesaat setelah darah mengucur dia akan mengusapkan daun Tabang (lihat gbr : daun berwarna merah yang dipegang oleh barisan nenek di depan) di luka itu dan langsung sembuh (saya lagi cari info mengenai bahasa Indonesia dari daun tabang. Daun ini berbentuk panjang dan berwarna merah. Daun ini sudah sangat dekat dengan krhidupan masyarakat Toraja dalam setiap upacara yang dilakukan). Dulu, ada seorang yang paling terkenal saat melakukan Mantere yang dikenal dengan nama Lala. Dia merupakan pemeran utama dalam acara puncak, dimana dia akan menusuk keningnya  dengan pisau hingga darahnya mengucur keluar, namun daun Tabang udah stand by di tangannya.
▶ Memanjat tangga dengan anak tangganya adalah susunan parang yang tajam namun kaki orang tersebut tidak terluka sama sekali (ilmu kebal)
▶ Memanjat pohon bambu dan saat sampai di puncak orang yang kerasukan tersebut akan melakukan "Mantere".
Setelah kerasukan, maka selesai pulalah prosesi Ma'bugi' yang diakhiri dengan makan bersama oleh seluruh warga masyarakat yang hadir di tempat tersebut.
Jadi ini salah satu upacara di Tana Toraja yang baru saya dengar kisahnya dari orang tua saya sendiri. Berawal dari kegiatan Ulang Tahun KSP Balo'ta yang saya hadiri dan menampilkan sebagian kecil dari prosesi Ma'bugi' (videonya dapat dilihat di akun intagram saya @ekaismaliliany).
Ini sejarah versi kedua orang tua saya, jika ada yang ingin menambahkan atau meluruskan silahkan tinggalkan komen atau kirimkan ke email saya (ekaismaliliany@gmail.com) karena saya juga masih belajar untuk mengenal sejarah budaya saya sendiri.
Karena Toraja masih memiliki banyak rahasia yang belum saya kupas.
Kurre.

Sabtu, 02 April 2016

Sehari Bersama SAMARINDA

Helaaww guys. Liburan kemarin eike bareng temen memutuskan stay di Kalimantan, gak keluar pulau maksudnya, jadi gak ke Sulawesi apalagi pulang kampung. Karena satu dan lain hal maka kami hanya menghabiskan liburan di Kalimantan aja. HANYA?? Oww. Jangan salah. Kalimantan punya banyak tempat yang layak dijadikan tempat wisata. Liburan 2 minggu ini hanya kami habiskan di kota Balikpapan dan Samarinda. Yup, anda gak salah baca. Itu tulisannya Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang dijuluki orang sebagai Kota Tepian.
            Saya yang numpang di kosan SIST saya di Balikpapan tentunya gak bakalan betah kalo off duty selama 2 minggu hanya dihabiskan di kamar saja. Bangun tidur hanya lihat dinding, kasur, bantal guling, bantal kepala, gallon air, lemari pakean, kipas angin, paling jauh jalan ke kamar mandi, yaa lumayan di sepanjang lorong kosan bisa lihat sepatu berjejer depan masing-masing kamar. Bangun tidur gak ngerjain apa-apa, dari Shalat Subuh sampe Maghrib hanya satu posisi aja yang kami buat, posisi tidur sambil megang Xperia dan Samsung, itu aja. Atau kalo ada bahan makanan, kami masak untuk makan siang, atau paling berat  cuci pakean yang lamanya bisa sampe 2 jam karena harus nampung air dulu. That’s it. Itu kalo kami di kosan terus yah. Tapi untungnya kami sama-sama memiliki golongan darah O. Hubungannya? Kami sama-sama masih manusia. Haha. Yaeyalahh. Di samping kami masih manusia, kesamaan golongan darah menunjukkan kesamaan karakter kami, terutama dalam hal stay in a one place while you are on holiday.
            Saya pernah membaca postingan sebuah akun di Line bernama Golongan Darah yang mengatakan bahwa “Golongan darah O itu gak bakalan betah kalo seharian hanya di kamar, pengennya jalan terus”. Iyup, karena saya merasa didukung sama postingan ini makanya saya melakukan hal untuk membenarkannya. Biasa, sifat dasar manusia kan gak suka disalahkan. Hahaha.. Maka kami berdua si darah O akhirnya memutuskan untuk sering-sering jalan, memanjangkan kaki. Jadi selama off duty kemarin kami mengunjungi beberapa tempat yang belum pernah akmi datangi selama di Balikpapan diantaranya adalah Maha Vihara Buddha Manggala, nongkrong di Pantai Melawai, mengikuti pameran Budaya di Dome yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Balikpapan yang mana di sana kami mendapatkan goody bag gratis di Stan KKP Dinkes dan di stan Dinas Pariwisata kami mendapatkan peta tempat wisata apa aja yang wajib dikunjungi di Balikpapan. Tapi kali ini saya gak akan menceritakan soal Balikpapan, ada satu tempat yang kami jadikan perpanjangan kaki kami (perpanjangan kaki? Istilah apaan nih) yaitu Samarinda.
Samarinda menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk traveling kami karena si partner in crime saya ini, inisialnya Febi, belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Kota Samarinda. Dengan alasan yang menurutnya udah kuat banget bahwa sudah 1,5 tahun dia berada di Pulau Kalimantan, tapi menginjakkan kaki di Ibu Kota Kaltim aja yang jaraknya hanya 2 jam dari Balipapan itu sekalipun gak pernah, padahal sampai hutan paling hutannya Kalsel aja yang ditempuh dengan perjalanan ekstrim udah dia datangi. Saya yang udah beberapa kali ke Samarinda sempat mikir sih, dia mau lihat apa di sana, gak ada tempat menarik menurut saya. Tapi selama 3 kali saya berkunjung ke Samarinda (jiah, berkunjung, situ ibu negara? :D) ada satu tempat yang sangat ingin saya datangi dan gak pernah kesampaian, yaitu Mesjid Islamic Centre Samarinda meeegaaahhhh yang konon katanya adalah mesjid terbesar se-Asia Tenggara. Karena keinginan itu akhirnya saya ikut juga ke Samarinda .
Akhirnya salah satu syarat untuk melakukan suatu perjalanan sudah terpenuhi, yaitu niat (Tolong di garis bawahi). Iyup, hal pertama yang harus anda siapkan saat akan melakukan traveling adalah niat karena tanpa niat semuanya gak akan terlaksana dengan baik . Yakan?? Yakan?? Correct me if I’m wrong :D. Partner saya ini berencana hanya sehari di Samarinda yaitu berangkat pagi dan pulang sore, jadi kami mencari tempat wisata yang dapat kami datangi dalam sehari itu dan sarana yang dapat digunakan untuk menempuhnya. Maka kami mencari informasi mengenai tempat wisata di Samarinda melalui social media dan bertanya ke beberapa kenalan kami di Samarinda. Umm, koreksi, bukan beberapa teman sih, hanya satu teman kami yang menjadi sumber informasi mengenai Samarinda (sebut saja dia dengan inisial Keket). Iyah, wanita yang berperan besar untuk perjalanan kami terutama mengenai kendaraan apa saja yang dapat kami gunakan untuk mencapai daerah tersebut. So, remember guys. Saat anda ingin mengunjungi tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya, pastikan untuk mencari informasi dahulu, seperti akses ke sana, waktu kunjungannya, jika itu tempat ibadah pastikan apakah dibuka untuk umum dan tata krama memasuki wilayah tersebut, dan kalo sempat cari informasi mengenai waktu atau musim apa tempat itu bagus di kunjungi oleh turis. Eitss,, iyah. Kami udah tergolong turis loh yah, turis domestic.
Setelah mencari informasi dari beberapa sumber, akhirnya selama jalan-jalan sehari itu kami berencana mengunjungi Vihara terbesar di Asia Tenggara yang baru di resmikan pada bulan Maret ini, Mesjid Islmic Center, Pasar Pagi, Nongkrong di Tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrongnya anak gaul Samarinda (belakangan saya tau kalo di situ tempat nongkrongnya anak alay). Untuk sementara itu dulu tempat yang akan kami kunjungi berhubung waktu kami sangat terbatas. Setelah menentukan tempat, kami mengatur waktu dan urutan tempat yang akan kami kunjungi dengan memperhitungkan estimasi waktu perjalanan dan waktu yang akan dihabiskan di setiap tempat.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar sebelum Shalat Subuh berkumandang (kosannya Febi dekat banget sama mesjid jadi suara Adzan kedengaran banget)kami belum bangun. Kami bangun setelah Adzan berkumandang. Demi mendapatkan bus pertama ke Samarinda, kami mempersiapkan segala sesuatunya, merasakan kembali segarnya mandi pagi (ketahuan banget yang selalu bangun kesiangan), menunggu angkot menuju terminal Batu Ampar yang susah banget.  Kami berangkat dari kosan pukul stengah 7 pagi untuk mendapatkan bus pertama yang katanya berangkat jam 7. Namun, berhubung area kosan kami di daerah MT. Haryono jam segitu masih jarang angkot maka kami agak lama menunggu. Hampir jam 7 kami mendapatkan angkot menuju Terminal Batu Ampar. Terminal Batu ampar adalah terminal dengan tujuan Balikpapan Samarinda. Di sana bus-bus berkumpul menunggu penumpang, namun dari pengalaman saya sebelumnya bus di terminal akan lama banget ngetem jadi kami memutuskan untuk langsung ke pertigaan menuju terminal. Di sana kami mendapatkan bus yang gak terlalu lama ngetem. Untungnya kami masih mendapatkan bus pertama yang berangkat pukul 07.30. Dengan bermodalkan 30ribu rupiah, bus pun membawa kami menyusuri jalanan yang membelah hutan Kalimantan menuju Samarinda. Tarif bus Samarinda-Balikpapan ataupun sebaliknya berkisar antara 30-40 ribu rupiah, tergantung fasilitas busnya. Bus yang kami gunakan adalah bus non-AC yang sempat di komen oleh salah satu teman saya, “bus ji itu?”. Iyah. Ini bus. Jangan mengharapkan anda mendapatkan bus Toraja dengan full AC, suspense nyaman (pake banget), ada selimut dan tempat duduk lebaaarrr. Big no. Lagian ini hanya perjalanan 2 jam doang. Naik pete-pete juga bisalah :D. Selain bus non AC, ada juga bus yang sepertinya lebih nyaman yaitu bus AC yang bisa didapatkan dengan harga 38 ribu rupiah, hanya saya belum pernah menggunakannya.

Keadaan Bus Balikpapan - Samarinda

Tiket Bus Angkutan Balikpapan - Samarinda

Di sepanjang perjalanan menuju Samarinda mata anda akan dimanjakan oleh pemandangan hijau dan lebatnya hutan Kalimantan terutama saat anda memasuki wilayah Bukit Soeharto, sebuah area hutan lindung bagi flora dan fauna Kalimantan. Bus juga akan melewati beberapa rest area yang menjual berbagai makanan, perkampungan warga, area kebun sawit, dan jalan hauling menuju area pertambangan. Kadang saya miris setiap kali melewati daerah ini karena terlihat bagaimana terlihat pembukaan lahan sehingga pohon-pohon ditebang dan dijadikan area untuk membangun perumahan. Sekitar 2 jam perjalanan kami memasuki wilayah Kota Samarinda (Samarinda Seberang) dan kami masih harus berjalan selama 30 menit untuk tiba di Terminal bus di Samarinda Kota. Samarinda terbagi atas 2 wilayah yaitu Samarinda kota dan Samarinda Seberang. Dari Samarinda Seberang ke Samarinda kota kami melewati jembatan penghubung antara kedua wilayah tersebut, jembatan yang melintasi Sungai Mahakam, sungai terbesar di Kalimantan timur. Dari atas jembatan tersebut, anda dapat menyaksikan kehidupan masyarakat di bantaran sungai Mahakam dengan kapal atau klotok atau speed yang berlalu lalang di sungai. Selain itu, ada juga kapal pengangkut batu bara yang melalui sungai ini.
Tepat pukul 10.00 bus yang kami tempati memasuki area terminal. Saat turun dari bus, ada akan langsung di tawari oleh tukang ojek atau supir taksi (di Samarinda, orang menyebut angkot dengan sebutan “taksi”) untuk mengantarkan anda ke tujuan anda. Berhubung kami gak mau menunggu terlalu lama (karena menunggu itu butuh energi, apalagi nunggui kamu, eehh), akhirnya kami berjalan ke depan terminal dan mengambil angkot hujau menuju Mall Lembuswana, namun karena ada seorang penumpang yang searah dengan kami jadi kami ikut dengan beliau dan turun di Pasar pagi untuk ganti angkot menjadi Angkot merah menuju Vihara. Biaya yang kami keluarkan untuk sekali naik angkot adalah 7ribu rupiah per orang.
Terminal Samarinda

Di angkot merah kami cukup memberitahu supir angkot bahwa tujuan kami ke Vihara di daerah Damahuri dan pak supir langsung tahu. Sepertinya tempat itu cukup dikenal. Sekitar 15 menit kami akhirnya tiba di Vihara yang dimaksud, tempatnya ternyata langsung berada di pinggir jalan yang dilalui angkot jadi kelihatan dari jauh patung Buddha nya.
Gak membuang waktu kami langsung menuju pintu gerbang Vihara yang gedenya Naudzubillah. Selayaknya tamu yang wajib lapor kalo datang ke tempat baru, kami juga seperti itu. Kami minta izin ke security untuk masuk di area Vihara. Tapi sayangnya ternyata Vihara itu gak di buka untuk umum untuk saat ini. Yang boleh masuk hanya orang yang sudah buat janji dengan pengelola Vihara atau jemaat yang akan beribadah di dalam. Hiks. Syedih. Mana udah jauh-jauh datang lagi, ujung-ujungnya gak bisa masuk. Tapi dari informasi yang saya dapat dari internet emang belum gak ada info kalo bisa dibuka untuk umum sih, jadi yasudahlah. Akhirnya kami ngobrol aja sama bapak securitynya, lumayan kan si bapak bisa ngobrol sama petualang cantik yang belum sempat masuk tipi. Dari informasi bapak security, katanya pengujung boleh masuk tapi Cuma sampai di kafenya aja. Kafenya itu tepat di bawah patung Buddha, jadi kita bisa lihat patungnya dari dekat. Kafenya menyediakan makanan untuk vegetarian, soalnya penganut agama Buddha kan emang gak boleh makan daging. Kami pengen sih masuk nongkrong di kafenya, tapi kelamaan kalo mau nunggu, soalnya kafenya buka jam 12. Karena merasa udah cukup dengan bertanya-tanya ke security, jadi kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Pintu Gerbang Buddha Centre

 Perut udah keroncongan menandakan cacing-cacing di perut butuh asupan nutrisi. Berhubung pada saat itu hari Jumat, Mesjid yang selanjutnya akan menjadi destinasi kami pasti akan dipenuhi dengan jamaah yang akan melaksanakan shalat Jumat sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di depan Mesjid. Ada banyak penjajah makanan yang berjualan di sepanjang jalan depat Islamic Centre tersebut. Karena tujuan kami ke sana, akhirnya kami kembali menaiki taksi merah untuk kembali melanjutkan dengan angkot hijau menuju Islamic Center. Di sepanjang perjalanan, kami sibuk membahas tentang makanan wajib jika berkunjung ke Samarinda, tapi gak ada clue. Kami sudah bertanya ke seorang ibu-ibu asal Sulawesi di taksi tapi bilangnya gak ada makanan khas di Samarinda. Sampai akhirnya naiklah seorang ibu menggandeng anaknya yang masih SD menaiki angkot. Mendengar kami membahas makanan khas Samarinda si ibu langsung nimbrung, dan memberikan informasi mengenai makanan wajib jika ke Samarinda. Ibu ini bener-bener seperti oase di tengah gurun pasir, membawa informasi saat lagi butuh-butuhnya, apalagi informasi tentang makanan, diberkatilah anda bu :D. Si ibu bilang kalo ada sate  namanya sate paliat yaitu sate dari daging sejenis daging rusa yang di jual di salah satu rumah makan bernama RM Amado di Jl. Diponegoro. Karena penasaran dengan makanan tersebut, kami langsung menuju jalan Diponegoro. Rela deh kami nunggu 1,5 jam demi merasakan gimana rasa sate yang dimaksud. Nunggunya bukan karena dagingnya baru di cari yah, tapi karena saat itu kami tiba tepat pada waktu shalat Jumat sehingga rumah makannya di tutup untuk sementara while karyawannya melaksanakan Shalat dulu. So, buat temen SMP gue, teman SMA gue, yang mau coba makan di sana, pastikan elu semua gak datang tepat pada shalat Jumat yah.
Setelah nunggu bodo-bodo selama 1,5 jam akhirnya warung makannya buka dan itu bagaikan oase di padang gurun. Jadi pas si pegawai buka pagarnya itu kek slow motion banget trus rumah makannya langsung bercahaya, dan cacing di perut langsung menabuh gendang tanda perang dimulai, perang terhadap kelaparan. Gak nunggu waktu lama, langsung masuk ke warung makan tersebut, duduk manis di kursi (arti ‘duduk manis’ adalah cewek manis lagi duduk), waiter datang, kami langsung pesan. Dengan kepedean tingkat tinggi saya langsung nanya, “Ada sate rusa gak?”
Si waiter dengan wajah bingung menggelengkan ke kepala sambil berkata, “gak ada, Mba. Di sini gak ada sate kek gituan.
“Trus adanya sate apa?”
“Sate ayam aja.”
Whattt???? Trus maksudnya ibu itu tadi apaan. Wah kita di bohongin nih. Yaudah, karena gak ada menunya dan kami juga kelaparan udah nunggu selama 1,5 jam jadi kami mesan yang ada aja. Di dinding rumah makan tersebut ada terpajang menu makana yang kemungkinan dijadikan sebagai menu andalan rumah makan ini, jadinya kami mesan Sup Kimlo Ayam Kampung aja.
Sambil menunggu pesanan kami datang, kami memperhatikan rumah makan tersebut. Ternyata banyak juga yang datang untuk makan siang di tempat ini. Mulai dari bapak-bapak sampai ibu-ibu semua yang ada di sini, dari yang bermobil sampai yang jalan kaki, dari yang kurang cantik sampai yang cantik banget, datang di sini. Intinya dari kata-kata saya yang bertele-tele dari tadi itu adalah rumah makan ini lumayan laris. Dan dari informasi teman saya, tempat makan ini memang terkenal.
Pesanan kami pun nongol. Dari kuahnya sepertinya enaaakkk banget. Entahlah kalo saat itu mungkin karna kami sedang lapar-laparnya yah. Tapi dari penampilannya sih good looking. Telur rebusnya di suwir-suwir jadi gak bikin saya illfeel duluan, yang notabene kadang menilai makanan dari luarnya dulu. When we tasted the soup, wow. Enak. Beneran enak loh yah. Awalnya kami juga penasaran dengan menu ini, kek gimana sih rasa Sup Kimlo itu. Ternyata rasanya sama aja sih kek soto ayam pada umumnya, tapi ini soto ayam versi enak.
Kalo soal harga makanan, di tempat ini memberikan harga yang terjangkau. Awalnya kami piker akan mahal, melihat banyaknya orang yang datang makan ke tempat ini, tapi opini itu terpatahkan di meja kasir. Tsahh. Kami hanya membayar Rp 25.000,- untuk seporsi soup kimlo dan Rp 5.000,- untuk sebotol air mineral. Terjangkau kan?
Menu Makanan di RM Amado

Selesai memberi makan cacing di perut, kami melanjutkan ke tujuan awal kami. Mesjid Islamic Centre Samarinda. Here we come!!!! Kami melanjutkan perjalanan menggunakan angkot hijau, yang kami rasa udah jauh banget mutar-mutar. Kirain udah mau di bawa lari sama si sopir taksi, tapi saya piker gak mungkinlah dia berani, mau di smack down sama salah satu penumpangnya ini. And Finally, we are here!!
Mesjin Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim

           Masjid Baitul Muttaqien Islamic Centre Kaltim. The largest mosque in Kalimantan. Mesjid  terbesar kedua di Asia tenggara setelah Mesjid Istiqlal (pengen [ake bahasa inggris tapi gak tau bahasa inggrisnya :D). Akhirnya eike bisa menginjakkan kaki di mesjid ini setelah keempat kalinya datang di kota Tepian ini. Mesjidnya luar biasa gede. Bagi perempuan, gak harus pakai penutup kepala koq kalo mau masuk ke area mesjid. Di dalam mesjid juga koq orang yang nongkrong. Entah itu bapak2, pemuda pemudi Indonesia. Entah itu yang sedang belajar agama, sharing, atau yang lagi hunting foto. Entah itu ayah ibu anak atau sepasang sejoli yang sedang menjalin cinte. Dan kami hadir sebagai pelacong yang mengagumi keindahan arsitektur tempat ini. Kami nongkrong di sana sampai setengah empat saat suara adzan untuk shalat Ashar sudah dikumandangkan. 
Landscape Mesjid Islamic Centre 

Puas melihat-lihat kami langsung nyebrang ke depan Mesjid. Sebenarnya salah satu destinasi temen saya ini adalah pengen nongkrong di tepian Mahakam yang katanya tempat nongkrong anak gaolnya Samarinda. Tapi berhubung kami ga tau tempatnya di mana jadi kami nongkrong aja di seberang jalan Mesjid, masih tepian Mahakam juga koq. Lagian kami udah gaul, ngapain carri tempat gaul lagi. Haha.
            Tepian Mahakam ini menurut saya seperti pinggir sungai pada umumnya. Bau air sungai dan sampah-sampah yang di buang ke sungai memperjelek penampilan tepian ini. Ditambah air sungainya yang keruh berwarna coklat, warnanya emang kek gitu sepertinya. Tapi pemandangan yang disajikan gak membosankan juga. Di hadapan anda terhampar luas sungai Mahakam yang lebarnya minta ampun jauhnya. Gede banget pokoknya. Ada juga kegiatan anak-anak yang main kantinting di sungai. Oyah, satu fenomena luar biasa yang bisa kamu lihat di sini  yaitu Gunung Berjalan. WOW. Iyah, kamu bisa melihat kapal-kapal pengangkut batu bara lalu lalang di sungai ini, itu gunung berjalannya :D. Tapi katanya kapal pengangkut batu bara ini hanya lewat sampai sore hari.
Tepian Mahakam

            Puas duduk-duduk di tepian Mahakam akhirnya kami beranjak, dan kami berpisah di sana. Febi akan kembali ke  Balikpapan dan saya masih tinggal sehari di Samarinda mengunjungi sanak keluarga di sana, maklum keluarga besar. Torayakan, aihihi. :D
            Pada malam harinya saya masih berkesempatan untuk mengunjungi Mahakam Lampion Garden. Bukanya ini mulai malam hari, yaeyalahhh namanya juga lampion. Sebuah tempat di mana semua keajaiban dunis berkumpul di sana :D. Hanya dengan modal sepuluh ribu kamu bisa dapat gelang sebagai tanda kamu bisa masuk ke lokasi lampion Garden itu. Lumayan lah cuci mata malam-malam. Cuci mata melihat para ibu-ibu gendong anaknya dan di temani suami tercinta, ahhsyudahlah, pulang yuks.
Mahakam Lampion Garden

Jadi itu beberapa tujuan wisata kammi selama di Samarinda. Masih banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi di Samarinda dan sekitarnya, diantaranya Desa Pampang yang merupakan desa adat suku Dayak, Kota Tenggarong yang hanya berjarak sejam dari Samarinda, tempat pembuatan tenun Kalimantan, dan masih banyak lagi. Sayangnya waktu kami hanya sebentar jadi hanya beberapa tempat yang bisa kami kunjungi. But we love this trip. Ngetrip kilat namun hasilnya memuaskan bagi para pemula seperti kami.
Pulau Kalimantan adalah tempat kami meraup sesendok berlian, dan pulau Kalimantan juga menyuguhkan keindahan pesonanya. Indonesia is the best country that I ever had :D.
Holiday is over, saatnya kembali ke rutinitas pekerjaan lagi. Next time, kami akan mengunjungi tempat-tempat yang baru lagi.  :D 

Jumat, 01 April 2016

CURLY, SINETRON, DAN PS (VERSUS? I DONT THINK SO)

LUCU.
Lucu rasanya mengingat kembali bagaimana melihat seorang laki-laki separuh baya melemparkan remote di depan wajah saya. Bukan ke wajah saya yah. Jadi remotenya dibanting ke lantai, kan kasihan remotenya, gak salah apa-apa koq di banting. Setelah itu balik ke kamarnya, meninggalkan ruang TV dan sambil berkata kepada saya, “Dasar bawel. Jadi orang bawel banget.”
Dikatain bawel itu lucu yah? Iyah, dan sekarang saya lagi merasa lucu banget di kamar mengingat kejadian itu. Jadi pengen menumpahkan kelucuan itu dalam sebuah tulisan. Tssaahhh. Jadi kek apa kisahnya?
            Kejadiannya sekitar 2 jam yang lalu di ruang nonton mess kami. Entahlah, hari ini saya merasa pengennnn banget duduk di depan tivi, senderan di lengan kursi (berharapnya sih di lengan abang, *uhuk), sambil minum kopi. Wuisshh, nyamannya dunia. Mungkin bagi sebagian besar orang, kegiatan itu sudah sangat lazim dilakukan, tapi bagi saya kegiatan itu langka banget.
Saya, yang notabene seorang pekerja di lokasi tambang, jauh dari keluarga dan teman-teman, menjadi kaum minoritas di mess (dalam hal ini jenis kelamin), paling malas duduk  di depan tivi, apalagi akhir-akhir ini. Gimana mau nonton, saya baru selesai mandi aja si bapak-bapak udah duduk manis di depan tivi sambil nonton sinetron (yang paling saya tau tuh yang judulnya “Anak Jalanan”), dan saya gakk suka banget sama sinetron yang menurut saya itu pembodohan banget. Belum lagi kalo ada yang merokok, dan PASTI bakalan ada yang merokok. Saya paling gak suka dengan asap rokok, sebisa mungkin kalo bisa saya hindari ya mending menjauh deh, daripada terpapar. Baunya itu loh gak enak banget, bikin sesak napas aja. Bodo amat mereka tersinggung. Merokok adalah hak anda, dan menghindari asap rokok adalah hak saya. Titik.
Back to the reason kenapa saya jarang nonton di ruang TV. Akhir-akhir ini para pecinta olahraga jari (baca: PS) lagi gencar-gencarnya melakukan invasi ke mess. Terserahlah yah kalo ada yang gak setuju itu dikatakan sebagai penyerangan, tapi menurut saya ya emang kek gitu. Mereka bisa main sampai berjam-jam selama beberapa hari loh. Bayangkan saja, saya pernah tiba di mess sekitar jam setengah 8 malam, mereka udah main dan itu lanjut sampe saya udah mau tidur sekitar jam setengah 12 malam, belum kalo malam minggu yang bisa mencapai jam 1. Trus invasinya di bagian mana? Kalo orang main PS, gak mungkin gak ribut kan? Nah, that’s the point. Para pelaku itu ributnya minta ampun. Para pelakunya kan kadang mencapai 8-10 orang yang ngantri untuk megang stick PS, nah bayangin kalo mereka teriak rame-rame, entah karena gol, entah karena salah trik penyerangan, entah karena salah pencet tombol, dan karena karena yang lain, I dunno. Gimana gak terganggu.  Dan gak mungkin kan saya, sebagai makhluk Tuhan paling cantik se-mess (baca: cewek satu-satunya), mau duduk manis di ruang tivi while they playing PS. Kurang kerjaan banget, apalagi di situ jumlah asap rokoknya akan lebih banyak lagi. Mending di kamar deh.
Jadi itu beberapa alasan kenapa saya paling malas nongkrong di ruang tivi. Walaupun masih nongkrong bentar sih kalo si bapak-bapak nonton sinetron. Yahhh sekedar comot cemilannya, atau sekedar gangguin, atau sekedar ngobrol bentar, atau sekedar komentarin pemain sinetronnya, tapi gak lama-lama banget lah, paling 5-10 menit doang. At least bisa keluar dari kamar dan melayangkan pandangan ke tempat yang lebih luas dibandingkan hanya di kamar yang ke manapun mata memandang hanya ada dinding warna putih yang kelihatan, untungnya di salah satu dinding udah ada hiasan puku-puku.
Tapi sebenarnya kadang saya betah juga sih yah di kamar berlama-lama, apalagi kalo kuota internet tumpeh-tumpeh. Hanya dengan memandang handphone waktu gak terasa udah berlalu aja. Makanya, sempat salah seorang teman kerja penghuni mess nanya, “kamu ngapain aja di kamar? Betah banget.” Saya juga bingung kenapa bisa sehebat itu dampak smartphone, bener-bener menjadikan manusia anti-sosial. Selain ngenet (bukan Ngenest loh yah), alasan lain saya betah di kamar adalah karena ada bacaan. I really love reading, utamanya sekarang yang lagi numpuk di kamar adalah novel. Salah satunya yaitu berduaan dengan om Sher, itu Buku Sherlock Holmes yang lagi saya baca sekarang. Jangan sampai ada yang mikir kalo itu adalah om-om selingkuhan saya yah, mau selingkuh dari siapa juga, gak ada yang diselingkuhin (kesannya koq ngenes banget yah??). Jadi membaca bener-bener bisa bikin saya lupa waktu banget, apalagi kalo lagi fit-fitnya. Di siang hari saya semangat menyelasaikan tugas demi untuk bisa berduaan sama om Sher di malam hari. Dari situ saya belajar me-manage waktu supaya setiap rencana saya bisa terlaksana tanpa mengorbankan kegiatan lain. Tsaahhh!!
Back to the insiden remote terbanting. Hari ini bener-bener pengen banget nonton tivi. Salah satu penyebab yang paling bertanggung jawab atas keinginan itu adalah karena ini adalah akhir bulan dan kuota sedang sekarat-sekaratnya. Kosong melompong tidak berbekas. Mau di kamar, gak bisa ngenet, walaupun masih ada bacaan sih, tapi keinginan noton tinggi banget. Pulang kantor sekitar jam 7, udah berinisiatif untuk tidak mandi malam lagi. Tiba di mess, ternyata tivi lagi gak ada yang nontonin, dalam hati, “tumben”.  Selesai mandi ternyata bapak pecinta sinetron lagi nonton, wahh remote gak bisa di rebut nih, dikuasai soalnya. Dan dimulai lah kebawelan itu.
Memulai kebawelan dengan mengomentari acara tivi yang lagi di nonton, karena sinetronnya lagi iklan jadi saya minta channelnya dipindahkan ke siaran berita, eh di gantinya ke siaran National Geography, emang saya kelihatan kek pawang hewan yang suatu saat nanti bakal tersesat di daratan Afrika yah? Bosan dengan acaranya, kebawelan dilanjutkan dengan mengomentari air gallon yang habis, jadi terpaksa saya ke kantin untuk ambil air, sekalian buat kopi (lagi pengen banget ngopi juga). Sekembalinya dari kantin, si bapak masih stay on chair, duduk manis nonton sinetronnya. Kebawelan masih lanjut. Sinetronnya udah main. Saya duduk sambil mengomentari acaranya, dan menunjukkan gelagat-gelagat gak betah. Emang gak betah banget. dan saya akui emang saya bawel banget saat itu, ribuuuttt banget pokoknya. Saya bahkan berkelakar, “Yaudah, kita lihat besok, siapa yang lebih duluan menguasai TV, aku, sinetron, atau PS. Hahaha.” Ada hahaha-nya loh, artinya lagi bercanda jadi sebaiknya gak dimasukkan ke hati.
Kebawelan terhadap sinetron masih berlanjut, bahkan bahkan semakin menjadi-jadi. Di tambah lagi ada satu akak pemain pendukung keributan, jadi sukses lah 2 lawan 1 pada saat itu. Sempat si Bapak bilang, “kalo gak suka ya gak usah nonton, ke kamar aja nonton laptop kek.”
Saya ngejawab, “kita nonton yang berkualitas lah pak, berita kek, biar update informasi.”
Mungkin saking jengkelnya si bapak denger saya bawel banget akhirnya dia menyerah dan melemparkan remote ke lantai, “tuh nonton. Bawel. Jadi orang koq bawel banget!”
Akhirnya senyum lebar merekah menghiasi wajah saya. Dengan penuh semangat saya memungut remotenya dan tidak lupa berterima kasih ke bapaknya. Yesss... Finally bisa nonton juga. Kebetulan pada saat itu ada penghuni mess lain yang lagi melakukan kegiatan mencukur rambut. Ya mereka ketawa-ketawa aja. Bahkan salah satu penghuni mess lewat sambil berkata, “Yaudah, besok tak belikan TV tiap kamar deh.”
Tapi kebawelan itu semuanya saya anggap lucu-lucuan aja yah. Saya bahkan gak merasa itu bawel sampai si Bapak mengatakan kalo saya itu bawel. Haha. Oh ternyata saya bawel? Yaudah gak papa deh yang penting bbukan bawal aja (bawal = sejenis ikan). Lucu kan?? Lucu kan?? Kan?? Kan??
Whatever. I just wanna sit down there dan menonton sesuatu yang berkualitas. Saya akhirnya bisa melihat Mba Najwa Shihab lagi di tivi. Saya nonton Acara 360 yang saat itu membahas tentang rare disorder di Indonesia, kunjungan presiden Mesir ke Indonesia yang bertujuan menyampaikan bagaimana Islam itu sebenarnya (yang saya setuju banget dengan salah satu quotenya yaitu bukan hak manusia untuk meng-kafirkan sesamanya dan bagaimana manusia harus saling bertoleransi), dan  berita tentang penangkapan Hiu Martil di pulau Lombok yang sebenarnya sudah dilarang penangkapannya oleh pemerintah karena alasan kepunahan namun Masyarakat masih gencar menangkapnya. So many things that I got. Yaa, walaupun ada hal yang tidak mengenakkan banget dari bapak-bapak para peng-invasi yang mengatakan, “ah lu kek ngerti aja” yang udah bolak-balik pengen main PS padahal remote masih di tangan saya. Tunggu yah sampai kopi saya habis dan acaranya selesai. Hahaha.
Intinya adalah saya hanya mau nonton, itu saja. Gak lama koq, paling sejam – 2 jam. Gak sering kok, paling sekali seminggu, ini aja karena lagi gak ada kuota jadi pengen nonton. Dibandingkan yang dulu setiap hari nonton sinetron, 7 hari dalam seminggu (tapi itu dulu yah sebelum invasi PS menyerang mess). Dibanding yang main PS berjam-jam sehari , setiap hari, 7 hari dalam seminggu.
Hampir pukul 10 saya meninggalkan lokasi kejadian karena udah puas nonton, karena kopi udah habis, dan lebih karena acara berita udah selesai. Masuk kamar. Gak lama, ternyata para peng-invasi mengambil gulungan kabel dan memesang PS. Jiahhh, lanjut ternyata. Haha. Tapi nilai plusnya mala mini adalah, mereka gak terlalu rebut, dan volume PS nya gak segede toa mesjid. Fiuhh. Syukurlah. :D
Nah, itu yang saya bilang lucu. Lucu kan? Lucu aja deh.
Udah ah, mau lanjut sama om Sher. Yeayyy besok gajian!!! (apacih)
Bubyeee!!

Dahai, 31 Maret 2016


Selasa, 22 Maret 2016

PEMALI NA TORAYA

Saya lahir di daerah di mana adat istiadat masih sangat dijunjung tinggi, Tana Toraja. Tapi saya juga lahir di mana modernisasi sudah merangkak masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat.
Dan saya juga lahir dalam keluarga di mana pemali masih sering di kumandangkan.
Pemali.
Sebuah paham dimana ada sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena apabila hal tersebut dilanggar maka dipercaya akan membawa petaka kepada yang bersangkutan, dan ini sudah menjadi pesan turun temurun dari nenek moyang.
Sebagai anak yang sudah terpapar modernisasi, kadang saya tidak percaya dengan pemali itu, apalagi sekarang kita sudah memeluk kepercayaan, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun, ketidakpercayaan itu terbentur dengan orang tua yang sampai saat ini masih kadang mempercayainya.
Beberapa pemali yang pernah saya dengar dari orang Tua.
Kalo baru bangun tidur, jangan duduk di tangga, ntar bisa ditendang bombo (setan). Itu kata2 nenek dulu, tapi sekarang saya paham kenapa gak boleh. Jadi penjelasannya, saat anda baru bangun tidur (terutama org dulu yang bangunnya subuh) tingkat kesadaran kita masih belum sempurna, jangan sampai anda duduk di tangga dalam keadaan masih mengantuk, dan karena kesadaran masih berkurang anda akhirnya rebah. Jatuh ke hati aku, ehh, maksudnya jatuh terguling2 di tangga.
Gak boleh duduk di depan pintu, nanti berkat gak masuk ke rumah. Ini mah karena alasan kita nutupin jalan aja yah. Pada saat kita duduk di pintu, akses untuk lewat akan lebih kecil sehingga susah untuk melewati pintu dan kita akan menghalangi orang yang akan lewat. Jadi alasannya supaya kita tidak menghalangi akses di pintu, utamanya pintu hati adek tidak akan tertutup buat abang. 
Ayah saya juga pernah berkata, jangan meletakkan gayung di air dalam bak kamar mandi, nanti rezeki kita terombang-ambing kek gayung di air tersebut. Rezekinya gak tetap. Tapi jangan sampai jodoh juga terombang-ambing ding . Tapi saya selalu mencari alasan yang bisa di terima logika, tapi kalo soal cinta lain lagi yah, kadang-kadang tak ada logika. Jadi alasan yang bisa saya terima adalah gayung kalo keseringan terendam akan kotor dan di tumbuhi lumut, jadi bersihkannya susah. Gayung aja bisa di tumbuhi lumut kalo lama gak dibersihkan, apalagi hati. *ehh  Jadi gitu.
Namun ada satu pemali yang masih belum dapat saya pahami dan masih sering di terapkan di keluarga saya. Kedua orang tua saya sangat melarang apabila kami akan meninggalkan rumah bersamaan dengan arah yang berbeda, misalnya satu ke utara dan salah satunya ke selatan. Saya mengalaminya secara langsung. Saat itu saya sekeluarga di Makassar dalam acara wisuda adik. Setelah kegiatan berlangsung, kami berencana kembali ke daerah masing-masing, orang tua kembali ke Toraja dan saya kembali ke Kalimantan. Penerbangan saya ke Balikpapan pada saat itu pukul 13.00, dan pada hari yang sama orang tua dan keluarga yg lain juga akan kembali ke Toraja. Berhubung tiket pesawat saya sudah tidak bisa diundur dan keluarga juga sudah harus balik Toraja pada saat itu maka di aturlah jadwal keberangkatan. Tssaaahhhh.. 
Akhirnya diputuskan bahwa orang tua saya harus berangkat subuh dari Makassar agar diperhitungkan bahwa mereka tiba di rumah dulu baru saya berangkat dari Makassar. Dengan estimasi waktu 8 jam perjalanan dari Makassar - Toraja maka mereka berangkat pukul 05.00 pagi agar tiba di Toraja sebelum pukul 13.00 (waktu penerbangan saya).
Di lain waktu, saat itu saya sedang libur dan pulang ke Toraja. Karena ada kegiatan yang ingin saya ikuti di Makassar sehingga saya berencana mempercepat kepulangan sy ke Makassar. Setelah saya menjadwalkan waktu kepulangan ke Makassar,  ternyata sehari sebelumnya ayah saya akan berangkat ke Toli-Toli, dan perjalanan darat ke Toli-Toli di tempuh selama kurang lebih 2 hari. Dengan kata lain, ayah saya belum tiba di tempat tujuan sementara saya sudah akan berangkat lagi. Dan itu tidak boleh dilakukan. Sooo, saya harus menunggu beliau tiba di Toli-Toli dulu baru bisa berangkat ke Makassar.
Kadang saya merasa pemali ini terlalu merepotkan. Saya pernah sharing dengan indo' saya tentang hal ini. Saya bahkan menyampaikan bahwa, kita sekarang udah percaya pada Tuhan, hidup mati kita di tanganNya, kenapa masih percaya dengan pemali seperti itu. Beliau memberikan jawaban bahwa ada memang 'pepasan tomatua' istilahnya (pesan dari nenek moyang) yang sebisa mungkin tidak kita langgar karena biar bagaimana pun mereka pernah mengalaminya sehingga menyampaikan pesan tersebut kepada anak-anaknya. Entahlah. Dan sekarang saya juga melakukan itu, tapi alasannya lebih kepada saya gak mau orang tua kepikiran karena melanggar pemali. Itu aja, gak lebih.
Tapi satu hal yang saya pegang teguh, pemali to ke pabali-bali ki lako tomatuan ta.
Meoli ko toraya.
Balikpapan, 220316
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts