Rabu, 16 Maret 2016

MAHAVIHARA BUDDHAMANGGALA BALIKPAPAN

Jangan berpikir kalo saya lagi jalan-jalan ke Thailand. Mohon dengan sangat jangan terlalu jauh pemikirannya . Bahkan kalo saya mau bohong pun kalo ini di Thailand gak bakalan bisa karena udah ada Ahli Analisis Informatika dari Kerajaan Sahabat (dengan hormat saya sebut inisialnya “PIA”) yang bakalan membongkar kebohongan sampai ke akar-akarnya.   Walaupun yahh salah satu harapan saya adalah jalan-jalan ke luar negeri (tolong di aminkan kalo perlu di like dan dan di share, maka berkat melimpah akan menghampiri anda. Hehe).  Masih dalam negeri koq, tapi bukan di Lombok juga, masih terlalu jauh untuk ke sana, budget liburan belum cukup. Tempat ini terdapat di sebuah kota kecil yang dijuluki sebagai ‘Kota Minyak’, Kota Balikpapan. Sebuah kota yang secara territorial tergolong kecil tapi ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa di pandang sebelah mata. Tsaahh. (Masih dalam proses pembuatan artikel yang serius).

Beberapa hari lalu, saya dan teman menemukan sebuah postingan di Instagram tentang suatu tempat wisata di Balikpapan. Mahavihara Buddhamanggala nama tempat tersebut. Menurut informasi yang kami dapatkan dari hasil browsing, tempat tersebut adalah tempat ibadah Agama Buddha.
Kami mengumpulkan seluruh informasi  mengenai tempat tersebut. Akhirnya dengan kemampuan smartphone yang ada, kami berhasil mendapatkan info mengenai lokasi, syarat masuk lokasi, akses, dan waktu berkunjung ke lokasi tersebut.


Mahavihara Buddha Manggala merupakan sebuah vihara yang berlokasi di Jl. M.T. Haryono, RT. 033, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur Indonesia. Lokasi ini sebenarnya sangat berdekatan dengan lokasi tempat tinggal kami pada saat ini sehingga dari tempat tinggal ke lokasi vihara dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki, namun karena kami belum tahu lokasi pada saat itu maka kami mengendarai angkot dengan membayar 5rb rupiah/orang. Tidak ada jalur angkot ke vihara tersebut . Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan  naik motor, mobil pribadi, atau berjalan kaki. Berhubung tempatnya belum tahu, maka kami menyewa angkot khusus untuk mengantarkan ke lokasi  vihara. Padahal ternyata dekat banget kalo mau jalan kaki, hanya sekitar 100 meter dari jalan utama.
Papan Selamat Datang di Mahavihara Buddha Manggala

Sesampainya di lokasi Vihara, kami di sambut oleh penjaga Vihara yang menanyakan maksud dan tujuan kami ke Vihara tersebut. Dari si penjaga Vihara kami mendapatkan informasi mengenai peraturan-peraturan yang harus di taati selama berada dalam lokasi Vihara, salah satunya adalah berpakaian yang sopan. Salah satu rekan kami terpaksa harus kembali untuk mengganti pakaian karena menggunakan celana pendek. Selain itu, ada beberapa peraturan tertulis yang di berikan dan harus di pahami sebelum memasuki area Vihara, diantaranya :
1.    Dilarang masuk ruangan Dhammasala (Buddha tidur), kecuali ibadah.
2.    Dilarang memanjat/menaiki arca-arca/patung-patung
3.    Dilarang masuk area/halaman Kuti utama
4.    Dilarang memetik bunga/merusak tanaman
5.    Alas kaki mohon dilepas ketika berada di area Candi dan Stupa
6.    Jagalah ketertiban dan kenyamanan serta kesopanan di tempat ibadah. Terima kasih.
Si penjaga sangat menekankan pada peraturan nomor 1 dan nomor 5. Untuk peraturan nomor 1, si penjaga menekankan bahwa yang masuk hanyalah untuk orang yang akan beribadah, jika tidak melakukan peribadatan maka tidak boleh masuk (saya rasa peraturannya sangat jelas). Namun, apabila ingin melihat patung Buddha tidur atau ingin mengambil gambar, pengunjung hanya boleh sampai di pintu masuk saja, tidak boleh menginjakkan kaki di ruangan. Selain memasuki ruangan Buddha tidur, si penjaga juga menekankan pada peraturan nomor 5, melepaskan alas kaki pada area Candi dan Stupa. 
Peraturan tertulis bagi pengunjung Mahavihara Buddha Manggala

Selain mendapatkan informasi mengenai peraturan di Vihara, kami juga harus mengisi buku tamu di pos tersebut. Bapak penjaga juga menyampaikan informasi jadwal kunjungan di Vihara tersebut. Lokasi ini dibuka untuk pengunjung setiap hari Senin-Sabtu pukul 08.00-17.00, dan pada hari Minggu pukul 14.00-17.00. Kemungkinan jadwal kunjungan ini di luar hari raya keagamaannya. Oyah, untuk masuk ke lokasi ini tidak di pungut biaya sepeser pun, yang penting anda menjaga ketertiban dan kebesihan aja, dan jangan lupa menaati peraturan yang sudah diberlakukan. Setelah mengisi buku tamu, perjalanan pun di mulai.

Dari pos penerimaan tamu, stupa dengan warna emas sudah begitu menarik perhatian kami. Melewati jalanan menanjak menuju stupa, pikiran saya pada saat itu hanya satu. Di mana kami harus melepaskan alas kaki. Sesampainya di ujung tanjakan, bangunan stupa semakin jelas dengan patung yang berdiri di depannya, dan kami masih mancari papan informasi mana yang memberikan tanda untuk melepaskan alas kaki. Namun mata saya tertuju pada sebuah papan peraturan yang berada di sebuah taman. Peraturan tersebut lebih spesifik dibandingkan yang kami dapatkan di pos tadi.
Papan peraturan di Wilayah Mahavuhara Buddha Manggala

Jujur, peraturan ini tidak saya baca saat berada di lokasi karena otak saya hanya mencari tulisan “alas kaki di lepas”. Pada saat menulis postingan ini baru saya baca baik-baik peraturan ini dan ternyata peraturan ini lebih spesifik. Harusnya di baca dulu sebelum melangkahkan kaki ke tempat suci ini.
Peraturan ini berhadapan dengan stupa, sehingga setelah mencari tulisan “alas kaki di lepas” pada peraturan ini dan tidak ada, kami memutuskan untuk mendekati stupa.
Landscape Wilayah Mahavihara Buddha Manggala

Di depan stupa tersebut terdapat undakan dan kolam yang berisi bunga teratai. Area kolam sampai stupa tersebut adalah area suci sehingga di area itu alas kaki sudah harus di buka. Jangan khawatir, ada informasi untuk melepaskan alas kaki koq. Yahh, walaupun lantai nya itu panas banget, soalnya langsung kena matahari. Tapi untungnya saat kami datang ke sana, cuaca sedang tidak terlalu panas.
Tanda Larangan Menggunakan Alas kaki

Batas Alas Kaki


Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, ukiran pada kolam dan lantainya yang menurut saya unik, hanya saja saya tidak tahu apa maksud dari ukiran tersebut. Tidak ada guide yang menjelaskan tentang tempat ini.

Setelah melepaskan alas kaki, kami memasuki area stupa dan naik sampai ke depan stupa tersebut. Ukiran-ukiran dan desainnya memanjakan mata banget. Suasananya sangat berbeda, seperti berada di sisi lain Indonesia. Selama ini saya yang bergaul di daerah dengan mayoritas Kristen dan Islam, memasuki tempat ini di suguhkan dengan kenyataan bahwa Indonesia kaya dengan ragam budaya dan kepercayaan. So I proud to be a part of this country. Selayaknya para traveler, yang kemudian akan saya sebut sebagai tukang jalan, tentunya kami mencari angle yang bagus untuk mendokumentasikan perjalanan kami kali ini. Banyak spot yang dapat dijadikan pilihan sebagai latar belakang foto. Namun perlu diingat bahwa tempat ini memiliki peraturan yang harus di patuhi, salah satunya adalah dilarang memanjat stupa. Jadi pastikan saja saat anda berkunjung ke sini untuk tidak memanjat atau berdiri di atas stupa.

Setelah puas mengambil gambar di depan stupa, kami melanjutkan perjalanan ke belakang stupa. Di bagian belakang terdapat 2 buah kolam yang di pisahkan oleh jalan menuju candi. Saya pikir kolam itu tidak ada isinya, namun setelah semakin mendekat ternyata di dalam kolam tersebut terdapat kura-kura. Belasan kura-kura berenang di dalam kolam tersebut. Saya gak tahu apa makna dari kura-kura yang diletakkan di belakang stupa tersebut karena sekali lagi, gak ada guide yang memberikan informasi mengenai hal itu di tempat ini. Namun dari yang saya search, kura-kura bagi umat Buddha adalah simbol umur panjang. Kura-kura di kolam ini juga sangat ramah, malam terkesan agresif. Saat saya mendekati kolam, mereka berbondong-bondong menuju ke arah saya, dan saat tangan di turunkan dekat kolam mereka mengangkat kepala seakan ingin menerkam. Singa kali menerkam.
Kolam Kura-Kura

Kura-Kura Mendekat

Aturan tertulis diterapkan di tempat ini untuk mengingatkan para pengunjung untuk tetap menjaga kenyamanan Vihara ini. salah satunya adalah larangan untuk mencoret dinding vihara.
Informasi Larangan mencoret di Belakang Stupa

Di belakang Stupa tersebut terdapat bangunan candi yang kemungkinan juga dijadikan sebagai tempat berdoa. Di area candi ini, pengunjung diharapkan untuk tidak menginjak rumput, ada jalan khusus yang diberikan apabila ingin memasuki area candi. Selain itu larangan untuk memanjat juga di tuliskan di area tersebut.
Larangan Menginjak Rumput dan Memanjat Candi
View Candi 

Di sebelah kiri candi terdapat jalan setapak menuju bangunan yang bernama “Area Kuti” namun pengunjung dilarang memasuki area tersebut. Terlihat dari papan larangan melintas ke area tersebut.

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Samping)

Larangan Memasuki Kuti Area (Tampak Depan)



Setelah puas dengan pesona yang diberikan oleh stupa dan candi, kami melanjutkan ke sebuah gedung di sebelah kiri stupa. Saya kurang tahu gedung itu fungsinya untuk apa, soalnya pintunya tertutup. Setelah puas dengan bentuk-bentuk candi dan stupa yang memanjakan mata, kami pun segera menuju ke tempat tujuan kami dari awal yang di simpan-simpan biar penasarannya numpuk, yaitu patung Buddha tidur. Berhubung sesuai informasi dari penjaga tadi bahwa kami tidak boleh memasuki gedung tempat Patung Buddha Tidur, maka kami pun hanya dapat melihat dan mengambil gambar patung tersebut dari luar ruangan.
Patung Buddha Tidur

Finally, keliling-keliling di Vihara udah selesai, lumayan capek lah. Apalagi jalannya bareng si Adelia yang super aktif tapi ngegemesin. Keringat yang udah di produksi udah berliter-liter, beluum lagi si kacuping minta dinyanyiin lagu twinkle-twinkle sementara dia muter-muter di atas kursi kayu. Setidaknya kami sudah melanggar salah satu peraturan tertulis yang disampaikan sebelum masuk tadi, yaitu pada point terakhir. Keributan bisa menimbulkan ketidaknyamanan kan? Iyuhuuu.. Berkat kacuping kecil Adelia yang di sepanjang tempat selalu ribut dengan panggilan andalannya “woii” atau “hei kawan” atau “guys”, membuat suasana jadi gak pernah diam, kecuali saat dia bilang “sssttt”. Dan badan gempalnya yang lari ke sana ke mari hanya untuk lihat rusa atau kura-kura dan manjat sana sini membuat perjalanan kali ini membutuhkan keringat extra. :D Maklum, anak kecil. Hanya saja belum ada teguran selama di dalam, berarti frekuensi suara si kacuping ini masih berada dalam batas normal dong yah. Jadi saya sarankan, dalam melakukan perjalanan ke tempat wisata, gak usah bawa anak kecil terutama bagi yang tidak sanggup menjinakkannya :D. Apalagi jika belum tahu peraturan di tempat tersebut. Berhubung kami masih bisa menghadapi si kacuping kecil unyu-unyu ini, jadi perjalanan masih bisa dinikmati dan aman terkendali.

That was our best picture. Maksudnya foto versi lengkap yah. Di telinga kami itu ada bunga sementara tadi ada peraturan gak boleh memetik bunga kan? Tapi tenang aja, kami bukan pengunjung yang tidak taat aturan. Bunga itu udah gugur dan berhubung kami orang yang tidak tega melihat sesuatu tergeletak terkulai lemah di tanah, akhirnya kami ambil dan manfaatkan untuk jadi property. Hehehe. Setelahnya kami balikin lagi koq bunganya, di tempat sebelumnya ia tergeletak.

Kamipun mengakhiri perjalanan kami siang itu. Harapan saya untuk tempat ini adalah, semoga ada pemandu yang bisa menjelaskan mengenai tempat ini agak para pelancong juga dapat memahami tentang Mahavihara Buddha Manggala.

Happy Holiday.

Balikpapan, 1603116

Rabu, 09 Maret 2016

Gerhana Matahari – 09 Maret 2016

Merasakan yang namanya gerhana matahari total yang katanya terjadi seiap 33 tahun sekali adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bukan anugerah karena ada uang jatuh dari langit setelah gerhana, hidup bukan semata hanya tentang uang men (jiahh). Bukan juga karena ada ekkim cone langsung nongol di depan hidung pas gerhananya muncul, anugrah juga gak hanya dinilai dari ekkim cone tapi bisa juga dari ekkim hulla-hula rasa kacang ijo. Anugerah karena Curly masih bisa merasakan kemahabesaran Tuhan Sang Pencipta segala yang ada termasuk benda-benda langit yang menunjukkan pesonanya pagi ini. Benda langit yang berputar di tata surya dengan kecepatan dan panjang lintasannya masing-masing, yang mengitari satu pusat tata surya tanpa pernah saling bertabrakan. Menurut penjelasan dari ahli astronomi, hal itu dapat terjadi karena adanya garavitasi matahari dan juga karena  setiap planet sudah memiliki orbit atau lintasannya masing-masing yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak bertabrakan.


Fenomena gerhana matahari ini pertama kali Curly rasakan seumur hidup. Fenomena yaitu pada saat bulan akhirnya dapat segaris dengan matahari dan bumi, atau bumi yang dapat segaris dengan matahari dan bulan ? Atau Matahari yang akhirnya dapat segaris dengan bulan dan bumi? Ahhhsyudahlahh.. Intinya adalah mereka berada pada 1 garis lurus yang mengakibatkan sinar matahari ke daerah yang dilintasi bulan menjadi terhalang sehingga terjadilah gelap selama beberapa waktu. Ceritanya bulan dan matahari akhirnya bertemu. (Matahari ama bulan aja udah ketemu, kita kapan? :D)

Postingan-postingan tentang GERHANA Matahari Total yang disingkat orang-orang menjadi GMT udah menyebar ke mana-mana. Sempat envy juga setelah melihat mereka bisa mendapatkan moment memotret gerhana matahari, entah itu yang total ataupun yang hanya dapat GMS (Gerhana matahari sebagian kan? :D). Bahkan ada yang berhasil mengabadikan moment gerhana yang mirip cincin, saya jadi mikirnya itu cincin kawin, kan jadi baper :D. 
Ada-ada aja yang buat meme. :D

Back to envy. Iyah, saya envy dengan postingan foto-foto orang-orang yang berhasil memotret penampakan gerhana pada saat itu. Jadi di tempat saya sekarang juga dilewati oleh lintasan bulan dan kabarnya di sini juga bakalan jadi gerhana matahari total. Saya udah menyiapkan segala macam peralatan untuk mengabadikan momen itu, yaitu kamera HP Xperia E4 5MP untuk memotret, sandal jepit warna kuning punya orang mess untuk jalan ke parkiran mess, dan kacamata minus ku (yaiyalah pake kacamata, ntar nabrak lagi kalo gak pake). Itu persiapan saya menyambut gerhana ini. Oyah, gak lupa saya juga sarapan demi memenuhi salah satu dari 13 pesan dasar gizi seimbang dan tentunya untuk mengisi perut demi energi yang cukup untuk mendapatkan moment gerhana. Gimana? Luar biasa kan persiapannya? Tapi sayangnya langit Dahai, Kec. Paringin, Kab. Balangan, Kalsel lagi gak bersahabat. Mendung semendung-mendungnya. Pagi hari yang udah mulai cerah, ternyata pas lagi sarapan mendung datang berbondong-bondong. Kemakan karma deh kayaknya, soalnya kemarin saya sempat ngomong gini, “Orang Singapura udah berbondong-bondong ke Belitung pake kapal pesiar buat nonton gerhana matahari, pas tiba di Belitung ternyata mendung, HAHAHAHAHA, gigit jari deh.” Sekarang? Karma really exist. Daerahnya curly deh yang dapat mendungnya.

Namun, walaupun gerhananya gak kelihatan, namun momentnya bisa saya rasakan. Moment di mana pagi hari pukul 08.30 yang biasanya matahari lagi terik-teriknya dan cerah-cerahnya tiba-tiba suasana berubah mencekam alias berubah gelap. Bukan suasana gelap kalo kek mau turun hujan, tapi gelap yang udah malam gitu. Bener-bener malam, berasa udah kek jam 8 malam gitu. Kemudian mungkin ada beberapa menit gelap, suasana kembali berubah terang dan itu dalam jangka waktu yang sebentar banget. Rasanya gimanaaaa gitu yah. Kek kamu lagi nonton video matahari terbit yang kecepatannya ditingkatkan 4 kali lipat. Mata saya pada saat itu seperti dipaksa untuk cepat beradaptasi dengan perubahan cahaya secepat itu. Inikah rasanya?? (Ketahuan nih angkatan tahun berapa)
Mungkin seperti ini yang yang dirasakan oleh ibu saya saat pertama kali merasakan gerhana matahari total di Kota Ujung Pandang (sekarang Makassar, Sulsel) 33 tahun lalu, tepatnya pada tahun 1983 (menurut ingatan beliau). Beliau dengan excited menceritakan bahwa suasana pada saat itu benar-benar gelap bahkan ayam pun langsung kembali ke pohon. Mungkin mereka berpikir pada saat itu sudah sore yah. Itu yang paling saya ingat dari kisah beliau dan baru saya rasakan saat ini, yang berulang-ulang disampaikan sampai saya kadang bosan. Ampun ma’. :D

Emang bener yah kata seseorang yang berkicau di twitter yang mengatakan bahwa ‘gerhana itu gak bisa di ceritakan, harus dirasakan sendiri’. Walaupun saya sudah berulang kali mendengarkan kisah Ibu Martha dan gerhana (kek judul cerita dongeng yah?) namun saya baru benar-benar merasakan sensasinya pada pagi hari tadi. It was amazing.

Dahai, 090316 

Sabtu, 05 Maret 2016

Mulutmu, [........] mu

Ironis.
Miris banget melihat keadaan mulut-mulut sekarang yang sudah sangat gampang mengeluarkan kata-kata kutuk alih-alih mengucapkan kata-kata berkat.
"Anjing"
"Anjrit"
"Bego"
Dan lebih miris lagi saat mengetahui bahwa yang berbicara ini bukan supir angkot, bukan preman pasar, bukan orang-orang yang mungkin sudah di cap WAJAR jika mengatakan kata-kata tersebut.
Tapi seorang orang tua yang notabene akan menjadi panutan bagi anak-anaknya, seorang atasan yang akan dinilai oleh bawahannya, seorang yang memiliki jabatan penting yang akan menjadi contoh bagi rekan kerja atau bawahannya.

Entahlah.

Bukan hanya itu. Rasanya sekarang sopan santun sudah tidak di kenal lagi. Seakan sudah menjadi sesuatu hal yang asing.
Sering saya dengar saat atasan dari pusat datang ke lokasi mereka saling memanggil 'gue-elu'. Okelah, mungkin mereka sudah akrab yah, tapi mungkin bisa di kondisikan lah bahasanya. Dan paling gak saya suka dengernya adalah, dia yang bisa dikatakan seumuran dengan saya malah ngomong 'gue-elu' ke atasan di area yang bisa dikata seumuran dengan ayah saya. Menurut saya bener-bener gak sopan banget.

Apa yg saya pikirkan sekarang? Bagaimana nanti seandainya mereka mendengar anak-anak mereka berkata demikian kepada mereka? Mereka akan marah, tersinggung, gak terima, atau malah biasa-biasa aja?

Saya ingat dulu, bagaimana orang tua sangat tidak terima saat anak-anak memanggil orang tua bahkan kakak mereka dengan sebutan 'KAU' (Saya dari suku Toraja yang sangat menekankan hormat kepada orang yang lebih tua. Panggilan KAU untuk orang yang seumuran atau lebih muda, dan KAMU untuk orang yang lebih tua atau dirasa perlu dihormati atau yang memiliki jabatan lebih tinggi). Kami sebagai anak-anak pasti akan langsung di tegur dan di suruh mengulangi dengan panggilan yang seharusnya. Bukan hanya saat dulu saja kami diajarkan seperti itu, tapi sekarang juga di daerah saya masih menekankan pentingnya mengajarkan anak-anak mengenai sopan santun dalam berbicara.

Terserahlah yah kalo melalui tulisan ini saya dikatakan katro, gak gaul, atau gimana. Tapi saya masih tetap berpegang pada adat yang masih menjunjung tinggi sopan santun. Karena melalui mulut kita bisa menjadi berkat, dan melalui mulut juga kita bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Karena melalui tutur kata orang dapat menilai bagaimana hidup kita.

Anda memilih yang mana?

Lokasi kerja, mess kamar nomor 2, 050416.

Sabtu, 20 Februari 2016

DILEMA PENULIS BLOG

Blog nganggur..

Ide brillian muncul..

Ngetik..
Sejam
Dua jam..

3 lembar..

Ketiduran..

Bangun pagi..
"the post is empty"

KE LAUT AJA LU JADI BULU BABI!!

Buat kopi, campur sianida. Teguk sekali tos.

Gitu2 aja hidup gue.

Inspirasi buat blog hanya muncul di malam hari. Godaan di malam hari adalah ngantuk. Inspirasi harus berperang melawan ngantuk, sementara ngantuk punya kekuatan yang sangat gesar. Hayati lelah!! 😢😢

Dan hasilnya besok pagi saat buka hasil ketikan semalam, gue cuma mampu cari tanah, gali tanah, kubur diri!! 😭😭😭

HELEP!! HELEP!!

Senin, 15 Februari 2016

MARGOMULYO MANGROVE CONSERVATION




Itu di mana? Bukan! Bukan tempat syutingnya Harry Potter koq. Ini masih di Indonesia, masih di Kalimantan, masih di Balikpapan.

Kota Balikpapan tidak se’gersang kawasan wisata’ seperti yang saya bayangkan saat baru menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Saya pikir Balikpapan hanya menyuguhkan keindahan tata kotanya saja, atau pantainya yang menurut saya biasa saja, gak semenarik pantai di Sulawesi. Saya juga sempat berpikir bahwa Balikpapan tidak memiliki kawasan wisata alam seperti Daerah asal saya, Tana Toraja. Tapi pemikiran itu berubah semenjak negara api menyerang. Hehe.

Balikpapan menyembunyikan sebuah lokasi wisata yang sayang kalo gak dinikmati. Margomulyo Mangrove Conservation. Sebuah daerah tempat konservasi hutan bakau yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. Konservasi ini terletak di Kelurahan Margo Mulyo, Kecamatan Balikpapan Barat, Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia.

Untuk mencapai daerah ini tidak dibutuhkan waktu yang lama, kurang lebih 30 menit dari pusat kota Balikpapan (Klandasan itu pusat kota kan yah? Hehe). Nah, berhubung kemarin Curly berangkatnya bukan dari pusat kota tapi dari pinggiran kota, jadi waktu temputhnya hanya sekitar 15 menit menggunakan kendaraan motor. Bentar doang, hanya saja karena kita salah tempat masuk makanya harus mutar lagi untuk bisa masuk melalui jalan yang terbuka. Pintu masuk Konservasi ini kemarin tertutup, makanya kami mutar dan masuk lewat akses lain, yaitu di samping SMK 8 Mangrove (kalo gak salah yah nama SMK nya).

14 Februari 2016, pada Minggu sore yang cerah (atau panas yah?), inilah perjalanan hari Valentine kami. Saya yang pada saat itu masih berada di Balikpapan diajakin kk2 ketjeh untuk jalan-jalan ke Hutan Mangrove. Berhubung lagi ga ada kerjaan dan bête di rumah, Curly pun menerima ajakannya, jadilah Curly yang paling muda dan paling siap di bully. Tapi bukan soal pem’bully’an yang akan saya ceritakan, tapi mengenai tempat wisata ini.

Jadi ini adalah first time buat Curly mengunjungi tempat ini. Seperti saat ke tempat baru lainnya, pasti akan ada pertanyaan tentang bagaimana tempat yang akan dituju itu nantinya. Dari rentang 1-10, nilai untuk tempat ini berada pada posisi angka berapa. Pasti itu yang ada di dalam otak.

Sepanjang perjalanan menuju kawasan konservasi, terlihat perumahan padat penduduk yang di bangun di lereng-lereng bukit kota Balikpapan. Semakin mendekat ke area konservasi, keadaan rumah pun juga mulai berubah. Berubah menjadi rumah panggung yang terbuat dari kayu ulin, antisipasi jika air laut mulai pasang. Perahu-perahu nelayan yang parkir di sepanjang pinggiran hutan bakau menunjukkan salah satu mata pencaharian warga di sana. Tidak jarang juga di pinggir jalan terlihat ibu-ibu menjajakan kepiting dalam berbagai ukuran.

Akhirnya kami tiba di pintu masuk (Samping SMK 8 Mangrove) setelah sebelumnya sempat salah alamat pintu masuk. Kami pun memarkir kendaraan di samping pagar sekolah tersebut. Di tempat itu juga sudah terpakir beberapa motor yang mengindikasikan bahwa kami bukan satu-satunya ‘penikmat’ yang mengunjungi tempat konservasi ini pada sore itu. Perjalanan menggunakan kaki pun dimulai, dengan melewati jembatan kayu dari kayu ulin, yang juga menjadi salah satu penghubung rumah warga yang membangun di daerah tersebut. Pintu masuk kawasan pun mulai kelihatan. Kami tetap melanjutkan perjalanan sampai kami dihentikan oleh sapaan warga setempat yang mengatakan bahwa kami harus                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        bayar biaya masuk sebesar 10rb. Saya berpikir bahwa biaya masuk tersebut akan dibayarkan di pintu masuk kawasan, mungkin akan ada petugas yang akan menagih biaya kontribusi nya, namun ternyata tidak seperti yang saya pikirkan. Kami harus membayar biaya masuk kepada warga yang menyapa kami tadi. Entah mereka ditugaskan untuk menagih atau seperti apa. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini belum tertata dengan baik. Terbukti dari pintu masuknya yang tertutup tanpa ada sign yang menunjukkan bahwa itu adalah kawasan mangrove, tempat parkirnya yang seadanya, dan biaya kontribusi yang tidak jelas tujuannya kemana, apakah untuk biaya kebersihan kawasan ataukah untuk yang lainnya. 


Kami pun melanjutkan perjalanan di sepanjang jembatan kayu ulin yang membelah kawasan mangrove. Di dekat pintu masuk, pohon mangrove masih kelihatan sangat rimbun, dengan papan informasi nama pohon yang tumbuh di hutan ini. jadi sekiranya saat keluar dari wilayah sini dan tiba-tiba ada post tesr, kami udah siap. Hehe. Semakin ke dalam, jumlahnya pohonnya semakin berkurang bahkan yang kelihatan sebagian besar adalah rawa-rawa yang dihuni oleh kepiting dan ikan.

Ngomong-ngomong soal kepiting. Kepiting di perairan payau ini terlihat berbeda dari kepiting yang saya lihat sebelumnya. Kepiting ini memiliki warna yang unik, biru metalik yang terlihat indah saat mereka berpindah tempat. Selain itu ada semacam ikan yang dapat berjalan di lumpur dengan menggunakan siripnya. Awalnya saya berpikir itu bukan ikan, karena dia bisa berjalan, tapi ternyata siripnya yang difungsikan sebagai kaki. Saya kurang tahu itu ikan jenis apa, karena pengetahuan tentang ikan sangat minim. Mungkin di tempat seperti ini diperlukan guide yang dapat menjelaskan mengenai hutan ini dan isinya sehingga bukan hanya ‘cuci mata’ yang dapat dilakukan pengunjung di sini, tapi juga dapat menambah pengetahuan bahkan bisa dijadikan kawasan wisata pendidikan.

Oyah, selain pemandangan alamnya dan udara segarnya yang bisa dinikmati, tempat ini juga bisa menjadi salah satu pilihan untuk hunting foto. Spot yang disajikan juga tidak kalah menarik. perpaduan antara jembatan kayu, rawa, ranting, dan langit dapat menambah kesan "wow". Untuk foto prewedding misalnya, gak salah milih spot di tempat ini, seperti pada gambar di bawah ini. Itu hanya contoh yah, pasangannya belum peka jadi masih sendiri fotonya. :D (Sebenarnya salah satu foto narsis terbaik jadi wajib ada di dalam blog ini, walaupun gak nyambung sama sekali, jadi tolong di pahami yah? :D)

Semakin ke dalam, saya melihat beberapa lego-lego yang mungkin tujuannya untuk dijadikan tempat istirahat bagi pengunjung. Dan terakhir sebuah bangunan tinggi seperti mercusuar yang memperlihatkan kawasan mangrove dari ketinggian. Mungkin tujuannya sebagai view point atau mungkin ada tujuan lain, sekali lagi saya sepertinya butuh guide di sini.

Jembatan ulin sepertinya masih panjang, tapi kami datang di waktu yang kurang tepat (mendung), kami memutuskan untuk kembali apalagi pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 18.30. keadaan sudah mulai gelap dan air laut juga sudah mulai pasang. Untuk yang akan berkunjung ke sini, mungkin sebaiknya datang pada pagi hari atau siang hari agar tidak mendapatkan gelap di sini.

That’s our express trip to Margomulyo Mangrove Conservation.
Hope you like this.
 .
 .
.
.
.
Uyeahh. First time menulis tentang trip. Tangan udah gatal banget pengen nulit, mau buat caption di FB takutnya orang terganggu dengan tulisan eike. Yasudahlah, memberdayakan blog kalo gitu.
Semoga gak ada kata malas lagi deh, semoga bisa dilanjutkan ini blognya deh.
Buat yang sempat baca dan expert dalam hal tulis menulis blog mengenai tempat wisata, tolong jangan muntah baca postingan gue, dan tolong jangan keracunan yah.

And this is our crew while going for trip Yesterday.
Very big thanks to you all kakaks. I enjoy my holiday (exactly its not holiday)

Happy Holiday
Happy Express Holiday
Happy Valentine


Sabtu, 13 Februari 2016

MY TRIP MY ADVENTURE



       This is a little bit story about my trip from Tanjung to Balikpapan (kek judul pilem yah?). this is the real my trip my trip my adventure. Bukan karena lagi off, but there's sumthing wrong with my MCU, jadi Curly harus melanglang ke Balikpapan dulu. Jadi hasil MCU nya unfit, dan harus berobat ke Balikpapan dulu. Sebenarnya mau cek ulang aja sih, jangan sampai ternyata hasil MCU nya yg gak valid, dan pemeriksaannya itu gada di Tanjung. Maka jadilah (sesuai kehendakNya). Tapi Curly ngakunya ke mace harus ke Balikpapan karna ada panggilan dari kantor. Gile aja kalo bilang soal MCU apalagi berobat, bisa di tarik gue dari peredaran. Suara gak semangat aja udah dikira sakit sampe di telpon 3 kali sehari, apalagi bilang mwu berobat. Jadi berdasarkan kesekapatan dengan my partner in crime, Erik and my unbloody sissy, Feby, jadilah (sesuai kehendakNya).
        As always, every trip had their own story, dan Tanjung-Balikpapan emang gak pernah mainstream.
        Kali ini berangkatnya emang bener2 tengah malam, saat tante2 rambut panjang dan om2 hobi loncat mulai beraktifitas, dan nunggunya itu yg bikin males, ngantuk2 berhadiah. Mesannya bus yg berangkat jam 6 sih dari Banjar. Kenapa mesan tiket? Takutnya kalo nunggu bus lewat nanti malah ga dapat kursi tapi justru dapat jackpot, duduk di samping supir jadi asisten supir, untung baek kalo bisa duduk, kalo dapetnya di lorong, emang eike beras bo' (orng Toraja angkatan tua paham nih ). No way deh, mending pesan aja. Udah bayar tapi fasilitas cuma segitu? No thanks.
        Apakah malam tadi lebih baik dari sebelumnya? Mari kita lihat dan simpulkan sendiri.
        Karena kernet busnya udah nelpon jadi Curly nunggu di pinggir jalan. Busnya dari kejauhan udah ketahuan, kelihatan dari lampu sen kirinya yg nyala dan gak lama, 'wuuusssshhhh', busnya parkir dengan kecepatan sempurna (sempurna bikin jantung copot). Bahkan angin yg ditimbulkan berasa sampe di dalam mobil tempat Curly nunggu (anginnya lebih kencang dikiit aja, ini mobil pasti terbanting ), belum lagi jarak bus yang terlalu dekat, nyarisss banget. Kembali terpana dengan kehebatan supir2 Banjar ini..
       Bus berhenti, pintu bus terbuka, kernet turun, pasang red carpet, Curly di jemput. HA-HA-HA. IN YOUR DREAM CURLY!! Setelah Pamit, gue ikutin kernetnya ke bus, dan dimulailah petualangan "yang tidak bisa diungkapkan dengan kata2" itu (bunda ).
       Curly naik ke bus dengan sejuta tanya di kepala (ciyehh ) "surprise apa lagi yang akan saya dapatkan di perjalanan kali ini?" dan SURPRISE!! Sebagian kecil pertanyaan itu terjawab. Curly langsung disambut dengan pemandangan kek barak2 penampungan pengungsi. Orang2 pada tidur dengan posisi yang bikin Curly mengerutkan dahi (saking gak tau kata2 yang sesuai). And also, and the smell is so disgusting. Eeuuhh. Untuk ukuran bus AC, keknya gak sepantasnyalah punya wangi semerbak se disgusting ini. Dan Curly hanya bisa bilang dalam hati, "mamiiii".
Otak mulai membandingkan pun muncul, di Toraja, untuk dapat bus bernuansa barak pengungsian kek gini udah susah banget skarang, terakhir pas Curly kuliah semester awal keknya. Wish me luck dah. Itu surprise pertama.
       Belum selesai shock dengan surprise pertama, surprise kedua pun datang. Pramugara (baca: kernet bus) mengantarkan ke kursi yg sudah di booking dan wawwww ekspektasi dan realita sepertinya tidak akan berjodoh, bahkan langit dan bumi pun seakan tidak merestui. Udah mesan kursi yg di samping kaca, ehhh dianternya ke kursi dekat lorong dengan seonggok bapak2 lagi duduk manis di kursi sebelahnya (yang curiganya adalah kursi gue). Wait! Manis? Ralat! Seorang bapak udah duduk 300rb d kursi sebelahnya (pdahal tiket harganya 180, bayangin sebanyak apa kursi yg dia dudukin), gimana gak illfeel. Untung Curly kecil jadi bisa fleksibel aja duduknya. Tapi tetap aja hak duduk gue terenggut.
       Pas bus udah jalan, Si bapak langsung nanya, "ini udah d mana?"
       Yahh, pertanyaan penumpang seperti biasalah kalo di bus. Sebenarnya gue bisa jawab baik2 dengan wajah manis dan sopan, tapi karena gue udah terlanjur ilfeel jadi jawabannya seadanya, itupun jawaban bohong, "Tanjung." Toh kalo eike bohong gak dia tau ini koq, Tanjung apa bukan. Dan ternyata emang dia tahu.
       Mobil udah jalan, dan 5 menit kemudian si bapak2 tanya lagi.
B (Bapak): "Ini di tanjung? Masa ini di tanjung.
C (Curly): (akhirnya memilih berbaik hati menjawab walaupun masih ilfeel) "Tanjung masih di depan, ini ga tau apa nama tempatnya."
B: "masa Tanjung segelap ini, ini mah bukan tanjung."
       Tuhh kan,, dia tau. Terus ngapain nanya kalo udah tau. Dan itu sukses bikin gue ilfeel stadium 2. Terserah lu dah!! Sebodo amat. Sekali lagi nanya anda akan dapat piring cantik.
       Dan bener aja, sampe di terminal tanjung dia masih komen (dia emang butuh piring keknya).
B: Nah ini baru Tanjung.
C: (BUUOODOOO!!! Trus kalo ini tanjung kenapa? Mau nari zumba kalo udah dapat namanya tanjung?? Atau anda salah satu team explorasi yang ditugaskan menemukan peradaban baru yang bernama peradaban Tanjung??) Whatever!
       Dan, tiba2 dengan gerakan cepat si om2 SKSD mengambil sesuatu di samping tempat duduk gue. Sontak gue kaget kan. Kirain dia mau megang paha gue, awas aja kalo sampe, gue salto belakang lu (yah kalo Curly berani yah). Omegat, sumpah kaget banget!! Guess what dia ngambil apa? Rambutan!! Oke sukses, ilfeel stadium 3. Masih di tawarin lagi rambutannya, trus lu pikir gue masih mau makan? Ya enggalah, gue keluarin Tupperware, “saya simpan aja pak buat di Bpp nanti.” *ehh gak ding. Hehe.
       SKSD nya ga sampai di situ, si bapak masih sempat nanya,
B: “kerja di mana? Pengeboran kah? Aku juga ada kenalan kerja di catering namanya bu Nur, bu Vida, bu Sukma, mereka tinggal di Kaltim, itu yg saya tau yg kerja di kaltim.”
C: ILFEEL.STADIUM AKHIR!! Emang sukma, vida, nur siapalah semuanya itu, cuma ada satu di dunia ini?? Demi apa coba, ya kalo kenal yaudah kenal aja, gak dikenalin juga gpp koq.
Huffthh.. Disitu kadang saya lelah. Dan karena partner kali ini adalah a stranger guy, so rada2 ga nyaman. Its because he is a guy, and its b'coz he's stranger. Keknya pemerintah atau pengusaha bus harus buat peraturan yang tidak mendudukkan penumpang berbeda gender berdampingan deh. Menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi sih. You know ehat I mean lah.
       Karena ga nyaman itu, finally Curly gak tidur semalam-malaman, and because she had a bad behaviour that make me uncomfortable, so I put my handbag between me and him. Dia ngapain? Dia ngajakin main kartu? Gak. Dia ngajakin main gundu? Gak juga. oke ini lebih serius. Gue kan ketiduran yah, ya taulah gimana kalo di bus anda tertidur, keadaannya itu antara otak stand by dan raga sudah tidak mampu menahan kantuk. Pas lagi ngantuk2nya, si Bapak ini ngagetin dengan tiba-tiba meletakkan tangan di samping tempat duduk gue. Ya jelaslah gue kaget. E gile, kirain tangannya udah dipaha gue. Akhirnya gue memutuskan untuk meletakkan tas disamping gue dan gak lupa gue ngomong super sinis, “geser dikit pak!”
     Dia geser, tas gue paksain duduk di samping gue. Dan si bapak ternyata langsung salting, haduhhh pokoknya horror deh. Untung saat itu dalam tas gue ada kotak packmealan gede isi donat topping keju dan coklat yang segede pelampung, sehingga tas gue saat itu bisa jadi tembok cina, penghalang dengan si Bapak SKSD gak tau diri itu. Save by the packmealan box deh. Ffiiuhhh. Dan gue tetap stand by, untung lagu yang ditawarkan bus lumayan enak didenger, jadi gue bisa sambil bernyanyi2 sampai seisi bus tutup kuping. Hihi. Gak ding. Nah ini yang gue katakana sebelumnya, berharap pemerintah atau pemilik bus membuat peraturan agar penumpang berbeda gender yang memesan tiket secara terpisah agar tidak didudukkan bareng, apalagi kalau sampai disaksikan oleh jemaat catatan sipil, ehh nikah kali. Tapi seriusan yang tidak mendudukkan gender berbeda bareng-bareng itu. Jadinya kan Curly gak nyaman banget selama perjalanan, dan smepat menitikkan air mata (ciyeee), kenapa perjalanan gue kek gini banget. Enakan di kampong gue, udah busnya besar, nyaman, enak, gak kayak barak penampungan, ada selimutnya, dan kemungkinan tindakan pelecehan juga sedikit karena peraturan yang gue sebutkan tadi diterapkan di sana. Gitcuuu. Jadi mikir lagi nih cara balik Dahai kek gimana, naik pesawat aja kali yah, trus abis itu sampe di Dahai gue Cuma disuruh kumpulkan barang-barang dan say good bye. Hahaha.
       Kembali lagi ke  bapak2 SKSD gak tau diri itu. Koq gue malah kebanyakan cerita tentang dia yah?? Jangan-jangan??? Percaya gak sih sama yang namanya ahhhsyudahlahh. One of his bad behaviour, dia mengeluarkan bunyi2an saat tidur alias ngorok. Gilak. Ngoroknya kalo diukur bisa sampe 6 skala richter, bus nya langsung berguncang hebat (soalnya jalanannya rusak ). Semua penumpang malah balik arah ke tempat gue karena si bapak ini tidur berasa kek di kamar sendiri, ngoroknya gak nanggung2 (ehh emang dia punya kamar? Jangan2 biasanya di hutan jadi kalo ngorok gak ada yang terganggu). Titik ilfeel gue yang tadi udah berapa yah(?) akhirnya bertambah lagi menjadi stadium paling akhir yang udah gak bisa tertolong lagi. Eeeuuhhhhh. Dan gue Cuma bisa pasrah menyerahkan seluruh hidup dan kehidupan gue kepada Than YME.
       Belum lagi bunyi2an dari penumpang di bagian belakang. "hooekkk hakkccss cih!!" udah mirip bunyi orang mabok gak? Iyahh, suara orang mabuk perjalanan dari bagian belakang, plus suara kreseknya, plus semua nya yang berkontribusi menyebabkan kantuk *ehh mabuk maksudnya. Teyusss, nyaris terpancing lagi. Omaleee. As always, kalo dalam perjalanan jauh ibu Martha pasti selalu nanya, "tae sia mu mabok??" dan as always Curly jawab, "tidak ji. Aman." padahal kali ini aparaya. Nyaris. Lelah Hayati kalo begini .
       Yaa gitu lah sedikit kisah perjalanan antimainstream gue dari tempat kerja ke tempat kerja. Beneran selalu ada kisah yang baru dari setiap perjalanan gue.
       But I try to thankfull to God for everything that happened in my life.
SAVE TRIP!!
Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

My Blog List

Most Viewed

More Text

Popular Posts